grand-syehkh-2

Imam Besar Al-Azhar Mesir Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb mengunjungi Indonesia selama enam hari pada pekan ini. Dia mengajak umat Islam di Indonesia, Mesir, dan seluruh dunia untuk membangun perdamaian sesuai pesan agama ini.

Oleh ILHAM KHOIRI & MH SAMSUL HADI

”Sekarang kita menghadapi masalah takfir (upaya mengkafirkan) oleh kelompok Muslim terhadap kelompok Muslim lain. Tidak boleh sekelompok Muslim mengafirkan kelompok lainnya,” kata Syekh Ahmad Ath-Thayyeb dalam wawancara khusus dengan Kompas di Jakarta, Kamis (25/2) malam.

Malam itu, Syekh baru tiba dari kunjungan ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sehari sebelumnya, dia menerima gelar Doktor Kehormatan Bidang Pendidikan Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang. Ketua Majelis Hukama Al-Muslimin itu juga sempat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Jumat kemarin, dia kembali ke Mesir.

Syekh mengakui, belakangan ini menguat gesekan antara kelompok Sunni dan Syiah seperti terjadi di Suriah atau Yaman. Hal itu terjadi akibat fitnah dan sikap mengafirkan kelompok lain. Satu kelompok mengatakan mazhabnya paling benar, sementara mazhab lain dianggap salah dan pengikut mazhab itu bisa dibunuh. Begitu pula sikap kelompok lain. Itu salah dan berbahaya, apalagi jika kemudian disisipkan kepentingan politik dan berbagai kepentingan lain. ”Itu rentan menimbulkan konflik, pertumpahan darah,” katanya.

Untuk mengatasi masalah ini, dia berharap, perbedaan antarmazhab semestinya jangan disertai dengan takfir oleh satu kelompok kepada kelompok lain. ”Mereka yang mengafirkan kelompok lain (sesama umat Islam) nanti akan dihisab di depan Allah,” ucapnya.

Perlu diingat, selama berabad-abad sebelumnya, kelompok Sunni dan Syiah seperti di Yaman dan Suriah dapat hidup berdampingan dengan baik. Tentu muncul perbedaan pendapat atau pertentangan, tetapi tidak membesar, apalagi sampai melibatkan kekuatan negara.

Terhadap Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), Syekh mengungkapkan, kekerasan yang dilancarkan kelompok ini justru melemahkan negara Islam. Mereka tersesat dan perlu didekati untuk diajak kembali kepada kebenaran dan diingatkan akan larangan membunuh dan ancaman Allah kepada pembunuh. Mereka juga perlu didorong untuk menghormati umat manusia.

Islam membolehkan seseorang membunuh musuh dalam peperangan. Namun, jika ada orang dari agama lain yang tidak menyerang umat Islam, ajaran Islam tidak memperbolehkan membunuhnya.

grand-syekh
Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb

Foto: KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Salam

Syekh mengajak semua umat Islam untuk kembali kepada semangat perdamaian yang diserukan agama ini. Hal itu sudah jelas diketahui dan terbukti dalam sejarah. Islam memiliki sejarah peradaban sebagai agama yang membangun perdamaian di antara manusia.

”Salam (perdamaian) itu salah satu dari nama-nama Allah. Seorang Muslim menyebut kata salam berkali-kali dalam sehari dalam shalat (dalam dua tasyahud dan salam di akhir shalat). Salam juga diucapkan sebagai penghormatan dari seorang Muslim kepada Muslim lain. Ketika bertemu saudaranya yang Muslim, seorang Muslim juga mengucapkan salam. Orang itu akan menjawab dengan salam juga,” jelasnya.

Kata ”salam” banyak diulang-ulang dalam keseharian seorang Muslim. Itu mencerminkan dorongan kuat untuk mewujudkannya. ”Salam” juga menjadi nama surga, Daar al-Salaam. ”Islam menuntut setiap Muslim untuk menjadi pelaku perdamaian secara nyata dalam keluarga, kelompok sosial, dan kelompok-kelompok lain. Bahkan, juga membangun perdamaian dengan kelompok-kelompok di luar Islam,” ucapnya.

Seruan perdamaian itu pula yang ditekankan lembaga pendidikan Al-Azhar di Mesir kepada semua pelajar atau mahasiswanya. Saat ini ada sekitar 450.000 mahasiswa yang tengah belajar di universitas itu. Sebagian di antaranya berasal dari sekitar 100 negara dari berbagai benua di dunia. Jika ditambah pelajar di tingkat dasar, menengah, dan sekolah tingkat atas di lembaga itu, jumlah mereka mencapai sekitar 1 juta orang.

Setelah mempelajari ajaran-ajaran agama yang baik, mereka kembali ke negara masingmasing dan menyiarkannya, termasuk seruan perdamaian. Ini salah satu peran Al-Azhar.

Perdamaian itu diwujudkan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. ”Kami mendorong perdamaian, cinta, dan persaudaraan di antara umat Islam dan masyarakat dunia. Islam itu agama cinta dan penuh rahmat. Kami mengakui adanya perbedaan pendapat, tetapi kami mencegah konflik, apalagi pembunuhan,” kata Syekh.

”Sesungguhnya Islam itu agama yang mendorong perdamaian di dunia. Di setiap agama, ada kasih dan rahmat,” katanya.

Indonesia yang toleran

Dalam kunjungan ke Indonesia, Syekh juga memberi kuliah umum dan bertemu alumni Al-Azhar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta memberi ceramah di Pusat Studi Al Quran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. Dalam kesempatan itu, dia menghargai kehidupan Muslim yang amat beragam di Nusantara. Semangat toleran di antara umat Islam perlu terus dijaga. Begitu pula sikap toleran terhadap umat agama lain (Kompas, 25/2).

Hal serupa diutarakan dalam wawancara khusus. Syekh optimistis, Islam di Indonesia akan berkembang dengan baik. Masyarakat di sini memiliki sejarah yang baik dalam menerima Islam, tidak menolak atau memerangi para saudagar atau pembawa Islam. Kaum Muslim memiliki perilaku yang tenang.

Syekh juga menemukan optimisme serupa dalam kehidupan di Mesir. Ketika mendengarkan warga menyanyikan lagu kebangsaan, baik di Indonesia maupun Mesir, diharapkan semangat itu tidak hanya diucapkan di lisan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan.

Saat ini, ulama di Indonesia dan Mesir menghadapi tantangan yang sama, yaitu kelompok kaum muda yang menginginkan kehidupan yang bebas sebagaimana kehidupan kaum muda di Barat meski rentan melanggar batasan agama. ”Saya berharap ulama di sini mendorong umat Islam menjalankan ketentuan Allah. Kita harus taat pada Allah dan Rasul. Setelah itu, barulah mendapat kebebasan pribadi manusia,” katanya.

Sumber:
KOMPAS Sabtu, 27-02-2016. Halaman: 05