Indonesia memiliki sejarah seni rupa dengan para seniman dan karya yang menarik. Namun, kekayaan budaya itu belum tercatat dengan baik, bahkan ”compang camping”. Aminudin TH Siregar, dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, berusaha menjahit sejarah itu agar tertata baik dan lebih akurat.

OLEH ILHAM KHOIRI & BUDI SUWARNA

ucok

”Penelitian sejarah seni rupa di Indonesia sekarang ini macet, minim perhatian. Kita kekurangan data otentik tentang para seniman dan karya-karyanya sehingga rawan terjadi manipulasi,” kata Aminudin TH Siregar (43) yang biasa disapa Ucok, akhir Maret lalu.

Selama ini, kajian sejarah seni rupa Indonesia yang serius justru diakukan beberapa peneliti asing, antara lain Claire Holt, Astri Wright, Helena Spanjaard, atau Werner Krauss.

Kami berbincang di Galeri Soemardja di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat. Kebetulan, galeri dan beberapa ruang kuliah di situ sedang ditata ulang. Kami juga diajak melongok ruang studio di lantai 2, tempat beberapa mahasiswa tengah getol bekerja melukis.

Di sela-sela ”tur pendek” itu, Ucok membeberkan betapa sulitnya menjahit sejarah seni rupa Indonesia. ”Sebagian karya terbaik para maestro kita ’terpingit’ di ruang-ruang galeri, sebagian ’tersekap’ di Istana Negara, bukan di museum. Untuk melihat sejarah seni rupa kita sendiri, kita harus mengetuk satu per satu pintu galeri dan Istana,” ujarnya.

Sebagian besar seniman Indonesia tidak disiplin membuat catatan karya dan pemikirannya, sementara galeri sering alpa mencatat karya-karya yang mereka pamerkan atau jual.

Kurator dan kolektor punya kecenderungan melampaui sejarah dengan membuat analisis tentang karya seni tanpa dibekali data otentik. Sementara itu, di kampus-kampus, para pengajar seni belum tentu pernah melihat karya-karya asli seniman yang diajarkan kepada mahasiswa.

Prihatin dari kondisi yang memprihatinkan itu, mulai 2002 Ucok tergerak untuk sungguh-sungguh meneliti sejarah seni rupa Indonesia. Ia berangkat dari pertanyaan dasar: sejarah seni rupa Indonesia modern dibangun atas fondasi apa? Kenapa selalu dimulai dari Raden Saleh? Selama ini sejarah seni rupa kita cenderung dipukul rata saja.

Di awal penelitiannya, Ucok memilih meneliti karya, kiprah, dan kehidupan pelukis S Soedjojono (1913-1985), salah satu bapak seni rupa modern. Dia getol mengumpulkan bahan apa pun yang berisi data karya seniman itu, mulai tulisan wartawan di koran, majalah seni, katalog, skripsi, tesis, hingga buku.

Penelitian awal itu ia lanjutkan menjadi tesis untuk Program Magister FSRD ITB. Dia menganalisis wacana seni rupa modern Indonesia dengan perhatian khusus pada gagasan Soedjojono. Dimulai tahun 2004, tesis itu kelar tahun 2006 dan terkumpul-lah data menarik. Bisa dikatakan, Soedjojono mengisi kelemahan dasar-dasar konsep seni rupa modern Indonesia.

Penelitian tentang karya Soedjojono masih terus dia garap. Sejauh ini, ia berhasil menghimpun data mengenai 600 lukisan, 200 sketsa, dan belasan patung karya Soedjojono. Di luar itu, diperkirakan ada sekitar 150 lukisan yang hilang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Salah satu bab dalam tesis Ucok dikembangkan dan diterbitkan sebagai buku tahun 2010, yaitu Sang Ahli Gambar: Sketsa Gambar dan Pemikiran Soedjojono. Dari buku itu, lantas dihelat serangkaian diskusi dan pameran besar yang melibatkan banyak seniman di Bandung.

Lebih dari itu, Ucok juga meneliti detail karya-karya Soedjojono, termasuk tekniknya dalam melukis. Untuk cat, misalnya, seniman itu cukup disiplin menggunakan bahan yang berkualitas, seperti cat Rembrandt. Kanvasnya juga dari bahan yang baik. Dari pengalamannya mengamati lukisan-lukisan Soedjojono, Ucok juga mengenali dengan baik tema, karakter khas, bahkan warna-warna yang lazim digunakan seniman itu.

Dengan akumulasi data itu, bisa dibilang Ucok kini merupakan peneliti yang ahli sejarah Soedjojono. Karena itu, ia menjadi narasumber yang paling banyak ditanya ketika muncul dugaan lukisan palsu Soedjojono yang ada di tangan seorang kolektor besar. ”Dari analisis data yang saya kumpulkan, saya tahu lukisan itu memang palsu,” ujarnya.

Kasus itu, lanjut Ucok, hanyalah puncak gunung es dari praktik pemalsuan lukisan di Indonesia. ”Ini bagian dari bisnis gelap bernilai miliaran rupiah. Pasarnya ada, bahkan sampai Malaysia dan Singapura.”

Karya seniman Indonesia yang paling sering dipalsukan atau dicatut namanya antara lain Soedjojono, Affandi, dan Hendra Gunawan. Kalau mau ditelusuri, banyak pula karya seniman generasi berikutnya yang dipalsukan.

ucok-2

Foto: KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

 

Laboratorium forensik

Ucok sangat gelisah dengan praktik pemalsuan lukisan yang biasanya diikuti dengan pemalsuan sejarah. Ini sangat berbahaya dan sangat terasa di dunia pendidikan. ”Bayangkan, mahasiswa, kalau bikin paper, ambil data lukisan palsu yang sengaja disebarkan di situs-situs internet. Kalau dibiarkan, kita akan kehilangan data yang otentik. Ini kiamat buat sejarah seni rupa Indonesia.”

Ucok sadar benar untuk melawan praktik pemalsuan karya sekaligus sejarahnya itu sangat berat. Baru menguak pemalsuan satu karya saja, ia sudah diintimidasi. Ada pula yang meremehkannya dengan mengatakan, ”Palsu kan kata elu. Itu sangat menyakitkan.”

Karena itu, Ucok tak akan pernah berhenti. Saat ini ia sedang merintis pembuatan Pusat Data dan Analisis Sejarah Seni Rupa Indonesia, yang dilengkapi dengan laboratorium forensik untuk menguak pemalsuan lukisan dengan berbagai metode. Metode itu antara lain penelitian lewat analisis formal, analisis kontekstual, dan sejumlah pengujian.

Untuk mewujudkan impian itu, ia tengah menjajaki kerja sama dengan Laboratorium Kimia milik FMIPA ITB. Ada juga kemungkinan kerja sama dengan laboratorium lain yang memiliki alat X-Ray untuk memeriksa keaslian lukisan.

Jalan sunyi

Ucok adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Setelah lulus SMA di Jakarta tahun 1992, ia kuliah jurusan pertanian atau antropologi. Namun, ia gagal ujian masuk. Ia pun memutuskan masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Bandung lantaran senang menggambar. ”Saya juga ingin bebas, bisa punya rambut gondrong, ha-ha-ha,” kata Ucok yang membiarkan rambut keritingnya gondrong dan berantakan.

Tahun berikutnya, ia mencoba ikut ujian FSRD ITB dan lulus. Ucok pun mulai membangun mimpi menjadi seniman besar. Untuk mencapai mimpi itu, Ucok berupaya keras menghasilkan karya bagus. Hasilnya, pada tahun 1999, lukisannya berjudul ”Binatangisme” memenangi Lomba Seni Lukis Philip Morris tahun 1999 dengan hadiah Rp 5 juta. Karya itu juga dipamerkan dan terjual seharga Rp 7 juta—angka yang besar untuk seniman muda saat itu.

”Sejak saat itu, lukisan-lukisan gua dibeli orang rata-rata Rp 5 juta. Jalan untuk menjadi seniman sudah lancar,” katanya. Ia menikmati benar jadi seniman. Uang, pengakuan, dapat semua. Namun, ia merasa dihinggapi penyakit egois, megalomania, selalu ingin pameran, dan masuk koran.

Ucok merasa tidak cocok. Ia pun sedikit demi sedikit menarik diri dari panggung pameran dan memilih fokus menjadi dosen, menulis di koran, dan meneliti sejarah. ”Gua jenuh dan akhirnya lari ke sejarah. Gua tiba-tiba kepikiran menjadi detektif sejarah seni rupa Indonesia.”

Kini, Ucok bekerja di dunia sunyi, di antara tumpukan buku dan ruang laboratorium. Ia terus mengumpulkan data apa pun mengenai karya seniman Indonesia tahun 1980-an ke bawah. ”Kami punya 60 persen data seni lukis Indonesia dari tahun 1970 ke bawah,” katanya.

Ia terus berusaha menjahit sejarah seni rupa Indonesia agar tidak compang camping seperti sekarang.

AMINUDIN TUA HAMONANGAN SIREGAR

♦ Lahir: Jakarta, 29 Juli 1973

♦ Istri: Herra Pahlasari Saefullah

♦ Pendidikan:

- Sarjana seni tahun 1997 dari ITB

- Master studi seni rupa FSRD ITB tahun 2006

♦ Aktivitas profesional:

- Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1998-sekarang)

- Kritikus seni, peneliti, kurator (2000-sekarang)

- Kepala Galeri Soemardja, Program Studi Seni Rupa ITB (2004-sekarang)

- Ketua Komite Seleksi untuk Trienale Seni Grafis Indonesia, Jakarta (2009-2015)

- Kurator untuk ArtIJog, Yogyakarta (2009-2011)

- Adjunct Curator for National Gallery of Singapore, Singapura (2014–2015)

Sumber:

KOMPAS Sabtu, 02-04-2016. Halaman: 16

Link: http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/04/02/Menjahit-Sejarah-Seni-Rupa-Indonesia