didin-jpg-bagus

Didin Sirojuddin AR (59) adalah maestro seni kaligrafi Arab di Indonesia. Melalui lembaga kursus dan pesantren khusus kaligrafi yang dirintis sejak 30 tahun silam, kaligrafer itu menularkan seni menulis khat (tulisan) indah Al Quran kepada ribuan murid. Bagi dia, inilah jalan menebarkan wajah Islam yang ramah dan indah.

OLEH ILHAM KHOIRI

Di rumahnya yang bersahaja di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, suatu sore akhir Juni lalu, Didin—begitu sapaan akrabnya—memperagakan penulisan seni kaligrafi Arab atau khat. Mengenakan baju koko putih, kopiah hitam, dan sarung, ia duduk santai di belakang kursi kecil di teras.

Ia ambil pena khusus dari kayu dan dicelupkannya ke dalam tinta hitam. Tangannya lantas menari di atas kertas putih. Saat menulis, wajahnya tampak semringah.

Satu per satu, ia torehkan huruf ba-sin-mim membentuk kata bismillah. Aksara itu meliuk-liuk dengan ujung mim meruncing panjang ke bawah. Karakter memutar itu juga terlihat pada deretan kata-kata berikutnya sampai tersusun kalimat lengkap Basmallah (dengan menyebut nama Allah).

”Ini khat Dewani. Dulu banyak dipakai di dewan-dewan atau kantor-kantor pada masa kerajaan Turki Usmani,” katanya.

Sore itu adalah pekan akhir Ramadhan. Didin menggelar buka puasa bersama untuk para muridnya. Hadir puluhan santri, pengajar, pelatih, dan peserta lomba kaligrafi pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di sejumlah daerah. Mereka adalah sebagian dari ribuan murid Didin.

Didin adalah maestro seni kaligrafi Arab di Indonesia yang tekun menularkan ilmunya sejak 30 tahun silam. Tahun 1985, ia mendirikan Lembaga Kaligrafi Al Quran (Lemka) di Jakarta. Ini lembaga kursus yang mengajarkan peserta untuk menguasai beragam gaya kaligrafi, seperti Dewani, Dewani Jaliy, Naskhi, Tsuluts, Farisi, Riq’ah, dan Kufi.

”Waktu itu, saya langsung terangkan semua gaya kepada peserta. Tetapi, mereka malah pusing. Kursusnya bubar,” kenangnya. Mendapat masukan dari sana-sini, ia menyusun metode yang lebih pas, yaitu pengajaran gaya-gaya pokok kaligrafi secara bertahap.

Kini, Lemka telah menggelar 62 gelombang kursus, masing-masing diikuti sekitar 100 peserta. Kursus saat ini bertempat di Masjid Assalam di samping rumah Didin.

Ingin mengembangkan pendidikan lebih intensif, pada 1998 kaligrafer itu mendirikan Pesantren Kaligrafi Al Quran di Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Di situ, para santri tak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga digembleng untuk mendalami beragam gaya khat Arab.

Namun, Didin menghadapi tantangan lebih berat, terutama pendanaan. ”Mula-mula saya curahkan uang sendiri, selain sumbangan dari donatur, iuran, dan dukungan alumni Lemka. Cari santri juga tak mudah, awalnya hanya empat orang,” katanya.

Seiring prestasi para santri di ajang lomba kaligrafi MTQ, pamor pesantren naik. Jumlah santri terus bertambah dan pendanaan kian lancar. Kini, lembaga ini memiliki fasilitas cukup lengkap, meliputi asrama, masjid, gedung administrasi, koperasi, warung, perpustakaan, rumah guru, studio melukis, dan lapangan futsal.

foto: ilham khoiri
foto: ilham khoiri

Corat-coret

Ayah Didin, Abdul Rahman, adalah seorang mantri kesehatan yang kemudian menjadi Kepala Desa Karang Tawang di Kabupaten Kuningan. Tak mengikuti jejak sang ayah, Didin kecil malah kepincut melukis. Ia gemar mencoreti dinding rumah dengan arang.

Hobi itu menjadi-jadi saat Didin mengenal komik. Ia sibuk meniru gambar-gambar itu dengan peralatan seadanya. Namun, sang ayah ingin anaknya mendalami ilmu agama. Dikirimlah remaja itu ke Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur.

Pesantren tak memupus hasrat Didin melukis. Di sela-sela mendalami ilmu-ilmu agama Islam, ia melukis. Bahkan, bersama beberapa santri, ia dirikan Sanggar Pelukis Darussalam (Sakisda). Di sini, ia mulai tertarik mempelajari seni kaligrafi Arab, yang kebetulan termasuk pelajaran wajib. ”Saat itu buku-bukunya masih terbatas.”

Lulus dari Gontor pada 1975, Didin mengincar Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta. Sayang, sang ayah berkeberatan. Pemuda itu lantas kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sambil kuliah, Didin berguru kepada penulis kaligrafi buku profesional KH M Abdul Razaq Muhili dan kaligrafer lulusan penulis Al Quran Pusaka Indonesia, HM Salim Fachry. ”Saya datang, banyak bertanya, meminta bahan- bahan untuk ditiru.”

Setahun setelah kelar kuliah, pada 1983 Didin ditugaskan mengajar kaligrafi di IAIN. Ini tugas berat karena referensinya masih langka. Maka, dosen muda itu pun menyusun naskah mengajar. Naskah itu lantas disempurnakan menjadi buku, Seni Kaligrafi Islam (terbit 1985).

Karya itu diikuti buku-buku lain. Ada 40-an buku seni kaligrafi karya Didin, mulai dari sejarah, diktat pelatihan menulis, contoh-contoh tulisan, kumpulan artikel, hingga terjemahan buku master kaligrafi Timur Tengah. Semua itu menjadi referensi bagi para peminat seni kaligrafi. Pengalaman nyambi menjadi wartawan majalah Panji Masyarakat membuat seniman ini lancar menulis.

img_5331

Foto: KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Islam yang ramah

Sembari mengajar dan menulis buku, Didin terus mengasah kemampuan menggoreskan khat. Pengetahuan dan kepiawaian membuat ia dipercaya sebagai Dewan Hakim Seni Kaligrafi dalam MTQ Nasional di Padang, Sumatera Barat, pada 1983. Pengakuan lebih luas diperoleh saat dia menjadi Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN pada 1987. Sepuluh tahun berselang, kaligrafer itu bahkan didaulat menjadi juri sayembara bergengsi itu.

Pada 1993, Didin memenuhi permintaan sastrawan HB Jassin untuk menuliskan Al Quran Berwajah Puisi. Ayat-ayat Al Quran ditulis secara lengkap dan utuh, tetapi dengan tata letak mirip susunan puisi. Proyek seni ini memicu perdebatan luas, dan kaligrafer itu kian masyhur.

Nama Didin juga beredar di mancanegara. Tahun 2001, ia mewakili Indonesia dalam The 9th International Exhibition of The Holy Qur’an di Teheran, Iran. Tahun 2009, dia mengisi pameran dan diskusi seni kaligrafi Arab di Islamabad dan Lahore, Pakistan.

Sebenarnya apa yang dikejar Didin selama pengembaraannya dalam seni kaligrafi? ”Kaligrafi itu the art of Islamic art, seninya seni Islam. Seni ini punya nilai keindahan dan keluhuran karena langsung terkait penulisan huruf-huruf Al Quran, sumber ajaran Islam.”

Lebih dari itu, melalui seni khat, Islam tampil dengan wajah yang lebih ramah. Keindahan kaligrafi menerbitkan kesegaran di tengah citra Islam yang belakangan kerap dikaitkan dengan kekerasan, radikalisme, bahkan terorisme. ”Seni ini juga bagian dari dakwah Islam, jihad. Bukan dengan ceramah atau perang, melainkan dengan tulisan indah,” katanya.

Lihat Video Terkait ”Didin Sirojuddin AR: Maestro Seni Kaligrafi” di kompasprint.com/vod/didinsirojuddin

DIDIN SIROJUDDIN AR

♦ Lahir: Kuningan, Jawa Barat, 15 Juli 1957

♦ Istri: Aah Marfu'ah (51)

♦ Anak: Iwan Ridwan Saidi (27)

♦ Pendidikan:

- Pondok Modern Gontor (1969-1975)

- Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta, S-1 (1976-1982) dan S-2 (1997-1999)

- Ilmu Tafsir, Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ) Jakarta, S-3, (2012-2015)

♦ Pekerjaan:

- Pengajar di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1983-sekarang)

♦ Kegiatan: - Mendirikan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jakarta (1985) - Mendirikan Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka di Sukabumi (1998)

♦ Penghargaan: - Juara I Peraduan Menulis Khat ASEAN di Brunei Darussalam (1987)

 

Sumber:

KOMPAS Sabtu, 30-07-2016. Halaman: 16

http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/07/30/Maestro-Seni-Kaligrafi