Seniman bukanlah pertapa yang hidup menyepi, steril dari masalah sehari-hari. Seniman mesti menggeliat, menggugat berbagai soal, serta merayakan kehidupan. Gambaran ini lekat dengan Hardi (65), pelukis yang tenar dengan karya-karya sosial politik sejak 1970-an.

OLEH ILHAM KHOIRI

hardi

“Saya bukan pelukis yang asyik di studio dan tidak dikenal masyarakat. Saya pelukis sosial yang bergumul dengan keadaan sesungguhnya,” kata Hardi tentang dirinya.

Semangat itu tecermin dalam pameran tunggalnya, ”Seni Politik Humanisme”, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Kamis (11/8) malam, dan berlangsung hingga 20 Agustus. Diluncurkan juga buku Art, Politik, dan Humanisme.

Kami ngobrol di sela-sela Hardi menata puluhan lukisan yang diboyong dari rumahnya di kawasan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, ke BBJ di Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa lalu. Dia energik, terbuka, suaranya lantang. Istrinya, Susana Sorta Romenda, setia menemaninya.

Pada pergelaran ini, Hardi juga menyuguhkan drawing, sketsa, poster, dan foto. Ada pula sejumlah kain dengan motif garapannya serta beberapa kujang keras (janker) rancangannya.

Karya-karya itu memperlihatkan sosok Hardi yang dinamis, kreatif, dan getol menggugat berbagai soal. Lihat saja lukisan ”Persaudaraan Istri Anggota DPR” (2016). Digambarkan, rombongan ibu-ibu pejabat sedang berpose di bawah pohon sakura. Dandanan mereka mentereng, sebagian menenteng tas bermerek mahal.

Lukisan ini mengulik kasus pelesiran Persaudaraan Istri Anggota DPR RI ke Tokyo, Jepang, April lalu. Gaya hidup ibu-ibu pejabat itu mengusik publik. ”Ini kultur hedonis, pamer kekayaan,” ucap Hardi.

Masih terkait DPR, ada lukisan ”Akrobat Yang Mulia” (2016) yang menampilkan badut tengah berakrobat di atas roda. Anehnya, badut itu mengenakan toga kebesaran dan aksi tersebut digelar di atap gedung DPR.

Adegan ini menyindir Mahkamah Kehormatan Dewan DPR yang memeriksa Ketua DPR Setya Novanto terkait kasus ”Papa Minta Saham”, Desember 2015. Selama sidang, anggota mahkamah disapa ”Yang Mulia”. Sebutan ini terdengar ironis di tengah perilaku mereka yang diragukan kemuliaannya. Apalagi, sidang itu berakhir tanpa keputusan jelas.

Pelukis ini juga menyuarakan optimisme. Itu terbaca dari trilogi lukisan Joko Widodo yang dibuat sejak April sampai Oktober 2014. Salah satunya, lukisan ”Ngiring ke Istana”. Jokowi digambarkan mengenakan jas dan dasi, wajahnya adem. Tampak pula Istana Negara, patung petani, dan penggalan legenda Rama memanah raksasa.

Lukisan ini dibuat saat Hardi tampil di stasiun televisi mengomentari pelantikan Jokowi sebagai Presiden RI, Oktober 2014. ”Kepemimpinan Jokowi relatif bagus. Sayangnya, kebudayaan tetap marjinal,” ujarnya.

Pameran tunggal ke-21 ini kian menegaskan, Hardi bukanlah seniman ”salon” yang suntuk di studio tanpa peduli kehidupan di sekitarnya. Memang, sebagian lukisannya juga mengambil obyek konvensional, seperti perempuan cantik, penari, atau wayang. Namun, jika diamati keseluruhan, terasa semua itu bagian dari pergulatannya dalam berkesenian dan merayakan kehidupan.

hardi 2

Minggat dari rumah

Hardi gemar melukis sejak belia. Rumah ayahnya, R Adimaryono, Lurah Desa Gambar, Wonodadi, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, sering dia corat-coret dengan kapur. Lulus SMA (1969), ia minggat ke Ubud, Bali, dan mampir belajar di Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Ia lantas hijrah ke Yogyakarta (1971) untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

Selain kuliah, dia bergaul dengan banyak seniman dan mulai menulis seni di media massa. Tulisannya tajam mengkritik berbagai hal menyimpang.

Tahun 1974, digelar Pameran Besar Seni Lukis Indonesia 1974 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Beberapa pelukis senior memperoleh penghargaan. Karya mereka mewakili orientasi estetika yang steril dari masalah sosial politik, seperti gaya abstrak dekoratif.

Sejumlah seniman muda, salah satunya Hardi, protes lewat ”Pernyataan Desember Hitam”. Mereka menginginkan bahasa baru seni rupa yang membumi, beraneka ragam, dan menyentuh persoalan masyarakat. Namun, ASRI menjatuhkan sanksi terhadap eksponen gerakan ini, termasuk Hardi. Ia diberhentikan dari kuliah.

Ia lantas bergabung dengan sejumlah seniman muda ASRI dan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti FX Harsono, Bonyong Munni Ardhi, Siti Adiyati, Jim Supangkat, dan Nanik Mirna. Mereka mengusung Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) yang bersemangat melawan praktik seni rupa Indonesia yang dianggap mandek, terbatas, dan elitis.

Bagi mereka, seni Indonesia harus menghargai berbagai kemungkinan kreasi, mengangkat masalah aktual, dan membangun sejarah sendiri. ”Seni Indonesia harus lebih terbuka, terlibat sosial,” kata Hardi.

GSRB berpameran di TIM tahun 1975. Karya-karya kaum muda yang eksperimental itu menyulut perdebatan. Di tengah kehebohan tersebut, Hardi mendapat kesempatan melanjutkan studi di De Jan van Eyck Academie di Maastricht, Belanda, lewat rekomendasi utusan Kementerian Kebudayaan Belanda, Bert Hermens. Di sana, ia menyaksikan beragam ekspresi seni rupa kontemporer dunia, seperti pop art, conceptual art, seni instalasi, body art, dan performance art yang provokatif. Wawasannya kian terbuka. Pulang ke Tanah Air, tahun 1977, ia menjadi seniman radikal.

Dalam Pameran Seni Rupa Baru tahun 1979, ia menyuguhkan cetak sablon potret dirinya berseragam tentara. Gambar itu ditulisi ”Presiden RI tahun 2001 Suhardi”. Karya ini seakan menantang hegemoni Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. ”Soeharto mau melanggengkan kekuasaan, membuat pemilu palsu, membungkam demokrasi,” ujarnya.

Ketika karya ini ditampilkan lagi dalam Pameran Forum Pelukis Muda Indonesia di TIM tahun 1980, Hardi ditangkap Laksusda Jaya dengan tuduhan makar. Seniman itu ditahan dan diinterogasi habis-habisan selama tiga hari. Ia dibebaskan atas permintaan Wakil Presiden Adam Malik. ”Saya sempat trauma, tapi setelah itu urat takut saya seperti hilang,” katanya.

Belakangan, ia juga turun ke jalan, memprotes penyimpangan kekuasaan, seperti korupsi pejabat, DPR yang mau bikin gedung mewah, dan partai yang mengabaikan aspirasi rakyat. Dalam unjuk rasa, seniman itu juga unjuk melukis poster-poster politik yang menarik. ”Saya menyenikan politik.”

hardi 3

Hidup dari melukis

Saat minggat ke Ubud, Bali, tahun 1969, Hardi bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris yang punya galeri kecil, Suteja Neka. Kolektor ini membeli tiga lukisan Hardi sekaligus. “Dibeli Rp 25.000. Itu bisa untuk hidup tiga bulan,” kenangnya.

Pengalaman itu menumbuhkan keyakinkan dalam diri Hardi, bahwa kreativitas seni bisa dihargai dan dia bisa hidup dari lukisan. Kini, dia termasuk sedikit pelukis Indonesia yang mandiri dan hidup dari melukis.

“Banyak pelukis yang, kalau ditanya berapa harga lukisanya, malah plungkar-plungker. Saya tidak malu menjual lukisan,” katanya.

Soal bagaimana trik memasarkan karya, Hardi mengaku tidak memberikan harga mahal, bahkan bisa disesuaikan dengan pembeli. Lebih jauh, dia bilang menerapkan ilmu silat.

“Kita perlu menghitung saat (momen), bagaimana gerak jurus, bentuk serangan, pertahanan,” katanya diplomatis seraya memeragakan beberapa jurus silat. Hardi adalah murid pewaris 18 huruf Goan dari Suhu Subur Raharja di Persatuan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat.

Seniman ini lalu menceritakan perjalanannya beribadah haji di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi, tahun 1996. Itulah kali pertama dia melihat ka’bah dan terpesona. Sekembali di Tanah Air, dia melukisnya.

Ternyata karya itu terjual. Dia bersemangat melukis ka’bah lagi dan ternyata laku lagi. Begitu seterusnya sampai kini dia sudah 32 kali menggambar obyek yang sama.

Lukisan terbaru, “Ka’bah Yellow Sky” (2016) juga turut dipamerkan di BBJ. Dia melukis ka’bah yang dikelilingi jemaah thawaf. Menara masjid di sekelilingya berwarna putih. Langit disabut awan kuning, bulan merah terang.
Lukisan itu rupanya juga menandai kehidupan Hardi yang kini lebih spiritual. “Pameran ini berjalan dengan skenario Allah,” katanya bersyukur.

Sumber: 
KOMPAS- Sabtu, 13 Aug 2016

http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/08/13/Seni-untuk-Merayakan-Kehidupan

 

 

 

Advertisements