Obrolan bersama Saras Dewi

Barang siapa enggan mempelajari filsafat karena dianggap terlalu jelimet sampai bikin kening berkerut-kerut, ada baiknya menemui Saras Dewi (25). Gadis berwajah ayu ini bisa mengajak kita untuk mengkaji filsafat sebagai ilmu yang mudah dan lembut.

Oleh: Ilham Khoiri

yayas
Yayas, begitu sapaan akrab Saras Dewi, adalah dosen luar biasa Jurusan Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI). Beda dengan citra filsuf yang suka mengajak orang lain berwacana hingga kepala cenut-cenut (katakanlah, seperti tongkrongan patung lelaki bersungut-sungut The Thinker karya seniman Perancis, Auguste Rodin), perempuan ini mampu menularkan pengetahuan filsafat dengan cara yang rileks.

Coba saja kita ikuti kuliahnya di satu kelas di Gedung Jurusan Filsafat, Kampus UI Depok, seperti Kamis (13/11) lalu. Pada siang yang terik itu, Yayas mengajar mata kuliah English Text Comprehension- kuliah dalam bahasa Inggris yang mengkaji buku teks langsung karya filsuf. Siang itu, buku yang dibahas adalah Critique of Judgement, karya Immanuel Kant.

Tanpa menunggu para mahasiswa yang agak telat berdatangan, Yayas mempersilakan beberapa mahasiswa yang bertugas untuk segera menjelaskan konsep estetika atau keindahan Kant secara bergantian. Sesekali dosen muda itu membantu memperjelas pemahaman beberapa istilah. Selebihnya, diskusi dibiarkan berjalan sesuai dinamika kelas.

Pembawaan Yayas yang bersahaja, kadang berlaku seperti teman, membuat suasana kelas lebih santai, lebih adem. Para mahasiswa, yang banyak mengenakan kaus dan celana jins itu pun leluasa berdiskusi dengan nyaman. “Diskusi jadi salah satu pendekatan untuk menyederhanakan bahasa filsafat. Di sini, dosen menjadi pembimbing yang terbuka, siap dialog, bahkan didebat,” kata Yayas.

yayas 4

Foto: Kompas/ Yuniadhi Agung

Selain diskusi, Yayas kadang juga membawa mahasiswa untuk menonton pentas seni atau film. Mereka diajak menerapkan teori-teori estetika yang diajarkan di kelas untuk memaknai karya seni. “Seperti kata Socrates (filsuf Yunani), filsafat itu harus turun ke bumi, jangan di awang-awang saja. Begitulah dosen-dosen filsafat saya dulu mengajarkan,” katanya merendah.

Eh, bagaimana sih konsep estetika Kant? “Keindahan itu tak saja mencakup karya seni, tetapi juga alam. Manusia bisa memutuskan sesuatu itu indah atau dapat menyebabkan pleasure, melalui dua fakultas berpikir, yaitu pemahaman dan sensibilitas. Awalnya kita merasakan dengan inderawi kita, tapi kemudian diolah oleh gagasan atau kemampuan kognitif kita.”

Bagaimana relevansi konsep itu untuk melihat kehidupan sosial di Indonesia? “Kant berangkat dari keyakinan bahwa meski pemahaman kita subyektif, ia yakin secara teologis kita menuju kebaikan yang universal (sublim). Bila ini diterapkan sebagai pandangan etis untuk menerima perbedaan dan pluralitas seperti masyarakat di Tanah Air, maka bukankah itu akan bisa menjauhkan kita dari konflik agama?”

Begitulah, Yayas bisa melumerkan salah satu gagasan Immanuel Kant (1724-1804), filsuf modern asal Jerman, yang lumayan rumit itu. Pendekatan ini pula yang diterapkan saat mengajar mata kuliah lain, seperti Sejarah Filsafat Modern, Filsafat Manusia, atau Filsafat India. Perempuan ini juga mengajar di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Rawamangun dan jadidosen terbang di Universitas Hindu, Denpasar, Bali.

Apa tidak ada mahasiswa yang usil menggoda ibu dosen? “Waktu awal, banyak yang genit. Ada yang ngasih cokelat atau kirim SMS puisi cinta. Semua saya tolak dengan halus biar tidak mematahkan semangat belajar mereka.”

Gairah

Mengajar di kelas hanya satu sisi dari kehidupan Yayas. Di luar kampus, dia punya banyak sisi lain yang menarik.

Yayas gemar menyanyi. Dulu, dia sering manggung di kafe-kafe, bahkan sempat menelurkan album sendiri, Lembayung Bali (tahun 2002). Sejak kecil, dia belajar tari tradisional Bali dan belakangan berlatih tari perut. Katanya, “Saya kerap diundang menari di kedutaan besar.”

Pada kesempatan lain, Yayas kerap muncul sebagai pembawa acara alias MC di sejumlah acara seni-budaya. Dia juga banyak menulis kolom dan artikel di beberapa media cetak. Puisi pun digeluti. Antologi puisinya, Jiwa Putih, terbit tahun 2005.

Ada lagi. Dia penyayang binatang. “Saya pelihara 14 anjing di rumah,” paparnya seraya tertawa. Terlihatlah satu-dua giginya yang agak gingsul.

Apakah semua kegiatan itu ada hubungannya dengan filsafat? “Saya percaya konsep gairah, passion. Dengan menjalani bermacam kegiatan, saya bisa jaga semangat hidup, berekspresi, dan mengembangkan diri.”

Wah, sepertinya Yayas memiliki berbagai hal yang dirindukan banyak orang. Gadis tinggi-semampai ini berpenampilan menarik, bekerja sebagai dosen di universitas penting di Indonesia, bisa enak ngobrol apa saja, bersahaja, dan rendah hati pula.

“Saya juga tetap mempertahankan sisi kanak-kanak. Dengan begitu, hidup ini tetap menarik, enak dijalani, dan saya tertantang untuk terus belajar.” Demikian papar Yayas seraya memilin rambutnya yang hitam-panjang-lurus.

yayas 2

Foto: Kompas/ Yuniadhi Agung

Antara Bali-Jakarta

ALANGKAH MULIANYA JADI GURU

Hidup Saras Dewi banyak dihabiskan di dua kota: Bali dan Jakarta. Pulau Dewata menumbuhkan mimpi ideal seorang guru; Ibu Kota mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan.

Saat berusia sekitar empat tahun, Yayas diajak kedua orangtuanya, Nyoman Dhamantra dan Lilik Kelana Putri, untuk hijrah dari Bali ke Jakarta. Di Ibu Kota, pasangan itu merintis usaha baru. Yayas kecil menyelesaikan pendidikan SD di Tarakanita, Barito.

Untuk mencari suasana belajar yang lebih tenang, Yayas balik lagi ke Bali untuk tinggal bersama kakek-neneknya, Made Dharma dan Sunarti Dharma. Dia meneruskan pendidikan di SLTPN 3 Denpasar.

Pada masa-masa inilah obsesi jadi guru tumbuh dalam benak Yayas. Made adalah guru SD, sedangkan Sunarti bekerja pada bagian tata usaha sekolah. Setiap hari kakek-nenek itu bersepeda ke sekolah. Romantisme perjalanan keduanya mengajar itu tertanam pada memori sang cucu.

“Alangkah mulianya jadi guru seperti kakek!” katanya.

Kembali ke Jakarta, gadis ini bersekolah di SMA Australian International School, Kemang. Tahun 2001, dia ambil kuliah di Jurusan Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Alasannya, “Filsafat paling cocok dengan kepribadian saya yang punya rasa ingin tahu tinggi, senang memikirkan dan membicarakan apa pun secara bebas, senang melihat segala sesuatu dengan jeli.”

Kuliah S-1 diselesaikan tahun 2004 dengan skripsi “Upanisad;Suatu Konfigurasi Berpikir Kritis dalam Filsafat Timur”. Prestasi sebagai lulusan cum laude mengantarnya memperoleh beasiswa program magister dan doktoral sekaligus dipromosikan menjadi dosen luar biasa.

Setelah sempat jadi asisten beberapa dosen senior, seperti Gadis Arivia dan Rocky Gerung, Yayas kemudian dipercaya memegang beberapa mata kuliah sendiri. Mimpi jadi guru pun jadi kenyataan. “Saya senang bisa belajar bersama dan merasa punya sedikit andil ketika lihat pemikiran mahasiswa tumbuh maju,” katanya.

Sambil mengajar, Yayas kuliah Program Magister Filsafat UI. Akhir November ini, dia bakal maju dalam sidang akhir untuk mempertahankan tesis “Anatomi Kesengsaraan” yang mengkaji filsafat eksistensialisme.

Setelah selesai S-2 nanti, apa rencananya ke depan? “Saya mau ambil program doktor. Saya masih tertarik mempelajari filsafat Timur,” kata perempuan yang masih lajang ini.

Eh, kapan mengakhiri masa lajangnya, Mbak?

“Ha-ha-ha…. Aku sudah punya pacar kok. Dia kerja sebagai gitaris sebuah grup band.”(iam)

Sumber:

KOMPAS Minggu, 16-11-2008. Halaman: 020