aan mansyur

M Aan Mansyur, penyair asal Bone, Sulawesi Selatan, sedang meledak. Sebagai penulis puisi-puisi untuk ”Ada Apa dengan Cinta 2”, namanya berkibar seiring sukses besar film tersebut di pasaran. Namun, itu hanya satu jendela untuk melongok jejaknya di dunia sastra.

Oleh ILHAM KHOIRI & MOHAMAD FINAL DAENG

”Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu…. Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi”.

Penggalan puisi ”Batas” karya Aan Mansyur itu menjadi narasi dalam kisah Rangga (diperankan Nicholas Saputra) yang merindukan Cinta (Dian Sastrowardoyo). Kata-kata itu mewarnai teaser film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) yang dirilis akhir 2015 lalu. Membaca ”Batas”, kita merasakan kemungkinan Rangga dan Cinta bertemu setelah 14 tahun terpisah. Namun, saat bersamaan, kalimatnya juga menggantung, apakah bara cinta dalam diri sepasang kekasih itu bakal menyala kembali? Puisi itu memantik rasa penasaran.

Aan menulis 31 puisi yang mewakili kegelisahan Rangga selama 14 tahun terpisah dari Cinta, yang diterbitkan dengan judul ”Tidak Ada New York Hari Ini”. Diluncurkan seiring pemutaran film AADC 2 akhir April lalu, buku itu disambut hangat, bahkan langsung dicetak ulang pada hari peluncuran, dan kini sudah beredar cetakan ke-4.

”Dengan membuat puisi-puisi untuk film, saya memperluas audiens puisi. Puisi sekarang dipandang dengan cara berbeda,” kata Aan saat ditemui di ruang baca Katakerja di kompleks perumahan BTN Wesabbe, Tamalan Rea, Makassar, Senin (16/5) siang.

Respons netizen di media sosial juga ramai. ”Banyak orang bertanya dan memention saya di Instagram. Belum genap tiga pekan sejak diluncurkan, pengikut saya melonjak dari 12.000 menjadi 24.000 akun,” kata Aan tentang akunnya, @aanmansyur.

Popularitas ini adalah buah dari kerja suntuk Aan dalam menggumuli dunia sastra. Sebelum booming bersama AADC 2, penyair itu telah melahirkan sejumlah buku puisi, kumpulan cerita pendek, novel, atau esai budaya.

Mengurung diri

Aan adalah sulung dengan dua adik dari keluarga sederhana di Bone. Mereka hidup bersama ibunya, seorang penjual sayur, setelah ayahnya pergi dan tidak pernah kembali. Saat bocah, ‎dia sering sakit-sakitan, pendiam, dan tidak punya banyak teman. ‎Anak itu mengurung diri dalam rumah.

Kebetulan di rumah ada koleksi buku kakeknya. Dia pun menenggelamkan diri membaca buku-buku itu. Kecintaan Aan pada dunia tulis-menulis tumbuh saat itu. Aan pun belajar menulis dongeng atau cerita.

Sejak SD, Aan menulis cerita-cerita pendek. Kemampuan ini terus diasah saat SMP dan SMA. Beberapa majalah atau tabloid anak dan remaja cukup sering menerbitkan tulisan Aan yang dikirimkan dengan berbagai nama samaran. Honornya untuk menutup biaya sekolah.

Aan masih ingat, saat kelas II SMA, cerita pendek karyanya dimuat di majalah Anita Cemerlang di Jakarta. Honornya cukup besar. ”Honor satu cerpen bisa untuk traktir bakso untuk teman-teman satu kelas (40-an orang),” katanya.

Sebenarnya Aan pernah masuk Pesantren As’adiyah Sengkang, Wajo, Sulsel. Namun, dia tidak kerasan sehingga kemudian pindah ke madrasah tsanawiyah negeri di Watampone, Bone.

Suatu ketika, Aan menemukan buku kumpulan sajak karya Subagio Sastrowardoyo, Simfoni Dua, dan langsung mengaguminya. ”Bagaimana orang bisa menulis pendek, tetapi banyak yang dikatakan. Saya mau begini,” katanya.

Kemampuan menulis tumbuh dalam diri Aan. Kebetulan, ibunya juga menyukai puisi dan keduanya sering berkomunikasi lewat surat. ”Ibu saya adalah orang pertama yang membaca tulisan-tulisan saya,” katanya.

Tahun 1997, Aan merantau ke Makassar. Dia habiskan setahun pertama untuk mengunjungi beberapa perpustakaan di kota itu. Setahun kemudian, dia kuliah di Jurusan Sastra Inggris di Universitas Hasanuddin.

Sejak 2001, dia bertekad untuk serius menulis dan hidup dari menulis. Namun, dia dinasihati ibunya, bahwa menjadi penulis itu mungkin akan miskin. ”Miskin, penulis. Wah, kayaknya romantis. Itu pikiran bodoh saya waktu itu,” kenang Aan.

Peringatan sang ibu bukanlah isapan jempol. Aan pernah menghadapi masa-masa sulit karena harus berhemat demi membeli buku. ”Saya pernah masak mi instan untuk makan bertiga,” ujarnya.

Meski tak mudah, dia berjanji tidak mau keluar kampus sebelum punya buku. Menjelang lulus, tahun 2005, dia terbitkan kumpulan puisinya, Hujan Rintih-rintih (2005). Dia semakin percaya diri. Dua tahun berikutnya, dia menerbitkan novel Perempuan, Rumah Kenangan (2007). Menyusul kemudian Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012), Kukila (2012), dan Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014). Pada 2015, dia meluncurkan kumpulan puisi Melihat Api Bekerja.

Karya-karya itu diapresiasi publik karena menawarkan misteri yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana, tetapi sublim sekaligus indah. ”Eksteriornya sesimpel mungkin, tapi interiornya lebih kompleks.”

Jika puisi itu seumpama rumah, Aan menyiapkan sebanyak mungkin ruangan di dalamnya. ”Kalau ibu saya berkunjung ke situ, dia bisa istirahat di ruang tidur nyaman, ada dapur, tempat bersantai yang hangat, juga beribadah,” katanya.

Karya-karya Aan mengajak pembaca untuk bertualang. Bagi dia, puisi adalah jalan untuk mencari tahu daripada memberi tahu, menyodorkan pertanyaan ketimbang jawaban, dan menggoda kita untuk meragukan berbagai hal yang diyakini. ”Tugas saya, menyebarkan kegelisahan lewat puisi.”

Komunitas baca

Jejak Aan juga mewarnai geliat komunitas baca di Makassar. Pada awalnya, dia rajin membuat perpustakaan punggung. Dia memanggul tas besar berisi banyak buku ke kampus. Di koridor kampus, buku-buku itu dikeluarkan seperti lapak, dan para mahasiswa diajak untuk membaca bersama.

Dia bergabung dengan Komunitas Ininnawa, yang menjadi ruang diskusi dan penerbitan. Tahun 2014, bersama teman-temannya, dia mendirikan Kafe Baca Biblioholic di dekat kampus Unhas. Ini lantas memicu tumbuhnya ruang-ruang baca di kota itu.

Kini, Aan aktif sebagai pustakawan di Katakerja. Ini merupakan ruang alternatif bagi warga kota, yang tak hanya menawarkan buku-buku, tetapi juga merekatkan jejaring kaum muda kreatif lintas kelompok di Makassar. Kegiatannya beragam, mulai dari toko buku kecil, pelatihan keterampilan, diskusi, hingga pentas musik indie. ”Kami membuat ruang dan beragam kegiatan bukan karena banyak uang, melainkan karena percaya pada kekuatan kerja bersama,” katanya.

Semangat itu mendorong Aan aktif sebagai kurator dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) yang digelar sejak 2011 sampai sekarang. Di luar itu, dia juga termasuk penyair yang rajin berinteraksi di media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan blog.

”Media sosial membuat saya menemukan audiens lebih luas, buku-buku menjadi mudah terjual. Saya dekat dengan pembaca, dan mengetahui respons mereka,” katanya.

IMG_4821

Foto: KOMPAS/ILHAM KHOIRI

M AAN MANSYUR

♦ Lahir: Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982

♦ Pendidikan: Sastra Inggris Universitas Hasanuddin, Makassar (1998-2005)

♦ Aktivitas: - Aktivis Komunitas Ininnawa- Pustakawan Katakerja- Kurator Makassar International Writers Festival (MIWF)