Betawi adalah rumah pelukis Sarnadi Adam (59). Sejak 1985, dia kepincut untuk menggarap kehidupan seni budaya masyarakat tradisional di Jakarta itu sebagai tema utama karya-karyanya. Hingga kini, saat ekspresi seni rupa kontemporer Indonesia kian atraktif, dia masih menekuni pilihan tersebut dengan berbagai tantangannya.

Oleh ILHAM KHOIRI

”Melukis tema Betawi itu tanggung jawab saya. Saya akan tetap di jalur ini. Kalau saya lari, nanti siapa yang menggarap tema ini?” kata Sarnadi saat berbincang di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (31/5) lalu.

sarnadi adam

Sarnadi adalah lelaki asli Betawi, kelahiran Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Hingga kini, dia tinggal di kampung halamannya itu dan masih setia melukis tema-tema kehidupan masyarakat Betawi yang dicintainya.

Sudah 31 tahun Sarnadi menekuni tema ini. Selama itu, sudah 45 kali dia berpameran tunggal dan banyak lagi pameran bersama. Kanvas-kanvasnya selalu dipenuhi pemandangan budaya Betawi, mulai dari kehidupan sehari-hari, pertunjukan seni tari cokek, lenong, ondel-ondel, perkampungan, kebun, tanjidor, hingga gaya hidup warga yang kian urban.

Semangat itu juga diperlihatkan dalam pameran tunggalnya bertajuk ”Betawi dalam Lukisan” di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Kamis malam dan berlangsung hingga 12 Juni nanti. Lukisannya merupakan rekaman visual tentang kehidupan masyarakat tradisional Jakarta, lengkap dengan romantisisme dan problematikanya.

Tengok saja lukisan ”Antara Kerawang Tangerang” (2014). Karya ini menampilkan puluhan perempuan penari cokek yang berjalan beriringan. Mereka mengenakan kain, kebaya, dan selendang. Pohon-pohon asam yang rimbun menghiasi latar belakang. ”Tari cokek semakin jarang dipentaskan. Penarinya semakin sedikit, seperti di Tangerang,” katanya.

Masih soal penari, lukisan ”Cokek Pulang Kampung” (2013) menunjukkan peralihan gaya hidup dari tradisional menuju modern. Beberapa penari memakai kebaya, celana jins, dan sepatu bot berhak tinggi. ”Sejak dulu, masyarakat Betawi terbuka. Makanya, ada pengaruh budaya China, Sunda, Jawa, bahkan Arab,” ujarnya.

Pada lukisan ”489 Wajah Ondel-ondel” (2016), tampak ratusan wajah ondel-ondel dalam bermacam ekspresi: marah, sedih, gembira, tenang, atau termangu. Meski masih rutin ditampilkan, terutama pada ulang tahun DKI Jakarta, nasib seni ini juga tak menentu.

Lukisan-lukisan lain memotret kenangan lama yang tergusur perubahan zaman. Ada pohon-pohon besar, tanah lapang, keseharian warga yang bersahaja, atau rumah kayu tradisional. Sarnadi melukis sebagian obyek itu berdasarkan ingatan. ”Saya rindu pada masa indah itu,” katanya.

Kenyataan, masalah, atau romantisisme kehidupan masyarakat Betawi berdenyut hidup dalam lukisan Sarnadi. Dengan gaya dekoratif, dalam arti obyek dilukis secara datar dengan citra hanya dua dimensi, dia menonjolkan detail ornamentasi atau pernak-pernik hiasan. Adegan dikemas secara naratif sehingga lebih bercerita.

Karakter terbuka warga Betawi diwakili warna-warna yang segar. Merah, hijau, kuning, atau ungu dipadupadankan begitu saja. Pencapaian itu mencerminkan penghayatan Sarnadi terhadap budaya masyarakat di Ibu Kota.

Melalui lukisan, seniman ini mendokumentasikan kehidupan masyarakat Betawi yang sebagian telah berubah atau tergerus oleh pembangunan Ibu Kota. Lukisan memang sulit mencegah kian lunturnya budaya komunitas itu, tetapi minimal merekam nilai-nilai tradisi, terutama kebersamaan dan keterbukaan, untuk diwariskan kepada generasi baru.

Coretan di atas tanah

Bagaimana Sarnadi bisa nyemplung dalam dunia seni lukis, lalu kepincut dengan tema Betawi? ”Saat berusia enam tahun, awal sekolah dasar (SD), saya suka corat-coret dengan ranting di atas tanah basah sehabis hujan,” ucapnya.

Dia banyak menggambar pentas seni budaya Betawi di kampung-kampung saat itu. Ada tanjidor, tari cokek, ondel-ondel, atau lenong dengan lakon seperti Si Pitung, Si Jampang, atau Nyai Dasima. Kenangnya, ”Kalau pas hajatan, orang bikin panggung, pentas seni, semua tumplek blek ke situ.”

Masuk SMP, dia terus melukis dan beberapa kali menang lomba. Seorang guru Aljabar (Matematika), Pak Suminto, menyarankan Sarnadi agar meneruskan belajar ke Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di Yogyakarta. Saran yang menggoda.

Begitu lulus SMP, tahun 1974, pemuda itu mendaftar di SSRI untuk mempelajari dasar-dasar seni lukis, patung, keramik, atau grafis. Dia juga menjajal berpameran di beberapa kota bersama teman-temannya yang kemudian menjadi perupa, antara lain Dede Eri Supria, Dadang Christanto, Nyoman Erawan, dan Ivan Sagito.

Kelar dari SSRI, tahun 1979, Sarnadi ambil kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta agar lebih mendalami berbagai ekspresi seni rupa. Beruntung, dia juga belajar dari beberapa dosen yang juga pelukis, seperti Fajar Sidik, Aming Prayitno, dan Widayat. Lulus tahun 1985, dia pulang ke Jakarta, lantas diterima sebagai pengajar di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta, yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Di Jakarta, Sarnadi merasakan tanah kelahirannya kian berubah. Pembangunan makin gencar, tetapi masyarakat Betawi justru terpinggirkan. Tergugahlah dia untuk merekam pergeseran itu. Suatu kali, dia melukis seorang penari Betawi yang duduk termenung, seperti galau dengan perubahan.

Lukisan itu ditampilkan dalam pameran bersama di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun 1985. Ternyata, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Soerjadi Soedirdja, serta Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Joop Ave tertarik. ”Pak Joop Ave membeli lukisan itu dan menyerahkannya kepada Pak Soerjadi,” kenangnya seraya tersenyum.

Pengalaman itu menyulut hati Sarnadi berbunga-bunga. Dia kian percaya diri, terus melukis, dan memamerkan karyanya di banyak kota di Tanah Air. Sambutan pasar cukup baik, bahkan sejumlah pejabat Pemerintah Daerah DKI Jakarta langganan mengoleksi karyanya.

Tantangan

Seni rupa Indonesia terus menggeliat. Gairah kontemporerisme dunia internasional telah mendorong ekspresi yang lebih cair, menerabas batas-batas disiplin seni, memperluas audiens, serta mendorong bermacam modus penciptaan karya. Lukisan di atas kanvas hanya satu medium konvensional di tengah tawaran beragam medium baru, seumpama video, instalasi, performance art, atau bermacam street art.

Dalam situasi demikian, Sarnadi bersikukuh dengan lukisan bertema Betawi. Ini adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai putra Betawi. Apalagi, lukisan-lukisan itu juga cukup diapresiasi, bahkan di luar negeri.

Pameran Sarnadi di TIM tahun 1992, misalnya, menarik perhatian seorang pencinta seni asal Belanda, AQ Jansen, yang kemudian memperantarai pelukis itu berpameran di Negeri Kincir Angin. Itu mengawali pameran berikutnya di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Perancis, Swedia, Tiongkok, Thailand, dan Filipina. ”Ketika di luar negeri, saya benar-benar merasa sebagai orang Indonesia karena membawa lukisan Betawi,” katanya.

Sebagian kalangan menganggap pilihan Sarnadi yang terus menekuni lukisan Betawi sebagai kesetiaan. Namun, muncul juga kritik yang menilai sikap tersebut sebagai keengganan untuk keluar dari zona nyaman. Terhadap semua itu, Sarnadi menukas, ”Betawi ini rumah saya. Saya ingin tetap di sini, menjaganya, memeliharanya.”

Sumber: KOMPAS Jumat, 03-06-2016

http://print.kompas.com/baca/2016/06/03/Betawi-adalah-Rumah-Saya

sarnadi2