Catatan dari Leipzig Book Fair 2015
Sebagian masyarakat Jerman, juga Eropa, telanjur tersentuh oleh sisi gelap Indonesia: negeri tsunami, digerogoti korupsi, kadang dikaitkan dengan aksi terorisme. Kita ditantang untuk menampilkan sisi positif sebagai negara dengan masyarakat majemuk yang hidup toleran, damai, dan demokratis. Karya sastra mencoba membangun citra baik itu.

Oleh Ilham Khoiri

20150411IAM-leipzig 1

”Lebur tumpur sumawur katrajang/ Bumi geter potar pater pateteran/ Bosah baseh hambalasah kasulayah/ Pindo ombak lembak lumimbaing jolonidi/ Bumi bengkah sumungah panasing kawah.”

Kalimat pembuka (sulukan) itu dilantukan seniman asal Solo, Jawa Tengah, Wasi Bantolo, dengan suara keras, bergelombang. Getaran suaranya mengesankan makna tembang yang memang mengisahkan dunia yang tengah dilanda kekacauan.

Puluhan penonton masih terdiam. Mereka berdiri mengerubungi panggung mungil di gerai Indonesia pada pameran buku Leipzig Book Fair 2015 di Leipzig, Jerman, pertengahan Maret 2015. Meski mulai merasakan pendaran gelombang nada sulukan, mereka tidak memahami artinya. Apalagi, cuaca di kota bekas Jerman Timur di ujung musim dingin pagi itu masih sekitar 10 derajat celsius.

Suasana agak cair ketika Ayun Anindita Setya Wulan, penari asal Purwodadi, Jawa Tengah, mulai menari. Dengan rambut disanggul, mengenakan kemben dan kain jarit serta bertelanjang kaki, perempuan langsing itu menggoyangkan tubuhnya dengan lincah. Sambil melempar-lempar selendang hijau terang, sesekali dia putar pelan pinggulnya. Mirip gerakan tari ronggeng di Banyumas, Jawa Tengah, sebagaimana digambarkan Ahmad Tohari dalam novelnya, Ronggeng Dukuh Paruk (pertama terbit pada 1982). Tarian itu memang menjadi petikan kecil dari karya sastra yang mengisahkan seorang penari ronggeng bernama Srintil.

Tak lama Ayun menari, tetapi panggung itu berangsur hangat. Puluhan warga Jerman, juga sejumlah warga Indonesia, yang hadir mulai bergairah. Terlebih, dengan dipandu aktor senior Slamet Rahardjo, pengunjung diajak menonton cuplikan film Sang Penari besutan sutradara Ifa Isfansyah yang diadaptasi dari novel Tohari. Slamet sendiri bermain sebagai seorang dukun dalam film produksi 2011 itu.

Lalu, Ahmad Tohari, yang terbang sekitar 15 jam dari Jakarta, dihadirkan di panggung. Ditemani dua penerjemah bahasa Jerman, sastrawan itu mengisahkan makna di balik kisah ronggeng yang berujung tragis akibat tersangkut dampak Peristiwa 1965 itu. ”Peristiwa 1965 adalah tragedi besar di Indonesia. Saya bersaksi telah terjadi hal buruk. Itu harus ditulis agar tidak terjadi lagi pada masa depan,” katanya.

Melalui karya sastra, lanjut Tohari, dia ingin mengajak masyarakat Indonesia membangun kehidupan yang lebih baik. Tak berhenti mengisahkan masa lalu, sastrawan itu kemudian menceritakan Indonesia baru yang sudah berubah. Katanya, ”Indonesia sekarang sudah semakin terbuka, lebih demokratis. Tapi, sebagian rakyat masih miskin.”

Penggalan pentas tari, film, dan diskusi Ronggeng Dukuh Paruk menjadi kemasan pembuka yang cukup manis dalam Leipzig Book Fair. Sambutannya lumayan. Seusai acara, sejumlah warga Jerman tampak menyalami Tohari dan beberapa media lokal mewawancarainya.

Selama empat hari, 12-15 Maret 2015, gerai Indonesia di pameran itu, yang dikelola komite bentukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyajikan sejumlah buku dari para penerbit di Tanah Air. Sebagian telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau Jerman. Lebih dari itu, dihadirkan juga sejumlah pengelola penerbitan, penulis, dan seniman.

Sapardi Djoko Damono, misalnya, membacakan puisi-puisi cinta yang romantis. Laksmi Pamuntjak mengulas novelnya, Amba, serta Aruna dan Lidahnya. Pengamat sastra, Nirwan Dewanto, menerangkan perkembangan mutakhir sastra nasional.

Ada juga komikus Beng Rahardian dengan karyanya, novel grafis Enjah dan Mencari Kopi Aceh. Evan Raditya Pratomo mengenalkan karyanya, The Little
Postman. Ilustrator Hari Prasetyo menjelaskan komik Presiden Joko Widodo dalam gaya Tintin. Penekun kuliner, Sisca Soewitomo, menerangkan seluk-beluk masakan Nusantara.

Para pengelola penerbitan mencari mitra kerja sama untuk menerbitkan buku-buku kita dalam bahasa Jerman. Mereka semua menyajikan Indonesia di depan khalayak Jerman. Ribuan orang mengunjungi pameran tersebut dan sekitar 200 orang melongok Gerai Indonesia setiap harinya.

sang penari

Pameran buku

Penampilan di Leipzig Book Fair 2015 adalah semacam pemanasan dari rencana Indonesia untuk tampil sebagai tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair di Frankfurt, Jerman, Oktober 2015. Bagi publik setempat, Leipzig lebih dikenal sebagai ruang pertemuan antara pembaca dan penulis, sementara Frankfurt lekat dengan kegiatan industri perbukuan. Selain memajang buku, gerai-gerai dari sejumlah negara di dunia pada ajang di Leipzig itu juga menggelar beragam acara temu penulis, diskusi, ulas buku, atau pembacaan sastra.

”Ini pentas buku. Silakan menyusuri tempat pameran dan mengikuti acara-acara yang jumlahnya lebih dari 3.000 acara. Silakan memilih tempat kesukaan Anda di lebih dari 400 gerai,” kata Direktur Leipzig Book Fair Ihr Oliver Zile dalam pengantar katalog pameran.

Para pengunjung yang memadati Leipziger Messe, gedung besar dengan atap melengkung, memang tampak menikmati berbagai suguhan. Gerai-gerai yang menyajikan buku-buku manga Jepang, misalnya, penuh sesak. Bahkan, puluhan anak baru gede (ABG) Jerman tak sungkan mengenakan kostum komik yang aneh-aneh, yang biasa disebut cosplay (costume play).

Meski mengusung tajuk book fair atau pameran buku, Leipzig sebenarnya tak melulu menyuguhkan buku, tetapi juga peradaban dari sejumlah negara yang menginspirasi lahirnya buku-buku itu. Karena itu, sebagaimana Indonesia, negara-negara lain pada ajang tersebut juga menampilkan aneka pentas budaya masing-masing.

Pencitraan ulang

Lantas, apa yang hendak diraih Indonesia dalam ajang ini?

”Di luar negeri, Indonesia telanjur dikenal sebagai negeri tsunami atau terpuruk karena kasus korupsi. Kita lawan citra buruk itu dengan membangun gambaran Indonesia yang lebih baik lewat karya-karya kreatif,” kata Ketua Komite Indonesia untuk Frankfurt Book Fair, Goenawan Mohamad.

Warga Jerman memang masih minim pengetahuan tentang Indonesia, seperti diakui mereka yang hadir dalam pameran itu. Mereka mengaku hanya tahu tentang Bali, tetapi tidak Indonesia. Sebagian malah lebih tersentuh sisi gelap kita.

Laksmi Pamuntjak menceritakan, dalam sejumlah wawancara dengan wartawan Jerman, publik di sana cenderung salah mengenal kita. Indonesia kadang dikira masih dalam rezim otoriter, dengan populasi Muslim yang cenderung radikal, bahkan disebut terkait dengan terorisme.

”Saya coba berikan gambaran Indonesia yang lebih maju. Mayoritas Muslim bersikap toleran, ada tradisi hidup bersama dalam perbedaan, demokrasi berjalan cukup baik. Perempuan bebas berekspresi. Ada kasus-kasus intoleransi, kekerasan, tapi tidak dominan,” katanya.
Bagi Sapardi Djoko Damono, karya sastra dimungkinkan menjadi media pencitraan positif tentang Indonesia karena memiliki bahasa universal, seperti dalam pameran di Leipzig. ”Sayangnya, pameran ini disiapkan terburu-buru, cenderung seadanya. Akan lebih menarik jika presentasi dirancang secara matang, lebih banyak memanfaatkan audio visual, pentas, film, atau slide yang bergerak,” katanya.

Sumber:

KOMPAS Minggu, 12 April 2015