Catatan Hasil Pemilu Presiden 2014

 

Rangkaian panjang Pemilu Presiden 2014 berakhir di Mahkamah Konstitusi. MK menolak seluruh permohonan gugatan tim Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan mengukuhkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai presiden-wakil presiden terpilih 2014-2019. Inilah klimaks kompetisi politik dalam situasi serba terbuka dalam enam bulan terakhir.

”Menolak permohonan pemohon (Prabowo-Hatta) untuk seluruhnya,” kata Ketua MK Hamdan Zoelva dalam sidang di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (21/8) malam.

Setelah sidang putusan di MK, Jokowi-JK tak menggelar perayaan. Selama sidang maraton itu, tidak ada pengerahan massa. Jokowi bahkan mencegah pendukungnya turun ke jalan. Jokowi dan JK memantau pembacaan keputusan MK di tempat terpisah di tengah aktivitasnya.

Sejak pagi, Jokowi sibuk menjalankan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selain menerima tamu dan mengadakan sejumlah rapat, Jokowi mengikuti Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta pada siang hari. Jokowi mengaku tidak sempat menonton sidang sengketa Pemilu Presiden 2014 di MK yang disiarkan langsung sejumlah televisi di tengah kesibukannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. ”Kamu lihat saja, tamu saya banyak begitu,” katanya di sela-sela aktivitasnya.

Adapun JK seharian berada di rumahnya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Pagi sampai siang, dia berkumpul bersama istri, Mufidah Kalla, beserta anak dan sejumlah cucunya. Siang hari, sejumlah tamu berdatangan. Mereka antara lain pengusaha yang lama menjadi sahabat JK, Alwi Hamu, Ketua DPP Partai Hanura Yuddy Chrisnandi, Ketua Partai Nasdem Sugeng Suparwoto, dan pengusaha yang juga ipar JK, Aksa Mahmud. Mereka menemani JK menonton sidang pembacaan keputusan MK melalui televisi di ruang tengah.

Karena pembacaan keputusan MK cukup lama, acara diselingi beberapa kali jeda untuk shalat Ashar, shalat Maghrib, dan makan. Mufidah menyediakan makanan kecil dan minuman untuk para tamu dan wartawan. JK sempat berfoto bersama para wartawan dan mengunggahnya lewat akun Twitter @Pak_JK untuk berinteraksi dengan pendukung lain. Tidak ada sorak-sorai menyambut keputusan MK yang mengukuhkan kemenangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014.

Seusai keputusan MK dibacakan, Jokowi dan JK bertemu untuk membuat pernyataan bersama di Taman Suropati, Menteng, Jakarta. ”MK telah memutuskan menolak semua gugatan yang diajukan kubu Pak Prabowo-Hatta. Dan itu adalah proses hukum tertinggi, proses final dari Pilpres 2014. Saya dan Pak JK sangat menghargai dan mengapresiasi kerja MK dan DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) yang telah bekerja secara terbuka, transparan, dan sangat profesional,” kata Jokowi didampingi JK.

”Masyarakat sudah menerima (hasil pemilu). Marilah kita bersatu kembali. Lupakan satu dan dua,” kata JK memberi tambahan keterangan setelah dipersilakan Jokowi.

Saat di rumahnya, JK mengimbau semua pihak untuk berbesar hati menerima apa pun keputusan MK sebagai keputusan final dan mengikat. Keputusan MK merupakan bagian dari demokrasi.

Proses panjang

Keputusan MK adalah ujung dari beberapa babak pertarungan Pilpres 2014 yang panjang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memberikan mandat kepada Jokowi sebagai calon presiden sebelum Pemilu Legislatif 9 April 2014. Setelah Pemilu Legislatif 2014, Gubernur DKI Jakarta ini menggandeng JK, Wakil Presiden 2004-2009, sebagai calon wakil presidennya. Tidak lama kemudian, Prabowo yang jauh-jauh hari sudah menyatakan maju sebagai calon presiden memilih berpasangan dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, yang saat itu menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa.

Dengan hanya ada dua pasangan, persaingan dalam Pilpres 2014 berlangsung sengit lantaran langsung masuk babak final. Situasi ini memicu kompetisi yang sengit dan sangat tajam. Untuk beberapa kasus, kompetisi yang terjadi bahkan membelah partai politik, pemilih, organisasi kemasyarakatan, dan juga media massa. Tujuh partai berkoalisi menjadi pendukung Prabowo-Hatta, yaitu Gerindra, PAN, Golkar, PKS, PPP, PBB, dan Partai Demokrat. Adapun Jokowi-JK diusung lima parpol, yakni PDI-P, Nasdem, PKB, Partai Hanura, dan PKPI.

Selama kampanye, kedua pasangan tersebut berusaha menarik perhatian masyarakat. Prabowo-Hatta menjanjikan Indonesia bakal menjadi negara besar dengan istilah ”Macan Asia”. Jokowi-JK berjanji mewujudkan Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Bukan hanya adu konsep, kedua pasangan dengan para pendukungnya yang meluas di media sosial juga menjual rekam jejak, pengalaman, jaringan, juga pencitraan. Tak sekadar kampanye positif, merebak pula kampanye negatif dan kampanye hitam. Beragam fitnah meluas dengan mudah dari jari-jari tangan, termasuk dengan mengeksploitasi sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Jokowi-JK pun dibuat sibuk menangkis dan mementahkan beragam informasi keliru yang, menurut mereka, menyerang dan menjatuhkan karena dinilai sebagai fitnah. Lewat obrolan, jaringan, media sosial, televisi, bahkan tabloid yang dicetak khusus untuk disebarluaskan, informasi keliru itu menyebar.

Pertarungan yang menegangkan mewarnai kehidupan sehari-hari. Bukan hanya di televisi dan media sosial, pertarungan banyak terjadi di antara anggota keluarga, bahkan suami-istri. Bagi sebagian kalangan, Pilpres 2014 sungguh menguras energi, emosi, dan perasaan deg-degan karena selisih elektabilitas kedua pasangan makin hari makin tipis.

Dalam kompetisi ketat, muncul kekuatan para sukarelawan yang bekerja memenangkan pasangan yang mereka dukung dengan cara masing-masing. Peran mereka sangat penting dan menentukan karena bergerak dengan cair, melibatkan berbagai kalangan, dan mampu membangun kerja-kerja mandiri tanpa instruksi dan keterlibatan penuh partai politik. Mereka juga aktif sebagai netizen (internet citizen) yang memperjuangkan pasangan capres-cawapres masing-masing.

Meriahkan partisipasi

Pada hari pencoblosan, 9 Juli 2014, rakyat, termasuk di luar negeri, berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara. Dalam rekapitulasi nasional di KPU 22 Juli 2014, Jokowi-JK ditetapkan sebagai presiden-wakil presiden terpilih dengan memperoleh 53,15 persen suara (70.997.833 suara), mengalahkan Prabowo-Hatta yang meraih 46,85 persen suara (62.576.444 suara).

Koalisi ramping parpol pendukung Jokowi-JK (dengan suara hasil pemilu legislatif sekitar 36 persen) bisa mengalahkan koalisi besar partai Prabowo-Hatta yang mengantongi suara hasil pemilu legislatif yang lebih banyak (sekitar 64 persen). Ada banyak faktor yang mendorong kemenangan ini, terutama citra Jokowi sebagai pemimpin yang lebih merakyat, bersih, dan berpengalaman memimpin sebagai Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta. Latar belakang Jokowi sebagai wong cilik juga membuat rakyat kebanyakan menemukan diri mereka dalam sosok itu. Jargon kampanye ”Jokowi adalah Kita” hendak menegaskan keunggulan latar belakang itu.

Namun, sebelum KPU menetapkan hasil rekapitulasi nasional, di depan pendukungnya yang berkumpul di Rumah Polonia, Jakarta, Prabowo menyatakan mengundurkan diri dari Pilpres 2014 yang sedang dalam tahap akhir rekapitulasi. Prabowo menuding penyelenggaraan Pilpres 2014 oleh KPU tidak adil dan tidak terbuka.

Meski sudah menyatakan menarik diri dari pilpres, Prabowo-Hatta tetap mengajukan gugatan Pilpres 2014 ke MK. Gugatan disampaikan dengan dasar ada kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif dalam Pilpres 2014 sehingga Prabowo-Hatta kalah. Pemilu ulang lantas dituntut.

Kemarin, sejak siang dan berakhir malam, setelah proses persidangan gugatan yang dimulai 6 Agustus 2014, MK memutuskan menolak seluruh permohonan tim Prabowo-Hatta. Ini sekaligus mengukuhkan kemenangan Jokowi-JK yang telah ditetapkan KPU. Sebuah proses panjang yang pasti bukan sebuah akhir. Tantangan untuk sebuah langkah awal pemerintahan baru butuh segera penanganan. Jokowi-JK menyadari hal ini saat jumpa pers setelah keputusan MK. ”Ini kesempatan bagi kami berdua untuk segera menyiapkan, segera merencanakan untuk pemerintahan baru kami,” kata Jokowi.

Pertanyaan kemudian muncul soal bagaimana Jokowi menyusun pemerintahan baru yang tidak bisa semuanya dikerjakan seorang diri. Soal hal ini, Jokowi merasa, semakin banyak calon anggota kabinet yang dipromosikan, semakin mudah dipilih dan ditentukan. Karakter yang tidak berubah dari Jokowi, cenderung menggampangkan sebuah persoalan. ”Gampang banget,” kata Jokowi.

Seluruh rakyat kini menanti janji. Rakyat yang sama juga gampang banget jatuh cinta dan jatuh benci. Kita menjadi saksi untuk hal ini berkali-kali.