Catatan Pentas Ki Slamet Gundono

Oleh Ilham Khoiri

Kula niki ciptaan Ngendika, Allah/ Kula lahir ke dunia kerna kerso Ndiko/Kula gadah tubuh kerna kerso Ndiko/Mripat kula Ndiko kang nyipto/Kula namung sulapan Ndiko/Tubuh kula, susu, dengkul… kabeh gaweane Ndiko, sulapane Ndiko….

Cebolang, seorang pemuda pengelana liar, melantunkan tembang itu dengan suara gemetar mendayu. Kesadaran akan kefanaan manusia dan kebesaran Tuhan menyergapnya. Dia pun menangis sesenggukan di tengah para penabuh terbang yang mengiringinya.

Ini satu penggalan kisah Cebolang Minggat yang dipentaskan Komunitas Wayang Suket asal Surakarta dengan dalang Slamet Gundono di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat-Sabtu, 20-21 Februari. Lakon itu merupakan fragmen dari naskah Serat Centhini yang diadaptasi Elizabeth D Inandiak, peneliti sastra Jawa asal Perancis. Kisah ini menceritakan pengembaraan Cebolang dalam mencari kesejatian diri.

Adegan tembang tadi cukup mengejutkan dengan gambaran Cebolang yang sebelumnya begitu liar. Minggat dari rumah di Sakoyasa, pemuda rupawan itu pergi ke Ngawidan dan mengumbar syahwat dengan bercinta habis-habisan dengan janda Nyai Demang yang masih perawan (karena suaminya impoten). Di Wirosobo, dia bermain cinta dengan seorang adipati laki-laki. Dia bergaul dengan Gatoloco, tokoh buruk rupa yang gemar membongkar relativitas dogma agama.

Kejutan lain muncul saat Cebolang tenggelam menonton lakon wayang Dewaruci—yang mengisahkan Bima mencari hakikat diri lewat kembarannya. Pencapaian spiritual memuncak saat dia pulang, dan justru diingatkan ayahnya, Syekh Akhadiyat, bahwa ilmu paling dasar adalah cinta.

Cair

Slamet Gundono berhasil mementaskan Cebolang Minggat secara segar menghibur, tapi berbobot. Naskah yang dibacakan dengan formal oleh Elizabeth sendiri, dimainkan secara merdeka oleh Slamet. Dalang bertubuh subur ini enak saja melantunkan suluk melengking, duduk mendongeng, memerankan bermacam tokoh, mengaji, bermain gitar mungil, menari, atau menyanyi gembira.

Iringan musik gamelan, terbangan, serta instrumen modern garapan Dedek Wahyudi terasa begitu cair. Begitu pula sinden Ida Lala dan aktor Hanindawan yang keluar memainkan beberapa tokoh. Semua itu berlangsung secara hidup di atas panggung minimalis: ada bangku (tempat Slamet duduk), beberapa wayang mungil, kain mirip kelambu, serta kasur yang terhampar di lantai.

Pengamat seni Wicaksono Adi memuji pentas itu karena berhasil memadukan kekuatan pedalangan tradisi, kebebasan teater kontemporer, keislaman, dan kejawen menjadi pertunjukan yang organis. Semua potensi itu terinternalisasi dan memusat pada diri Slamet. ”Dia aktor, dalang, pendongeng, dan penceramah yang oke. Mau ngapain saja rasanya enak,” katanya.

Bagaimana Slamet melakoni semua itu? ”Panggung adalah rumah di mana saya bergerak dengan santai, tanpa takut salah. Penonton adalah tetangga yang asyik diajak ngobrol,” kata Slamet.

Pencarian

Dari segi isi, lakon Cebolang Minggat mencerminkan pematangan spiritual lewat perjalanan panjang, bukan melalui pemutlakan doktrin. Pencarian, bahkan pemberontakan, justru membuka kemungkinan untuk mempertanyakan dan merumuskan kembali makna baru yang lebih relevan dengan kenyataan hidup. Bukankah spirit pengujian ini pernah diteladankan Sidharta Gautama yang keluar dari Istana Kapilavatthu demi menyerap pencerahan?

Sayang, pentas itu banyak disajikan dalam bahasa Jawa pesisiran sehingga menyulitkan penonton yang tidak tumbuh dalam kosmologi bahasa itu. Tajuk ”Wayang Kondo. M” yang disematkan pada pentas ini—dan diterjemahkan dengan membungkus wayang serta beberapa perabotan dengan kondom—terasa dipaksakan. Toh, kekuatan pentas ini tidak terletak pada tajuk sensasional itu, melainkan pada eksplorasi Slamet atas berbagai potensi menjadi satu pentas yang utuh dan hidup.

Sumber:
Kompas, Minggu, 22 Februari 2009

Foto KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Diunduh juga di:
http://v1.salihara.org/main.php?type=detail&module=news&menu=child&item_id=573