Menghidupkan Gagasan Islam Moderat Cak Nur

Oleh Ilham Khoiri

Nurcholis Madjid, cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia, meninggal delapan tahun silam. Namun, hingga kini, pemikirannya tentang Islam moderat terus hidup dan dibicarakan. Belakangan, gagasan Cak Nur—demikian sapaan akrabnya—juga dipendarkan lewat media sosial.

“Kaum beriman diperintahkan menerima pluralitas masyarakat sebagai kenyataan, sekaligus tantangan untuk berlomba dalam kebaikan.”

“Perbedaan sesama manusia harus disadari sebagai ketentuan Tuhan, karena Dia tak menghendaki adanya susunan masyarakat yang monolitik.”

“Fundamentalisme, yang dekat pada absolutisme, menjadi penghalang yang cukup besar untuk kerukunan hidup antar-umat beragama.”

Petikan-petikan gagasan itu diunggah @fileCaknur dalam laman Twitter yang kian tren di Tanah Air. Akun ini khusus mengungkapkan kembali ide-ide Cak Nur (1939-2005). Tentu, pesan-pesannya dikemas dalam kalimat tak lebih dari 140 karakter sesuai format Twitter.

Menurut Admin @fileCaknur, Elza Peldi Taher, akun ini aktif mengunggah sekitar 11-16 tweets sejak pagi sampai malam. Pesan-pesannya selalu berusaha membangun Indonesia yang damai, menghargai kemajemukan, terbuka, dan toleran. Para internet citizen (netizen) menyambut hangat sehingga akun yang dibuat sejak November 2012 itu kini memiliki 107.000 followers (pengikut).

Tak hanya membaca, para pengikut mengunggah ulang (retweet), mengomentari, atau mengutipnya lagi. Antusiasme ini mendorong penerbitan kumpulan tweet Cak Nur dalam tiga buku, yaitu “Satu Menit Pencerahan Nurcholish Madjid”, “Banyak Pintu Menuju Tuhan”, dan “Keislaman yang Hanif.” Sebagaimana sambutan di dunia maya, buku-buku itu juga laku keras di pasar. “Pemikiran Cak Nur mendapat respons positif karena menyuguhkan Islam yang ramah dan menyapa semua orang,” kata Elza.

Terobosan ini kembali menghidupkan pemikiran Cak Nur yang gencar disuarakan sejak tahun 1970-an, ketika menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kita diajak untuk kembali mendalami ide-ide tentang “Islam yes, partai Islam no,” toleransi, keindonesiaan, atau masyarakat madani yang menerima demokrasi. Ternyata, semua itu terasa kian relevan di tengah sisi gelap kehidupan demokrasi di negeri ini.

Sisi gelap
Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones, menengarai, sekarang ini Indonesia tengah menghadapi sisi gelap Reformasi, yaitu munculnya kelompok masyarakat madani yang intoleran. Dalam ceramah Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML) di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, pertengahan Desember lalu, dia mengungkapkan, di tengah eforia demokrasi, ternyata tumbuh juga sejumlah organisasi masyarakat yang cenderung antidemokrasi dan intoleran.

Sebagian dari kelompok itu cenderung main hakim sendiri, sebagian menggunakan kekerasan sebagai taktik, sementara yang lain berusaha menggantikan sistem demokrasi di Indonesia dengan khilafah. Sebagian dari mereka terlibat dalam sejumlah kasus peyebaran kebencian, kekerasan, dan intoleransi di beberapa daerah. Saat bersamaan, seperti diperlihatkan beberapa survei, perilaku sebagian masyarakat kian intoleran, mengeras, bahkan merasa tidak nyaman tinggal bersama dengan kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan.

Menghidupkan kembali gagasan Cak Nur lewat media sosial hanya salah satu cara untuk mementahkan tumbuhnya kelompok intoleran semacam itu. Pandangan keagamaan yang eksklusif, merasa benar sendiri, sulit menerima perbedaan, dan menghalalkan kekerasan, jelas perlu dimentahkan dengan pemikiran tentang agama yang ramah, Indonesia yang majemuk, pentingnya perdamaian, dan penerimaan kita pada demokrasi yang menghargai semua kelompok.

Agak menggembirakan, karena belakangan muncul akun-akun lain dari beberapa komunitas yang mengusung semangat serupa. Sebut saja, antara lain, @maarifinstitute, @suaraSETARA, @peaceGenID, @WAHIDinst, dan @islamdidadaku. Ada juga orang-orang yang secara pribadi menularkan toleransi. Di antaranya, pengasuh Pesantren Raudhatuh Tholibin di Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri (@gusmusgusmu), Imam di Islamic Center di New York, Amerika Serikat (AS) asal Sulawesi Selatan, Shamsi Ali (@ShamsiAli2), Assistant Professor Religious Studies Department di University of California, Riverside, AS, Muhamad Ali (@muhali74), puteri almarhum KH Abdurrahwan Wahid, atau Alissa Wahid (@AlissaWahid).

Akun-akun itu bisa membicarakan berbagai hal, seperti negara, demokrasi, politik, agama, olahraga, atau pengalaman hidup sehari-hari. Di antara sebaran pesan itu, kerap terselip kampanye untuk hidup bersama secara damai di tengah perbedaan. Bagi mereka, keyakinan beragama yang berbeda-beda bukan sarana untuk menghujat dan saling menyalahkan, melainkan modal untuk melihat perbedaan sebagai kenyataan.

“Kami ingin mendorong promosi toleransi secara lebih luas di ruang publik, termasuk dunia maya. Ini sangat penting karena dunia maya sebagian telah dimanfaatkan untuk promosi intoleransi,” kata Ketua Dewan Pengurus Setara Insitute, Hendardi.

Belum serius
Peneliti terorisme Solahudin, mengingatkan, kelompok-kelompok ekstrimis sangat aktif memanfaatkan media sosial, terutama Facebook, untuk menularkan dan mematangkan gagasannya. Mereka membuat forum diskusi jihad, yang sifatnya tertutup dan hanya anggota yang bisa mengaksesnya. Media sosial dimanfaatkan untuk merekrut anggota.

Ingat, misalnya, kelompok Abu Hanifah yang ditangkap Densus 88 pada Oktober 2012 yang sempat merencanakan aksi pemboman kedutaan-kedutaan asing serta kantor Freeport. Mereka ini merekrut anggotanya lewat Facebook. Ingat juga kelompok Sigit Indrajit, yang ditangkap Densus 88 pada Mei 2013 dan sempat merencanakan aksi pemboman Kedutaan Myanmar. Sebagian anggotanya juga direkrut lewat media sosial

“Kita perlu membanjiri internet dan media sosial dengan paham Islam moderat, sebagaimana kelompok ekstrimis memanfaatkannya. Biarkan terjadi kompetisi gagasan. Atau bisa juga kita mencegah orang-orang yang belum terpapar paham ekstrimis. Ini belum digarap terlalu serius,” kata penulis buku “Dari Negara Islam Indonesia (NII) ke Jemaah Islamiyah (JI)” itu.

Namun, apakah kampanye toleransi lewat media sosial itu ukup efektif? Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAID) Yayasan Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, belum terlalu yakin. Namun, langkah itu bisa mempermudah perkenalan dan pelebaran jaringan masyarakat moderat. Jangkauan luas media sosial membuat pesan-pesan di dalamnya mudah dibaca publik. Pendalaman gagasan selanjutnya tentu memerlukan media konvensional, seperti media cetak atau diskusi langsung.

Apa pun bentuknya, kampanye toleransi tetap dibutuhkan di tengah negara dengan otoritas dan aparaturnya yang cenderung lembek dalam menangani beragam aksi intoleransi.

Sumber:
Kompas, Selasa, 31 Desember 2013

Foto Nurcholis Madjid, sumber:
http://rumahnegeriku.com/site/blog/tag/pemikiran-cak-nur/