Catatan tentang Peringatan Sumpah Pemuda

Oleh Ilham Khoiri

Tahun 1928, para pemuda merintis kesadaran kebangsaan lewat Sumpah Pemuda yang mengikrarkan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa Indonesia. Kini, 85 tahun kemudian, sejumlah pemuda dari generasi baru bekerja keras membangun negeri lewat caranya masing-masing. Di tengah berbagai masalah yang merundung, kerja gigih mereka menumbuhkan harapan.

”Bangga sekali rasanya bisa merebut medali di olimpiade dan melihat bendera Indonesia dinaikkan dalam upacara penyerahan medali. Bangga karena Indonesia terbukti tidak kalah dengan negara lain yang lebih maju,” kata Triyatno (25), atlet angkat besi, Minggu (27/10), saat dihubungi dari Jakarta.

Triyatno menyabet medali perunggu di Olimpiade Beijing 2008, lantas perak di Olimpiade London 2012. Keturunan transmigran Jawa yang lahir dan besar di Lampung itu meraih prestasi tersebut lewat perjalanan panjang. Berawal dari menggembala kambing, mencoba berlatih angkat besi, sampai menjadi atlet profesional yang hidup dalam disiplin ketat.

Sempat dibekap cedera, Triyatno kini mulai pulih dan akan mulai lagi ikut di berbagai pertandingan tahun 2014. Dia siap menyumbangkan lagi medali bagi Indonesia di ajang internasional dan membuktikan bahwa Indonesia unggul.

Pemuda lain, Marzuki Mohamad (38), alias Kill the DJ, juga membanggakan bangsa lewat aktivitas berkesenian. Bersama beberapa seniman, lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Dia kawinkan musik hip hop yang ”Barat” dengan sastra Jawa yang ”Timur,” sebagaimana disajikan dalam album Poetry Battle atau film dokumenter Hiphopdiningrat. Paduan unik ini menyuntikkan darah segar dalam khazanah musik kontemporer Tanah Air.

Tak hanya di dalam negeri, JHF juga kerap pentas dan memperoleh apresiasi di mancanegara, seperti di Singapura dan Amerika Serikat. Marzuki menyebut kiprah keseniannya sebagai diplomasi budaya karena mampu membangun komunikasi dengan publik internasional. ”Ketika sering pentas di luar negeri, tentu aku membawa nama Indonesia dan mempresentasikan Indonesia meskipun negara belum pernah berperan sedikit pun untuk apa yang aku kerjakan,” kata lelaki yang kini menggerakkan pemuda di sekitarnya untuk bersama-sama bertani itu.

Di Bandung, Irfan Amalee (36), lulusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung, mendirikan Peace Generation. Kelompok ini berusaha mempromosikan perdamaian lewat diskusi, pelatihan, dan penerbitan. Bersama konselor remaja asal AS, Erick Lincoln, Irfan membuat modul pendidikan perdamaian yang terbit dengan judul ”12 Nilai Dasar Perdamaian”. Isinya tentang fakta keberagaman manusia, cara menghadapi konflik, kekerasan, atau memberi dan meminta maaf.

Modul itu kini diterapkan di lebih dari 10 provinsi, bahkan di Filipina, Malaysia, Australia, dan AS. Ada pula adaptasi ke beberapa versi. ”Modul perdamaian itu seperti virus yang menular dan menyebar. Kalau kelompok radikal bisa merekrut anak-anak muda untuk dijadikan radikal, kenapa kita peacemaker (penggerak perdamaian) enggak bisa melakukan lebih dari mereka?” kata pemuda yang masuk dalam ”The 500 Most Influential Muslim in the World” itu.

Di Jakarta, Fajar Riza Ul Haq (34), Direktur Eksekutif Maarif Institute, bekerja menyuarakan keadilan akses dan kesetaraan hak bagi kelompok-kelompok minoritas dan masyarakat yang terpinggirkan. Lembaga ini juga membantu meningkatkan kualitas pendidikan kebinekaan di sekolah-sekolah.

Lewat Maarif Award, lembaga ini mendukung tumbuhnya pelbagai inisiatif kelompok ataupun aktor sosial di akar rumput. ”Kami ingin memperkuat optimisme bahwa kita mempunyai modal sosial yang kuat dalam merawat demokrasi, yaitu inisiatif masyarakat sipil,” kata lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta itu.

Nama-nama itu hanya sebagian dari banyak pemuda Indonesia yang bekerja membangun bangsa. Masih banyak generasi baru lain yang bekerja keras lewat bidang dan cara masing-masing. Sebagian dari mereka jauh dari ingar-bingar sorotan publik dan tetap teguh dengan perjuangannya.

Kiprah para pemuda yang jauh dari mengeluh ini menerbitkan harapan saat kita memperingati Sumpah Pamuda. Banyak orang berdarah segar yang bekerja dalam senyap untuk memperbaiki keadaan di tengah berbagai masalah yang merundung negeri ini, seperti korupsi, ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, atau kesenjangan sosial-ekonomi.

Gustaff Iskandar (39), pendiri dan pimpinan komunitas kreatif Common Room di Bandung, mengungkapkan, anak muda sekarang memaknai spirit Sumpah Pemuda dengan cara beragam. Gagasan negara-bangsa bagi mereka berbeda dengan generasi-generasi terdahulu karena mereka tumbuh dalam situasi dan tantangan yang telah bergeser. Salah satu tantangan itu adalah persaingan global yang sengit.

 

Tentu, dia menyambut baik upaya sebagian anak muda yang kini terjun dalam politik, baik sebagai legislator maupun kepala daerah. Namun, para politisi muda itu harus terus diingatkan pada idealisme tentang pentingnya memperbaiki bangsa. Kalau ikut-ikutan mengedepankan kepentingan kelompok, bersikap pragmatis, dan oportunis, maka kaum muda semacam itu sulit mengubah keadaan. Apalagi, jika mereka korup dan melanjutkan kesalahan-kesalahan masa lalu.

 

“Kita mengharapkan kepemimpinan muda yang kritis dan korektif, yang dapat menunaikan cita-cita kemerdekaan secara adil dan beradab,” katanya.

 

Selain kekurangan stok pemuda idealis yang lihai berpolitik, peran kaum muda di partai politik atau kepemimpinan negara juga terhambat oleh praktik politik berbiaya mahal sekarang ini.  Mekanisme pemilihan langsung membuat elite bermodal besar dan berjaringan kuat memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan memperebutkan jabatan publik. Kaum muda yang umumnya berkantong cekak pun cenderung tersingkir.

 

Kembali pada peringatan Sumpah Pemuda, kita selalu diingatkan akan regenerasi sebagai proses alam yang tak terhindarkan. Dalam hal ini, Marzuki Mohamad alias Kill The DJ punya catatan menarik.

 

“Bagaimanapun, yang tua akan berguguran dan hilang untuk kemudian diganti dengan yang muda. Jangan terlalu pesimislah sama yang muda. Mereka keren dan pasti bisa menemukan jalannya sendiri kok. Pesannya justru buat orang tua untuk bisa memfasilitasi yang muda untuk tumbuh sebagai manusia Indonesia yang merdeka jiwa dan raganya,” katanya.

(ATO/RYO/FER)

 Sumber:  Kompas, Senin, 28 Oktober 2013