Catatan Penahanan Tiga Wartawan Indonesia di Port Dickson, Malaysia
 
Oleh Ilham Khoiri

Pada sore yang benderang, Rabu (9/5), sekitar pukul 18.00 waktu Malaysia, kami berlima turun dari mobil. Saya, Zen Teguh Triwibowo (wartawan Seputar Indonesia), Muhammad Fauzi (Media Indonesia), serta dua mahasiswa Indonesia di Malaysia.

Kebun karet dan sawit terhampar di bukit kecil yang senyap. Ini kawasan Tampin Kanan, Linggi, Port Dickson, Negeri Sembilan, yang kami tempuh sekitar 1,5 jam dari Kuala Lumpur. Di antara beberapa rumah, ada satu rumah besar yang mentereng. Mungkin ini lokasi penembakan tiga tenaga kerja Indonesia (TKI) oleh Polis Diraja Malaysia, 24 Maret lalu?

Kami memang penasaran untuk melihat tempat kejadian perkara (TKP) ditembaknya tiga TKI asal Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu Abdul Kadir Jaelani (25), Herman (34), dan Mad Noor (28) yang diklaim dipergoki hendak merampok dan melawan polisi. Namun, ada sejumlah kesangsian atas itu.

Kami, tiga wartawan, mencoba bertamu ke rumah besar itu. Benarkah itu lokasi penembakan? Suara keras musik dari dalam menunjukkan, ada seseorang. Setelah lama mengetuk dan mengucapkan salam berkali-kali, kami masuk melalui pintu pagar yang tak dikunci.

Dari pintu terali besi, tampak seorang lelaki tidur di sofa. Kami kembali mengetuk pintu dan mengucapkan salam berulang kali. Orang itu bangun dan bertanya, ”Dari mana?” Zen Teguh Triwibowo menjawab, ”Dari KL (Kuala Lumpur).”

Tanpa berkata lagi, pria tadi masuk, lalu terdengar menelepon. Tak lama, datang satu mobil patroli Polis Diraja Malaysia. Tiga lelaki berseragam biru keluar dan menyergah, dari mana kami dan apa keperluannya? Kami jawab, kami wartawan dari Indonesia dan mau meliput. Mereka perintahkan kami menuju Balai Polis Linggi (setingkat Polsek), tiba sekitar pukul 18.30. Kami diperiksa, beberapa kali dengan bentakan.

Kami jelaskan, kami wartawan dari Jakarta sebagai bagian dari delegasi resmi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia yang bertugas menelusuri kasus penembakan tiga TKI. Kami mengejar Suruhanjaya Hak Asasi Manusia (Suhakam), semacam Komnas HAM, di Malaysia yang meninjau TKP sore itu. Kami menyusul, tetapi telat akibat tersesat-sesat.

Setelah diinterogasi sejumlah polisi, kami diminta menunggu. Saya kirim kabar soal pemeriksaan ini ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, anggota delegasi dari DPD, dan Komnas HAM. Juga ke kantor di Jakarta.

Sekitar pukul 20.30, kami berlima dikawal dua polisi menuju Kantor Polisi IPD Port Dickson (setingkat polres). Tiba sekitar pukul 21.40, kami diperiksa ulang. Penyidiknya lebih banyak dan bergonta-ganti.

Satu penyidik menyebut-nyebut Indonesia sebagai ”Indon” dan menanyakan Amrozi dan Imam Samudera, sambil menghidupkan-mematikan korek api berkali-kali. Di berita-berita, katanya, banyak Indon yang pelaku kejahatan di Malaysia. Satu penyidik mencatat-catat, satu penyidik mengawasi, beberapa keluar-masuk. Sempat dibelikan nasi goreng ayam dan kami makan, interogasi dilanjutkan.

Sekitar pukul 23.00, Atase Kepolisian KBRI Kombes Benny Iskandar dan Bagian Perlindungan KBRI, Heru, tiba di Port Dickson. Kami dikumpulkan di ruang pertemuan dengan dipimpin Ketua Jabatan Siasat Jenayat Polis Negeri Sembilan, ICP Hamdan bin Majid.

Dia menjelaskan, rumah yang kami datangi itu memang TKP penembakan tiga TKI. Memasuki pekarangan rumah orang tanpa izin, katanya, melanggar hukum Malaysia. Ancamannya penjara tiga tahun atau denda 5.000 Ringgit. Namun, polisi tidak menerapkan pasal itu karena kami punya identitas jelas.

Kamis (10/5) dini hari, sekitar pukul 00.30, kami meninggalkan kantor polisi. Mimpi buruk enam jam sudah lewat. Tiba di Jakarta, udara memang panas, tapi kami menghirup kebebasan.

 
Sumber:

KOMPAS Sabtu, 12-05-2012