Diplomasi Budaya Indonesia-Malaysia

Oleh Ilham Khoiri

 

Walau raga kita terpisah jauh/ Namun hati kita selalu dekat/

Bila kau rindu pejamkan matamu/ dan rasakan a a a aku

Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh/ Terhapus ruang dan waktu

Percayakan kesetiaan ini/ Akan tulus a a ai aishiteru.

Penggalan lirik lagu “Aishiteru” yang dibawakan oleh Zivilia, grup band asal Indonesia, tersebut mengalun merdu di studio radio Hot FM, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (17/10) siang. Lirik lagunya romantis, bercerita tentang cinta yang menembus ruang dan waktu. Irama lagunya mendayu dengan cengkok khas Melayu.

“Zivilia termasuk salah satu band baru yang terkenal di Malaysia sekarang. Lagu ’Aishiteru’ sering diminta pendengar radio di sini,” kata penyiar Hot FM, Leya. Perempuan ramping itu menerima rombongan wartawan asal Indonesia dengan ramah.

Menurut Leya, banyak lagu Indonesia yang populer di negeri jiran itu. Selain Zivilia, masih ada satu band asal Indonesia yang sekarang sedang naik daun, yaitu grup Dadali. Grup terakhir ini bahkan belum terlalu dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Di luar dua grup baru itu, ada sejumlah band yang terlebih dulu masyhur di Malaysia. Sebut saja, antara lain, grup Wali, Dewa, Ungu, dan Padi. Termasuk juga penyanyi perempuan Rossa dan Krisdayanti. Sebagian besar kawula muda di negeri ini mengenal betul lagu-lagu mereka, bahkan menghafal liriknya.

“Anak saya hafal sekali lagu-lagu Wali. Sebut saja apa judulnya, dia akan dapat menyanyi sampai selesai,” kata seorang sopir di Kuala Lumpur ketika ditanya pendapatnya soal lagu-lagu pop Indonesia. Bahkan, dia mengaku menggemari lagu-lagu lama di Indonesia, seperti lagu-lagu Iwan Fals—yang di Kuala Lumpur dilafalkan sebagai “Foles”.

Kenapa lagu-lagu Indonesia diminati di Malaysia? “Temanya soal cinta yang romantis, juga karena ada jiwanya. Mungkin selera kita sangat dekat, tidak terlalu beda,” kata Leya.

Di Indonesia, sebagian lagu dari Malaysia juga cukup diminati. Pada tahun 1990-an, kita mengenal lagu “Isabella” yang dibawakan oleh Amy “Search”, yang kemudian berduet dengan Inka Christy. Marak terdengar kemudian lagu “Suci dalam Debu” oleh Saleem “Iklim”. Belakangan, kita mengenal Siti Nurhaliza yang bahkan kerap tampil di Tanah Air dan pernah berduet dengan Krisdayanti. Sebelumnya ada Sheila Majid yang pupuler dengan lagu “Sinaran”.

Lagu-lagu tersebut diterima masyarakat di Indonesia karena memang dianggap menyentuh hati kita. Sama seperti anggapan khalayak Malaysia, lirik lagu itu berbicara tentang cinta dan iramanya mengadaptasi cengkok Melayu.

“Sebenarnya selera masyarakat Indonesia dan Malaysia soal lagu itu cukup dekat,” kata Sheila Yeu, Network Publicist Fly FM.

Saling terhubung

Jargon bahwa Indonesia-Malaysia adalah dua negeri yang serumpun dalam budaya Melayu, bertetangga, dan punya kedekatan sejarah ternyata cukup tergambarkan dalam fenomena berbagai rasa dalam soal lagu. Dua negara saling menyukai lagu satu sama lain, saling bertukar, dan saling menggemari. Proses berbagi ini berjalan secara alamiah lewat jalur-jalur informal, terutama jalur industri musik.

Menurut pengamat budaya pop asal Bandung, Jawa Barat, Idi Subandy Ibrahim, fenomena berbagai lagu antara Indonesia dan Malaysia tersebut menunjukkan, secara budaya sebenarnya kita (Indonesia-Malaysia) tidak ada persoalan berarti. Kehidupan terlalu kecil hanya dilihat dari aspek dan kepentingan politik, apalagi dari segelintir kepentingan elite politik. Akar budaya bersama kita sebenarnya bisa menghidupkan banyak hal yang membuat kita saling merasa terhubung dan terikat secara tulus.

Dengan media seni dan budaya, kata Idi Subandy, kita bisa saling berkomunikasi dari hati ke hati. Di sini terbukti bahwa diplomasi budaya dan komunikasi antarbudaya bisa menjadi jembatan untuk membangun saling pengertian antarbangsa, antaretnis, dan antarpuak untuk membangun kerja sama antarbangsa dan menciptakan dunia yang lebih baik di masa datang.

Mungkinkah berbagi rasa lewat lagu itu bisa ikut mencairkan hubungan politik dua negara yang kerap tegang, seperti sekarang ini, menyusul masalah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat?

“Mungkin saja, kalau kita membangunnya dengan tulus dan sikap peduli, dan terutama kalau kalkulasi politik dan kapital tidak dijadikan sebagai satu-satunya barometer keberhasilan,” kata Idi Subandy.

Warna lain

Berbagi rasa dalam lagu pop terbukti telah memberikan warna lain dalam hubungan antara Malaysia dan Indonesia. Sebagaimana kita tahu, hari-hari ini media di Indonesia dan Malaysia diramaikan isu sengketa wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Camar Bulan dan Tanjung Datu, Kalimantan Barat.

Masyarakat dan sejumlah politisi di Tanah Air gusar akibat muncul dugaan adanya pergeseran patok perbatasan di wilayah tersebut, masuk ke wilayah Indonesia. Sementara masyarakat dan pemerintah di negeri jiran juga bersikukuh, tidak ada penyerobotan perbatasan tersebut. Mereka bersikukuh tidak menggeser patok perbatasan ke arah wilayah Indonesia.

Hubungan politik di antara dua negara pun menjadi panas. Sebagian elite politik di dua negara itu melontarkan bermacam wacana dan komentar di media. Namun, di tengah masyarakat pencinta lagu, sebenarnya kedua negara tetap dekat. Meminjam penggalan lirik lagu “Aishiteru”, hati kita selalu dekat. Setidaknya, dekat dalam lagu.

Lalu, mungkinkah kedekatan ini dikembangkan untuk membangun kedekatan lain, seperti hubungan sosial, keagamaan, atau politik? Sepertinya jawabannya menjadi pekerjaan rumah kedua negara.

Bagi Idi Subandy, paling tidak ada dua cara untuk menjadi pekerjaan rumah itu sebagai langkah nyata. Pertama, setiap negara aktif membangun desain budaya dan seni yang membuat kerja sama di bidang ini lebih optimal. Peran negara di sini hanya sebagai fasilitator dan katalisator saja. Janganlah hal ini diterjemahkan sebagai intervensi negara dalam proses budaya.

Kedua, lewat pendidikan. Kita adakan pertukaran, baik secara alami atas inisiatif individu warga masing-masing maupun atas nama keterlibatan kolektif negara antarbangsa. Kita ingin melihat masa depan Asia Tenggara yang besar, dengan keterlibatan Indonesia (dan Malaysia) sebagai kunci, tidak hanya sebatas slogan atau retorika diplomasi budaya yang hanya isapan jempol.

“Untuk soal ini, kita membutuhkan pemimpin yang pintar dan punya kepedulian terhadap aspek-aspek yang dekat dengan hati dan kehidupan warganya. Aspek-aspek tersebut terutama terkait dengan bidang seni dan budaya,” ungkap Idi Subandy.

Sumber:

KOMPAS, Senin, 24 Oct 2011