Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh Ilham Khoiri

 

Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya hanya identik dengan peringatan kelahiran Rasul pembawa risalah agama Islam. Namun, Jamiyah Ahl at-Thariqah al-Muktabarah an-Nahdiyah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mencoba menyisipkan semangat nasionalisme atau cinta Tanah Air dalam ritual itu.

“Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!” Slogan perjuangan itu diteriakkan seorang anggota jamiyah dengan suara lantang. Ribuan anggota jemaah lain menirukan pekik itu berulang-ulang. Gemanya menyebar di antara hadirin yang memenuhi halaman gedung Kansus Sholawat di Pekalongan dan meluber hingga ke jalan-jalan serta permukiman penduduk, suatu siang akhir Februari lalu.

Mengenakan baju koko, jubah putih, sarung, kopiah, atau baju muslimah, penampilan jemaah itu tak berbeda sebagaimana lazimnya peserta peringatan Maulid. Hanya saja, di sela-sela ritual, terselip teriakan “Merdeka” yang bersahutan. Sekilas ada suasana yang agak mirip perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI setiap 17 Agustus.

KH Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Yahya, Rois ’Am Jamiyah at-Thariqah al-Muktabarah an-Nahdiyah, memimpin prosesi patriotik itu dengan bersemangat. Dia mengingatkan jemaah akan pentingnya cinta pada bangsa dan negara Indonesia sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Tentu saja, acara utamanya tetap berupa bacaan shalawat (doa dan puja-puji untuk Nabi Muhammad), ceramah, zikir, dan doa bersama.

Maulid Nabi di Pekalongan itu memang menawarkan kemasan yang tak biasa. Tak saja menggali keteladanan dari Nabi Muhammad (570-632), jemaah juga diajak mengamalkan keteladanan itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara tegas, hal itu juga ditunjukkan melalui tema khusus “Dengan Maulid Nabi, Kita Perkokoh Persatuan dan Kesatuan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)”.

 

Keagamaan dan nasionalisme

Terasa sekali ada semangat untuk mempertemukan kesadaran keagamaan dan nasionalisme. Itu juga tampak dari komposisi tamu. Tampak hadir sejumlah ulama. Salah satunya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Aqil Siroj. Ceramah disampaikan ulama asal Yaman, Habib Zet bin Yahya.

Sejumlah pejabat juga datang. Sebut saja, antara lain, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi dan Dokumentasi Brigjen Ahmad Yani Basuki, dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Ada juga Panglima Daerah Militer (Pangdam) IV/Diponegoro Jawa Tengah Mayjen Mulhim Asyrof.

Lalu, bagaimana memanfaatkan Maulid Nabi sebagai momen untuk membangun kesadaran nasionalisme? Purnomo mengungkapkan, Nabi Muhammad telah memberikan teladan dengan berjuang mengeluarkan masyarakat dari zaman jahiliyah menuju zaman pencerahan. Hal tersebut dilakukan dengan keteguhan, keyakinan, dan perjuangan.

Keteladanan ini perlu dijadikan acuan dan pelajaran dalam membangun kehidupan bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia harus menjaga keteguhan sikap dan kekuatan batin sehingga tak kehilangan arah dan harapan di tengah perubahan zaman. Untuk tetap bertahan, perlu terus meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa.

Bagi Helmy, NKRI merupa-kan tanggung jawab bersama semua lapisan bangsa, terutama pemerintah, ulama, dan masyarakat. Ulama diharapkan mendorong pemahaman Islam sebagai agama yang mengajarkan perdamaian, kerukunan, dan persatuan. Selain menekankan persaudaraan antarumat (ukhuwah Islamiyah) dan antarmanusia (ukhuwah bashariyah), Islam juga mementingkan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah).

 

Agama sebagai Penyatu

Peringatan Maulid di Pekalongan itu menawarkan penguatan nasionalisme dengan pendekatan sosial-budaya yang lebih luwes. Dengan menyisipkan pesan patriotisme dalam kegiatan keagamaan itu, masyarakat hendak diingatkan bahwa agama bisa menjadi faktor penyatu (integratif) bagi pembentukan sebuah bangsa. Lebih dari sekadar jargon normatif, hal tersebut telah dibuktikan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.

Gerakan sosial-politik berbasis Islam berperan penting dalam membangun cita-cita Indonesia merdeka. Sarekat Islam (tahun 1912) pimpinan HOS Cokroaminoto, misalnya, mendorong umat untuk mengembangkan kemandirian dari kolo-nialisme. Muhammadiyah (tahun 1912) dan Nahdlatul Ulama (tahun 1926), dua organisasi kemasyarakatan Islam besar yang bertahan hingga sekarang, juga menyerukan nasionalisme di samping misi utama dakwah.

Bisa dibilang, pada masa kemerdekaan, Islam (sebagaimana tecermin dari perjuangan organisasi-organisasi tersebut) menjadi bagian penting dalam proses integrasi. Lahirnya NKRI tak lepas dari kesadaran dan kebesaran hati kelompok masyarakat beragama yang lebih memilih untuk membangun negara Indonesia berdasar Pancasila yang mengayomi beragam pemeluk agama. Sila-sila dasar negara itu diyakini sebagai cerminan nilai-nilai Islam yang universal: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Usaha untuk mengingatkan sejarah ini masih relevan. Apalagi belakangan ini masih ada sisa gerakan Negara Islam Indonesia yang merindukan negara agama. Ekspresi serupa bisa bermetamorfosis lebih halus lewat kelompok garis keras yang berjuang membakukan syariat Islam dalam hukum formal negara.

Aspirasi demikian tentu bisa mementahkan cita-cita para pendiri bangsa yang bersepakat membangun Indonesia dengan pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Terlebih jika agama dijadikan alasan untuk menggoyahkan solidaritas. Tak hanya menjadi langkah mundur, pendekatan itu berpotensi menempatkan sentimen keyakinan agama sebagai faktor yang merenggangkan (disintegrasi) persatuan.

Lewat pengajian Maulid seperti di Pekalongan itu, masyarakat diingatkan bahwa teladan misi profetik Nabi sebenarnya juga bisa diterjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sumber:

KOMPAS- Sabtu, 10 Mar 2012