Pengembangan Alutsista Nasional

Oleh Ilham Khoiri

 

Para pengunjung mengerubungi beberapa buah roket yang ditata berjajar. Peralatan perang sepanjang 1.762 milimeter (1,7 meter) itu tampak gagah dengan warna loreng dan ujung lancip berwarna merah. Beberapa orang mencermati namanya, Roket R-Han 122.

Roket ini dipajang di gerai Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI. Dalam brosur tercatat, senjata balistik darat kaliber 122 milimeter itu punya waktu terbang sekitar 63 detik. Dengan berat 38 kg, senjata ini bisa meluncur sampai 11 kilometer.

Roket itu adalah salah satu senjata yang ditampilkan dalam “Pameran Static Show” yang diselenggarakan bersamaan dengan Rapat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (18/1). Pameran terdiri atas dalam ruang dan luar ruang. Dalam ruang, kita menemukan gerai-gerai yang menyuguhkan contoh peralatan perang, model, beserta dokumen penjelasnya.

Pameran luar ruang digelar di lapangan terbuka di depannya. Di situ, berbagai peralatan perang dalam ukuran sesungguhnya juga dihadirkan. Ada tank, kendaraan roket peluncur, model pesawat, miniatur kapal, dan banyak lagi. Yang menarik, semua alat utama sistem persenjataan (alutsista) itu hasil produksi dalam negeri Indonesia.

Ada puluhan perusahaan swasta dan badan usaha milik negara yang ikut serta dalam pameran ini. Sebut saja, antara lain, Markas Besar TNI, Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Ada PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Semua itu seperti menerbitkan optimisme bahwa sebenarnya Indonesia juga bisa memproduksi sendiri alutsista. Sudah sewajarnya, setelah merdeka lebih dari 65 tahun, kita bisa membuat sendiri senjata. Lebih dari itu, beberapa perusahaan Indonesia bahkan sudah mendapat pesanan dari luar negeri.

“Ini sesuatu yang membanggakan, dan kita harus terus mengembangkan industri alutsista nasional,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di sela-sela mengunjungi pameran. Dia menyebutkan, ada sejumlah negara yang sudah memesan peralatan perang ke Indonesia, seperti Timor Leste, Filipina, dan Brunei.

Dalam kesempatan itu hadir juga Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Soeparno, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat. Mereka juga menegaskan pentingnya pengembangan alutsista TNI.

Suhartono menjelaskan, tak semua kebutuhan senjata Indonesia bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri karena industri Indonesia juga masih dikembangkan. Untuk itu, TNI memandang perlu mendatangkan beberapa peralatan penting dari luar negeri. Salah satunya tank Leopard yang sedang ramai dibicarakan.

Pramono Edhie Wibowo tengah mempersiapkan penjelasan resmi kepada DPR terkait pembelian tank Leopard. Harapannya, DPR dan masyarakat memahami kebutuhan pengadaan alutsista. “TNI perlu diberi kesempatan untuk menyeimbangkan sarana pertahanan dengan negara lain. Ini penting untuk menjaga keamanan kawasan,” katanya.

 

Sumber:

KOMPAS- Selasa, 24 Jan 2012