Perlu Pemimpin Muda Alternatif

Oleh Ilham Khoiri

 

Berikan aku 1.000 anak muda, maka aku akan memindahkan gunung. Tapi, berikan aku 10 pemuda yang cinta akan Tanah Air, maka aku akan mengguncang dunia.” Demikian salah satu pesan Soekarno yang hingga kini terus mengiang di telinga kita.

 

Presiden Republik Indonesia pertama itu yakin, pemuda punya kekuatan besar mengubah keadaan, bahkan “mengguncang dunia”. Soekarno bersama para pendiri bangsa telah membuktikannya. Sejak masih mahasiswa di Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung), dia menggerakkan perlawanan terhadap penjajah dan bersama Hatta memproklamasikan kemerdekaan negeri ini pada 1945.

Setelah merdeka, perubahan-perubahan penting bangsa ini juga melibatkan kaum muda. Pada 1966, misalnya, pemuda berperan penting dalam proses transisi dari rezim Orde Lama ke Orde Baru. Pada 1998, mahasiswa menggerakkan reformasi yang mendobrak kebekuan politik demi membangun sistem yang lebih demokratis.

Kini, 66 tahun setelah merdeka, keyakinan bahwa kaum muda sebagai agen perubahan masih disuarakan. Apalagi, 13 tahun setelah reformasi, negeri ini seperti berjalan di tempat. Sejumlah persoalan justru masih merundung kita: korupsi, ketidakdilan, kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan.

Muncul lagi harapan, pemuda dapat mengambil alih kepemimpinan nasional, katakanlah melalui Pemilu 2014.

“Pemimpin muda dibutuhkan untuk menyegarkan pengelolaan negara, memperkuat demokrasi, sekaligus mempercepat usaha meninggalkan praktik buruk masa lalu,” kata Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, pekan lalu.

Sebenarnya stok calon pemimpin itu sudah ada. Lihat saja mereka yang berkiprah di kampus, lembaga swadaya masyarakat, lembaga penelitian, kalangan intelektual, atau aktivis prodemokrasi. Kepemimpinan sebagian dari mereka teruji dalam lingkaran terbatas; sebagian memberikan kontribusi bagi masyarakat luas; dan beberapa memperlihatkan visi kemajuan bangsa. Sebagian bahkan sudah masuk dalam partai politik.

Masalahnya, pencalonan pemimpin nasional masih harus diajukan oleh partai politik. Sementara partai-partai itu rata-rata dikuasai elite dari kaum lama. Mungkinkah pemuda memenangi persaingan itu?

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh P Daulay mengakui, partai politik akan sulit memberi kesempatan kepada kaum muda. Soalnya, pembiayaan partai rata-rata masih tergantung pada ketua-ketua umumnya yang rata-rata dari generasi lama.

“Kaum muda harus mau masuk ke gelanggang pertempuran di parpol, melakukan kerja-kerja politik, dan berkompetisi untuk tampil sebagai pemimpin nasional. Hanya ini jalan paling realistis sekarang,” katanya.

Hanya saja, sebagian kaum muda yang masuk dalam partai politik ternyata justru menebarkan citra buruk. Alih-alih menyegarkan konstelasi politik, mereka justru larut dalam budaya korupsi. Sebut saja, salah satunya Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, yang terlibat dalam kasus korupsi wisma atlet SEA Games 2011.

 

Sumber:

KOMPAS- Kamis, 03 Nov 2011