Memperingati 102 Tahun Muhammadiyah

Oleh Ilham Khoiri

 

 

Muhammadiyah, organisasi besar Islam, baru saja merayakan ulang tahun ke-102 (berdasarkan hitungan tahun Hijriah). Bertahan lebih dari satu abad adalah prestasi tinggi. Namun, membuat perkumpulan itu tetap relevan di tengah perubahan zaman merupakan tantangan yang lebih berat lagi.

Coba kita merujuk ke belakang sejenak. Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta, 18 November 1912. Bersemangat pemurnian, Muhammadiyah mengajak umat untuk kembali pada ajaran Islam, yaitu berdasar Al Quran dan hadis. Ini perjuangan tak mudah karena masyarakat Muslim saat itu hidup dalam kungkungan berbagai amalan mistik, tertinggal, dan terjajah Belanda.

Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah berusaha menerjemahkan spirit pembaruan Islam dalam etos pengabdian nyata bagi masyarakat. Mereka membangun kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial. Semua itu secara bertahap berhasil menumbuhkan generasi umat baru yang lebih rasional, maju, dan modern.

Dalam konteks kemerdekaan, organisasi itu ikut menyadarkan keterbelakangan bangsa Indonesia akibat penjajahan dan keharusan untuk bangkit, memajukan diri, dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia. Bersama organisasi-organisasi nasionalis lain, gerakan pembaruan ini turut mendorong proses kemerdekaan yang berujung pada Proklamasi 1945.

Dengan semua itu, wajarlah jika kemudian KH Ahmad Dahlan (1868-1923) dan istrinya, Hj Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872-1946), ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Semangat ini juga dikembangkan olah para aktivis Muhammadiyah masa berikutnya. Ini tidak mudah karena zaman berubah dan selalu menawarkan tantangan baru.

Tantangan

Sekitar 100 tahun kemudian, Indonesia telah berubah. Dalam era reformasi seperti saat ini, sistem politik jauh lebih demokratis, tetapi berbagai masalah masih saja menghadang, seperti kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, penegakan hukum yang lemah, pragmatisme politik, dan tantangan kapitalisme global.

Kebebasan demokrasi ternyata juga memberi ruang bagi menguatnya kelompok-kelompok garis keras, termasuk yang berbasis keagamaan. Dalam kepemimpinan yang lemah, praktik-praktik intoleransi seperti leluasa merongrong harmoni kemajemukan bangsa Indonesia. Aspirasi untuk memformalkan syariat agama oleh negara seperti meragukan kesepakatan atas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks global, ancaman kerusakan lingkungan kian nyata. Benturan peradaban, termasuk berlatar agama, masih laten dan larut dalam gesekan politik. Turbulensi politik telah menggulingkan para diktator di negara-negara Timur Tengah.

Saat bersamaan, ketidakadilan politik global mendorong geliat radikalisme yang bersifat transnasional. Jaringan terorisme tidak hanya menjadi ancaman, tetapi berkali-kali meledakkan serangan yang menewaskan banyak korban. Citra Islam pun kerap dilekatkan dengan kekerasan.

Apa yang bisa dilakukan Muhammadiyah dalam situasi perubahan ini? “Muhammadiyah bertujuan terus melakukan pencerahan. Semangat ini diadopsi dari istilah tanwir, dari kata nuur, yang berarti pencerahan,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam pidato peringatan ulang tahun ke-102 di Jakarta, Jumat (11/11) malam.

Pencerahan itu diwujudkan dengan memperkuat budaya lewat berbagai bidang pengabdian, terutama pendidikan, sosial, ekonomi, dan keagamaan. Umat Islam perlu didorong menjadi penyelesai masalah bangsa, bukan sebagai bagian dari masalah, apalagi pencipta masalah. “Muhammadiyah bertekad tetap berkriprah bagi bangsa dan negara dalam berbagai situasi, siapa pun presidennya, siapa pun pemerintahnya,” katanya.

Bagi Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi, kemampuan Muhamamdiyah untuk bertahan lebih dari 100 tahun itu merupakan pencapaian luar biasa. “Apalagi, kehadirannya tetap revelan di tengah perubahan zaman,” katanya.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scott Allan Marciel juga mengapresiasi sumbangan Muhammadiyah. “Muhammadiyah sebaiknya melanjutkan perannya,” katanya.

Menurut Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar, perjalanan Muhammadiyah melintasi pengalaman sejarah panjang merupakan pelajaran berharga untuk organisasi ini dan organisasi Islam lain.

 

Sumber:

KOMPAS- Selasa, 22 Nov 2011