Persona tentang Antropolog Kenneth M George

Seorang profesor antropologi dari Amerika Serikat meneliti Islam di Indonesia dari sisi yang jarang diungkap, yaitu dimensi estetik. Mengkaji eskpresi seni rupa modern hasil karya seniman Muslim, dia menemukan wajah Islam yang indah dan sangat berbeda dengan citra kekerasan yang belakangan ini lekat dengan agama ini. Lebih menarik lagi, penelitian itu dilakukan dengan pendekatan persahabatan.

Oleh Ilham Khoiri

Dialah Kenneth M George (60), guru besar antrolpologi di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Sejak tahun 1985 sampai sekarang, dia banyak meneliti fenomena seni Islam di Indonesia. Selama 26 tahun itu, dia bolak-balik mengujungi Indonesia untuk mengkaji perkembangan seni rupa modern hasil karya sejumlah seniman Muslim.

Akhir Juli lalu, dia kembali mengunjungi Sulawesi, Bandung, dan Jakarta. “Saya kemari untuk menyegarkan pemahaman saya tentang perkembangan terkini Indonesia, terutama di tempat penelitian saya dulu. Saya ketemu dengan keluarga dan teman-teman, ngobrol, berbagi kabar,” katanya.

Salah satu teman yang dimaksud adalah AD Pirous (79), pelukis dan guru besar emiretus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain teman akrab, Pirous adalah rekanan, sekaligus salah satu obyek kajian Kenneth dalam meneliti seni rupa Islam.

Kami bertiga bertemu di kawasan Condet, Jakarta Timur, akhir Juli lalu. Namun, tulisan ini tak hanya bertumpu pada perbincangan saat itu saja, melainkan satu pertemuan lain di rumah Pirous di Bandung tahun 2009 lalu.

Kenneth bercerita, dia mulai tertarik dengan Indonesia setelah melihat sejumlah penelitian budaya Asia Tenggara sebelumnya. Ketertarikan itu terwujud saat dia kemudian mendapat kesempatan penelitian di pegunungan Mambi di Sulawesi Selatan, tahun 1982 sampai 1985.

“Saya tinggal di rumah salah satu warga di pegunungan itu. Saya belajar budaya dan bahasa mereka, makan ubi, nasi, ikut menanam padi, bahkan perang lumpur di sawah,” katanya.

Dia mengkaji sastra tutur dalam upacara keagamaan dan kepercayaan masyarakat setempat. Penelitian ini menjadi disertasi program doktoral Jurusan Antropologi, University of Michigan. Tahun 1996, hasilnya diterbitkan menjadi buku, Showing Signs of Violence: The Cultural Politics of a Twentieth-Century Headhunting Ritual. Kajian ini memperoleh penghargaan dari the Association for Asian Studies sebagai Winner of the 1998 Harry J Benda Prize in Southeast Asian Studies.


Seni rupa Islam

Selepas penelitian di Sulawesi Selatan, Kenneth kembali ke Amerika. Dia menulis hasil kajian etnografisnya tentang Indonesia itu untuk jurnal ilmiah. Beberapa tahun kemudian, dia mulai mengalihkan perhatian pada seni rupa modern bernafas Islam di Indonesia.

Bagaimana Anda kemudian meneliti seni-rupa Islam?

Tahun 1985, saya bertemu AD Pirous di Amerika Serikat. Selama enam minggu, saya menemaninya mengunjungi galeri, museum, studio, dan sekolah seni di sana. Saya mulai mengenal seni-budaya Islam dan seni rupa modern oleh seniman Muslim.

Saya membaca laporan tentang Festival Istiqlal I tahun 1991. Tahun 1994, dapat kesempatan tinggal di rumah Pirous untuk meneliti persiapan Festival Istiqlal II yang diselenggarakan setahun kemudian, tahun 1995. Saya juga melihat festival itu serta dilanjutkan dengan kunjungan singkat pada tahun-tahun berikutnya, yaitu tahun 1997, 1998, 2001, dan tahun 2002. Bersama Pirous, saya melakukan studi etnografis tentang seni rupa Islam modern.

Bagaimana cara Anda meneliti?

Saya bukanlah Muslim dan juga tidak ahli Bahasa Arab. Karena itu, saya tidak meneliti seni budaya melalui ajaran Islam, melainkan lewat kajian etnografis berdasarkan praktik beragama yang mewujud dalam kenyataan. Dengan kata lain, Islam diteliti dari perilaku sehari-hari kaum Muslim.
Saya melakukan penelitian etnografis dengan pendekatan keintiman budaya (cultural intimacy). Artinya, saya berusaha bersahabat dulu dengan lingkungan atau orang yang diteliti sehingga menjadi akrab. Dari kedekatan itu, lantas dia mengamati, menggali, mencatat, dan akhirnya mendapatkan data-data yang diinginkan.

Pengalaman bergaul dengan intensif akan menimbulkan semacam pengertian tentang kebudayaan. Pengertian itu yang saya serap sebagai data dan kemudian diolah menjadi hasil penelitian. Hal itu terlihat dalam proses penelitian tentang Pirous.
Memang, selama berkunjung dan bergaul dengan seniman itu, Kenneth melihat dari dekat bagaimana Pirous bekerja sebagai dosen di kampus, melukis, berpikir, dan bergaul dengan teman-temannya. Semua saya rekam dalam banyak kaset, video, dan catatan.

Hubungan Kenneth dengan AD Pirous dan keluarganya sangat dekat. Dalam sebuah kesempatan, Pirous mengatakan, “Ken (begitu dia menyapa peneliti itu) sangat akrab dengan keluarga kami. Bahkan, dia sudah merasa menjadi bagian dari keluarga kami.”

Bagi Kenneth, penelitian dan persahabatan tampaknya bisa saling menguntungkan. Penelitian bisa menumbuhkan persahabatan. Begitu pula, persahabatan juga dapat menghasilkan penelitian.

“Meneliti itu tak hanya memberikan kepuasaan intelektual, tetapi juga saya mendapatkan banyak teman, bahkan seperti saudara,” kata Kenneth.

Hubungan persaudaraan itu melahirkan banyak artikel dan sejumlah buku tentang seni rupa AD Pirous. Tahun 2002, (bersama Mamannoor) dia menulis buku A. D. Pirous: Vision, Faith, and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002. Buku itu diluncurkan bersamaan dengan pameran Pirous di Galeri Nasional, Jakarta.

Tahun 2005, terbit lagi tulisan Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa Kontemporer: AD Pirous dan Medan Seni Indonesia. Terakhir, tahun 2009, dia menerbitkan buku Picturing Islam: Art and Ethics in a Muslim Lifeworld. Buku terakhir itu mengkaji gambaran tentang Islam yang digali dari kehidupan kesenian Pirous.

Pendekatan persahabatan juga tercermin dalam cara penulisan buku itu. Alih-alih menjadi pengamat yang berjarak, bergumul dengan terori yang njelimet, atau merasa tahu lebih banyak, Kenneth justru memilih berdiri di samping Pirous yang ditelitinya, dan seperti mendorong orang itu untuk berbicara sendiri.

Apa yang Anda hasilkan dari sejumlah penelitian itu?

Islam tidak hanya diwakili oleh gambaran klasik, seperti orang yang pergi ke masjid untuk shalat. Ada banyak ekspresi yang mencerminkan Islam, salah satunya sseni rupa modern yang dibuat oleh seniman Muslim. Seniman Muslim, setidaknya sebagaimana saya temukan dalam proses kreatif AD Pirous, memperlihatkan usaha untuk memujudkan spirit keislaman dalam bentuk kesenian.

Dalam lukisan kaligrafi, misalnya, penampilan visualnya sudah menarik karena indah. Ini berkaitan dengan keterampilan untuk mengolah unsur-unsur estetika seni rupa. Secara tekstual, lukisan itu juga bermakna karena mengutip teks kaligrafi yang bersumber dari ayat Al Quran atau hadist. Bagi orang yang mengerti Bahasa Arab, itu menjadi pesan yang sangat bernilai.

Lebih dari itu, ada juga unsur mengingatkan orang lain tentang etika. Meski tidak dilakukan secara massal, lukisan seperti itu bisa merangsang orang lain yang melihatnya untuk merenungkan teks dalam lukisan itu. Jadi, karya seni itu hanya tidak dibuat untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, publik.

Ini selaras dengan semangat ajaran Islam, bahwa Muslim yang baik adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Sayangnya, lukisan seperti itu hanya dilihat oleh publik yang terbatas dan elite, seperti di pameran, museum, atau galeri.

Terorisme

Dari kajian tentang seni rupa modern itu, Kenneth kemudian berusaha merumuskan budaya Islam secara umum. Baginya, perilaku seniman Muslim itu menunjukkan, sebenarnya agama ini tidak berbahaya atau selalu gelisah, melainkan justru terbuka dan percaya diri. Dalam hubungan dengan orang lain, ada anjuran untuk berbuat baik dengan orang lain.

“Islam itu agama yang memiliki sistem etika. Bukan agama yang yang menghasilkan bom dan teror,” kayanya.

Lalu bagaimana dengan citra bahwa Islam itu lekat dengan terorisme?

Memang muncul serangan bom di beberapa negara, termasuk di Indonesia, terutama dalam 10 tahun terakhir. Sebagian teroris itu mengklaim melakukan serangan atas nama agama. Namun, sebenarnya berbagai aksi terorisme itu lebih dipicu persoalan politik daripada doktrin agama.

Klaim doktrin agama hanya menjadi semacam pembenaran atas kekerasan yang dilancarkan kaum teroris. Di balik itu, motivasi sebenarnya adalah kepentingan politik. Mungkin mereka ingin protes, melawan, atau merebut panggung kekuasaan.

Osama bin Laden, pimpinan Al Qaida yang baru saja tewas dalam penyergapan di Pakistan beberapa waktu lalu, dianggap sebagai teroris dan dalang di balik serangan udara ke menara kembar WTC di Amerika, 9 September 2011. Dia sering mengklaim berjuang atas nama Islam, padahal motivasi sebenarnya adalah kepentingan politik.

Osama bin Laden itu dulu menjadi semacam sekutu Amerika Serikat (AS) saat perang di Afganistan. Ketika dukungan AS kepada dia berhenti dan AS malah mengirimkan bantuan keamanan militer ke Arab Saudi, Osama menggerakkan perlawanan lewat berbagai serangan teror.

Apakah itu juga terjadi di Indonesia?

Kondisi serupa kemungkinan terjadi di Indonesia. Kelompok teroris mengklaim berjuang atas nama Islam, padahal sebenarnya ada keinginan untuk mendapatkan panggung kekuasaan politik. Mereka membenci dan menyerang target-target yang terkait dengan Amerika, seperti hotel, kelap malam, atau restoran yang dimiliki atau dikunjungi orang AS.

Itu memperlihatkan kebencian pada Amerika yang mewakili Barat. Kebencian itu bermula dari perbedaan pandangan politik, seperti perasaan diberlakukan tidak adil atau semacamnya.
Dengan begitu, solusi dari terorisme semestinya adalah perubahan politik. Namun, karena ini merupakan fenomena global, perubahan itu tak bisa dikerjakan oleh Indonesia sendirian, melainkan oleh negara-negara di dunia. Dunia internasional perlu mendorong tatanan politik yang adil bagi semua bangsa dan agama di dunia.

Jadi, apa pentingnya wajah seni rupa Islam yang cerah itu bagi citra Islam di dunia global?

Seni rupa Islam yang indah dan mencerminkan ajaran agama yang beretika itu memberikan gambaran lain tentang Islam yang berbeda. Islam tidak harus selalu dipahami dalam dimensi politik, ekonomi, atau soaial, melainkan juga dalam dimensi estetika. Hubungan Islam dengan seni budaya sangat intim. Lewat karya seni rupa, kaum Muslim diajak untuk merenungkan tentang diri manusia, Tuhan, dan lingkungannya.

Perkembangan Kota
Kaget dengan Urbanisasi

Bagi Kenneth M George, Indonesia memiliki daya tarik karena merupakan negara berkembang yang kaya budaya. Beraneka ragam tradisi masih hidup di pelosok Nusantara. Namun, kekayaan itu kini mulai terancam akibat proses urbanisasi yang begitu banal.

Lelaki ramah itu bercerita. Saat penelitian tahun 1982 sampai 1985, dia tinggal di kampung Mambi di kawasan pegunungan di pedalaman Sulawesi Selatan. Saat itu, kehidupan di sana bersahaja dengan rumah tradisional sederhana. Kelompok warga berbicara dengan bahasa lokal yang berbeda-beda satu sama lain.

Juli tahun 2011 ini, Kenneth kembali mengunjungi kampung tersebut. Ternyata suasana sungguh berubah. Orang leluasa meminjam uang lewat sistem kredit dari bank. Banyak warga sudah memiliki handphone (telepon genggam), sepeda motor, dan sebagian membangun rumah tembok.

“Anak-anak muda berbicara dengan bahasa gaul ala Jakarta, ‘lu gue’. Seperti bahasa yang ada di sinetron televisi. Jarang terdengar bahasa lokal yang asli dulu. Rasanya jadi aneh,” katanya.

Masyarakat di kampung itu sekarang memang berientasi kota. Bahkan, sebagian orang tua bangga kalau anaknya bekerja di kota. Sebagian anak muda memang meninggalkan kampung untuk menyerbu kota. Mereka larut dalam proses urbanisasi.

Di kota-kota tujuan, urbanisasi mendorong kota-kota besar menjadi kian sesak. Kota Jakarta, misalnya, menggelembung luar biasa besar. Meski ada program otonomi daerah, semua masih terpusat di ibukota Indonesia itu. Jalanan sesak, dipenuhi mobil dan diserbu motor yang berseliweran seperti nyamuk.

“Apa gunanya sebuah kota menjadi meledak sebesar ini? Ini harus dicarikan jalan keluarnya,” kata Kenneth bertanya-tanya.

Salah satu jalan keluar itu, katanya, dengan mendorong proses otonomi daerah yang sungguh-sungguh. Kawasan pinggiran di sekitar Jakarta perlu ditumbuhkan sehingga orang bisa menemukan kehidupan, tanpa harus berjejal-jejal di Jakarta. Perlu juga dibangun sistem transportasi massal yang baik.
(IAM)

Tentang Kenneth M George

Pendidikan
– PhD, Anthropology, University of Michigan (1989)
– MA, Anthropology, University of Michigan (1989)
– MA, Folklore, University of North Carolina at Chapel Hill (1978)
– BA, English, Tufts University (1978)

Pekerjaan
– Professor Department of Anthropology, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat (1999-sekarang)
– Department Chair (Ketua Jurusan) of Anthropology, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat (2004 – 2007)
– Peneliti pada Center for Southeast Asian Studies and The Border and Transcultural Studies research Circle.
– Editor Journal of Asian Studies (1997-99)
– Associate Professor Department of Anthropology, University of Oregon (1997-1999)
– Associate Professor Department of Anthropology, Harvard University (1996)
– Assistant Professor Department of Anthropology, Harvard University (1990-1996)
– Visiting Assistant Professor Departments of Anthropology, Tulane & University of South Carolina (1989-1990)
– Adjunct Lecturer Department of Anthropology, University of Michigan (1989-1990)

Penelitian
– Wawancara dan studi kolaboratif dengan pelukis AD Pirous di Bandung, Indonesia (1989-1990)
– Studi perbandingan tentang seni Islam di Singapura, Malaysia, dan Indonesia (1997 dan 1998)
Studi antropologi di Sulawesi Selatan, Indonesia (1995)
– Penelitian doktoral tentang ritual Pitu Ulunna Salu di Sulawesi Selatan, Indonesia (1982-1985)
Studi tentang folklor di Stanley, Virginia (1975, 1977, 1981)

Buku
– Picturing Islam: Art and Ethics in a Muslim Lifeworld (2009)
– Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa Kontemporer: A. D. Pirous dan Medan Seni Indonesia (Cultural Politics in the World of Contemporary Art: A. D. Pirous and the Field of Indonesian Art), (2005)
– Spirited Politics: Religion and Public Life in Contemporary Southeast Asia (2005)
– A. D. Pirous: Vision, Faith, and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002 (bersama Mamannoor, 2002)
– Showing Signs of Violence: The Cultural Politics of a Twentieth-Century Headhunting Ritual (1996)

Sumber: Kompas, 21 Agustus 2011