Catatan Deradikalisasi dari Mantan Tokoh NII

Oleh Ilham Khoiri

    Nama Al Chaidar (42) beredar di media massa setiap kali meledak
aksi terorisme di Indonesia. Maklum saja, ia memang salah satu sumber
yang fasih bicara seluk-beluk terorisme. Tidak cuma bergulat dengan
teori, analisisnya juga didasari pengalaman hidup bertahun-tahun
bersama gerakan radikal, khususnya kelompok Negara Islam Indonesia
(NII).
    Berikut pandangan Al Chaidar, yang disampaikan di Jakarta, Rabu
(4/5) sore.
    Bagaimana awalnya Anda terlibat dengan NII?
    Saya belajar Antropologi di Universitas Indonesia dengan bimbingan
Prof Parsudi Suparlan. Karena meneliti kelompok Darul Islam (DI)/NII,
saya dianjurkan bergabung ke dalamnya untuk mengkaji dari dalam dan
utuh. Saya dibaiat sebagai anggota NII Faksi Ajengan Masduki di Depok
tahun 1990-1991. Tahun 1991 saya masuk NII Komandemen Wilayah (KW) IX
di bawah pimpinan Abi Karim, yang kemudian diganti Abu Toto alias Panji
Gumilang.
    Bagaimana Anda terlibat lebih jauh?
    Bersama jaringan NII, saya keliling ke kantong gerakan ini, seperti
di Kalimantan, Riau, Sulawesi, Aceh, dan Jawa Barat. Saya juga ikut ke
Malaysia, Mindanao di Filipina, Patani di Thailand selatan, Pakistan,
dan Afganistan. Saya makan, tidur, dan menginap bersama mereka, bahkan
juga ikut belajar militer, seperti bela diri, menembak, penyergapan,
pengintaian, dan menelusuri jejak.
    Di Kandahar dan Jalalabat, Afganistan, saya melihat pelatihan
membuat bom. Ada banyak jenis pembuatan bom. Saya tak ikut karena takut
kena ledakan. Dalam berbagai kesempatan berbeda, saya ketemu Imam
Samudera, Abu Bakar Ba’asyir, Hambali, dan Mukhlas. Tetapi, waktu itu,
mereka belum jadi teroris. Mereka jadi teroris setelah tahun 2000-an.
    Anda juga sempat jadi pimpinan daerah NII?
    Saya pernah menjadi Bupati Bekasi Timur NII tahun 1995-1996.
Tugasnya, antara lain, merekrut orang dan menarik dana dari anggota.
Dari sekitar 8.000 anggota di Bekasi Timur saat itu, kami kumpulkan
dana infak sekitar Rp 30 juta per hari. Tahun 1995 total dana yang
dikumpulkan NII tahun 1996 itu mencapai dua kali APBN Indonesia. Ada
juga kewajiban menyetor emas satu kali seumur hidup. Tahun 1996 seluruh
emas yang terkumpul mencapai 1 ton lebih.
    Lalu, kenapa Anda keluar dari NII?
    Ada banyak pelanggaran dari pimpinan kepala daerah yang menyuruh
jemaah mengumpulkan uang dengan cara mencuri, berutang, menipu, dan
melacurkan diri. Tujuan kelompok ini ternyata bukan untuk mendirikan
negara Islam, tetapi justru menjebak orang-orang yang punya pandangan
ideal tentang NII agar kapok dan jera. Ini bagian dari rekayasa.
    Saya keluar awal tahun 1996. Saya sempat diintimidasi, bahkan mau
dibunuh, tetapi selamat. Akhirnya saya berkonsentrasi selesaikan kuliah.
    Bagaimana hasil penelitian Anda?
    NII yang diproklamasikan SM Kartosoewirjo tahun 1949 terpecah dalam
banyak faksi.Jumlahnya mencapai 14 faksi, yaitu Faksi Tahmid, Abu Toto,
Abdullah Sungkar, Hizpran, Ali AT, Ali Mahfud, Angkatan Mujahidin Darul
Islam (ADI), Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), Liga Muslim Indonesia
(LMI), Ajengan Masduki, Abu Kholis, Yusuf Tohiri, Kamil Al-Nafi, dan
Mansur Karsidi. Sebagian besar faksi itu beraliran keras, bahkan ada
yang menyempal membuat Jemaah Islamiyah (JI) dengan pengikut yang
meledakkan bom di Indonesia.
    Untuk skripsi, saya meneliti ideologi negara Islam dalam dua
gerakan pembentukan negara, yaitu MNLF di Filipina dan DI di Indonesia.
Kesimpulannya, ideologi tidak bisa hilang meski pendukungnya meninggal.
Sekali dirumuskan, pengikutnya akan terus mengaktifkan dan memperbaiki
ideologi itu.
    Anda punya tawaran untuk mengatasi terorisme?
    Terhadap yang sudah melakukan kekerasan, tegakkan hukum sesuai yang
berlaku. Siapa tahu, penjara bisa mengubah pikiran mereka pula.
    Pengikut lain harus dirangkul dan kemudian diubah gerakannya dari
jalan kekerasan ke jalan humanis. Mereka itu salah langkah, dan karena
itu perlu diajak ke jalan yang benar.
  

KOMPAS, Kamis, 05-05-2011