Catatan tentang Partai Keadilan Sejahtera di tengah Kisruh Koalisi

Warung Apresiasi Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (8/3) malam lalu, cukup meriah. Bukan lantaran ada hajatan pentas sastra, teater, atau tari oleh para seniman Jakarta, melainkan karena kedatangan ratusan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Mereka ingin bersantai sejenak di tempat nongkrong para seniman itu.

 Tanpa ingar-bingar jargon partai politik, orang-orang partai itu duduk-duduk di kursi yang ditata setengah melingkar. Di tengah, ada panggung kecil. Beberapa orang mencoba menghibur dengan membaca puisi atau bernyanyi.

 “Orang lain biarkan sibuk, kita di sini bersantai. Ya, silakan makan-makan,” kata Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq. Lelaki kalem itu lantas duduk bersila bersama Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, Ketua Gema Keadilan Rama Pratama, dan beberapa pengurus DPP PKS lain. 

 Suasana malam itu memang rileks. Meski acara partai, tidak tampak kibaran bendera partai. Tidak pula terdengar pernyataan-pernyataan politik. Orang-orang malah asyik menyantap kambing guling, soto, atau makanan-minuman lain.

 “Di tengah berbagai isu politik terkait koalisi, kami memilih untuk ambil jeda sejenak. Kami ingin melakukan refreshing sekaligus berefleksi,” kata Mustafa Kamal.   

 Acara santai itu agak kontras dengan dinamika politik nasional hari-hari ini. Sejak Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyempal dari garis kebijakan Sekretariat Gabungan soal pansus angket mafia pajak di DPR RI, wacana perombakan koalisi pendukung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono santer berembus. Sikap berbeda Golkar dan PKS dianggap menyalahi etika koalisi yang dibangun bersama Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB.

 Dua pekan ini, panggung politik memanas. Setelah Presiden Yudhoyono memberikan pernyataan cukup keras terhadap satu-dua partai yang dianggap melenceng dari konsensus koalisi, banyak komentar langsung mengarah pada Golkar dan PKS. Dua partai itu dianggap tidak etis karena melemahkan kebijakan koalisi di parlemen. Padahal, kader-kader mereka diberi sejumlah  kursi menteri di kabinet.

Partai Demokrat lantas menjajaki kemungkinan menarik Partai Gerindra dan PDI-P dalam koalisi. Bahkan, Gerindra dikabarkan sempat mengajukan nama-nama calon menteri. Tetapi, beberapa jam sebelum acara PKS di Bulungan itu, presiden (yang sekaligus menjadi pimpinan Sekteriat Gabungan untuk Koalisi) bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, di Istana Negara, Jakarta. Muncul kesepakatan, Golkar tetap berada di koalisi.

Sementara itu, PKS belum juga dapat undangan untuk bertemu presiden. Meski dianggap “mbalelo”, ternyata partai ini belum juga dipastikan akan dikeluarkan atau tetap dipertahankan dalam koalisi. Suasana masih serba tak pasti.

Dalam situasi seperti itu, PKS lantas menggelar acara santai di Bulungan. Partai itu juga mengajak pengurus serta kadernya untuk menonton film bareng, yaitu film Rumah Tanpa Jendela. Segera setelah makan-makan di Bulungan, mereka bergegas menuju Studio 21 Blom M Square.

“Film itu bagus, menggambarkan kegigihan manusia dalam menjalani kehidupan. Spirit cerita seperti itu perlu untuk merekonstruksi karakter bangsa ini,” kata Luthfi.

Mereka menonton film hingga tengah malam, baru kemudian pulang. Bagi PKS dan kadernya, acara makan-makan dan nonton bareng seperti itu telah memberikan jeda, bahkan mendinginkan suasana di tengah ingar-bingar isu koalisi. ”Kami selalu dingin kok. Kami merasa tidak punya masalah apa-apa,” kata Luthfi.

(Ilham Khoiri)

Tulisan asli diterbitkan: Kompas, Jumat (11 Maret 2011)