Diplomasi Budaya Indonesia-Amerika 

Bengawan Solo/ Riwayatmu kini/ Sedari dulu/ Jadi perhatian insani.

Musim kemarau/ Tak seberapa airmu/ Di musim hujan/ Air meluap sampai jauh.

Mata airmu dari Solo/ Terkurung Gunung Seribu/ Air mengalir sampai jauh/ Akhirnya ke laut

Lirik lagu “Bengawan Solo” mengalun lembut dengan iringan angklung. Irama rancak-mendayu itu menelusup di tengah puluhan pegunjung di Art-Dimensions Gallery di St Louis, Missouri, Amerika Serikat (AS), suatu malam pada pertengahan Maret lalu. Pentas itu menerbitkan kehangatan di tengah cuaca akhir musim dingin itu.

Puluhan warga Indonesia, sebagian tinggal di ST Louis, menikmati musik keroncong khas Tanah Air itu. Bagi pengunjung dari Amerika, pentas itu menyuguhkan sajian budaya yang eksotis. Mereka semua tersambungkan lewat lagu karya almarhum Gesang itu.

Tautan itu kian kental ketika ibu-ibu penyanyi dan beberapa lelaki pemain musik dari Consulate General Republik Indonesia (RI) di Chicago, Illinois, AS,  membagikan sejumlah angklung pada penonton asing. Setelah mencoba berlatih menggetarkan bilah-bilah bambu, mereka ikut memainkan musik tradisional asal Sunda itu. Suasana semakin  cair.

“Saya pernah ke Indonesia, tapi belum sempat memainkan instrumen musik bambu ini,” kata seorang lelaki berambut pirang sambil tersenyum. Dia kian gembira karena angklung itu kemudian dihadiahkan padanya.

Pentas ”Bengawan Solo” dan permainan angklung itu menandai pembukaan pameran The US and Indonesian Artist Abroad Exhibition di Art-Dimensions Gallery di St Louis. Perhelatan ini diikuti empat pelukis dari Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, yaitu Ampun Sutrisno, Heri Purnomo, Surpiadi, dan Cubung Wasono Putro. Sejumlah seniman AS ikut ambil tampil dalam pertunjukan melukis bersama Cubung, seniman dari Jakarta yang datang malam itu.

“Kami ingin mendukung seniman-seniman di ST Louis yang membangun jaringan internasional. Seniman Indonesia juga memperoleh manfaat,” kata CEO Art-Dimensions, Davide Weaver.

Pameran itu terselenggara nyaris tanpa sengaja. Beberapa bulan lalu, ketika datang ke Bali dan Jakarta, serombongan seniman dari St Louis menyempatkan diri mengunjungi Pasar Seni dan North Art Space di Ancol, Jakarta Utara. Ternyata, mereka cocok dan akhirnya menyiapkan pameran seni lukis Indonesia di ST Luois yang dibuka malam itu. 

Rencananya, sejumlah seniman dari ST Louis akan melakukan kunjungan balasan ke Jakarta sambil berpartisipasi dalam ”Jambore Seni Rupa” di Pasar Seni Ancol, September nanti. “Kerjasama ini akan kami perkuat lagi,” kata Farida Kusuma Rochani, Manager Departemen Pengembangan Program dan Acara PT Pembangunan Jaya Ancol. Farida juga hadir di St Luois.

Saat hampir bersamaan, Ancol juga menjalin kerja sama lewat pameran lain di Wendt Gallery, New York. Kegiatan bertajuk “Cultural Bridge 2011” itu menampilkan puluhan lukisan dari 13 perupa Indonesia. Mereka adalah para pemenang kompetisi “Jakarta Art Award” yang digelar di Ancol sejak tahun 2006.

Bisa setara

 Apa pentingnya kerjasama seni-budaya bagi hubungan politik Indonesia-AS? Consul General dari Kantor Konsulate General RI di Chicago, Benny Bahanadewa, menjelaskan, kegiatan ini mewujudkan spirit kerjasama yang kerap dilontarkan dalam wacana diplomasi politik. “Ini bentuk nyata dari diplomasi budaya,” katanya.

 Pameran menyajikan hubungan lebih konkrit dari sekadar pernyataan politik para pejabat. Persahabatan Indonesia-AS diturunkan dalam level nyata antarseniman. Seniman dari masing-masing negara bisa memperluas jaringan, belajar, dan mengasah kreativitas.

 Kerjasama ini lebih efektif untuk menumbuhkan pemahaman satu sama lain. Lewat bahasa seni yang berbasis kemanusiaan dan bersifat universal, berbagai perbedaan politik antara dua negara bisa diterabas. Medium seni juga membuat setiap negara bisa berdiri sejajar.

 “Indonesia punya kekayaan budaya. Begitu pula Amerika dengan budayanya. Kita bertemu tanpa rasa rendah diri,” katanya.

Kerjasama budaya semacam itu memang kian merebak, terutama setelah Barrack Obama menjadi Presiden AS tahun 2008. Sebagaimana diketahui, presiden—yang pernah belajar di Sekolah Dasar (SD) di Jakarta selama beberapa tahun—itu kerap menekankan pentingnya hubungan antardua negara. Setelah berkunjung ke Jakarta akhir tahun 2010 lalu, program pertukaran budaya digiatkan.

Akhir tahun 2010 lalu, misalnya, pemerintah AS membuka @america di Pacific Place Jakarta. Ini semacam pusat budaya AS, yang dianggap sebagai satu-satunya di dunia. Berbagai kegiatan budaya rutin digelar di situ.

 Tapi, sebenarnya apa kepentingan AS terhadap Indonesia, khususnya lewat kerjasama budaya? Presiden dari Board of Aldermen (semacam Dewan Kota) City of Saint Louis, Lewis E Reed, menyodorkan harapan. Seni, kata dia, menggambarkan budaya sebuah bangsa. Lewat budaya, masyarakat dari berbagai negara bisa belajar saling memahami. Berdasar pemahaman itu,  kita bisa bersama mengembangkan peradaban dunia yang lebih baik.

 Apa pun itu, setidaknya kegiatan seni memang melampaui batas-batas negara dan mengajak siapa pun untuk merenungkan makna terdalam kemanusiaan. Lagu ”Bengawan Solo” tadi, contohnya, mengajak kita menyimak sungai, air, gunung, hujan, atau kemarau. Mungkin semua pertanda alam itu bisa melembutkan hati kita yang kerap mengeras saat menyaksikan kecamuk politik dunia, katakanlah seperti konflik Israel-Palestina, perang di Libya, atau krisis politik Timur Tengah.

 (Ilham Khoiri)

Tulisan asli diterbitkan: Kompas, Selasa (22 Maret 2011)