Catatan tentang Seni Rupa Publik

Oleh Ilham Khoiri

”Pakai helm bukan karena polisi. Tapi demi keselamatan Anda”. Di bawah kata-kata itu, ada gambar pengendara sepeda motor dengan dandanan necis: kepala ditutup helm, mulut dan hidung dibebat kain ”slayer”, dan badan dibalut jaket tebal. 

Mural—demikian sebutan lukisan di dinding itu—memenuhi salah satu sisi tiang jembatan layang di bawah Stasiun Juanda, Jakarta Pusat. Permainan warna merah, oranye, dan pink pada gambar tersebut mencerahkan beton yang dingin. Lukisan pengendara sepeda motor yang karikatural bagaikan sapaan dari seorang sahabat.

”Dulu, tiang-tiang ini kotor. Sekarang, pemandangannya jadi ceria,” kata Yitno (30), salah satu tukang ojek, sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar menghibur, mural itu menyelipkan pesan yang mengena bagi orang di sekitarnya. Maklum saja, di seberang mural di dekat hentian busway itu terdapat pos polisi. Tak jauh dari situ, ada dua pangkalan ojek. Sementara jalan di situ tak pernah sepi dari lalu lalang sepeda motor.

”Melihat tulisan itu, saya dan penumpang seperti terus diingatkan agar jangan lupa pakai helm,” papar Yitno sambil menunjuk dua helm yang tercantol di sepeda motornya.

Mural itu memang sederhana. Namun, kehadirannya mencairkan kehidupan keras di jalan raya. Karya itu hasil garapan komunitas Serrum, kelompok seni yang dimotori sejumlah alumnus Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), akhir tahun 2010.

Dengan spirit lebih kurang sama, komunitas Ruangrupa Jakarta membuat karya di ruang publik. Lewat proyek ”Jakarta 32 Derajat C”, misalnya, kelompok ini membuat sansak (karung tinju) atau kursi ayunan di dekat halte di jalan raya. Siapa pun bisa mencoba sarana bermain yang mengasyikkan itu.

Di Yogyakarta, kelompok Magersaren Art Project (MAP)— yang antara lain digiatkan seniman Samuel Indratma, Ong Hari Wahyu, dan Butet Kartaredjasa—memajang karya seni terpilih di Nol Kilometer di dekat Jalan Malioboro setiap enam bulan sekali. Awal Januari lalu dipajang patung setinggi sekitar 3 meter karya seniman Budi Ubrux.

Berbahan pelat, patung itu menyerupai bentuk nasi dengan bungkus daun pisang yang dilambari kertas koran. Pada kertas koran itu, ada gambar Sultan Hamengku Buwono X dan cuplikan pernyataannya terhadap tudingan sistem monarki terkait dengan wacana keistimewaan Yogyakarta. Ada juga gambar Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto serta berita erupsi Gunung Merapi.

Inspirasi karya ini lahir dari peristiwa erupsi Merapi, November 2010. Saat itu, lewat pesan pendek (SMS) dadakan, warga serentak menyediakan nasi bungkus bagi pengungsi Merapi. Dalam waktu singkat, ribuan bungkus nasi pun beredar ke barak pengungsian. Patung itu menjadi monumen atas solidaritas warga Yogyakarta di tengah duka karena Merapi dan kerap tidak hadirnya negara saat rakyat membutuhkannya.

Karya seni publik juga mudah dijumpai di Kota Bandung, Jawa Barat. Salah satunya, mural di bawah jembatan layang tol Pasteur-Suropati di kawasan Pasar Balubur. Puluhan tiang beton di situ dihiasi mural karya Irwan Bagja Dermawan (39) alias Iweng. Lukisannya menggambarkan kota impian dengan bentuk gedung yang lucu.

Gambar dekoratif dengan warna-warni muda itu memendarkan keceriaan di tengah kawasan yang sesak itu. ”Segar rasanya melewati mural ini saat berangkat dan pulang sekolah,” kata Fani (14), siswa kelas II SMP 40 Bandung.

Fungsi sosial

Daftar karya seni publik bisa diperpanjang lagi dengan menyebut banyak kelompok seni. Di luar Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, semangat ini juga merambah kota lain di Indonesia. Karyanya beragam, mulai dari mural, grafiti, digital print, stiker, poster, spanduk, fotokopi, komik, stensilan, hingga sablon di atas kaus.

Para seniman menggalang diri dalam komunitas, masuk dalam geliat kehidupan kota, menyerap kegelisahan warga, lantas menyajikannya dalam berbagai karya seni rupa di ruang publik. Pesannya bisa menyangkut berbagai persoalan masyarakat kota, bahkan masalah sosial-politik di negeri ini. Di sini, karya seni menjadi media untuk menghibur sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk hidup lebih baik.

”Seni itu punya fungsi sosial, yaitu mentransfer pengetahuan kepada masyarakat luas,” kata Pringgotono (30), aktivis kelompok Serrum yang bermarkas di Kayu Manis, Jakarta Timur.

Bagi Samuel Indratma, seni publik dapat melestarikan nilai kearifan lokal, katakanlah seperti patung penanda solidaritas warga Yogyakarta saat erupsi Gunung Merapi tadi. Selain itu, seni juga bisa memanusiakan wajah kota yang kian disesaki serbuan iklan dan jargon pemerintah. Dengan seni, ruang-ruang kota bisa menjadi hidup, dinikmati bersama, dan milik semua warga.

Pengamat sosial dan pengajar filsafat STF Driyarkara, F Budi Hardiman, menilai masyarakat di kota besar terus-menerus didera beban pekerjaan dan target. Itu membuat mereka selalu dihitung dari sisi produktivitasnya, sementara personalitasnya sebagai manusia tenggelam. Warga kota larut dalam berbagai hiruk-pikuk setiap hari, tetapi asing satu sama lain, bahkan asing terhadap diri sendiri.

”Karya-karya seni publik itu menyodorkan jeda dari rutinitas kota sekaligus memberikan ruang bagi warga kota untuk berefleksi tentang hidup dan diri sendiri. Seni itu seperti cermin bagi warga untuk menyadari dirinya sebagai manusia yang punya perasaan, cita rasa, mood, sambil merenungkan eksistensinya di kota besar. Ini membuat kita lebih manusiawi, lebih beradab,” katanya.

(Wisnu Nugroho/Idha Saraswati)

Perubahan Sosial
Fun Art, bukan Fine Art

Oleh Ilham Khoiri 

Dulu, para seniman itu bak seorang empu yang gemar menyepi demi mencari inspirasi, kemudian menempa karya di sanggar yang hening. Kini, perupa generasi baru melebur dalam geliat kehidupan kota. Mereka menggiatkan kerja kesenian sebagai praksis sosial.

Halaman samping belakang Galeri Nasional Indonesia di Jakarta cukup riuh suatu sore pertengahan Januari lalu. Puluhan orang berkerumun di bawah tenda sederhana. Sambil membawa kaus putih, mereka antre di salah satu sudut untuk dapat giliran kausnya disablon secara gratis.

Beberapa seniman menyablon kaus itu dengan gambar pilihan pengunjung. Salah satu gambar yang laris adalah karya Popo (28), seniman jalanan dari kelompok Kampung Segart di Lenteng Agung. Gambar itu berupa sosok naif yang menuliskan teks ”Fun Fine Art”. Tetapi, kata ”fine-”nya disilang.

”Semoga seni itu bisa lebih menyenangkan (fun) sehingga semua orang bisa menikmati, bahkan ikut terlibat. Seni bukan untuk dimurnikan (fine art) karena akan menjadi elitis,” kata seniman lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Ada 36 seniman yang terlibat dalam proyek ”Hanya Memberi Tak Harap Kembali” itu. Mereka menawarkan master karya yang bisa direproduksi, seperti dengan sablon, stiker, fotokopi, kartu pos, selebaran, emblem, dan stiker. Pengunjung bisa memperoleh reproduksi karya itu secara gratis dengan membawa kaus, kertas, tas, atau flashdisk.

Lewat cara ini, masyarakat luas mudah menikmati karya-karya seni. Karya seni tak lagi dipingit di studio pribadi atau ruang galeri dan museum, melainkan disebar ke tengah masyarakat, kalau perlu secara gratis. Seni pun bakal dinikmati khalayak luas.

Karya-karya itu pun tak sepenuhnya murni olahan seniman sebagai otoritas tunggal. Sebagian seniman justru mereproduksi seni pop yang beredar di tengah masyarakat. Contohnya, foto-foto penyanyi dangdut di kawasan pantura, gambar-gambar di bak truk, atau stiker yang populer di bus-bus kota.

Kegiatan ini merupakan rangkaian pameran ”Decompression #10: Expanding The Space and Public”, puncak perhelatan ulang tahun ke-10 Ruangrupa. Komunitas di Jakarta ini termasuk salah satu kelompok muda yang mengusung modus baru dalam berkesenian.

Generasi baru

Kenapa disebut mengusung modus baru? Karena mereka tumbuh di habitat kota, menggalang diri dalam komunitas, menggarap karya berbasis urban, dan menyajikannya di ruang publik kota. Cara seperti ini tak dilakukan para seniman zaman dulu yang cenderung berkarya secara individual dan berjarak dari masyarakat.

Komunitas dengan spirit serupa tumbuh di beberapa kota di Indonesia. Sebut saja, antara lain, Serrum, Atap Alis, Kampung Segart, Akademi Samali, Forum Lenteng, dan Tembok Bomber di Jakarta. Di Bandung, ada Common Room dan Asbestos Art Space. Juga Ruang Mess 56 atau House of Natural Fiber (HONF) di Yogyakarta.

Karya mereka tergolong street art lantaran memanfaatkan ruang jalanan, seperti lukisan dinding (mural), corat-coret (grafiti), stensil, striker, poster, komik, bahkan membuat karya seni pada website di internet. Bisa dibilang, mereka mempraktikkan seni sebagai aktivisme sosial karena karya seni tak lagi digumuli sebagai perkara artistik, tetapi menjadi media untuk mendorong perubahan.

Di tangan mereka, seni menjadi media yang luwes untuk memperjuangkan terwujudnya kehidupan kota yang lebih baik. ”Karena kami tinggal di kota, kami ikut berusaha menjadikan kota lebih manusiawi dan demokratis, dengan publik lebih kritis,” kata Ade Darmawan, salah satu pendiri Ruangrupa.

Gustaff H Iskandar, salah satu pendiri dan Direktur Common Room, menyebut generasinya sebagai seniman organik. ”Karena kami hidup di tengah kehidupan kota, menyerap kegelisahan warga, lalu menyajikannya sebagai karya di ruang publik,” katanya.

Pergeseran

Karakteristik generasi baru ini memang berbeda dari apa yang dijalankan para seniman dekade-dekade sebelumnya. Tahun 1930-an hingga 1960-an, misalnya, seni rupa Indonesia banyak didorong sanggar-sanggar, seperti Persagi (Persatuan Ahli Gambar) atau SIM (Seniman Indonesia Muda), atau Sanggar Bambu. Meski berkelompok, para seniman tetap bekerja dengan orientasi memperkuat dirinya sebagai seniman dan karyanya secara individual, seperti pelukis Affandi atau S Sudjojono.

Tahun 1980-an, cara berkesenian bergeser. Lewat perupa asal Tulungagung, Moelyono, kita mengenal apa yang disebut ”seni rupa penyadaran”. Dia bergerilya menggalang aktivitas seni rakyat di desa. Tahun 1990-an, sejumlah seniman berkelompok untuk membumikan seni di tengah publik. Semangat ini antara lain diwakili Apotik Komik dan Taring Padi di Yogyakarta, yang aktif membuat mural, poster, atau grafiti.

Reformasi 1998 mengubah banyak hal. Seiring runtuhnya rezim Orde Baru dan kian terbukanya pintu demokrasi serta didukung teknologi informasi canggih, bermunculan komunitas seni baru yang disebut tadi. Mereka berkesenian secara lebih santai dan terbuka.

Pengamat seni rupa, Hendro Wiyanto, menilai, generasi baru seni rupa itu memang lahir dan tumbuh besar di kehidupan urban. Mereka berinteraksi dengan teman-temannya dan kemudian menemukan keajaiban dan masalah di lingkup urban. Spirit itu pula yang diangkat dan memengaruhi cara kerja keseniannya.

”Mereka adalah produk dari demokratisasi dan ikut menciptakan demokratisasi seni. Dengan metode partisipatif, mereka masuk dalam denyut nadi masyarakat dan mendorong semua orang untuk mengalami seni secara bersama, tanpa hierarki atas-bawah. Yang dipentingkan adalah proses dan pengalaman bersama,” katanya.

Setidaknya generasi baru ini memang berkesenian secara fun alias menyenangkan. Bukan kesenian yang dipandang sebagai ritual yang sakral.

Spirit Baru
Generasi Lintas Batas

Oleh Ilham Khoiri & Mawar Kusuma

Komunitas seni rupa baru bermunculan. Mereka tak mendudukkan perupa sebagai pemegang otoritas tunggal, melainkan membaurkannya dengan berbagai kelompok kreatif lain. Mereka biasa bertemu untuk mencari adonan karya seni rupa baru. Semuanya dikerjakan dengan lintas disiplin.

Seperangkat instalasi di atas meja itu mirip sebuah eksperimen di laboratorium. Bulatan-bulatan kaca berisi adonan aneh ditancapkan pada wadah kotak. Di depannya ada beberapa botol berisi minuman hasil fermentasi. Wadah tadi dihubungkan dengan rangkaian kabel dan kemudian tersambung pada headphone. Dari alat bantu pembesar suara itu, terdengar suara kresek-kresek yang aneh. Agak mirip dengung serangga.

Instalasi yang tampak rumit itu memang sebuah eksperimen ilmiah. Hanya saja, uji coba itu tak digarap di laboratorium tertutup, melainkan diboyong di tengah ruang pamer terbuka di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Uji coba yang diberi judul ”Intelligent Bacteria” ini ditampilkan dalam pameran ”Multimedia Art in Indonesia,” rangkaian peringatan 10 tahun Ruangrupa yang berlangsung 7–27 Januari.

Rangkaian unik ini merupakan perpaduan antara teknologi, seni, dan multimedia yang dipermak menjadi karya seni rupa kontemporer. Ini hasil kerja House of Natural Fiber atau HONF, komunitas interdisipliner di Yogyakarta.

Instalasi ini mengaplikasikan peran bakteri dalam proses pembuatan anggur. Suara ”musik” yang timbul ketika bakteri memproduksi karbondioksida dalam proses fermentasi anggur dapat ditangkap sensor dan melahirkan bunyi yang disebut orkestra bakteri. ”Karya itu akan ditampilkan dalam Festival Transmediale di Jerman, pada 1-6 Februari,” kata penggagas HONF, Vincentius Christiawan, yang akrab dipanggil Venzha (35), Kamis (20/1) lalu.

Menautkan seni dan perkembangan teknologi melalui laboratorium media, komunitas seni ini akhirnya memang tidak melulu beranggotakan seniman. Para akademisi dengan latar belakang beragam, seperti teknik, kedokteran, hukum, hingga arsitektur turut bergabung. Dari garasi rumah yang disulap menjadi laboratorium kerja di Jalan Wora-Wari, Baciro, Yogyakarta, sekitar 40-an anggota komunitas ini menelurkan beragam ide karya seni media baru.

”Seni media baru harus mampu memadukan perkembangan teknologi terkini dengan estetika atau seni itu sendiri. Harus ada inovasi karya,” ujar Venzha.

Kelompok ini juga menggelar beragam workshop mulai dari tema tentang mikrobiologi hingga webcam. Ada juga program festival seni publik bertajuk Yogyakarta Internasional Media Art Festival dan Yogyakarta Internasional Video Work Festival. Tentu saja, sebagian pesertanya juga dari mancanegara.

Masih di Yogyakarta, Komunitas Ruang MES 56 juga memadukan media fotografi, video, dan program komputer. Tak hanya memanfaatkan galeri pamer, karya-karya pun ditampilkan di websites internet dengan menampilkan spirit fotografi kontemporer. Markas Komunitas Ruang MES 56 di Jalan Nagan Lor, Patehan, Yogyakarta, menjadi ruang belajar bagi para seniman muda fotografi.

”Kami berusaha untuk terus bereksperimen dengan berbagai kemungkinan baru,” kata anggota Ruang MES 56, Jim Allen Abel dan Dolly Roseno.

Mak comblang 

HONF dan Ruang MES 56 bisa mewakili karakter seni rupa generasi baru di Indonesia. Mereka meleburkan batas-batas disiplin ilmu dengan membuat karya yang merangkum unsur visual, musik (audio), animasi (video, televisi), pertunjukan (performance), atau grafis. Berbagai kelompok kreatif bersinggungan tanpa sekat.

”Ibaratnya, kami ini seperti mak comblang. Teman-teman datang ke sini, kami menjadi fasilitator yang menghubungkannya dengan kelompok kreatif lain,” kata Gutaff H Iskandar, Direktur Common Room di Bandung.

Di situ, berbagai kelompok seni memang biasa berkumpul, mulai dari pelukis, pematung, pembuat mural, grafiti, grup band, penulis, pengamat budaya, atau desainer. Lewat persentuhan lintas disiplin itu, mereka mendapat akses dan peluang untuk mencoba ekspresi dan media baru dalam kesenian.

Sebagian pegiat komunitas itu bahkan menjalani berbagai aktivitas sekaligus. Contohnya, Addy Gembol (32), vokalis dan pencipta lagu kelompok band Forgotten. Pemuda ini aktif dalam kelompok Solidaritas Independen Bandung dan kelompok indies Ujung Berung Rebels. Kegiatannya pun seabrek: yang aktif berkampanye naik sepeda, reboisasi hutan, dan membuat pentas musik. ”Semua saya jalani dengan gembira,” katanya.

Otonomi

Untuk memperkuat kegiatan, mereka membangun ruang dan jaringan bersama di antara sesama komunitas seni rupa baru. Di Indonesia saat ini, setidaknya ada 25-an komunitas seni rupa baru yang aktif. Meski berbasis di kota masing-masing, hubungan antarkomunitas terjalin kuat.

Itu juga yang memungkinkan mereka saling menyemangati dan membantu, termasuk terhadap komunitas di kota-kota kecil. Sebut saja, di antaranya Jatiwangi Art Factory di Jatiwangi, Gardu Unik di Cirebon, Urban Space di Surabaya, Mamipo (Malang Meeting Point) di Malang, Ruang Akal di Makassar, dan Sarueh di Padang.

Untuk menjalankan kegiatan, mereka juga membangun jaringan ke luar negeri, seperti lembaga donor, institusi seni atau universitas mancanegara, serta saling tukar kunjungan atau residensi seniman di Indonesia dan asing. Dengan begitu, karya-karya mereka berorientasi global.

Semua itu dimungkinkan karena generasi baru ini lahir dalam kemajuan teknologi. Mereka cepat belajar terhadap temuan baru dan menjajal berbagai kemungkinan hubungan yang cepat, seperti lewat facebook, e-mail, websites, blog, atau twitter. Ke mana-mana, mereka membawa laptop yang bisa mengakses internet.

Yudi Andhika (28), seniman jalanan yang aktif dalam kegiatan Common Room, misalnya, memanfaatkan websites pribadi dan kelompok mural untuk menyebarkan mural karyanya. Karya itu berupa mural yang dikerjakan bersama seniman dan warga di Babakan Asih, Kopo, Bandung, tahun 2010 lalu.

”Saya baru saja berkolaborasi dengan seniman Filipina untuk membuat mural lagi di Babakan Asih. Karya saya sekarang sedang dipamerkan di beberapa negara,” katanya.

Kreativitas generasi baru ini patut dihargai. Tanpa banyak berwacana, mereka telah bergerilya memperkuat diri secara mandiri di tengah minimnya infrastruktur seni rupa di Tanah Air. Lebih menarik lagi, mereka bisa bergerak bebas, tanpa bergantung pada pemerintah dan pasar.

Organisasi
Menghindar dari Hegemoni

Perjalanan Ruangrupa, komunitas yang bermarkas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mungkin bisa jadi contoh, bagaimana kelompok generasi baru membangun diri. Kelompok ini didirikan tahun 2000 oleh enam seniman muda, yaitu Ade Darmawan, Hafiz, Lilia Nursita, Oky Arfie, Rithmi, dan Ronny Agustinus. Ade belajar seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Rijksakademie Van Beeldende Kunsten-Institute Belanda, sementara lima seniman lain lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

”Kami ingin membuat ruang baru bagi seniman-seniman muda yang saat itu sulit menembus kancah seni rupa arus utama,” kenang Hafiz, yang kini menjadi Direktur Artistik Divisi Pengembangan Video Ruangrupa.

Program awalnya, mereka menggelar workshop bersama seniman dari kelompok Apotik Komik dan Taring Padi dari Yogyakarta di studio pelukis Hanafi di Depok, Jawa Barat. Hasil diskusi dituliskan dalam Karbon Journal yang terbit enam edisi dengan tema seni rupa publik.

Lewat jurnal itu, Ruangrupa lantas mendapat dana bantuan dari Rijksakademie Belanda. Itu untuk menyewa rumah di Kalibata, Jakarta Selatan, membeli peralatan kantor, serta membuat program urban printing dan video. Berbagai kegiatan itu mengantarkan mereka memperoleh pendanaan dari lembaga internasional, seperti Hivos dari Belanda, sekaligus mempertautkannya dengan jaringan seni urban internasional.

Ruangrupa lantas menggelar kegiatan rutin dua tahunan, seperti Festival ”Ok.Video” dan pameran ”Jakarta 32 derajat Celcius.” Mereka juga aktif menggarap seni ruang publik di sudut-sudut Kota Jakarta, seperti membuat mural atau grafiti. Pewacanaan diperkuat lewat Karbon Journal (yang kemudian diterbitkan secara digital), penelitian, diskusi, dan workshop penulisan seni.

”Kami tetap berbasis kehidupan masyarakat urban. Seni untuk memediasi beragam masalah kota,” kata Hafiz menambahkan.

Kini, Ruangrupa yang bermarkas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, ini kian kuat. Ruang yang juga dilengkapi galeri ini menjadi wadah terbuka bagi kreativitas kaum muda Jakarta, serta memberi inspirasi bagi komunitas-komunitas serupa di kota-kota lain. Mereka mendapat apresiasi di panggung internasional dengan diundang dalam Gwangju Biennale di Korea Selatan dan Istambul Biennale di Turki.

Kurator Pameran Ruangrupa ”Decompression #10” di Galeri Nasional Jakarta, Agung Hujatnikajennong, menilai Ruangrupa telah berhasil menciptakan ruang alternatif bagi eksperimentasi di luar museum dan galeri pemerintah serta galeri komersial. Mereka bisa membuat dirinya menjadi independen atau otonom secara sosial dengan melepaskan diri dari hegemoni sistem pasar dan politik negara. (IAM)

Kompas-Minggu, 23 Januari 2011