Catatan tentang Sosok Kurator Rifky Effendy

    Rifky Effendy (41) termasuk kurator seni rupa yang laris saat
pasar seni rupa kontemporer Indonesia mengalami booming sejak akhir 2006. Di tengah kerumunan pasar, dia mencoba tetap menggarap beberapa
proyek seni idealis. Bagaimana cara dia menjaga keseimbangan?
    Sebagai kurator, Rifky Effendy sangat sibuk. Bayangkan saja. Pada 2007 hingga 2009, dia menggarap kurasi untuk 34 pameran. Hingga pertengahan tahun 2010 ini, dia telah mengerjakan enam kurasi serta
enam lagi yang disiapkan hingga akhir tahun.
    Artinya, hampir setiap bulan dia mengerjakan satu kurasi. Bahkan,
pada puncak booming pasar seni rupa di Tanah Air awal 2008, dia kadang menggarap dua pameran sekaligus dalam satu bulan.
    “Pernah, pembukaan dua pameran yang saya kurasi ternyata bersamaan dalam satu malam,” katanya saat ngobrol di kawasan Jakarta Art Distric
di Pusat Perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta, pekan lalu.
    Dalam kesibukannya itu, tahapan kurasi dijalankan dengan lebih efisien. Proses itu mencakup seluruh persiapan pameran, menggodok konsep, memilih dan menata karya dalam ruang pamer, mediasi kepada publik, serta menulis pengantar dalam katalog.
    “Saya menulis dengan langsung menukik pada masalah dan berusaha jujur dalam melihat karya. Dengan begitu, setiap karya bisa muncul keunikannya,” ujarnya.
    Meski sibuk melayani sejumlah galeri, Rifky juga terlibat dalam
sejumlah proyek idealis yang mendorong praktik seni rupa alternatif. Pada Juni 2010, misalnya, dia bersama Ruangrupa di Jakarta menggelar pameran “Fixer” di North Art Space (NAS) di Ancol, Jakarta Utara. Diikuti 21 komunitas seni alternatif dari berbagai kota di Indonesia,
hajatan ini mengusung komunitas yang berani memperkuat kreasi seni independen.

Tak sengaja
    Rifky seperti tidak sengaja masuk dalam dunia kurator. Saat kuliah di seni keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Bandung (1989-1995), dia lebih banyak berkutat membuat karya di studio. Begitu lulus, dia membuat studio keramik di Bintaro, Tangerang.
    Pengalaman kurasi dimulai saat dia ikut mengelola Galeripadi di
Dago, Bandung. Di situ, dia belajar kurasi dan menulis dari Asmudjo
Jono Irianto, dosennya saat kuliah keramik. Bayaran kurator awalnya
masih minim, hanya Rp 300.000.
    Meski begitu, dia mengaku senang menekuni profesi ini. Salah satu kurasinya, pameran “Wearable” (tahun 1999) dengan seniman dari Indonesia, Thailand, Jepang, Korea, dan Australia, dan digelar berkeliling di Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Ini membuatnya merasa percaya diri.
    Sejak 1999, Rifky akhirnya memutuskan untuk menjadi kurator independen. Ini pilihan tak mudah. Soalnya, pasar masih agak seret dan jumlah galeri masih terbatas pada masa itu. “Dalam satu tahun, saya pernah hanya dapat satu proyek kurasi. Tetapi, dengan begitu, saya menjadi lebih banyak belajar, membaca buku, dan menulis di media massa.”
    Empat tahun lelaki ini bertahan dalam situasi tak menentu. Tahun
2002, dia akhirnya menerima tawaran sebagai kurator tetap di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta. Selama enam tahun, dia berjibaku dengan berbagai program galeri, seperti membuat pameran, diskusi, atau kegiatan seni rupa lain.
    “Saya menikmati kerja kurasi karena bisa membantu mendorong seniman muda kreatif, memperkuat wacana dan apresiasi publik kepada seni, serta membangun jaringan antara seniman, galeri, media, dan
kolektor.”
    Ketika pasar seni rupa kontemporer di Indonesia meledak sejak 2006, Rifky juga kecipratan. Selain tetap mengurus kegiatan di Galeri Cemara, dia juga menerima kerja kurasi di galeri lain. Dua tahun belakangan, dia memilih menjadi kurator independen lagi.
    Meski pasar menyurut akibat krisis finansial global pada akhir
2008, ternyata kegiatannya tetap padat. Posisi kurator semakin
dibutuhkan. Bayarannya pun meningkat menjadi puluhan juta rupiah.
    “Kurator dibutuhkan untuk memunculkan pemikiran dan praktik seni baru, baik di tingkat publik, seniman, galeri, maupun media,” katanya.
    Rifky bersemangat untuk memediasi seni rupa kontemporer Indonesia ke luar negeri. Menurut dia, sebagian seniman kita kreatif dan menjanjikan karena cermat mengolah bahasa ungkap dan medium beragam, memakai pendekatan interdisiplin, mempunyai skill tinggi, dan gagasan menarik. “Dengan konsep, mediasi, dan penyelenggaraan pameran bagus,
seni rupa Indonesia bakal makin diperhitungkan di dunia internasional.”
    (Ilham Khoiri)

KOMPAS – Minggu, 18 Jul 2010