Catatan tentang Fenomena Seni Musikal tahun 2010

Oleh Ilham Khoiri

    Pentas musikal banyak digelar di sepanjang tahun 2010. Sebuah
fenomena tontonan di era post-sinema atau post-teater yang masuk ke
wilayah gaya hidup.
    Setidaknya ada delapan musikal yang digelar di berbagai gedung
pertunjukan di Jakarta sepanjang tahun 2010. ArtSwara Performing Art
Production mengawali dengan Musikal “Gita Cinta The Musical”, Maret
lalu. Musikal “Jakarta Love Riot” oleh EKI Dance Company dan “Diana”
dalam rangka HUT Ke-45 Kompas menyusul pada Juli.
    Dua pertunjukan berlangsung selama Oktober. Pentas
musikal “Dreamgirls” oleh Jakarta Broadway Team dan “Opera Tan Malaka”.
Menyusul kemudian Teater Musikal “Tusuk Konde” dan musikal “Onrop!”.
Akhir tahun 2010 ditutup dengan pertunjukan “Musikal Laskar Pelangi”
garapan Riri Riza dan Mira Lesmana dengan musik oleh Erwin Gutawa.
    Secara umum, sebagian musikal itu digelar dalam kemasan megah.
Pentas memanfaatkan banyak properti, tata panggung gede, serta
bertempat di gedung besar. “Diana” di Jakarta Convention Center (JCC)
serta “Onrop” dan “Musikal Laskar Pelangi” di Teater Jakarta, Taman
Ismail Marzuki (TIM), bisa menggambarkan itu.
    Kemasan itu menelan biaya produksi tinggi hingga miliaran rupiah.
Sekadar contoh, produksi “Musikal Laskar Pelangi” dengan 300-an kru
selama tiga pekan itu menghabiskan dana sekitar Rp 10 miliar. Proses
latihan pun setengah tahun lebih. (Bandingkan saja dengan ongkos
produksi teater biasa yang ratusan juta rupiah.)
    Pertunjukan melibatkan banyak kru panggung dari berbagai disiplin
ilmu. Sutradara film, koreografer dan penari, penyanyi, serta aktor
berkolaborasi menciptakan satu tontonan. Mengacu pada dasar-dasar
drama, tetapi beberapa pentas mementingkan unsur musik, hiburan, dan
komunikasi dengan penonton.
    Sebagian lakon merupakan pengembangan atau sempalan dari cerita
populer, baik dari film maupun lagu. Drama Musikal “Gita Cinta”,
misalnya, mengacufilm Gita Cinta dari SMA yang merupakan film laris
tahun III pada 1979 yang diangkat dari novel Eddy d Iskandar. “Diana”
merangkai lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus dari era 1960-1970-
an. Begitu pula “Tusuk Konde” yang turunan dari film dan musikal “Opera
Jawa”. “Musikal Laskar Pelangi” dari film Laskar Pelangi (2008).
    Minat pasar cukup tinggi terhadap pentas itu. Meski tiketnya dijual
seharga ratusan ribu hingga satu juta rupiah, jumlah penonton tinggi.
Ambil misal tiket pentas “Musikal Laskar Pelangi” seharga antara Rp
100.000 dan Rp 750.000 per orang. Selama enam kali pentas, jumlah
penontonnya mencapai 4.800 orang (atau sekali pentas ditonton sekitar
800 orang).

Gairah bersama
    Semua itu menggambarkan fenomena apa? “Fenomena munculnya gairah
bersama untuk membuat tontonan alternatif yang mempertemukan film,
teater, dan musik. Pertunjukannya lebih ringan, menghibur, tetapi
menunjukkan keahlian banyak disiplin ilmu,” kata Mira Lesmana yang
memproduksi “Musikal Laskar Pelangi”.
    Kebetulan, para pembuat drama musikal itu memiliki referensi seni
pertunjukan dunia. Inspirasinya, antara lain, pentas-pentas drama
musikal atau opera di Broadway, New York, serta West End, London, atau
Opera House di Sydney. Mereka kemudian tergerak membuat pentas serupa
di Tanah Air.
    Pada saat bersamaan, sebagian masyarakat di Jakarta juga merindukan
pertunjukan musikal. Menurut pengamat seni pertunjukan Agus Noor,
mereka adalah kelas menengah urban yang punya pengalaman menonton
musikal atau opera di luar negeri dan mengharapkan tontonan serupa di
sini. Selera dan aspirasi mereka tak terwakili oleh pentas-pentas
seperti Teater Koma, Gandrik, atau Teater Garasi.
    Tak sekadar hiburan alternatif, penonton memandang drama musikal
itu sebagai sarana mengidentifikasi dirinya pada citra kelas
tertentu. “Tontonan ini masuk ke wilayah gaya hidup,” kata Agus, yang
terlibat dalam proses kreatif Teater Gandrik.
    Komedi musikal “Glee” yang ditayangkan jaringan televisi Fox sejak
19 Mei 2009 sedikit banyak juga memberi kontribusi pada maraknya
produksi musikal.

Post-sinema
    Sutradara Garin Nugroho memandang fenomena itu sebagai munculnya
era baru seni pertunjukan. Era ini disebut sebagai post-sinema atau
post-teater karena ada semangat mempertemukan berbagai disiplin seni
pertunjukan di luar bentuk konvensional. Sutradara film bisa membuat
teater atau musikal demi menjelajah wilayah kreatif lain.
    Bentuk opera atau musikal banyak dipilih para pembuat pertunjukan
karena lebih mudah merangkum berbagai unsur seni. “Meski terlambat
dibandingkan negara-negara lain, semangat ini juga muncul di
Indonesia,” katanya.
    Namun, perlu dicatat, musikal bukan barang baru. Setidaknya pentas
musikal pernah digelar pada era 1980-an di Yogyakarta. Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada pernah menggelar musikal “Fiddler on the Roof”
karya Jerry Bock dan Sheldon Harnick, dengan pemeran utama Landung
Simatupang, didukung Bakdi Soemanto. Kemudian Sanata Dharma
menggelar “West Side Story”. Kedua musikal itu dipentaskan dalam bahasa
Inggris. Sebelumnya, pada akhir 1970-an Harry Roesli menggelar “Rock
Opera Ken Arok” dan Remy Sylado mementaskan “Jesus Christ Superstar”.
    Momentum musikal era ini hadir kembali sekarang karena memang
didukung banyak faktor, seperti keterbukaan pascareformasi, pertumbuhan
industri, gaya hidup urban, adanya produser dengan pengalaman luar
negeri, serta munculnya generasi penonton baru. Ada harapan baru akan
terbentuknya industri seni pertunjukan.
    Bagaimanapun, kini telah tumbuh penonton baru. Meski terbatas,
gedung pertunjukan besar telah tersedia, seperti Teater Jakarta dan
Teater Tanah Airku. Orang-orang kreatifnya sudah siap, seperti
produser, sutradara,koreografer, pemusik, aktor, dan penyanyi. Sponsor
juga mau membantu pembiayaan pentas.
    Perkembangan selanjutnya tergantung dari bagaimana orang-orang
kreatif itu bertahan dan terus memperkuat ide-ide kreatifnya. Hanya
saja, industri seni pertunjukan itu juga membutuhkan strategi
kebudayaan, menyangkut manajemen, dukungan pemerintah, perlindungan
keartisan, kultur teater, kultur industri, dan profesionalisme orang-
orang kreatifnya.
    “Selama ini kita cenderung meramu dengan semangat musiman.
Pertunjukan yang dikemas bagus, tetapi tak disertai unsur tontonan
berkualitas hanya akan berumur pendek,” kata Garin yang
menyutradarai “Diana” dan Teater Musikal “Tusuk Konde.”

KOMPAS – Minggu, 26 Dec 2010