Catatan Tentang Perupa Hardiman Radjab
                        
Oleh Ilham Khoiri

    Rabu (24/3) siang yang panas. Sebuah studio dua lantai di kawasan Bumi Pesanggrahan Mas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, disesaki berbagai barang dan koper. Hardiman Radjab (50), seniman pemilik studio itu, sibuk mengutak-atik sebuah koper.
    Dengan bor elektrik, dia memasang baut untuk menempelkan bagian bawah koper pada tatakan kayu. Sementara bagian atas koper itu
dipasangi besi panjang melengkung ke bawah dengan ujung diberi bandul. Jika bagian atas koper tersentuh, bandul bergerak dan menggoyang
bagian atas koper.
    Goyangan itu membuat koper bisa membuka-menutup sendiri, mirip mulut orang. Nanti, akan dipasang deretan gigi pada pinggiran koper dan semacam lidah pada bagian tengah. Jadi, ketika membuka-menutup,
koper ini benar-benar menyerupai mulut yang sedang berbicara.
    “Saya sudah punya judul untuk karya yang belum jadi ini, yaitu
NATO: no action, talk only,” katanya.
    Lelaki ramah itu bekerja dengan dibantu dua asisten, yaitu Gunawan (35) dan Sumarsono (32). Mereka bekerja dengan memanfaatkan benda-benda bekas atau baru. Di sekitarnya, terserak bermacam alat
pertukangan: obeng, penjepit, bor, gergaji, pahat, serta berbagai
material lain.
    “NATO” hanya salah satu dari puluhan instalasi koper Hardiman.
Sejak tahun 2000, lulusan Seni Kriya Kayu Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1987 ini sudah membuat 60-an instalasi koper. Hasil kerjanya menarik karena mengusung gagasan, pendekatan, material, dan penyajian karya seni yang segar.

Perjalanan
    Karya-karya instalasi koper Hardiman muncul sebagai corak baru dalam kancah seni rupa kontemporer di Indonesia. Dia bisa mengangkat beragam isu dengan cara unik. Karyanya pun mudah mencuri perhatian
dalam pameran karena memang menggunakan bahasa visual yang menggigit.
    Coba kita simak karya-karya lain. Dia pernah memasang dayung-dayung perahu pada pinggiran koper. Ruang dalam koper dipenuhi batangan kayu, mirip kayu tebangan dari hutan. Berjudul “Gone with the
Wind”, karya ini langsung menohokkan kasus pembalakan liar yang memboyong kayu-kayu dari hutan di negeri ini.
    Satu lagi. Dia pernah menyulap koper menjadi alat scanner seperti
di bandara. Pada satu ujung lantai pemindai, ada bayi merah terbungkus kain. Pada ujung lain, tergeletak sebuah peti mati.
    “Itu gambaran, betapa jarak antara lahir dan mati itu sangat
tipis, seperti lorong scan yang hanya satu kali jalan. Tapi, dalam
jarak itu, kita mengalami banyak peristiwa: menjadi belia, dewasa,
berkeluarga, punya anak, punya cucu, sampai tua,” katanya.
    Kenapa tertarik dengan koper? “Koper itu menggambarkan dengan pas situasi kita. Kehidupan ini hanya perjalanan sementara, seperti koper bisa dibawa ke mana-mana. Semakin tua koper itu, semakin terasa jejak-jejak asam-garam perjalanan,” katanya.
    Instalasi koper Hardiman semakin memikat karena dihadirkan dalam setting drama yang kuat. Dia memilih satu peristiwa, kemudian
mengungkapkannya dengan tatanan bahasa visual yang jitu. Di tangannya, koper menjadi seperti panggung teater yang menjanjikan kejutan.
    Pencapaian itu diperoleh Hardiman setelah menata panggung lebih dari 22 tahun. Sejak tahun 1988, dia aktif menjadi penata panggung untuk Teater Tanah Air, Operet Bobo, Teater Legenda, Sanggar Pelakon,
Sena Didi Mime, Satu Merah Panggung, dan pernah membantu Teater Koma.
    “Saya terbiasa memvisualkan naskah berlembar-lembar menjadi satu setting adegan,” katanya. Pengalaman itu diterapkan dalam membuat instalasi koper. Dia banyak menampilkan potongan adegan seperti peristiwa yang di-pause.

Dari Paris
    Dari mana Hardiman memperoleh inspirasi membuat karya seni rupa dari koper? “Dari Paris,” katanya.
    Lelaki itu berkisah, tahun 1996, dia jalan-jalan ke kota seni itu.
Di sebuah stasiun, dia dikejutkan oleh monumen koper yang ditumpuk-tumpuk tinggi. Itu adalah koper-koper yang ketinggalan, kesasar, atau
salah kirim.
    “Saya tertegun dan langsung ‘greng’ rasanya. Kenapa tidak bikin
karya seni dari koper?”
    Dua tahun kemudian, gumaman itu mulai terwujud. Hardiman mengutak-atik koper dan memasang mesin penggerak sederhana sehingga koper itu
bisa membuka-menutup sendiri seperti bernapas. Dalam sebuah pameran tahun 2000, koper itu diletakkan sendirian di sebuah bangku.
    Karya instalasi tadi menarik perhatian. Dengan judul “Long
Journey”, koper yang seperti bernapas tersengal-sengal itu mudah mengingatkan orang akan perjalanan panjang yang tak diketahui kapan berakhir.
    Setelah itu, Hardiman semakin bersemangat berkreasi dengan koper. Dia kumpulkan puluhan koper tua dari teman-temannya. Koper itu kemudian dipermak dan dipadukan dengan berbagai benda lain, termasuk benda antik koleksinya sendiri.
    Hasilnya cukup mengesankan. Koper bisa sangat fleksibel untuk
membicarakan berbagai soal. Dengan karya-karya semacam itu, dia menggelar beberapa pameran tunggal: Serikat Barang di Galeri Cipta II, TIM (2002); Riwayat Koper di Galeri Lontar, Jakarta (2006), dan Berkoper-Koper Cerita di Yogyakarta, Semarang, dan Bandung (2007).
    Saat ini, Hardiman masih menyimpan 40-an koper. Ide-idenya masih berjubel. Koper-koper itu dihamparkan begitu saja di studionya. Dengan sering dilihat dan dilintasi, benda-benda itu biasanya akan memicu gagasan untuk membuat instalasi baru.
    “Saya masih asyik bermain dengan koper. Saya ingin menggarap koper dalam setting yang surealis, seperti bisa terbang atau dengan permainan api yang menyala,” katanya.

KOMPAS – Minggu, 04 Apr 2010