foto oleh ilham khoiri

Catatan tentang Koreofgrafer Hartati
Oleh Ilham Khoiri

     Hartati (45), seorang koreografer, tak lelah mencari. Pergulatan dengan dirinya sebagai perempuan, kaitan dengan budaya Minangkabau, dan posisinya sebagai warga Indonesia di pergaulan global, terus melecutnya untuk berkarya. “Proses pencarian ini tak pernah selesai,” katanya.

     Salah satu buah dari proses itu dapat disaksikan dalam
pentas “Musikal Laskar Pelangi” di Teater Jakarta, Taman Ismail
Marzuki (TIM), Jakarta, yang digelar hingga 9 Januari ini. Dalam
pertunjukan yang berangkat dari novel dan film terkenal Laskar Pelangi
itu, Hartati dipercaya sebagai koreografernya. Dia menata gerak
berbagai adegan yang berdurasi hampir tiga jam.
    Bentuk koreografi Hartati memperlihatkan paduan perilaku manusia
sehari-hari dengan khazanah tarian zapin Melayu, silat Minangkabau,
balet modern, dan gaya bebas. Semuanya diramu sebagai bagian dari
narasi pentas musikal yang mengisahkan perjuangan 10 anak dalam
memperoleh pendidikan di Kampung Ganthong, Pulau Belitong.
    Pentas dibuka dengan tarian para kuli timah. Dengan mengadaptasi
langkah-langkah tari zapin Melayu, gerakan mereka tampak dinamis
dengan loncatan, gerak maju-mundur, atau berayun ke kiri-kanan.
Iramanya rancak-serempak.
    Mereka menari sambil bernyanyi tentang Belitong sebagai pulau
penghasil timah. Tergambar, bagaimana mereka bosan dengan rutinitas
kerja, tetapi harus tetap melakoninya demi memperoleh penghidupan.
    Tiba pada penampilan anak-anak, bahasa geraknya berubah. Tariannya
turun-naik mengikuti pergulatan mereka di sekolah yang hampir roboh
itu. Saat sedih, tarian mereka lamban dan murung. Ketika bersemangat,
gerak menjadi trengginas. Saat adegan romantis, tariannya menjadi
puitis.
    Lihat saja tarian Aling, gadis China yang dipuja Ikal. Ketika Ikal
menyenandungkan kerinduan kepada pujaannya, gadis itu tiba-tiba muncul
dalam gerak tarian balet yang anggun di tengah kupu-kupu yang
beterbangan.
    Tak pelak lagi, koreografi karya Hartati menjadi salah satu unsur
yang menghidupkan pentas “Musikal Laskar Pelangi”. Tarian para pemain
menyatu dengan kekuatan tata panggung semirealis, musik yang dinamis,
lagu, serta keseluruhan narasi pertunjukan yang bersahaja tetapi
menghibur itu.
    “Koreografi di sini lebih fungsional karena menjadi bagian dari
seluruh cerita, musik, dan aspek-aspek pemanggungan. Saya berusaha
membuat gerak tari yang nyaman bagi anak-anak yang mesti menyanyi
sambil menari di panggung,” kata Hartati di sebuah kafe di TIM, Kamis
(6/1) sore.

Perempuan
    Kiprah Hartati dalam pertunjukan garapan sutradara Riri Riza ini
menandai salah satu pencapaian perempuan ini dalam dunia koreografi.
Sebelumnya, dia lebih sebagai koreografer yang memadukan tradisi silat
Minangkabau dengan tari kontemporer. Dia termasuk generasi penerus
koreografer Sumatera yang berkiprah di kancah tari modern Indonesia,
seperti Huriah Adam, Gusmiati Suid, kemudian Tom Ibnur dan Boi G Sakti.
    Hanya saja, Hartati kemudian memanfaatkan corak tarian itu untuk
secara khusus menggaraptema perempuan. Hasilnya memperlihatkan
keluwesan khazanah tradisi dalam bahasa gerak kontemporer yang
ditopang gagasan aktual. Karyanya itu lebih menggigit karena berangkat
dari pengalaman pribadi, kehidupan masa kecil, pergulatan di rumah
tangga, penelitian, atau bacaannya terhadap kenyataan dan berbagai
referensi lain.
    “Sayap yang Patah” (tahun 2001), termasuk koreografi awal karya
Hartati yang secara jelas memperlihatkan karakteristik itu. Dia
menggambarkan perempuan yang terpenjara oleh berbagai pekerjaan rumah
tangga sehingga kehabisan waktu untuk diri sendiri.
    Tahun berikutnya, lewat karya “Membaca Meja”, dia menggugat
superioritas laki-laki terhadap perempuan. Begitu pula “Ritus Diri”
(2004) yang mempertanyakan sistem matrilineal (garis keturunan pada
perempuan) di Minangkabau yang terdesak kekuasaan laki-laki.
    Pada tahun-tahun berikutnya,Hartati tak lagi sekadar mengeluhkan
keadaan. Dia mencoba membuat karya yang menggugah perempuan untuk
bangkit dan memberdayakan diri. Lahirlah karya seperti “Hari Ini”
dan “In(side) Sarong In(sight) Sarong” (2007), serta “Cinta Kita”
(2008).   
    Dengan gagasan dan bentuk karya semacam itulah, Hartati kemudian
diapresiasi di banyak panggung nasional dan internasional. Dia pernah
tampil di Singapura, China, Kolombia, Amerika, dan Australia. Lewat
program Empowering Women Artist dari Yayasan Kelola yang diperolehnya,
dia berkarya selama tiga tahun terakhir.

Tradisi
    Pencapaian Hartati berproses lewat perjalanan panjang. Tumbuh di
desa kecil di Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat, dia akrab
dengan budaya Minangkabau. Dia mempelajari berbagai jurus silat,
seperti silek tuwo, tumango, harimau, atau silekluwambek. Pengetahuan
dan keterampilan seni Melayu diperoleh saat belajar di SMKI Padang
Jurusan Tari (lulus tahun 1986).
    Hijrah ke Jakarta, dia kuliah tari di Institut Kesenian Jakarta
(IKJ) tahun 1986-1985, yang memperkenalkannya pada tarian Nusantara
dan modern. Saat bersamaan, dia bergabung dengan kelompok Gumarang
Sakti pimpinan Gusmiati Suid, koreografer yang memadukan silat
Minangkabau dengan tari modern.
    Hartati pertama kali membuat karya koreografi tahun 1987. Sejak
itu sampai kini, atau selama 24 tahun, dia tak henti berkarya. Karya-
karyanya merefleksikan perjalanan seorang manusia dengan problematik
sebagai perempuan, penghargaan pada tradisi Minangkabau, dan
kegamangan identitas Indonesia di tengah perubahan zaman.
    “Dengan terus berkarya, saya semakin menemukan diri sendiri
sekaligus membuka jendela untuk melihat kehidupan lebih luas,” katanya.

KOMPAS – Minggu, 09 Jan 2011 

 

 

Menggali Diri Perempuan
Catatan Pentas Hartati “Hari Ini” di Goethe House, Jakarta, 2007                   

Oleh Ilham Khoiri

    Beberapa tahun tak pentas, koreografer Hartati (41) muncul lagi
dengan karya terbaru berjudul  “Hari Ini.” Tarian yang dipentaskan di
Goethe House, Jakarta, 20-21 Juli, itu mengungkit persoalan perempuan
dengan kacamata lebih positif.
    Olah gerak tariannya tak melulu berpijak pada pencak silat
Minangkabau yang menjadi ciri khasnya, tetapi juga memasukkan unsur
Yoga.
    Suasana hening membuka pertunjukan berdurasi sekitar 50 menit
itu. Panggung ditata minimalis dengan latar belakang kain polos
berwarna abu-abu. Hartati diam di pojok, lalu berjalan ke tengah
panggung sambil mencopot dua sepatunya. Seperti bayang-bayang,
kemunculannya hanya sekilas, lantas menghilang cepat.
    Dalam iringan musik berintonasi patah-patah, penari Nur Hasanah
muncul dan bergerak sendirian. Gerakannya mempertontonkan hasrat
untuk lepas dari jejak masa lalu. Sesekali dia melenguh, tapi
kemudian memasang kuda-kuda tegap, menendang telak, atau mengelak
tangkas. Terasa jejak-jejak pencak silat Minangkabau.
    Masuk babak kedua, latar belakang panggung berubah seperti jaring
laba-laba. Dua penari perempuan, Andara F Moeis dan Siti Ajeng
Soelaiman, menggeliat dalam bungkusan kain sarung. Kain itu akhirnya
malah dipermainkan ketika keduanya memutar, melompat, atau memelintir
tubuh. Gerakan yang memuncak itu memendarkan kegembiraan dan
optimisme.
    Pada babak terakhir, ketiga penari itu tampil bersamaan.
Mengenakan pakaian senam, mereka menyeragamkan gerak dan saling
melengkapi. Mereka memainkan kaki, tangan, melekuk tubuh, atau
berlari menguasai ruang panggung. Semua gerakan dilekukkan dengan
terukur, khidmat, dan penuh perhitungan.
    Mereka mengolah pernapasan dan konsentrasi mirip latihan Yoga.
Suasana meditatif juga muncul saat ketiga penari itu menahan gerak
secara bersamaan sehingga menciptakan jeda sejenak. Musik yang mirip
gumaman lirih itu menebarkan nuansa misterius. Pentas berakhir saat
tiga penari itu berdiri diam dan jaring laba-laba di latar panggung
runtuh.

Berbeda
    Seperti karya-karya Hartati sebelumnya, Hari Ini juga mengulik
persoalan perempuan. Akan tetapi, persoalan ini digarap dengan
pendekatan lebih positif. Ini menyiratkan pergeseran gagasan
koreografer lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1995 itu.
    Tarian solo pada babak pertama menggambarkan kehendak perempuan
untuk membebaskan diri dari beban masa lalu yang dianggap menekan.
Hentakan-hentakan penuh energi yang diekspresikan penari mengumbar
semangat untuk menghadapi kenyataan zaman sekarang, realitas hari ini.
    Duet penari yang lebih atraktif pada babak kedua mempertegas
spirit itu. Realitas sosial, yang dapat ditafsirkan dalam simbol kain
sarung, tidak lagi bisa mengungkung dan melemahkan perempuan.
Sebaliknya, realitas itu bisa mendorong mereka untuk berjuang lebih
keras.
    Pada akhirnya, perempuan dituntut untuk membentuk kekuatannya
sendiri. Itu bisa dicapai jika mereka mau menggali dan menemukan
potensi dirinya. Perjuangan itu digambarkan dengancerdik dalam
gerakan trio penari pada babak ketiga. Lewat gerakan tangan dan jari,
mereka juga mengisyaratkan simbol-simbol cinta, keyakinan,
kepercayaan, dan kesabaran.
    Gagasan yang lebih positif ini berbeda dengan cara pandang
Hartati sebelumnya yang cenderung memprotes ketidakadilan yang
mendera perempuan. Dalam karya Sayap yang Patah (tahun 2001),
misalnya, dia menggambarkan perempuan yang sulit mengaktualkan diri
dalam masyarakat. Membaca Meja (2002) menyoal kekuasaan yang menekan
perempuan. Ritus Diri (2004) membicarakan ruang privat dan publik
yang tetap memojokkan perempuan, meski budaya matrilineal masih
dipertahankan di sebagian daerah.
    “Saya tidak ingin terus mengeluh dan mengomeli keadaan. Kenapa
perempuan tidak berpikir lebih positif, bangkit, dan menguatkan diri
sendiri? Itu yang mendorong karya ini,” kata Hartati.
    Estetika dan teknis pengarapan Hari Ini pun berbeda. Babak
pertama dan kedua masih memperlihatkan pengaruh gerak silat
Minangkabau, yang telanjur menjadi pijakan Hartati berkarya selama
ini. Di situ, kita mudah menandai kuda-kuda atau gaya kembangan silat
yang teratur pola kakinya.
    Itu dipengaruhi pergulatan Hartati dengan budaya dan tari
tradisional Minangkabau sejak muda. Dia dibesarkan di Muara Labuh,
Solok, Sumatera Barat, dan banyak terinspirasi oleh koreografer
Huriah Adam. Dia bergabung dengan Gumarang Sakti Dance Company yang
dipimpin Gusmiati Suid sejak tahun 1987-2006. Huriah dan Gusmiati
dikenal tekun mengeksplorasi gerakan tari Minang untuk menciptakan
koreografi modern.
    Hartati baru memperlihatkan jarak dari kungkungan tradisi dalam
babak ketiga Hari Ini. Ketimbang berkutat dengan warna Minang, dia
memilih untuk menyerap unsur gerak Yoga yang menekankan kelembutan,
konsentrasi, dan pernapasan. Hasilnya cukup segar dan enak dinikmati.
Penonton tak hanya dimanjakan oleh eksotisme gerak, tetapi juga
getaran spiritual yang syahdu.

Kolaborasi
    Secara teknis, karya Hartati kali ini memang berbeda lantaran
dikerjakan dengan kolaborasi tim artistik berskala internasional.
Ines Somellera, seniman asal Meksiko, menjadi produser sekaligus
mengajak beberapa seniman dunia. Ada Carlos Soto, desainer dari New
York, Amerika Serikat, yang membantu menangani kostum. Carlos senang
memanfaatkan lipatan kain yang luwes untuk mengejar efek-efek
dramatis.
    Komponis perancang sound design asal Belgia, Marc Appart,
mengolah musik yang bersahaja, tapi ekspresif. Tata cahaya ditangani
Iskandar K Loedin, yang sering bekerja sama dengan koreografer
terkemuka Indonesia.
    Dengan kolaborasi semacam itu, wajar jika karya terbaru Hartati
ini menemukan wadah yang lebih pas. Unsur rupa dan musik yang digarap
matang oleh seniman internasional itu berhasil memperkuat olah gerak
yang diperagakan tiga penari perempuan muda dari IKJ. Kalaulah
kolaborasi itu belum maksimal, barangkali itu dipengaruhi jarak
komunikasi Hartati dengan tim artistik dari beberapa negara itu yang
harus dilakukan melalui jaringan internet.
    Hari Ini sangat penting bagi perjalanan kreatif Hartati, karena
makin membukakan pintu bagi masuknya unsur budaya dunia. Semangat
koreografer perempuan ini untuk memompa kreativitas dan keluar dari
pakem lama yang sudah dijalani lebih dari 20-an tahun tentu saja
menjanjikan harapan. Siapa tahu nanti akan muncul karya-karya baru
lagi yang lebih segar.

KOMPAS – Minggu, 22 Jul 2007