“Wondering Soul III,” foto dokumentasi JAA 2010

Kompetisi Jakarta Art Award (JAA) 2010
Oleh Ilham Khoiri

    Benda-benda mirip peretelan mesin teknologi canggih itu berserakan
begitu saja. Ada beberapa lempengan kotak mirip CPU (“central
processing unit”) komputer, pipa panjang mirip knalpot, juga bundaran
serupa kendang pengeras suara.   
    Anehnya, perabot mekanik kontemporer itu dirayapi semacam
organisme. Bentuknya menyerupai kode-kode mistis tradisional seperti
rajah. Bentuknya seperti gugusan mandala, lingkaran berlapis, bentuk
keong berputar, atau simbol alam khayal purba.
    Gambar-gambar itu saling bertumpuk dan menyisip; menciptakan dunia
sublim yang asing. Berbagai peranti teknologi mengentalkan citra
metropolis. Sementara simbol-simbol mistis-purbawi memendarkan kesan
spiritualis.
    Masa depan dan masa lalu seperti hadir bersama dan saling mengisi.
Gambaran misterius inilah yang membuat lukisan berjudul “Wondering
Soul III” garapan Putu Wirantawan (38) itu tampak menggoda. Karya
seniman Bali lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu
memenangi penghargaan utama Jakarta Art Award (JAA) 2010.
    Penghargaan kedua diberikan pada dua lukisan lain, yaitu “Dimensi
Perburuan” karya Imam Abdillah (34) dan “City of Tomorrow” karya
Agung “Tato” Suryanto. Penghargaan ketiga diberikan pada tiga lukisan,
masing-masing karya Aditya Novali, Angga Sukma Permana, serta Farhan
Siki. Ada juga penghargaan sebagai peserta internasional untuk Halley
Cheng (Hongkong) dan peserta senior bagi Mulyadi W (72).
    Para pemenang memperoleh hadiah dengan nilai total Rp 225 juta.
Mereka terpilih dari 82 nomine, yang juga hasil seleksi dari total
2.400 lukisan. Tak hanya dari Indonesia, pesertanya juga berasal dari
Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Australia, Filipina, dan Amerika
Serikat.
    Ke-82 lukisan dinominasikan, termasuk para pemenang, dipamerkan di
Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, 30 Juli-29
Agustus. Semua karya itu merespons tema “Aspek-Aspek Kota Besar”.
    JAA, yang digelar PT Pembangunan Jaya Ancol dan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta tahun 2010 ini merupakan kompetisi ketiga setelah
tahun 2006 dan 2008. Tim juri kali ini beranggotakan 10 orang: Srihadi
Soedarsono, M Agus Burhan, Efix Mulyadi, Jean Couteau, Bambang Bujono,
Agus Dermawan T, Rifky Effendy, Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta),
Ciputra (pengusaha), dan John Batten (pengamat seni asal Australia).

“Skill”
    Apa yang menarik dari JAA 2010? Sebagaimana dua kompetisi
sebelumnya, ajang ini tetap mensyaratkan lukisan sebagai karya yang
bisa disayembarakan. Ini terasa agak membatasi di tengah kebebasan dan
keragaman medium ekspresi seni rupa kontemporer.
    Namun, sebenarnya pilihan ini juga bisa disikapi sebagai
tantangan. Mampukah para perupa mengolah lukisan sehingga tetap
relevan di tengah kemajuan teknologi media baru? Bisakah lukisan
dieksplorasi sebagai medium yang cair untuk mengolah berbagai soal
konseptual, sejarah, masyarakat, atau mempersoalkan batasan lukisan
itu sendiri?
    Mengamati karya-karya pemenang, agaknya kompetisi ini cukup
mengutamakan keterampilan tinggi ketimbang gagasan baru yang
menggedor. Lukisan yang terpilih sebagai pemenang rata-rata memamerkan
skill atau keahlian dengan memadukan beragam teknik di atas media dua
dimensi.
    Putu Wirantawan, misalnya, tekun memainkan bolpoin dan pensil
untuk membuat garis-garis tipis di atas kertas. Agung “Tato” Suryanto
menggabungkan teknik lukis dan drawing dengan medium akrilik dan
pensil di atas kanvas.
    Aditya Novali membuat lukisan pemandangan kota di atas kanvas yang
dipotong-potong kecil horizontal. Potongan itu lantas dijejerkan
dengan komposisi beragam sehingga membentuk tampilan lukisan yang
berubah-ubah. Farhan Siki mengangkat psikologi liar kerumunan manusia
kota dengan gaya grafiti jalanan.
    Kesegaran narasi mencuat pada lukisan Imam Abdillah, “Dimensi
Perburuan”. Dia melukis ulang sosok-sosok pemburu dalam
lukisan “Perburuan” karya Raden Saleh, tetapi diselipkan di tengah
hiruk-pikuk kota besar. Kehadiran orang-orang kuno berbelangkon dan
bersenjata keris itu menciptakan keganjilan di kerumunan warga dan
suasana metropolitan. Ini menantang tafsir luas.
    Di luar itu, agaknya tak terlihat ada karya dengan konsep yang
benar-benar mengejutkan. Banyak peserta malah terjebak pada tafsir
klise kota metropolitan sebagai pemandangan gedung-gedung tinggi yang
berjejalan. Sebagian lagi masih larut dalam pengulangan tren gaya
lukisan kelompok Jendela atau bercorak realisme fotografis.

KOMPAS – Minggu, 08 Aug 2010