instalasi “feast table,” photo by ilham khoiri

Laporan Pameran Tunggal Entang Wiharso, “Love Me or Die”

Oleh Ilham Khoiri

    Entang Wiharso (43), seniman lulusan ISI Yogyakarta, masih tekun
menggarap citra tubuh manusia yang mengerikan. Karya-karyanya, baik
lukisan, instalasi, atau video, menyodorkan teater kehidupan yang penuh
pergolakan.   
    Coba kita amati salah satu instalasinya berjudul Feast Table. Ada
ikan besar, mirip ikan koi, yang tersaji di atas meja. Di depannya, dua
sosok manusia berdiri berhadapan, seakan sedang berdialog.
    Satu orang melambaikan tangan, seakan bilang, “Sabar dulu, ya.”
Satu orang lagi memandang dengan tenang, tetapi di balik punggungnya
menggenggam pisau. Dia siap bertarung demi memperoleh ikan, kalau perlu
dengan menghujamkan pisau itu ke tubuh lawannya.
    Instalasi dari bahan aluminium ini cukup mengusik. Dua sosok
manusia dan ikan itu berkulit keperakan dengan totol-totol merah. Ini
menyentil drama kehidupan kita.
    Tampilan manusia sering tampak santun. Tapi, di balik itu, manusia
punya naluri keji, bahkan tega membunuh orang lain. Kesopanan hanya
kedok yang menyembunyikan nafsu dan kekerasan.
    Feast Table cukup menonjol dalam pameran tunggal Entang Wiharso
bertajuk “Love Me or Die” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 23-31
Oktober. Dihelat Galeri Canna, Jakarta, pergelaran menampilkan 20-an
karya, beberapa di antaranya berskala besar. Ada lukisan cat minyak,
lukisan cat air, instalasi, dan video.
    Dengan beragam pendekatan dan bentuk, karya-karya lain juga
membeberkan perilaku ganas manusia. Di halaman galeri, misalnya,
terpajang rangkaian wayang aluminium raksasa-setinggi delapan meter-
yang menggambarkan tabiat angkara murka. Ada dua sejoli berdekapan
mesra, tetapi salah satu tangannya menghujamkan belati pada pasangannya.
    Dinding teras galeri digambari kulit manusia yang sudah
bermetamorfosis menjadi totol-totol atau loreng. Serupa benar dengan
kulit harimau, macan tutul, buaya, atau binatang buas lain.
    Masuk dalam ruang pamer, lebih banyak lagi adegan brutal. Ada
patung sepotong kepala besar yang menjulurkan lidah panjang. Perempuan
berdiri anggun di atas lotus, tetapi kondenya ditusuk belati. Orang
siap terjun ke ujung tombak-tombak yang runcing.
    Di bagian belakang, ada instalasi sekelompok orang berpesta makan
bersama. Tapi, semua tubuh mereka loreng. Sebagian jatuh terjerembap.
Kursi berjungkiran. Piring dan makanan terlempar ke lantai.
    Kengerian juga terpampang pada sejumlah lukisan. Tubuh-tubuh ganjil
manusia di atas kanvas itu menebarkan teror. Ada manusia bermata empat,
mulut menganga, lidah menjulur, kuping melebar, kaki putus, atau tubuh
ditusuk-tusuk.

Teater
    Setiap karya terasa menggedor karena menyuguhkan panggung teater
penuh adegan mengerikan. Ketika dihadirkan bersamaan, rangkaian drama
itu segera menyeret kita dalam sisi gelap diri manusia, yaitu
kekerasan. Memang karakter ini sudah menjadi bagian dari sejarah
manusia sebagaimana diceritakan buku-buku, televisi, koran, bahkan kita
alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, visualisasi ini bisa mengulik pandangan filsuf Jerman,
Friedrich Nietzche. Bahwa realitas hidup ini, termasuk sejarah manusia,
bermuara pada kehendak berkuasa belaka. Demi memenuhi hasrat itu,
manusia betah hidup dalam kekacauan dan peperangan.
    Seni sangat cocok untuk menangkap fenomena itu. Soalnya,seperti
dibilang Nietzche, seni tak punya hasrat untuk menyederhanakan
kompleksitas hidup dalam satu kesimpulan final. Dengan bahasa luwes,
seni justru bisa memperlihatkan absurditas, pergolakan, mimpi, dan
kengerian hidup yang terus-menerus berulang itu.
    Apa alasan Entang menyajikan adegan kengerian dalam karyanya? “Saya
berusaha jujur mengungkapkan realitas agresif manusia. Dengan begitu,
siapa tahu kita tersadar akan pentingnya membangun kehidupan lebih
beradab,” katanya di Galeri Nasional, Selasa (26/10).
    Artinya, dengan menyodorkan adegan penuh kekejian, sebenarnya
seniman ini justru merangsang kita untuk memikirkan kemungkinan menata
hidup yang lebih beradab. Penataan itu hanya mungkin dilakukan dengan
mengembangkan nilai-nilai seperti toleransi, kebersamaan, perdamaian,
cinta, dan kasih sayang.
    Karya-karya dalam pameran ini, mungkin dalam pameran lain, bisa
memprovokasi kita karena Entang piawai mengolah bahasa rupa tanpa
batas. Dengan energi besar, dia tak henti mengeksplorasi berbagai media
dan pendekatan seni rupa. Instalasi, lukisan, patung, atau video,
semuanya digarap dengan sangat cair.
    “Saya selalu berangkat dari ide atau gagasan, bukan bentuk. Ide itu
terbuka dan dinamis, sementara bentuk cenderung menjebak kita dalam
rutinitas,” katanya.
    Sikap terbuka ini agaknya tertempa berkat pengalamannya bersentuhan
dengan kehidupan global. Entang, yang beristri seniman Amerika,
Christine Cocca (40), rutin melakukan perjalanan bolak-balik Amerika
dan Yogyakarta. Di sela-sela itu, dia masih mengunjungi kampung
halamannya di Tegal, Jawa Tengah.

 

KOMPAS – Senin, 08 Nov 2010