Laporan Pameran “Ethnicity Now”

Oleh Ilham Khoiri

    Delapan perupa mengangkat budaya etnik dalam kemasan global lewat
pameran “Ethnicity Now” di Galeri Nasional, Jakarta, 2-12 Desember ini.
Ada harapan, karya mereka dapat menampilkan karakter Indonesia di
tengah pentas seni rupa global.
    Para pengunjung mengerubungi mobil Mini Cooper Mark III yang
diparkir di tengah ruang pamer Galeri Nasional pada malam pembukaan,
Kamis (2/12) malam. Mereka mengelilingi sedan buatan Inggris tahun 1974
itu. Tampilan kendaraan, yang kerap dikendarai komedian Mr Bean di
tayangan televisi, itu memang menggoda.
    Mobil ini mewakili produk Eropa yang diserap konsumen di Tanah Air
pada 30-an tahun silam. Ukurannya mungil, desainnya unik. Anehnya,
seluruh permukaan badan mobil itu dipenuhi gambar komik-etnik.
    Unsur komik mengental pada citra sosok-sosok yang dilukis bergaya
naif dan naratif. Unsur etnik terasa pada sosok karakter wayang serta
ornamen dekoratif mirip batik. Dalam mobil mungil ini, budaya Eropa dan
lokal bisa berpadu-padan dengan santai.
    Karya berjudul “Radja Jalanan” itu hasil utak-atik Indieguerillas,
kelompok yang dibidani dua seniman lulusan Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta, Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Bawono. Karya
ini menjadi salah satu dari sejumlah karya yang menggelitik.
    Tak jauh dari mobil itu terdapat tiga bajaj. Masing-masing bagian
atas bajaj ditempeli mahkota. Satu bermahkota Karna, mahkota Baladewa,
dan satu lagi ditutupi simbol sedulur papat lima pancer.
    Bajaj mencerminkan kendaraan rakyat urban di kota metropolitan,
sementara ketiga mahkota itu mewakili bagian ornamen wayang tradisional
Jawa. Dua entitas yang berbeda itu dipertemukan begitu saja.
    “Bajaj itu saksi perjalanan negeri ini. Saya kemudian
menggabungkannya dengan perlambang kemuliaan dari masa lalu,” kata
Nasirun, perupa. Beberapa karya dari enam perupa lain juga menarik.
Mereka adalah I Wayan Bendi, I Made Djirna, Heri Dono, Samuel Indratma,
Angki Purbandono, dan Yudi Sulistya. Dengan perspektif masing-masing,
mereka menafsirkan tema “Etnicity Now”.
    Alih-alih menempatkan tradisi lokal dan budaya global kekinian
dalam posisi berhadapan, para seniman itu malah mempertemukan masa lalu
dan masa kini dalam hubungan yang sangat cair. “Etnicity Now” justru
memperlihatkan bahwa tegangan antara tradisi dan globalitas telah
hilang. Budaya global kian terbuka menerima lokalitas; sementara
khazanah lokal tak segan menyerap globalitas.

“Global art”
    Menurut kurator pameran, Jim Supangkat, karya para seniman itu
sedikit-banyak menampilkan etnisitas. Para seniman tidak bisa
melepaskan diri dari ikatan komunal, spirit kampung, dan tradisi dalam
kehidupan sehari-hari kendati isu yang diangkat adalah persoalan global.
    Jim memetakan karya mereka dalam kancah seni rupa kontemporer yang
disebutnya sebagai global art. Dalam arti, karya mereka cenderung
individual, punya keunikan kultural, dan bersentuhan dengan gejala
global dunia zaman sekarang. Memang, dalam percaturan global, kita
membutuhkan citra yang bisa dengan jelas menghubungkan karya dengan
asal-usul seniman Indonesia. Saat bersamaan, kita juga membutuhkan
kemasan kontemporer yang bisa diterima oleh publik seni dunia. Jadi,
seniman Indonesia tak larut dalam tren visual global, tetapi juga bisa
menunjukkan karakteristik khas Indonesia.
    Dalam konteks ini, mungkin kita bisa menyimak karya Angki
Purbandono yang berjudul “TV Lover”. Seniman ini menampilkan 234 kotak
akrilik yang disorot neon boks dari belakang. Ratusan neon itu ditata
berderetan pada permukaan dinding.
    Masing-masing kotak berisi gambar-gambar tayangan televisi yang
dipotret selama tahun 2004. Menarik mengamati gambar-gambar yang
terekam di kotak-kotak yang dibuat mirip televisi cembung itu. Ada
gambar tayangan sepak bola dunia. Gambar tayangan sinetron, patung
garuda di Lubang Buaya, dan film tinju klasik. Tampak wajah penyanyi,
kartun Tom and Jerry. Juga muncul orang sedang berdakwah, Masjid
Baiturrahim Aceh, dan iklan rokok.
    Berbagai citra visual yang bercampur aduk itu merupakan tayangan
yang dipilih secara acak selama setahun. Jika dicermati, tampak sekali
bahwa dalam kehidupan kita, batas-batas antara masa lalu, sekarang, dan
masa depan itu sudah diterabas habis. Jarak antara ruang bernama
Indonesia dan ruang bernama dunia internasional begitu tipis, bahkan
kerap hilang.
    “Itu arsip sosial perkembangan apa yang kita tonton di televisi.
Semuanya ada di situ. Itu tafsir saya atas budaya etnik zaman sekarang,”
kata Angki.
    Gagasan pameran ini menarik untuk dikembangkan lebih jauh.
Sayangnya, dengan mayoritas peserta pameran berasal dari lingkungan
Jawa, juga dua orang dari Bali, pemaknaan etnisitas jadi lebih lekat
dengan dua budaya itu. Padahal, kita tahu bersama, negeri ini dibangun
oleh berbagai etnik yang plural.
KOMPAS – Kamis, 16 Dec 2010