photo by ilham khoiri

Pameran Anish Kapoor di 798 Art Distric, Beijing, China
                      
Oleh Ilham Khoiri

    Gerimis masih menitis di kompleks 798 Art Distric, Beijing,
China, suatu senja yang dingin pertengahan November lalu. Daun-daun
kuning yang luruh dari pepohonan lengket pada jalanan beraspal. Orang-
orang keluar masuk galeri seni sambil menyangga payung yang basah.
    Mendekati satu tikungan kecil, di dekat sebuah kedai kopi yang
sepi, saya menemukan papan petunjuk: “Anish Kapoor, Galleria
Continua”. Saya berbelok dan bergegas menuju gudang besar yang
disulap jadi galeri. Seniman kontemporer asal India, Anish Kapoor
(54), memang tengah menggelar karya-karyanya di situ selama 3,5 bulan
lebih, 1 September-23 Desember.
    Begitu melewati pintu masuk, satu lorong gelap menyambut. Ujung
koridor dari kayu yang dicat putih bersih itu sempit, berlangit-
langit rendah, dengan ujung yang melingkar. Menyusuri lorong itu
pelan-pelan, saya merasa tersesat dalam jalan tak berujung. Jalan itu
membentuk lengkungan spiral yang terus memutar bagai rumah keong.
    Tiba di tengah lingkaran, tiba-tiba terbuka satu ruangan yang
luas dan terang. Lega rasanya. Tepat di tengah ruang, yang juga
berbentuk bundar, asap putih berembus lembut dari langit-langit
tinggi dan jatuh ke lantai. Pandangan saya segera ditarik untuk
menyadari keberadaan garis vertikal itu, sesuatu yang bersifat
transendental.
    Inilah instalasi karya Kapoor, berjudul Ascension. Siapa pun yang
menelusuri “rumah keong” besar ini bakal meresapi bermacam sensasi.
Bagaimana pun sensasi itu, orang bisa terhanyut dalam permainan
antara ruang penuh-kosong, gelap-terang, luas-terbatas, jasmani-
rohani, dan ada-tiada.
    Di lantai dua terdapat instalasi berjudul Wounds and Absent
Objects. Sebuah layar putih besar dipasang memenuhi salah satu
dinding dalam ruangan berukuran sekitar 6 x 7 meter. Ruangan gelap,
suara angin menderu naik-turun. Mesin infocus projector menyorotkan
citra gambar warna-warni yang memendar-mendar, membentuk lingkaran
yang memusat lalu terpecah atau semburat cahaya yang timbul-tenggelam.
    Duduk pada bangku di seberang layar, saya spontan tergoda untuk
mencoba bermeditasi kecil-kecilan. Titik tengah yang muncul dalam
ilusi lingkaran jadi fokus konsentrasi, sedangkan deru angin mewakili
suara semesta yang ritmis dan berulang-ulang. Semuanya terjadi begitu
saja.
    Kembali ke lantai satu, ada dua bundaran besar, berdiameter
sekitar 1,5 meter, berjudul Bubble I dan Bubble II. Dua benda aneh
itu ditempelkan begitu saja pada dinding. Bahan resin yang diserut
halus dan bening samar-samar memantulkan pemandangan di depan bulatan
itu dalam dimensi terbalik.
    Berdiri di depan dua bulatan ini, saya tersedot untuk menengok
pantulan pemandangan ruang pameran dan diri sendiri dalam dimensi
yang asing. Gambar itu memiuh dalam dimensi yang cembung, tapi efek
pantulan itu juga memberikan kedalaman sehingga tampak cekung. Saya
menemukan cerminan dunia sekitar dalam perspektif yang cembung
sekaligus cekung.

Eksperimental
    Apa yang sejatinya ingin ditawarkan Anish Kapoor dengan karya
seni eksperimental itu? Tentu, dia tak hendak menjejalkan tafsir
tunggal. Tapi, bagi saya, karya-karya seniman itu lebih bertendensi
mengundang orang untuk bermeditasi, merenungi hakikat kehidupan dan
eksistensi diri manusia sendiri.
    Kapoor berasal dari India, negeri yang punya budaya kebatinan,
bahkan sebelum agama Hindu dan Buddha resmi lahir di sana. Meski
tetap mewarisi tradisi meditasi, seniman ini tak menyuguhkannya
secara verbal, misalnya melalui pengucapan mantra, gerak yoga, atau
gambar orang bertapa. Dia memilih merangsang gairah meditasi lewat
permainan ruang, bentuk, warna, dan ilusi optik.
    Kepiawaian seniman ini memanfaatkan teknologi konstruksi dan
ruang membuat karya-karyanya tampil kuat. Material, bentuk, ruang,
warna, atau gerak dipilih dengan cermat, diolah, lantas dirangkai
dalam satu instalasi yang menggugah kepekaan jiwa dan pikiran.
Kekuatan seni, teknologi, dan spiritualitas menyatu dalam wujud seni
rupa.
    Dalam satu pameran di Lisson Gallery di London, 1996, Kapoor
membuat semacam sumur, tepat di salah satu sudut galeri. Lantai
galeri digali dan dilubangi sehingga membentuk sebuah terowongan yang
berada di tengah bidang lingkaran besar. Pengunjung bisa melongok
sumur tadi sambil merasakan sensasi psikologis yang muncul.
    Kapoor mencapai itu setelah merintis perjalanan panjang. Lelaki
ini lahir di Bombay, India, tahun 1954. Pada masa kecil, dia
bersentuhan dengan dunia kebatinan. Awal tahun 1970-an dia hijrah ke
London dan belajar di Hornsey College of Art dan Chelsea School of
Art and Design. Tahun 1980-an dia muncul sebagai salah satu pematung
yang menjanjikan di Inggris.
    Pameran tunggal pertama Kapoor di China ini menyuguhkan
petualangan spiritual yang bersifat asketis. Karyanya mengajak orang
untuk mengambil jeda sejenak dari rutinitas hidup sehari-hari,
berefleksi tentang eksistensi semesta, lantas menggali pengalaman
batin dan pikiran. Suasana kontemplatif pada pameran itu merembeskan
keteduhan di tengah hiruk-pikuk booming pasar seni rupa kontemporer
Negeri Tirai Bambu itu.

KOMPAS – Minggu, 02 Dec 2007