photo by ilham khoiri

Tentang Bob Sick Yudhita Agung

Oleh Ilham Khoiri

    Terik menyengat Yogyakarta, Rabu (13/5) siang lalu. Tapi, cuaca
gerah itu tak mengusik gairah Bob Sick Yudhita Agung (37) yang sedang
melukis di rumah barunya di Taman Griya Indah, Godean, Yogyakarta.
Bagai bocah yang terjerat dolanan baru, dia tenggelam dalam permainan
corat-coret yang mengasyikkan.   
    Bob Sick menggambar sosok mirip alien yang berdiri goyah di tengah
bidang menyerupai lapangan sepak bola. Di antara coreng-moreng garis
dan blok-blok berwarna terang, diguratkannya bermacam celetukan. “Punk
is mind. Farmer is God. God in my heart. MU. Holigan.”
    Setelah membubuhkan tanda tangan di pojok kanvas, Bob berjalan
tertatih, lantas duduk menggelosoh di antara botol minuman keras serta
ceceran cat di atas lantai. Bob, apa hubungan MU (Manchester United,
klub sepak bola asal Inggris), petani, dan Tuhan?
    “Saya penggemar MU, Si Setan Merah. Ah, enaknya jadi holigan!
Tapi, lihat lapangan hijau, saya jadi ingat petani yang hidupnya
susah, terus ingat Tuhan,” paparnya enteng.
    Di mata Bob, berbagai hal yang berserakan itu gampang dirangkai
dalam runtutan logika sekenanya. “Saya tak pernah berpikir dalam
melukis. Kalau mau coret, ya coret saja. Tangan-tangan ini tak
berdosa,” katanya.
    Saat melukis, dia enak saja mencolek warna, menorehkannya di
kanvas, menyabet garis, membentuk bidang, sosok, obyek, atau tulisan
secara serampangan, sekenanya saja. “Diriku ini, 70 persennya main-
main. Hanya 30 persen yang dewasa,” katanya.
    Segala hal yang nyantol dalam benaknya dituangkan di atas kanvas.
Tema lukisanya pun bisa menyerempet apa saja, mulai dari manusia,
hewan, tumbuhan, makhluk-makhluk aneh, Tuhan, teman-teman dekatnya,
sampai hal remeh-temeh lain. Semua itu dileburkan dalam permainan yang
cair, kadang menggelitik.
    Sebagian kalangan menempatkan Bob dalam satu gerbong bersama
perupa Ugo Untoro dan S Teddy D. Maklum, ketiga seniman yang sama-sama
belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu berkawan dekat
dan punya kesamaan gaya hidup berkesenian. Tiga “pendekar mabuk” itu
menyempal dari arus umum seraya menggeluti idiom visual yang lebih
personal, dengan bertumpu pada daya corat-coret yang naif.
    Hanya saja, pada karya Ugo dan Teddy, masih terasa adanya latar
konsep berpikir atau hasrat membangun suasana liris. Pada Bob, logika
berpikir semacam itu dibuyarkan, dan seluruh proses berkarya
diserahkan pada naluri bermain yang polos. “Bob punya dunia sendiri.
Dia tidak mencari gagasan dari luar, tetapi menuruti hasrat spontan
dari kegelisahan batinnya,” kata pengamat seni rupa, Suwarno
Wisetrotomo.

Tato
    Bob Sick menjadi penting dibicarakan karena keberaniannya
meleburkan diri sepenuhnya dalam hasrat berkesenian. Selain melukis,
dia juga kerap menulis puisi, membuat mural, dan mengutak-atik obyek
seni dan playstation. Bahkan, dia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai
eksperimen seni.
    Sejak tahun 1990, Bob nekat merajam sekujur tubuh dengan puluhan
tato. Wajah, tangan, dada, pantat, kaki, bahkan lidah dan mata, semua
anggota tubuh itu jadi ajang ekspresi bermacam gambar permanen. Ada
dragon dan Asterix, Bob Marley, jargon sickness, anjing punk, wayang,
ornamen Maori, dan macam-macam lagi.
    “Tato itu statement saya untuk melawan hidup yang rutin dan
membosankan. Dengan tato di sekujur tubuh, saya merasa hidup di planet
lain, planet of art,” katanya.
    Lebih dari sekadar cari sensasi, tato di sekujur tubuh lelaki ini
memang jadi bagian penting dari ekspresi seninya yang sangat personal.
Ditambah rambut gimbal dan tubuh ringkih akibat didera obat-obatan dan
kecelakaan, sosok Bob akhirnya muncul sebagai manusia antik dalam
jagat seni rupa kontemporer di Tanah Air.
    Gairah untuk menuruti naluri bermain dan kebebasan menuntun hidup
ke jalan tersaruk-saruk dan menyimpang dari kelaziman. Bob bergabung
dengan kelompok mahasiswa pro-demokrasi di Yogyakarta. Saat bergiat
dalam berbagai demonstrasi menentang kebijakan pemerintah, dia sempat
ditangkap dan digebuki aparat sehingga tubuhnya “ringsek” seperti
sekarang.
    “Saya masih merasakan sakit di tengkuk, pinggang, dan tulang ekor.
Tapi, saya tetap gembira kalau melukis,” katanya dengan suara sengau
akibat sebagian tulang hidungnya sedikit melengsep ke dalam.
    Kesakitan saat ditato atau tubuh yang rusak akibat didera obat,
kecelakaan, dan gebukan justru semakin membenamkan Bob dalam gejolak
berkesenian yang ekstrem, bahkan “gila”. Itu diakuinya dengan
menambahkan julukan “sick” pada nama panggilannya. Sosoknya bisa saja
mengingatkan kita pada Jean-Michael Basquiat (seniman Amerika yang
bohemian), atau Vincent Van Gogh (pelukis ekspresionis Belanda yang
memotong satu kupingnya sendiri).
    Bagi sahabatnya, Ugo Untoro, Bob adalah salah satu dari segelintir
seniman yang menyerahkan hidup seutuhnya bagi kesenian. Di tengah
booming seni rupa kontemporer yang menggiring penyeragaman bahasa
visual demi mengikuti tren pasar, totalitas kesenian Bob membukakan
jalan seni rupa yang lebih otentik.

Pameran
Sengsara Membawa Nikmat

    Perubahan nasib saya bagaikan ‘wolak-waliking zaman’ yang pernah
dibilang Ronggowarsito itu.” Bob Sick mencoba menjelaskan perubahan
drastis hidupnya dari pelukis asongan menjadi seniman incaran pasar.
    Pamor Bob saat ini memang mencorong. Pameran tunggalnya
bertajuk “Sick Project” di Galeri Semarang, 3-13 Mei lalu, cukup
sukses. Selain diapresiasi kalangan seni rupa, total 20 lukisan yang
dipajang di sana juga habis terjual.
    “Gaya lukisan dan totalitas Bob sangat menarik bagi kolektor-
kolektor yang serius. Di pasar, karyanya semakin diapresiasi,” kata
Chris Dharmawan, pemilik Galeri Semarang.
    Pasar seni rupa Indonesia yang sedang “hot” sejak awal tahun 2007
dan semakin memberi tempat bagi karya kontemporer yang dulu dianggap
nyeleneh. Heri Pemad, penggiat pameran seni rupa di Yogyakarta,
menyebutkan, kegilaan hidup dan spontanitas karya Bob sudah
jadi ‘merek dagang’ yang cukup tokcer memikat para kolektor, kolekdol,
pedagang, dan broker lukisan.
    Kini, seni rupa memberi Bob limpahan rizki. Dia bisa beli tanah,
mobil, rumah, membantu teman yang kesusahan, serta menghidupi
keluarga. Lelaki ini pernah dua kali menikah dan punya satu anak dari
masing-masing istri yang diceraikannya. Kini, Bob menikah lagi dengan
istri ketiga, Titin Widiasih, yang tengah mengandung anaknya.
    Pencapaian Bob sekarang adalah kebalikan 180 derajat dari
keprihatinannya beberapa tahun silam. Hingga awal tahun 2000, dia
belum banyak dikenal. “Tahun 1999, saya ke Jakarta. Kehabisan uang,
saya jalan kaki dari Blok M ke Kemang. Sampai di sana, tak ada galeri
yang mau beli lukisan saya,” katanya mengenang.
    Sebenarnya Bob sudah sering menggelar pameran tunggal, seperti di
Millennium Gallery, Jakarta (tahun 2000), Kedai Kebun Forum,
Yogyakarta (2001), Lembaga Indonesia-Prancis, Yogyakarta (2003), dan
Museum & Tanah Liat, Yogyakarta (2005). Dia juga sempat memenangi
Affandi Prize tahun 2004 dan Sketsa Terbaik tahun 1991.
    Hanya saja, kegilaannya baru benar-benar diapresiasi sebagai
ekspresi seni rupa kontemporer saat dia berpameran tunggal dengan
tajuk “Happy Birthday NIN” di Jogja National Museum, Oktober 2007,
dengan kurator Ugo Untoro. Sejak itu, kesengsaraan Bob dalam
bereksperimen seni dengan hidup pribadi mengantarkan dia pada pasar
yang dulu tak pernah dipedulikannya.
    “Dengan punya banyak modal, saya lebih nyaman melukis. Saya juga
ingin pergi haji,” katanya dengan mimik serius. (iam)
KOMPAS – Minggu, 18 May 2008