Pameran “Kuota” tahun 2007
                  
Oleh Ilham Khoiri

    Bagaimanakah situasi seni rupa kontemporer Indonesia selama tahun
2007? Seniman mana saja yang menunjukkan kreativitas dalam gagasan,
teknik visual, dan penyajian? Adakah kecenderungan umum atau
pencapaian khusus dari sejumlah seniman?
    Pameran bertajuk “Kuota: Inbox 2007” di Galeri Nasional
Indonesia, Jakarta, 18-30 Desember, ini mencoba menjawab beberapa
pertanyaan itu. Pergelaran yang diselenggarakan Galeri Langgeng di
Magelang dan Langgeng Icon Gallery di Jakarta itu menampilkan
sejumlah seniman yang dinilai mewakili pencapaianseni rupa
kontemporer Indonesia tahun 2007.
    Ada 23 seniman yang terpilih. Mereka adalah Abdi Setiawan, Angki
Purbandono, Arahmaiani, Arya Panjalu, Asmujo Jono Irianto, Ay Tjoe
Christine, Beatrix Hendriani Kaswara, Dikdik Sayahdikumullah, Eko
Nugroho, FX Harsono, Gede Mahendra Yasa, Hamad Khalaf, Handiwirman
Saputra, Haris Purnomo, Iswanto Hartanto, J Ariadhitya Pramuhendra,
Mella Jaarsma, Redy Rahadian, Ruomy Handayani Pesona, S Teddy D,
Titarubi, Ugo Untoro, dan Wiyoga Muhardanto.
    Kurasi pameran ditangani Aminudin TH Siregar, Enin Supriyanto,
dan Hendro Wiyanto.Pengantar singkat-yang ditempel pada panel ruang
depan pameran-mencatat, pameran dengan “kuota” terbatas itu menandai
kecenderungan praktik seni rupa belakangan ini, seraya menegaskan
kembali pencapaian tertentu yang dilakukan sejumlah perupa. Kurasi
dengan cara “pameran tentang pameran” ini hendak mendorong lebih
jauh pewacanaan seni rupa kontemporer.
    Benarkah demikian? Secara umum, memang banyak karya yang
mencerminkan pergulatan dalam menjelajahi gagasan, visual, dan
penyajian karya yang relatif segar. Peserta pameran adalah seniman
yang cukup menonjol dalam berbagai pamerantunggal maupun bersama
selama setahun ini.

Keragaman
    Jika dicermati, sebenarnya sebagian besar karya tidaklah terlalu
mengejutkan. Banyak seniman yang tetap mengandalkan bahasa rupa yang
sudah digumulinya, sebagaimana terlihat dalam berbagai pameran
sebelumnya. Perhelatan ini justru berhasil menyuguhkan keragaman
tema, material, dan teknik, khususnya yang disajikan perupa muda.
    Kalangan muda lebih santai dalam mengolah bahasa rupa, bahkan
cenderung bermain-main. Mereka memanfaatkan benda sehari-hari untuk
diolah jadi karya seni yang modis, multifungsi,tetapi kadang
mengundang tafsir yang berlapis. Sensasi penampilan lebih
diperhatikan ketimbang soal-soal berat yang “ideologis”.
    Dalam hal ini, Handiwirman Saputra mewakili seniman muda yang
jeli memanfaatkan elemen rupa yang tak terduga, tetapi mengena,
seperti menggunakan efek genangan air dalam instalasinya. Begitu pula
Wiyoga Muhardanto yang asyik membuat obyek-obyek seni, serta Arya
Panjalu yang merakit sepeda yang mencetak tulisan di jalanan.
    Perkembangan teknologi digital-khususnya fotografi, komputer,
dan video-jelas berpengaruh besar. Kecanggihan media baru ini
diadopsi untuk menggarap corak realis dengan pendekatanberbeda.
Dikdik Sayahdikumullah, misalnya, memainkan citra gambar jalan raya
yang dipotret dari panel kaca depan mobil.
    Beatrix Hendriani Kaswara mengolah citra foto digital untuk
melukis garis-garis obyek dengan pendekatan unik. Bantuan teknologi
foto digital memungkinkan Gede Mahendra Yasa menggambar ulang goresan
(brush stroke) pelukis terkenal dalam lukisan baru yang lebih besar.
    Sejumlah perupa lain tetap serius membangun dengan konsep yang
bertendensi membongkar sentimen kebudayaan yang telanjur tidak adil.
Arahmaiani masih getol menyoal tekanan moralitas lewat dekonstruksi
teks kaligrafi Arab. Begitu pula MellaJaarsma yang memanfaatkan
pernak-pernik fashion untuk menyentil problem sosial.
    Beberapa seniman lain meneruskan bahasa yang sudah lama diakrabi.
S Teddy D asyik mencatat gejolak pribadi lewat gambar-gambar yang
menyentil. Abdi Setiawan memperkuat teknik pahat untuk menangkap
manusia-manusia kota. FX Harsono mengulik memori kekerasan dengan
menusuk ratusan lebah dengan jarum yang kemudian ditancapkan pada
kanvas dalam komposisi repetitif.

Pilihan
    Tiga kurator mencatut istilah komunikasi e-mail untuk menandai
seniman yang terpilih. Meminjam istilah kurator, 23 seniman terpilih
layak disimpan dalam kotak inbox yang patut dibaca ulang, sedangkan
sebagian besar seniman di luar itu hanya patut masuk dalam kotak junk
mail yang dihapus. Kategorisasi ini tentu layak diperbincangkan.
    Kenapa sejumlah seniman itu terpilih, sedangkan seniman lain tak
disertakan? Padahal, banyak seniman di luar inbox itu juga aktif
bergumul dengan gagasan dan visual baru yang kuat. Katakanlah,
beberapa di antaranya, Tisna Sanjaya, Anusapati, Nindityo Adipurnomo,
Agus Suwage, Yuli Prayitno, Tiarma Sirait, dan Putu Sutawijaya.
    Pengamat seni rupa, Adi Wicaksono, menengarai, pameran ini masih
kurang lengkap karena tidak memasukkan sejumlah seniman yang juga
mewakili pergulatan seni rupa kontemporer Indonesia setahun
terakhir. “Orientasi pameran masih belum jelas. Kalau mau
merepresentasikan semua kecenderungan seni rupa kontemporer, mestinya
lebih banyak lagi seniman penting yang diajak,” katanya.
    Memang, jika saja dilengkapi katalog serta argumentasi tertulis
untuk setiap seniman terpilih, tentu pameran “Kuota: Inbok 2007”
bakal lebih kuat. Namun, lepas dari pilihan kurator, pameran semacam
ini tetap penting untuk menandai pencapaian seni rupa setahun
berjalan. Langgeng Galeri dan Langgeng Icon Gallery pimpinan Dedy
Irianto patut diapresiasi karena mempertahankan tradisi pameran yang
dimulai sejak tahun 2005 itu.
    Keputusan untuk memilih Ugo Untoro sebagai perupa yang dianggap
menawarkan “inovasi” dalam karya seni rupa tahun 2007 cukup mengena.
Ugo adalah seniman yang terus menggali gagasan, visual, dan penyajian
yang segar. Itu terasa saat dia mengeksplorasi persoalan kuda dalam
konteks peradaban manusia, sebagaimana tampak pada pameran
tunggal, “Poem of Blood” di Galeri Nasional, April lalu.

KOMPAS – Minggu, 23 Dec 2007