Pameran “The 22nd Asian International Art Exhibition”
                           
Oleh Ilham Khoiri

    Sejak awal tahun 1990-an, sejumlah negara di kawasan Asia semakin
getol menggalang kekuatan seraya menyodorkan diri dalam peta seni
rupa dunia. Hingga kini, upaya itu sulit menelurkan tawaran yang
benar-benar otentik, apalagi menggeser praktik seni rupa Eropa dan
Amerika Serikat yang mapan. Memang, identifikasi “Asia” menghadapi
banyak tegangan.
    Menyangkut wacana seni rupa Asia itu, The 22nd Asian
International Art Exhibition (AIAE) di Selasar Sunaryo Art Space di
Bukit Pakar Timur, Bandung, 24 November-23 Desember, bisa memicu
perbincangan menarik. Pameran yang diselenggarakan Indonesian Commite
for The Federation of Asian Artists (FAA), Pusat Penelitian Seni ITB,
dan Selasar Sunaryo Bandung, itu diikuti 140 seniman dari 10 negara,
yaitu Indonesia, China, Hongkong, Jepang, Korea, Makau, Malaysia,
Filipina, Singapura, dan Vietnam.
    Dengan mengusung tema Imagining Asia: Understanding the Diversity
and Changes, perhelatan ini berusaha memaparkan perkembangan terbaru
seni rupa Asia di tengah dunia yang terus berubah ini. Apakah karya-
karya yang dipajang cukup berhasil mencerminkan keragaman dan
perubahan Asia, sebagaimana dituju tajuk pameran itu? Sebagian karya
seniman Indonesia cukup memperlihatkan semangat itu.
    AIAE biasa digelar bergilir di negara-negara Asia dengan
menyertakan karya anggota FAA, dan seniman luar sesekali diundang.
Khusus untuk pameran AIAE ke-22 tahun 2007, panitia Indonesia
menerapkan kurasi terbuka yang dilakukan Agung Hujatnikajennong dan
Aminudin TH Siregar. Terjaringlah 42 seniman, antara lain Setiawan
Sabana, AD Pirous, Sunaryo, Agus Suwage, Arahmaiani, Dikdik
Sayahdikumulah, Handiwirman, Rudi Mantofani, Heri Dono, S Teddy,
Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, dan Yani Mariani Sastranegara.
    Partisipasi sejumlah seniman kontemporer nonanggota FAA itu
memberikan sumbangsih berharga. Sebagian karya merekamenyuguhkan
kekuatan dalam pengolahan tema, material, dan penyajian visual.
Lukisan, patung, video, dan instalasi menggambarkan penjelajahan
serius untuk merumuskan diri di tengah riuh rendah dunia seni rupa.
    Tengoklah instalasi karya Heri Dono, Licking the Money. Ada lima
kepala manusia yang sama-sama menjulurkan lidah panjang untuk
menjilat uang ratusan ribu yang disodorkan lima tangan di depannya.
Dengan visual yang menggigit, karya ini telak menyoroti fenomena,
betapa uang bisa membeli apa saja di negeri ini, termasuk hukum.
    Karya Rudi Mantofani, gitar berleher panjang berjudul Nada yang
Hilang, juga memikat. Begitu pula instalasi air Handiwirman Saputra,
Sama Tinggi Sama Rendah, serta video Arahmaiani, Stiching the Wound.
Setidaknya karya mereka menawarkan bahasa rupa yang lebih segar
ketimbang lukisan beberapa seniman senior yang cenderung mengulang
pendekatan artistik lama.
    Lalu, bagaimana dengan karya seniman dari negara lain? Sebagian
besar seniman luar negeri adalah anggota FAA yang kebanyakan berasal
dari lingkungan akademis di perguruan tinggi seni. Keterlibatan
mereka rata-rata lebih dilandasi keanggotaan dalam forum AIAE, bukan
dipilih melalui sistem kurasi terbuka dengan menimbang pencapaian
kreativitas seni.
    Pola itu membawa konsekuensi, tak semua peserta dari luar negeri
mencakup seniman-seniman terbaik di negerinya atau yang tengah
berkibar-kibar di pasar seni rupa kontemporer.

Gamang
    Meski tidak tergambar pada semua negara, pameran ini tetap
penting sebagai pijakan awal untuk mengidentifikasi wajah seni rupa
Asia. Bermacam karya semakin menegaskan, kawasan ini tengah mengalami
pergulatan sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks.
    Itu belum memperhitungkan keragaman budaya, etnis, bahasa, dan
agama. Dalam semua perbedaan itu, sejumlah negara Asia diikat oleh
persamaan nasib sebagai dunia ketiga yang menanggung masalah
pembangunan, psikologi poskolonial, urbanisasi, dan serbuan
kapitalisme global. Pergulatan dengan berbagai persoalan ini kerap
menyeret bangsa Asia dalam situasi serba gamang.
    Menurut pengamat budaya dari Universitas Parahyangan, Bandung, I
Bambang Sugiharto, negara-negara Asia terjepit oleh keinginan mencari
kembali nilai komunal, tetapi juga berhadapan dengan kebutuhan untuk
mendapatkan otonomi individu sebagai subyek. Saat bersamaan, muncul
iming-iming dunia kapitalisme yang kuat serta tekanan dari agama.
    “Identifikasi menjadi penting untuk memperkuat diri sebagai
subyek yang otentik di tengah simpang siur kehidupan. Identifikasi
ini bukan sesuatu yang fixed, melainkan berproses. Seniman Asia terus
ditantang untuk membentuk kriteria estetik sendiri, mencari
kemungkinan baru,” katanya.

Swadaya
    AIAE dirintis oleh sejumlah seniman dari Korea Selatan, Jepang,
dan Taiwan serta diselenggarakan kali pertama di Seoul, Korea
Selatan, tahun 1985. Indonesia mulai diundang dalam pameran ke-5 di
Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1990. Saat itu, sejumlah seniman yang
ikut menggelar karya, antara lain AD Pirous, Sunaryo, Setiawan
Sabana, Erna G Pirous, Umi Dachlan, dan Heyi Ma’mun.
    Tahun 1992, Indonesia pertama kali dipercaya menjadi tuan rumah
dengan mengambil tempat di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika,
Bandung. Kelangsungan kegiatan pameran selama 22 tahun hingga
sekarang tentu mencatatkan prestasi tersendiri. Sistem pendanaan yang
ditanggung para seniman, tanpa membebani negara tuan rumah atau
pemerintah, menjadi alternatif penyelenggaraan pameran tingkat
regional yang lebih otonom dan independen.
    “Biasanya seniman peserta hadir pada setiap pembukaan pameran.
Dengan begitu, kegiatan ini lebih merupakan ajang silaturahmi,
jembatan kebudayaan antarseniman dari berbagai negara di Asia,” kata
AD Pirous, yang menjadi Ketua Komite Indonesia 1990-2002.

KOMPAS – Minggu, 09 Dec 2007