Pameran Kelompok Seniman Indonesia di Shanghai, China
                  
Oleh Ilham Khoiri

    Sejumlah pelukis Indonesia tengah menggelar pameran
bertajuk “Indonesian Contemporary” di 1918 Artspace, Shanghai,
China. Di tengah arus umum seni rupa kontemporer di China, karya
mereka menawarkan gagasan dan pendekatan visual yang berbeda. Sayang,
publik di sana tak banyak mengetahui perkembangan seni negeri kita.
    Angin dingin musim gugur berembus pelan di jalanan kota Shanghai,
Minggu (18/11) sore itu. Sekitar pukul 16.00, orang-orang berdatangan
ke 1918 Artspace di kawasan Chang Ping, tak jauh dari kawasan seni
Mogansha Road-50. Memasuki ruang pameran, mereka bergegas mengamati
lukisan-lukisan sambil mencicipi makanan kecil atau menyeruput wine
yang ditaruh begitu saja di sebuah meja besar.
    Begitulah acara pembukaan pameran “Indonesian Contemporary” yang
cukup bersahaja. Tak ada sambutan, pidato pejabat, apalagi potong
pita. Kehadiran puluhan pengunjung itu sudah dianggap cukup memadai.
Maklum, sebagian besar publik seni sedang tersedot untuk menyaksikan
pembukaan pameran tunggal Fang Lijun-seniman papan atas China yang
sedang ngetop-di Shanghai Art Museum sekitar pukul 17.00. Saat
bersamaan, berlangsung pula “Shanghai Art Fair International
Contemporary Art Exhibition 2007” di Shanghai Mart.
    Sebelas pelukis turut serta dalam pameran yang dibuka sejak 18
November sampai 3 Desember itu. Mereka adalah Sigit Santoso, Ugo
Untoro, Bunga Jeruk, Sugijo Dwiarso, Bambang BP, Sekar Jatiningrum,
Ayu Arista Murti, Gusmen Heriadi, Indra Widiyanto, Tommy Wondra, dan
Hojatul. Meski tidak melingkupi seluruh corak, setidaknya penampilan
mereka cukup menggambarkan beberapa kecenderungan seni kontemporer di
Tanah Air.

Beragam
    Ke-11 pelukis itu memperlihatkan gaya, gagasan, dan pendekatan
artistik yang beragam. Sebagian karya merespons kondisi sosial,
sedangkan beberapa yang lain mencoba mengulik masalah lingkungan dan
kemanusiaan. Kebanyakan lukisan mencerminkan kegelisahan batin
seniman sehingga terasa lebih emosional dan sangat pribadi.
    Sigit Santoso cermat memotret paradoks kehidupan manusia modern.
Dengan memanfaatkan metafor permainan tubuh, lukisannya membidik
kenyataan sosial secara halus, tapi mengena. Lukisan Prophet,
misalnya, menggambarkan sosok lelaki mirip boneka Pinokio yang
berhidung panjang. Mulutnya mengeluarkan asap yang samar- samar
membentuk kata “lie” (bohong).
    Gambaran itu seperti hendak menyindir: bagaimana kita semua bisa
terjebak dalam kebohongan. Para juru dakwah, yang sejatinya
menyuarakan misi suci agama, juga banyak ditelikung tabiat berbual-
bual itu demi kepentingan diri sendiri. “Walaupun pakai model diri
sendiri, tapi saya ingin menyentil situasi sosial,” kata Sigit.
    Bunga Jeruk mengangkat masalah pemanasan global yang semakin
mengancam kelestarian alam. Lukisan berjudul Scream menghadirkan
gambaran es yang pecah dan meleleh menjadi pulau-pulau kecil.
Serombongan binatang dan satu bocah terjebak dalam patahan es yang
terapung di atas hamparan air.
    Meski memotret ketakukan, lukisan itu justru menghadirkan
pemandangan yang menyenangkan. Bentuk, komposisi, warna, dan anatomi
obyeknya memendarkan suasana gembira, lucu, dan kekanak-
kanakan. “Segelap-gelapnya hidup, selalu ada harapan yang membuat
kita bertahan,” papar Bunga.
    Hojatul lebih menukik pada kehidupan sehari-hari. Lukisan Diary #
1 dan Diary # 2 menggambarkan buku harian berwarna coklat yang
dibungkus plastik dan diikat erat. Lukisan unik ini bisa mewakili
obsesi pribadi banyak orang yang bertekad menata hidup. Hari-hari
yang buruk ditutup demi menyambut hari esok dengan lebih baik.
    Sebagian besar seniman yang berpameran menunjukkan keterampilan
yang apik, terutama teknik realis-yang banyak dikuasai seniman
China. Meski begitu, teknik tetap hanya jadi sandaran awal.
Pendekatan visual dan penerapan material berikutnya bisa berwujud
macam-macam.
    Sigit dan Sugijo senang merinci lekuk dan anatomi tubuh. Bambang
BP dan Sekar Jatiningrum mengandalkan teknik arsiran drawing hitam-
putih untuk mengungkap misteri dunia batin. Berbekal kepekaan
artistik, Tommy Wondra leluasa mengekspresikan kegelisahan lewat
berbagai obyek, seperti batu, tali, penggaris, atau kuas.
    Gusmen sering menempatkan manusia dalam ukuran kecil-kecil di
tengah lingkupan jagat semesta yang gagah. Sosok-sosok dalam lukisan
Ayu Arista Murti mengingatkan kita pada corak kartun. Begitu pula
Indra Widiyanto yang betah mengeksplorasi rambut dan bocah perempuan
dalam pendekatan yang santai, tapi mengesankan.
    Keragaman yang tertangkap dalam pameran ini setidaknya
menunjukkan etos individual seniman yang bergelut meramu gagasan dan
bahasa visual dalam spektrum yang luas. Situasi Indonesia yang
berlatar belakang etnis plural dan sangat terbuka pada pengaruh macam-
macam budaya dunia juga ikut memengaruhi. Memang, situasi ini
akhirnya bisa mengungkit persoalan lama: adakah karakter
khas “Indonesia” yang menapasi seluruh karya mereka?

Berbeda
    Pameran “Indonesian Contemporary” menjadi penting karena
berhasil memaparkan warna yang berbeda langsung di tengah arus deras
seni rupa kontemporer China. Jika seniman kita lebih beragam, hampir
semua seniman negeri Tirai Bambu itu bertolak dari isu yang relatif
seragam. Gelombang tahun 1985 yang merintis kelompok gerakan avant
garde, misalnya, mempertemukan ribuan seniman dalam pergulatan isu-
isu sosial politik. Belakangan, banyak seniman muda yang ramai-ramai
merespons merebaknya budaya kota (urban culture).
    Sayang, pameran yang khusus menampilkan seniman Tanah Air di
China masih minim. Publik di sana hanya punya sekelumit pengetahuan
seputar latar belakang dan seni kontemporer terkini Indonesia. Wajar,
jika banyak pengunjung yang masih saja terkejut menatap lukisan-
lukisan yang membawa sesuatu yang menyempal dari arus umum seni rupa
di sana.
    “Publik seni China belum banyak tahu perkembangan terkini seni
rupa kontemporer Indonesia. Padahal, sebagian karya seniman Indonesia
tak kalah dengan seniman di sini,” kata Zhao Yonggang, Direktur 1918
Artspace.
    Menurut Edwin Rahardjo, pemilik Edwin’s Gallery di Jakarta, yang
bekerja sama dengan 1918 Artspace, pasar di China semakin bergairah
dan kini memicu pertumbuhan pasar seni rupa Asia. “Lebih banyak dan
lebih sering seniman kita memamerkan karya langsung di China, itu
lebih baik. Kenapa kita tidak memanfaatkan China sebagai pintu yang
strategis menuju go international?” katanya bersemangat.

KOMPAS – Minggu, 25 Nov 2007