photo by ilham khoiri

Pameran Seni Rupa Ke-2 Sanggar Bumi Tarung
 

Oleh Ilham Khoiri

    Tahun 1965 adalah tragedi. Gonjang-ganjing politik pasca-Gerakan
30 September tahun itu tak hanya merenggut hidup para politikus yang
tersangkut Partai Komunis Indonesia, tetapi juga melindas banyak
pelukis yang terkait Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dalam sejarah yang
gelap itu, mereka jadi korban.
    Pameran Seni Rupa Ke-2 Sanggar Bumi Tarung di Galeri Nasional, 19-
29 Juni ini, menggambarkan suasana tragis itu. Pergelaran dengan
kurator Bambang Subarnas ini menampilkan karya 11 seniman Sanggar Bumi
Tarung (SBT). Mereka adalah Amrus Natalsya, Djoko Pekik, Misbach
Tamrin, Isa Husada, Adrianus Gumelar, Hardjija Pujanadi, Sudiyono SP,
Sabri Djamal, Dj M Gultom, Muryono, dan Sudjatmoko.
    Para seniman ini adalah anggota sanggar yang bisa bertahan setelah
dirundung kemalangan politik dan kegetiran hidup sebagai tahanan Orde
Baru.
    Sebagian seniman tua itu masih bugar, bahkan bisa menyaksikan
pembukaan pameran yang meriah, Kamis (19/6) malam. Pembukaan disertai
pembacaan puisi, antara lain oleh artis dan aktivis perempuan Rieke
Dyah Pitaloka, kemudian diresmikan pengacara Todung Mulya Lubis.
    “Sungguh tak terbayangkan, akhirnya kami bisa berpameran bersama
lagi seperti ini,” kata Djoko Pekik, pelukis anggota SBT, dengan mata
berkaca-kaca, malam itu.
    Pekik mengenang, setelah peristiwa Gerakan 30 September, semua
seniman yang terkait Lekra atau PKI kalang kabut. Mereka diburu ke
mana pun pergi. Sebanyak 30-an anggota sanggar pun kocar-kacir.
    Pekik, yang bersembunyi di Sanggar Pelukis Rakyat di Yogyakarta,
tertangkap dua bulan kemudian. Misbach Tamrin, anggota pimpinan SBT,
yang lari dalam hutan Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, juga
diringkus massa. Begitu pula Hardjija Pujanadi yang diseret masuk bui
di Klaten.
    Amrus Natalsya, pendiri dan ketua SBT, bersama tiga anggota lain,
Isa Hasanda, Adrianus Gumelar, dan Dj M Gultom, sempat kabur ke
Jakarta. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, mereka juga dibekuk.
Amrus diciduk Operasi Kalong pada tahun 1968 di rumah di Grogol,
Jakarta Barat.
    “Jam 12 malam rumah saya digedor. Saat anak-anak tidur, saya
diseret ke markas dan tak pernah kembali,” kata Amrus.
    Penangkapan itu mengawali pengalaman pahit selama bertahun-tahun.
Begitu ditahan, mereka diinterogasi dan disiksa. “Kami digebuki,
disetrum listrik, ibu jari diinjak dengan kaki meja, sampai dipukul
pakai ekor ikan pari…. Sakit bukan main! Tetapi, yang paling
menyiksa, kami dipisahkan dari keluarga,” kata Misbach Tamrin.
    Selanjutnya, tanpa proses pengadilan, hidup mereka dipasung dalam
tembok penjara. Itu pengalaman buruk yang tak terbayangkan.
    Pekik ditahan di Rumah Tahanan Vredemburg, Yogyakarta, selama
tujuh tahun. Amrus dijebloskan dalam Rumah Tahanan Chusus (RCT)
Salemba, Jakarta, selama lima tahun, Misbach di tahanan Banjarmasin,
sedangkan Hardjija dipenjara di Klaten. Beberapa seniman lain dikirim
ke Pulau Buru.
    Sebagai tahanan politik, mereka ditimpa perlakuan yang memberangus
kemanusiaan. Mereka tak bisa berkarya seni dan dipisahkan dari
keluarga. Setelah menghirup udara bebas di tengah masyarakat pun,
hidup mereka jadi bulan-bulanan karena stigma buruk. Orde Baru
berhasil menindas mereka sebagai pesakitan lahir dan batin.
    Anggota lain bernasib lebih tragis. Dua anggota sanggar SBT,
Harmani dan Harjanto, dibunuh saat pulang ke Tulungagung, Jawa Timur.
Begitu pula Mulaswedin Purba yang dikabarkan dihabisi massa saat
pulang ke kampungnya di Siantar, Simalungun.
    Apa kesalahan mereka sehingga bernasib buruk begitu? Isu politik
yang beredar mengembuskan, SBT, yang didirikan Amrus di Yogyakarta
pada tahun 1961, adalah organisasi pro-revolusi rakyat, terutama
petani dan buruh. Sanggar yang mengajukan politik sebagai panglima ini
dinilai berafiliasi pada Lekra, organisasi yang dianggap underbow PKI.
    Saat peristiwa G-30-S meletus, PKI dituduh mendalangi peristiwa
itu. Semua seniman anggota SBT yang dianggap berbau komunis pun diburu
dan dimasukkan ke dalam bui.
    Benarkah demikian? Lakon sejarah ini terus diselimuti
kontroversi. “Yang pasti, kami jadi korban. Kami seniman, tetapi seni
diseret dalam pertarungan politik,” kata Misbach.

46 tahun kemudian
    Saat Orde Baru diruntuhkan Reformasi 1998, demokratisasi mengubah
konstelasi politik di Tanah Air. Stigma PKI yang menelikung tahanan
politik berangsur mencair. Anggota SBT yang masih hidup pun leluasa
berkarya lagi.
    Kini, mereka menggelar pameran kedua setelah pameran pertama tahun
1962. Dengan selang waktu 46 tahun, pameran ini penting karena
menyajikan catatan sejarah kelam dunia seni rupa. Dari sini, kita bisa
belajar banyak.
    Pergelaran ini membuktikan, etos para seniman sepuh itu belum
padam. Dalam katalog pameran, 11 seniman itu bersuara lantang. “Kami
masih hidup…. Melewati lika-liku pengalaman hidup yang getir. Kami
bisa lalui itu semua. Betapapun kemudian masih menggumpal tantangan
yang kami hadapi, dari lontaran berbagai isu, represi, diskriminasi
dan stigmatisasi selama perjalanan sejarah….”

Karya

Revolusi Belum Selesai!

Karya seni macam apa yang ditampilkan anggota Sanggar Bumi Tarung dalam pameran bersama di Galeri Nasional, Jakarta, 19-29 Juni ini?
     Secara tematis, pameran oleh anggota sanggar yang didirikan di Yogyakarta 47 tahun lalu itu menawarkan catatan sejarah. Sebagian besar karya mengangkat pengalaman seniman saat ditangkap, diinterogasi, dipenjara sebagai tahanan politik, atau dikucilkan oleh masyarakat. Terkadang, semua itu diungkapkan dengan begitu terang.
    Misbach Tamrin, misalnya, menampilkan lukisan berjudul Bumi Tarung 1965. Pada bidang kiri kanvas, terpampang anggota sanggar yang bergerombol dengan tangan diborgol. Pada bagian kanan, ada anak-istri yang nestapa ditinggalkan kepala keluarganya. Di tengah dua blok itu, tampak gambar cat yang morat-marit dan reruntuhan tubuh yang mengenaskan.
    “Ini gambaran hidup kami yang habis saat tahun 1965,” kata Misbach.
Secara visual, kesebelas seniman peserta pameran yang lahir tahun 1930-an dan 1940-an itu masih membawa jalan kesenian yang tak jauh dari kecenderungan gaya realisme lama.
    Amrus Natalsya setia melukis dan menyodorkan patung-patung cukilan kayu yang besar. Patung itu berbentuk kapal, naga, atau panorama pecinan yang dicat warna-warni. Pekik membawa lukisan celeng, petani bercaping, atau lukisan kereta api dengan gaya yang khas.
    Misbach menekuni corak realis yang merekam pengalaman pahit para tahanan politik. Begitu pula Hardjija Pudjanadi yang menyuguhkan lukisan realis dan grafis dengan teknik cukilan kayu.
Sebagian besar karya seniman ini belum beranjak dari jejak realisme sosial tahun 1960-an. Sekilas, karya mereka kurang atraktif, katakanlah dibandingkan gaya seni rupa kontemporer Indonesia beberapa tahun belakangan, yang dijejali realisme fotografis.
    Lantas, bagaimana anggota Sanggar Bumi Tarung menempatkan diri di tengah zaman yang sudah berubah ini? “Kami tetapi pakai dayung realisme revolusioner demi menyuarakan perjuangan rakyat. Bedanya, sekarang dayung itu untuk berlayar di tengah lautan kontemporer,” kata Amrus.
    Bagi Djoko Pekik, meski situasi sosial-politik semakin terbuka, rakyat (khususnya petani dan buruh) masih hidup susah. Dalam sisa waktu yang berkejaran dengan umur yang sudah 71 tahun itu, dia akan terus melukis dan mengungkapkan unek-unek tentang ketidakadilan yang menimpa wong cilik itu.
    “Revolusi belum selesai!” ujar Pekik bersemangat. (iam)

KOMPAS- Minggu, 29 Jun 2008