Poster Barack Obama “Hope” karya Shepard Fairey

Sumber: http://www.neublack.com/art-design/shepard-faireys-gone-to-washington/ dan foto oleh ilham khoiri

 

Laporan Perjalanan Melihat Perkembangan Seni Rupa Amerika
Oleh Ilham Khoiri

    Adakah hubungan antara “street art” alias seni jalanan dan
demokrasi? Di Amerika Serikat, dua hal itu dapat berkaitan erat.
Poster Barack Obama berlabel “Hope” karya seniman jalanan Shepard
Fairey punya pengaruh besar. Karya visual tersebut dianggap ikut
mengantarkan lelaki berkulit hitam itu menjadi presiden ke-44 Amerika
Serikat.
   
    “Obama! Obama!” Beberapa pedagang menawarkan kaus bergambar
posterObama bertulisan “Hope”, suatu siang pada akhir Juni lalu.
Gambar cetakan dari karya Fairey itu berjejer di antara tumpukan
dagangan di atas mobil di dekat White House, Washington DC. Sejumlah
pelancong berdatangan.
    Pemandangan serupa terlihat pada sebuah toko di dekat China Town
di Washington. Poster wajah khas Obama tercetak di atas berbagai
produk: kaus, baju, gantungan kunci, gelas, piring, pin, atau bola
mungil. Pernak-pernik itu juga cukup laku.
    Sejak awal tahun 2009, poster “Hope” dijadikan koleksi permanen
The National Portrait Gallery di tengah kota Washington DC. Dipajang
di lantai pertama dekat pintu masuk, karya dengan label “New Arrivals”
ini mengundang perhatian. Pengunjung dari sejumlah negeri tak henti-
henti memelototinya.
    Poster ini adalah produk seni rupa paling terkenal di AS saat ini.
Fairey, seniman jalanan asal Los Angeles itu, pun masyhur. Popularitas
bermula dari suatu kontroversi.
    Poster itu dinilai mengapropriasi (bahasa lainnya, menjiplak) foto
Mannie Garcia saat bertugas untuk The Associated Press (AP) tahun
2006. Namun, Fairey merasa dia terlindungi doktrin “fair use”-
ketentuan hukum AS yang membolehkan penggunaan tanpa izin atas karya
berhak cipta untuk kepentingan tertentu secara terbatas dan adil.
Hingga kini, perdebatan soal ini belum berhenti.
    Sebagian kalangan menyamakan keberanian pemuda itu dengan uji coba
Andy Warhol yang mencetak merek minuman Coca-Cola untuk karya pop art.
Kalangan lain membandingkan kekuatan Fairey dengan poster James
Montgomery Flagg, “I Want You for the US Army”. Propaganda “Uncle Sam”
tahun 1917 itu digunakan untuk merekrut tentara zaman perang.
    Secara visual, poster “Hope” ini memang memikat. Memakai jas dan
dasi, Obama ditampilkan dengan wajah agak mendongak ke kanan atas dan
sorot mata tajam. Bagian kanan wajah berwarna merah, bagian kiri
kuning dan biru. Komposisi simpel dan warna terang berusaha
mencitrakan sosok lelaki itu sebagai pembawa harapan-sesuai dengan
kata “hope” pada bagian bawah.
    Poster ini memainkan sangat penting pada kampanye dan pemilu
presiden AS tahun 2008. Lewat bahasa visual, karya ini ikut meyakinkan
masyarakat bahwa Obama menjanjikan perubahan. Masyarakat ternyata
menghendaki perubahan itu.
    “Semua itu menunjukkan, karya seni punya kekuatan untuk mendorong
perubahan sosial,” ujar Anne Collins Goodyear, kurator The National
Portrait Gallery, dalam sebuah diskusi di American University baru-
baru ini.

Naik daun
    Eksperimen Fairey memicu perbincangan hangat soal seni jalanan.
Disebut begitu karena karya seni ini dikembangkan di ruang publik,
terutama di jalan. Perwujudan karya ini bisa macam-macam: poster,
grafiti, mural, stiker, video proyeksi, gerilya seni, atau instalasi.
    Seni jenis ini tumbuh di AS sejak tahun 1970-an dan melahirkan
banyak seniman. Salah satunya, seniman bohemian Jean-Michel Basquiat
(almarhum) yang mendongkrak gaya neo-ekspresionisme tahun 1980-an.
Dari kalangan muda saat ini muncul beberapa nama, seperti Fairey,
Swoon (New York City), James Marshall (New York), serta Gaia, Imminent
Disaster, dan Oliver Vernon (Brooklyn).
    Bersama seniman jalanan asal Berlin, Jerman (Evol dan Pisa 73),
kreasi sejumlah seniman muda itu dipajang di Irvine Contemporary di
Washington, 20 Juni-10 Agustus. Karya mereka menarik karena membawa
citra segar.
    Seni jalanan juga mewarnai beberapa tembok di New York. Sebagian
dinding galeri di Chelsea, kawasan dengan 200-an galeri komersial,
misalnya, dihiasimural warna-warni. Di dalam galeri banyak dipajang
lukisan bersemangat jalanan. Menurut beberapa art dealer, pasarnya
cukup bagus.
    “Street art sudah jadi bagian penting dari seni rupa kontemporer.
Seniman jalanan bisa membuat karya di ruang publik sekaligus di
galeri,” kata Martin Irvine, Direktur Irvine Contemporary.
    Selain di AS, seni ini juga merebak di Eropa, Australia, dan
beberapa negara Asia. Karena dianggap kerap menyerempet vandalisme,
sebagian seniman terpaksa bergerilya di bawah tanah. Dengan main
kucing-kucingan, toh beberapa seniman justru meraih reputasi
internasional dan karyanya dipajang di museum dan galeri ternama.
Sebut saja, antara lain, Banksy, Ces53, D*Face, Above, Swoon, Twist,
Tod Hanson 108, Neck face, Ellis Gallagher, Os Gemeos, dan Jef Aérosol.
    Di Indonesia, semangat seni ini menguat terutama sejak tahun 1990-
an lewat kegiatan kelompok Taring Padi dan Apotik Komik di Yogyakarta.
Setelah reformasi 1998, seni jalanan semakin mendapat tempat. Tahun
2000-an muncul banyak kelompok, seperti Ruang Rupa di Jakarta dan
Common Room di Bandung. Mereka memproduksi karya di ruang publik,
seperti mural atau grafiti.

Darah segar
    Apa menariknya seni jalanan? Keliaran seni ini dapat memecah
wacana dominan yang telanjur dimapankan di galeri, museum,
universitas, atau pasar. Gerakan sosialnya bisa membuka ruang baru,
memperluas, dan memperkaya praktik seni rupa dengan berbagai disiplin
serta serapanbudaya pop. Kebebasan ekspresi seniman muda bisa
menyuntikkan darah segar bagi praktik seni rupa kontemporer.
    Lebih dari itu, praktik seni jalanan membumikan seni rupa dalam
kehidupan nyata masyarakat kota. Para seniman mencoba merebut ruang
publik dari hegemoni iklan atau jargon pemerintah, lantas mengisinya
dengan visual yang bermanfaat bagi masyarakat.
    “Dengan penyajian terbuka di ruang publik, karya seni jalanan
mudah diakses siapa saja. Para seniman itu hanya kelompok kecil,
tetapi berpengaruh bagi masyarakat luas,” kata Pedro Alonzo, kurator
independen di AS.
    Begitulah, mengacu pada peran poster “Hope” karya Fairey dalam
pemilu AS, seni jalanan diharapkan bisa berbuat banyak. Tak sekadar
asyik bergumul dengan wacana seni, para senimanini juga memainkan
peran lebih: mendorong proses demokrasi.

KOMPAS – Minggu, 05 Jul 2009

Catatan:

Pasar: Karya Terbaik Masih Dicari

Bagaimanakah pengaruh krisis global terhadap pasar seni rupa di Amerika Serikat (AS)? Jelas sekali, pasar memang sedang meredup akibat dihantam krisis keuangan dunia, terutama sejak tahun 2008 lalu.

Kunjungan kami di Chelsea, kawasan dengan 240-an galeri komersial di Newy York, cukup menggambaran kelesuan itu. Meski beberapa truk ekspedisi masih mangkal di jalanan di depan deretan bangunan galeri, tak terlalu tampak transaksi jual-beli. Malah, pintu beberapa galeri tertutup rapat.

Masih banyak pengunjung berdatangan, tetapi mereka rata-rata hanya melongok-longok karya seni, kemudian pergi lagi. “Setelah krisis, semua orang menahan uang sambil menunggu keadaan. Kami merugi sejak tahun lalu. Kami bisa bertahan karena berhemat,” kata perempuan pengelola sebuah galeri.

Suasana serupa terjadi di Baltimore. “Sekarang, kami lebih banyak membuat workshop dengan seniman muda. Kita bertemu, berunding, dan mencari dana bersama,” kata pengelola Gallery Four di Baltimore, Dustin Carlson.

Di Washington DC, beberapa galeri komersial di kawasan 14 th North West juga mengeluhkan penurunan pasar. Paul Vinet, asisten direktur G Fine Art, akhirnya lebih memilih mendekati seniman-seniman muda yang belum terkenal, tapi menjanjikan. Dia biasa menjual karya lukisan sekitar 4.000 dollar AS (sekitar Rp 4 juta), kemudian harganya naik pelan-pelan.

Sampai kapan kelesuan pasar berlangsung? Beberapa art dealer di Chelsea mengaku sulit memperkirakan, kira-kira kapan pasar ini akan membaik dan pulih seperti dulu. Mungkin dua tahun, mungkin bisa lebih. Semua itu tergantung pemulihan ekonomi AS, juga ekonomi global di Eropa, Australia, dan Asia.

Meski begitu, beberapa kalangan masih saja optimis. Geogre Hemphill, pemilik Hemphil Fine Arts di Washington, percaya, karya seni bagus akan selalu dicari karena menjanjikan keuntungan. “Pemilik galeri harus bekerja lebih keras lagi membangun jaringan dan membuka pasar baru yang tak terlalu terpengaruh krisis. Pendekatannya bisa sangat personal,” katanya.

Optimisme itu juga masih agak terasa saat kami menyaksikan pembukaan pameran James Ensor (1860-1949) di The Museum of Modern Art (MoMA) di New York yang dihadiri 1.000 orang lebih. Di tengah orang-orang berpakaian necis, seksi, wangi, dan dentingan gelas wine, agaknya sebagian kalangan masih percaya, karya-karya terbaik masih bisa memikat pasar.

(iam)