The National Gallery of Art di Washington, AS
Foto by ilham khoiri

Laporan Perjalanan Melihat Perkembangan Seni Rupa Amerika

Oleh Ilham Khoiri

    Masyarakat dan Pemerintah Amerika Serikat tampak getol menuliskan
sejarah seni rupanya sendiri. Mereka membangun banyak museum, galeri,
dan ruang seni untuk mengabadikan kreativitas para seniman, bahkan
sejak masa-masa awal. Berhasilkah mereka mengukuhkan diri dalam peta
seni rupa dunia?
   
    Semangat itu terasa saat mengikuti International Arts Journalism
Institute in The Visual Art di American University, Washington DC,
pertengahan Juni lalu. Acara diikuti sejumlah jurnalis seni dari 13
negara, termasuk AS. Kami mengunjungi museum dan galeri seni di
Washington DC, New York, Philadelphia, dan Balti More.
    Apa saja yang terlihat di museum dan galeri itu? Pertama-tama,
sebagian besar museum dan galeri merayakan pencapaian arsitektur.
Pengunjung tak hanya bisa menikmati koleksi seni, tetapi juga bangunan.
    The Philadelphia Museum of Art di kawasan Benjamin Franklin
Parkway, Philadelphia, contohnya. Tampilan fasad museum itu sudah
menggoda dengan pilar-pilar besar-yang segera mengingatkan pada pilar-
ilar megah khas Yunani. Masuk ke dalam, pengunjung disambut lobi yang
luas, beragam ruang galeri, dan lorong-lorong panjang.
    Ini adalah salah satu museum terbesar di AS. “Di sini ada 200
galeri yang dipenuhi lukisan, patung, foto, seni dekorasi, atau
tekstil,” kata kurator American Art di The Philadelphia Museum of Art,
Kathleen Foster.
    Di Washington DC, The Smithsonian American Art Museum juga punya
teras tengah dengan atap transparan. Berdiri di situ, kami seolah
berada di luar ruangan. The National Gallery of Art di Washington
memadukan arsitektur klasik dan kontemporer garapan arsitek asal
China, IM Pei. Sementara itu, Smithsonian’s Hirshhorn Museum and
Sculpture Garden punya bangunan melingkar, dengan ruang rehat berkaca
transparan yang menyuguhkan pemandangan kota.

Presentasi
    Bagaimana koleksi karya seni disajikan? Pengelola museum dan
galeri menempatkan karya seni secara terhormat, membaginya dalam ruang-
ruang berbeda, membuat kurasi apik, dan memelihara koleksi dengan
sungguh-sungguh.
    Kembali ke Philadelphia Museum of Art, ada beberapa ruangan untuk
koleksi penting seni rupa modern AS. Di situ kita temukan, antara
lain, karya pelukis realis Thomas Eakins(1844-1916), Roberth
Motherwell (1915-1991), tokoh abstrak ekspresionis Mark Rothko (1903-
1970), atau seniman bergaya action painting Jackson Pollock (1912-
1956).
    Ada galeri khusus Marcel Duchamp (1887-1968), seniman Perancis
yang kemudian jadi warga negara AS. Ruang itu dipenuhi karya benda
temuan: mulai dari “Fountain” (tempat buang air kecil), roda sepeda,
tempat botol, dan kaca pecah. Mencermati semua itu (ditambah
penjelasan kurator Adelina Ulas), pengunjung bisa memahami kenapa
seniman itu begitu berpengaruh, bahkan sampai kini.
    Setiap pameran dalam satu ruangan ditangani kurator khusus. Masing-
masing menyiapkan penelitian seputar obyek karya dan seniman. Mereka
senang memberikan penjelasan, bahkan sampai rinci sekali, seperti
kemungkinan Duchamp suka berimajinasi menjadi perempuan.
    Beberapa museum memamerkan proses reservasi. The Smithsonian
American Art Museum punya laboratorium dan studio besar untuk
meneliti, merawat, dan merestorasi lukisan,  drawing, patung, atau
bingkai klasik. “Kami melibatkan kurator, ahli sejarah, ahli
teknologi, dan bagian konservasi. Ini hanya bisa dilakukan orang
terlatih dan tekun,” kata salah satu petugas museum.
    Amerika bisa mengagungkan sejarah seni rupa karena masyarakat dan
pemerintah menganggap seni sebagai kreativitas peradaban yang penting.
Selain didukung sistem pemotongan pajak bagi donatur seni, juga ada
lembaga federal National Endowment for the Arts untuk mendanai
berbagai kegiatan seni. Sejumlah konglomerat ikut mendirikan museum,
seperti Richard dan Mary Kelly (The Kelly Collection of American
Illustration) atau William Wilson Corcoran (Corcoran Museum of Art).

Mencatat
    Dengan usaha segetol itu, berhasilkah AS mencatatkan pencapaian
seni rupa di tengah kemapanan sejarah Eropa? Untuk masa modern akhir
dan kontemporer, mereka memang muncul sebagai salah satu penarik
gerbong.
    Sejak akhir masa modern, mereka tampil kuat. Bermula dari gerakan
abstrak ekspresionisme (seperti Rothko, Pollock, atau Robert
Motherwell), negeri ini kemudian menggebrak dengan pop art, seperti
dipertontonkan Andy Warhol. Ketika teknologi informasi makin maju,
para seniman menggarap video, katakanlah seperti Nam June Paik.
    Saat ini, karya multimedia terus berkembang, mengiringi karya seni
jalanan yang makin diperhitungkan dalam kancah kontemporer. Kebetulan,
saat ini, berlangsung pameran retrospektif Dan Graham (67) di The
Whitney Museum of American Art,New York. Dia membangun kamar-kamar
berkaca. Saat masuk ke situ, pengunjung seperti ditelikung dalam
relativitas ruang dan waktu.
    Di The National Gallery of Art, jalan penghubung antara gedung
barat dan timur dipermak menjadi instalasi “Multiverse” karya Leo
Villareal (42). Seluruh dinding dipenuhi lampu yang menyala-padam
mengikuti gerakan pengunjung. Rangkaian lampu itu membentuk dunia lain.
    Hanya saja, pencitraan karya masa modern awal masih lemah.
Sebagian karya seniman AS masa itu masih belum kuat. Lukisan
impresionis “Winter” karya Dwight William Tryon dan perempuan
cantik “The Blue Dress” karya Thomas Wilmer Dewing di The
Smithsonian’s Freer Gallery di Washington, contohnya, mengacu pada
impresionis Eropa. Penyajian dua karya itu dengan bingkai mewah dalam
ruangan terhormat terasa berlebihan.
    Meski demikian, tekad Amerika-negara yang merdeka tahun 1776-untuk
menuliskan sejarahnya sendiri telah melahirkan banyak museum dan
galeri. Tempat-tempat itu pun kini banyak dikunjungi warga lokal dan
pelancong asing.
    Tekad itu akhirnya menggugah kesadaran sejumlah wartawan peserta
International Arts Journalism Institute, terutama dari Asia dan
Afrika. Kalau dipikir-pikir, meski baru berusia sekitar 400 tahun,
bangsa AS (yang bermula dari rombongan imigran Eropa itu) serius
mengabadikan sejarahnya. Sementara negara-negara dengan sejarah seni
lebih kaya dan tua masih belum hirau pada warisan sendiri.
    “Saya terkejut dan malu,” kata Vinayak Parab, wartawan asal India,
berterus terang. Dia tersentil, kenapa India yang punya sejarah
peradaban lebih tua belum membangun banyak museum untuk menghargai
sejarahnya. Sebagai orang Indonesia (dengan sejarah lebih muda), saya
juga merasakan hal serupa.

Catatan:

Spiritualitas: Museum Orang-orang Aneh
                       
   
    Di tengah arus utama seni rupa kontemporer AS, menyempil ada arus
lain di pinggiran. Arus itu ditampung The American Visionary Art
Museum (AVAM) di Baltimore, Maryland. Lewat pameran bertajuk “The
Marriage of Art, Science, and Philosophy”, museum yang didirikan ini
mewadahi bermacam karya dari para orang-orang aneh.
    Salah satu karya yang menarik adalah mural garapan Frank Calloway,
lelaki berusia 112 tahun dari Tuscaloosa, Alabama. Menderita
skizofrenia dan menjadi pasien mental selama 57 tahun, dia kemudian
melukis sejak usia 80-an tahun. Kini dia mulai dihargai sebagai
seniman tertua yang aktif berkarya.
    Dalam pameran, mural panjangnya-sekitar 10 meter darikertas-
dipajang di tengah ruangan. Dengan pulpen, tinta, dan crayon, mural
itu dipenuhi gambar truk, rumah, kereta api, dan orang. Gambarnya tak
mengacu pada kehidupan nyata, sederhana, dekoratif, dan agak naif.
    Lukisan rumah panggung, contohnya, bertiang oranye, teras kuning,
dinding ungu, dan atap hijau. Begitu pula gambar-gambar lain. Saat
kertas rol itu ditata berjejer, obyek-obyek itu seperti membentuk
permainan menarik yang enggan kita tinggalkan.
    Begitulah, dengan cara sendiri,Calloway bisa berkarya seni. Seni
tak hanya untuk orang sehat, mapan, dan berpendidikan. Seni terbuka
bagi siapa pun, termasuk orang yang punya masalah mental.
    Banyak juga seniman lain yang unik. Ada Kenny Irvin (35), seniman
asal California, yang menggambar mimpi. Emily Duffy yang mengumpulkan
1.885 bra perempuan dan menggulungnya menjadi bola besar. Juga ada
Axel Erlanderson yang memahat akar dan batang pohon tumbuh selama
puluhan tahun.
    Direktur AVAM Rebecca Hoffberge menyebut orang-orang itu
sebagai “the outsider” (orang luar) atau seniman visioner. “Kami
pernah mengundang para jemaah zikir sebagai bagian dari proses
berkesenian,” katanya.
    Dilihat dari sudut pandang akademis, karya mereka mungkin aneh,
liar, atau malah ngawur. Namun, ada juga beberapa karya yang
menggelitik. Mungkinkah semangat ini mencerminkan perembahan praktik
seni rupa dalam dunia spiritual atau sekadar lanjutan dari kekenesan
gelombang new age yang merebak tahun 1970-an di AS? Waktu yang bakal
membuktikan.

(IAM)

KOMPAS – Minggu, 05 Jul 2009