Laporan “Booming” Seni Rupa Kontemporer dari China
Oleh Ilham Khoiri

    China, terutama sejak awal tahun 2000-an, adalah pasar seni rupa
yang “booming”. Ribuan seniman menggenjot produksi lukisan dan
patung, dan sebagian karya itu menjadi komoditas bernilai investasi
tinggi di dunia internasional. Memang, muncul pula ancaman merosotnya
kualitas karya akibat godaan pasar.
   
    Setidaknya situasi itu terasa dalam pameran China International
Gallery Exposition (CIGE) 2007 di China World Trade Center (CWTC),
Beijing, 2-6 Mei lalu. Pameran itu diikuti sekitar 117 galeri, yang
sebagian besar berasal dari wilayah Asia Pasifik serta sejumlah
galeri dari Eropa. Mereka menyewa gerai-gerai berharga ratusan juta
rupiah yang ditata berderet di dua lantai.
    Tak terbatas lukisan dan patung, pameran ini juga menggelar
fotografi dan karya multimedia dari seniman internasional di ruang
khusus di lantai atas. Hampir semua seniman China kelas atas dan
menengah mengikuti pergelaran ini. Hanya saja, sejumlah seniman avant
garde-seperti Zhang Xiao Gang, Fang Lijun, atau Yue Minjun-justru
tidak menyertakan karya terbaiknya.
    Meski begitu, CIGE yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik
Rakyat China (RRC) tetap mencerminkan perkembangan seni kontemporer.
Ini adalah pergelaran keempat setelah pameran pertama tahun 2004.
Keseriusan panitia sudah tampak dari katalog yang dicetak full colour
setebal 500 halaman lebih.
    Menyaksikan pameran CIGE, terasa sekali hadirnya kerumunan massa
yang sibuk merayakan pasar seni rupa. Pemilik galeri, art dealer,
kolektor, dan seniman berdatangan, bahkan sebelum acara itu resmi
dibuka untuk publik, Kamis (3/5). Saat preview pameran, Rabu (2/5)
sore, sudah terjadi sejumlah transaksi dan banyak karya terjual.
    Tak hanya karya seniman avant garde, karya pelukis lapisan kedua
dan ketiga juga laris manis. Harga pun didongkrak. Para pelaku
bermain dalam lingkaran yang bisa melambungkan hargahingga
mencengangkan.
    Nama pelukis Zhang Xiao Gang, misalnya, sudah jadi label
komersial yang “tokcer”. Salah satu galeri peserta pameran, Robert &
Li Art Gallery, memajang dua lukisan Zhang berjudul Little Doctor dan
Little Navy berkuruan 130 x 110 cm, tanpa memasang bandrol harga.
    “Kami sengaja tak mematok harga. Kami menunggu, siapa tahu
harganya naik lagi,” kata Christine Lee, Humas Robert & Li Art
Gallery.
    Semangat itu tak berlebihan, lantaran satu karya Zhang, di lelang
internasional di New York, Amerika Serikat (AS), laku sampai dua juta
dollar AS, atau senilai Rp 18 miliar. Sebagai perbandingan, printing
bergambar artis Marylin Monroe karya pelukis pop ternama AS Andy
Warhol seharga sekitar 16,8 juta dollar AS.
    Pelukis avant garde lain seperti Fang Lijun, Yue Minjun, atau
Yang Shaobin juga menikmati gelimang harga. Sampai kini, lukisan
mereka terus menyodok pasar internasional dengan cukup
agresif. “Harga lukisan-lukisan di sini memang gila-gilaan. Saya
sendiri tidak tahu, kenapa begitu?” kata Rudi Stansel, pelukis asal
Austria, yang ikut berpameran.

Komoditas
    Dalam situasi semacam itu, karya seni beranjak dari persoalan
estetika atau jargon art for art (seni untuk seni) semata, dan
menjelma sebagai produk budaya dan komoditas bernilai investasi.
    “Kegiatan pameran menggambarkan pencapaian seni. Tetapi,
akhirnya pasarlah yang menentukan nilai komersialnya,” kata Fei
Dawei, anggota tim kurator CIGE 2007.
    Tetapi, bagaimana kualitas karya-karya pelukis China sehingga
memperoleh apresiasi pasar begitu tinggi? Secara umum, karya mereka
memang berkarakter kuat. Lukisan, patung, atau fotografi hampir
selalu menggambarkan sosok-sosok yang sublim dan tertekan akibat
kondisi sosial China, terutama di masa revolusi kebudayaan.
Penampilan sosok itu makin khas karena gampang ditandai dari mata
yang sipit, wajah bulat, dan kulit kuning langsat.
    Lebih dari itu, para pelukis memiliki kemampuan menggambar
realisme yang oke, sebagai hasil didikan di perguruan tinggi secara
ketat. Meski punya corak beragam, jejak realisme yang kuat terasa
mendasari karya hampir setiap seniman. Secara teknis, mereka bekerja
total, tidak setengah-setengah.
    Para seniman rata-rata juga tak malu-malu menyongsong pasar,
bekerja sama dengan galeri atau art dealer, bahkan dengan sistem bagi
hasil sampai 50:50. Kegagapan dalam berbahasa Inggris dijembatani
galeri yang menghubungkannya ke pelaku pasar internasional.
    “Kenapa mesti menolak kemakmuran dari kesenian. Setelah lama
tertekan, wajar saja kami memperoleh hasil dari jerih payah kerja,”
kata Xiao Hong (41), seniman lulusan Academy of Arts & Design
Tsinghua University.

Ancaman
    Hingga kapan pasar seni rupa China bertahan? Sebagian kalangan
menilai, situasi ini bertahan selama seniman menjaga kualitas karya.
Sebagian kalangan lain justru merisaukan implikasi dari pasar yang
nyaris tak terkendali itu. Mereka khawatir, godaan material bakal
membuat seniman berlaku seperti mesin industri dengan mengulang karya
yang komersial.
    Jika para seniman hanya mengejar kuantitas dengan memanfaatkan
aji mumpung, kualitas karyanya terancam menurun. Apalagi, sebagian
seniman mau saja menjiplak gaya pelukis lain yang sudah tenar. Jangan
heran, jika muncul karya pelukis baru dengan gaya yang mirip pelukis
terkenal.
    Pelukis yang juga dosen Art Department Shanghai Institute of
Technology, Tang Shu, menilai, sekarang ini makin banyak seniman muda
yang ambil jalan pintas dengan mengumbar karya seraya mematok harga
tinggi-tinggi. Impian mengantongi uang besar secara instan membuai
mereka. Proses dan idealisme berkesenian pun tersingkir.
    “Sayangnya, pasar kerap menerima saja karya-karya karbitan
semacam itu. Kalau terus dibiarkan, booming seni rupa China yang
seperti gelembung ini bisa pecah sewaktu-waktu,” katanya.

Catatan:

Seniman Indonesia Bisa Nunut?

    Apakah seni rupa Indonesia bisa nunut dalam booming seni rupa
China, atau malah pasar di sini bakal terus diserbu karya-karya dari
negeri tirai bambu itu?
    Ada beberapa seniman Indonesia yang turut ambil bagian dalam
pameran China International Gallery Exposition (CIGE) 2007, awal Mei
lalu. Mereka, antara lain Agus Suwage, Titarubi, Handiwirman, S Teddy
D, Aramaiani, Astari, Awiki, dan SP Hidayat. Karya mereka dibawa dari
Jakarta oleh Langgeng Gallery, Linda Gallery, dan Vanessa Gallery.
    Apresiasi pasar terhadap karya seniman Indonesia tidaklah buruk.
Dua lukisan potret John Lenon dan Yoko Ono karya Agus Suwage,
misalnya, terjual saat preview pameran, masing-masing seharga 35.000
dollar Amerika Serikat (AS). Karya Handiwirman laku 10.000 dollar AS.
    Deddy Irianto dari Langgeng Gallery yang memamerkan lukisan Agus
mengungkapkan, beberapa karya seniman Tanah Air disambut baik oleh
pasar China. Dulu, pada CIGE tahun 2006, dia juga menjual sebagian
karya Ivan Sagito, Agus Suwage, Sidik Martowidjojo, dan Dadang
Christanto.
    Sekilas, karya-karya seni rupa Tanah Air memang tidak terlalu
kalah dalam gagasan dan potensi. Tetapi, jika dicermati, pelukis
China menang di skill, tema, dan lebih profesional. Seniman Indonesia
agak lambat berkarya, kurang produktif, dan angin-anginan.
    “Sekarang ini, mencari 10 pelukis Indonesia yang setiap saat
siap diajak pameran serius di luar negeri saja susah. Kadang,
beberapa hari menjelang berangkat pameran, karyanya belum jadi,”
kata Deddy.
    Linda Ma, Direktur Linda Gallery, mengungkapkan hal serupa.
Seniman Indonesia mestinya bisa lebih membuka diri dan tak sungkan
menjalin kerja sama dengan galeri. Dengan strategi tepat, karya
seniman di sini juga bisa nunut dalam booming pasar China.
    Booming seni rupa China semestinya memberikan inspirasi bagi
seniman Tanah Air untuk lebih profesional berkarya. Dalam sekala
lebih lokal, gairah pasar juga pernah terjadi di Indonesia saat
booming seni rupa akhir tahun 1980-an atau goreng-menggoreng harga
lukisan di kalangan kolektor Magelang awal tahun 2000-an.
    Pengamat seni rupa Hendro Wiyanto menilai, pelaku seni di
Indonesia tak punya pilihan lain, kecuali memperbaiki infrastruktur
seni. Itu juga diamini pelukis Agus Suwage yang sempat melongok-
longok saat berjalan-jalan melihat museum dan studio yang besar di
kawasan seni Song Zhuang.
    “Kalau seniman kita punya studio sebesar itu, bisa jadi karyanya
juga akan lebih dahsyat. Kalau ruang kerjanya kecil, karyanya ya
sakcuplik,” kata Agus.

(iam)

KOMPAS – Minggu, 20 May 2007