Catatan dari China

Oleh Ilham Khoiri

    Dulu, seni rupa China identik dengan kaligrafi atau pemandangan
alam yang digoreskan dengan tinta di atas kertas tipis. Lima tahun
belakangan, seni rupa kontemporer “Negeri Tirai Bambu” itu melejit
sebagai fenomena segar yang menggegerkan pasar dunia. Bagaimana
perubahan itu bermula?
    Sebuah pameran bertajuk “’85 New Wave” di Ullens Center for
Contemporary Art di kawasan 798 Art Distric, Chaoyang, Beijing,
mencoba merunut asal-muasal kebangkitan seni rupa China. Pergelaran
yang berlangsung 5 November 2007-17 Februari 2008 itu menampilkan
puluhan karya dari 28 seniman dan dua kelompok seniman masa itu.
Beberapa di antara mereka cukup terkenal, seperti Gu Wenda, Wang
Guangyi, Zhang Peili, Xu Bing, Huang Yongping, dan Zhang Xiaogang.
    Pameran ini berusaha merunut pencapaian seni rupa kontemporer
negeri itu yang dirintis oleh gerakan seni tahun 1985-1989, yang
diistilahkan sebagai ’85 New Wave. Panitia menyiapkan satu ruang
khusus yang memajang catatan dan dokumentasi foto tentang latar
belakang dan kronologi gerakan seni tersebut. Karya-karya seniman
dipajang di beberapa ruangan besar di bagian samping dan tengah.
    Sejarah seni rupa kontemporer China punya latar belakang panjang
dan kompleks, seiring dengan perkembangan sosial-ekonomi-politik di
negeri itu. Di bawah kekuasaan Mao Zedong, China sekitar 1966-1976
adalah negeri yang tertutup. Rakyat hidup dalam tekanan rezim yang
kuat dan memobilisasi massa untuk kepentingan politik pemerintah.
    Revolusi Kebudayaan dan Tentara Merah menjadi alat efektif untuk
mengendalikan rakyat dalam pergulatan politik yang keras dan bisa
menggilas siapa saja. Saat itu, seni rupa hanya jadi alat propaganda
untuk menyuarakan kepentingan pemerintah dan Partai Komunis. Sosok
Mao menjadi ikon penting yang mewarnai lembaran-lembaran poster yang
dibuat dengan corak realisme sosialis.
    Tahun 1976, Mao meninggal dunia, dan China kemudian dikendalikan
penguasa baru, Deng Xiaoping. Tahun 1979, Deng mulai menerapkan
kebijakan politik pintu terbuka. Modernisasi digencarkan dengan visi
meningkatkan ekonomi, membuka perdagangan dan investasi asing, dan
merancang negeri itu sebagai industri besar yang memproduksi berbagai
barang kebutuhan dunia.

’85 New Wave
    Politik pintu terbuka awalnya masih belum benar-benar membukakan
kebebasan ekspresi bagi masyarakat, termasuk dalam seni rupa. Para
seniman yang tak betah dengan situasi menekan itu melancarkan gerakan
seni tahun 1985-1990. Selama lima tahun itu, lebih dari 1.000 seniman
yang tergabung dalam 80-an kelompok, membuat ratusan pameran dan
karya eksperimental yang mendobrak pakem lukisan tradisional China.
    Tahun 1985, berlangsung banyak pameran pelukis muda di berbagai
tempat dengan menawarkan corak visual dan tema segar. Ada pameran
bersama The Progessive Chinese Youth Art, Hunan Art Group, The ’85
New Space, dan The ’85 Graduates Works. Bermunculan ulasan seni di
koran dan majalah yang mencatat perkembangan seni rupa tahun itu
sebagai gelombang ’85.
    Pameran makin banyak tahun 1986. Salah satunya, kelompok Pond
Society membuat instalasi berjudul Walkers in the Green Space.
Sejumlah seniman di Guangzhou menciptakan instalasi, performace art,
dan theatrical art. Akhir tahun, kelompok Xiamen Dada membuat
performance art yang heboh, yaitu membakar sejumlah lukisan di depan
New Art Museum di Xiamen.
    Tahun 1987, seniman Huang Yongping, membuat instalasi berjudul
Reptil, berupa beberapa gundukan besar berbentuk makam tradisional
China. Makam itu dibuat dari tumpukan kertas koran yang dihancurkan
dengan mesin pencuci. Karya ini bisa menyindir, rezim yang mati-
matian “mencuci” otak dan budaya masyarakat.
    Geng Jiangyi anggota Pond Society, melukis wajah-wajah tertawa
yang multitafsir. Wajah-wajah yang tertawa dalam lukisan misalnya,
merekam beragam ekspresi sekaligus: gembira, sedih, marah, atau
sinis. Gaya ini kemudian banyak memengaruhi pelukis-pelukis
berikutnya.
    Setahun kemudian, tahun 1988, Xu Bing membuat instalasi menumpuk
buku dan kertas yang dipenuhi tulisan. Ini juga sindiran atas situasi
rakyat China yang selama puluhan tahun dicekoki doktrin partai
sekaligus ditutup dari informasi dunia.
    Semua gerakan itu memuncak pada pameran bertajuk “China/Avant-
Garde” di Galeri Nasional, tahun 1989. Inilah perhelatan yang mula-
mula dikenal sebagai pameran seni rupa kontemporer China. Pameran
menjadi sangat politis, karena akhirnya pemerintah menutup perhelatan
yang dinilai berbahaya itu, dan kegiatan sebagian seniman avant-garde
dibatasi.
    Dikekang di negeri sendiri, tiga seniman-Huang Yongping, Gu
Dexin, dan Yang Jiechang-malah diundang mengikuti
pameran “Megicience de la Tere” di Centre Pompidou di Paris,
Prancis. Dobrakan ini berhasil mengenalkan karya seni rupa baru China
ke seluruh dunia. “Ada banyak seniman dan penciptaan artistik di
dunia, dan tak semuanya mengacu pada disiplin seni rupa Barat,”
begitu deklarasi pameran dengan kurator Jean-Hubbert Martin itu.
    Para seniman China semakin terang-terangan mengangkat
perbincangan yang selama ini terpendam, seperti fungsi seni di
masyarakat, ketegangan budaya Timur-Barat, ekspresi seni yang
merdeka, hingga mengkritik kondisi sosial-politik dalam negeri. Corak
realisme sosial yang memuja ajaran Komunisme digantikan oleh berbagai
pendekatan baru yang eksperimental dan menawarkan pendekatan artistik
segar.
    Begitulah, gerakan seni muncul sebagai kritik atas situasi sosial-
politik yang represif selama puluhan tahun. Demonstrasi yang diakhiri
tewasnya ribuan mahasiswa di Lapangan Tiananmen, Juni 1989, jadi
titik balik yang menentukan. Pada masa berikutnya, dunia makin
penasaran dengan apa yang terjadi di China, termasuk dengan
pertumbuhan seni rupa kontemporernya.
    “Gelombang baru 1985 menjadi penanda bagi tumbuhnya seni rupa
kontemporer China,” kata kurator pameran, Fei Dawei, pada katalog
pengantar pameran.
    Gelombang ini memang kemudian memicu perkembangan seni rupa China
berikutnya, dan gaya kontemporer jadi arus utama. Tahun 1990-an,
muncul sejumlah pelukis yang memperkuat gerakan kelompok seniman
avant garde itu, seperti Fang Lijun, Yang Shaobin, dan Yue Minjun.
Karya mereka mengentalkan corak realisme-sinis yang menertawakan
situasi, atau realisme-traumatis yang membeberkan luka yang dialami
masyarakat yang tertindas.

Penting
    Pameran “’85 New Wave” cukup penting bagi siapa pun yang
berminat memahami fenomena seni rupa China secara lebih jernih.
Bagaimanapun, booming pasar yang mendongkrak harga lukisan hingga
puluhan miliar rupiah, terutama sejak tahun 2003, terus merangsang
beredarnya berbagai spekulasi. Serbuan sekitar 1.000 seniman baru
lulusan berbagai perguruan tinggi setiap tahun juga membuat ajang
kompetisi di ranah seni ini bertambah riuh.
    Situasi ini bisa cukup membingungkan banyak orang yang hendak
memetakan seni rupa kontemporer China. Spekulasi pasar yang mendaulat
karya seni menjadi komoditas yang menggiurkan telanjur menggiring
pelaku pasar (galeri, kolektor, seniman, art dealer, dan kalangan
pencinta seni) untuk berasyik-masyuk seraya menimang-nimang nilai
jual atau harga saja. Pemahaman serius tentang sejarah, kronologi
perubahan ideologi seni, dan kualitas karya justru sering terabaikan.

KOMPAS – Minggu, 18 Nov 2007