Catatan Pameran Seni Rupa Islam Tahun 2009

Oleh Ilham Khoiri

    Ramadhan di Tanah Air selalu dirayakan dengan berbagai kegiatan
budaya bernapaskan Islam, termasuk pameran seni rupa islami. Bisakah
ekspresi estetik agama ini melampaui jebakan simbol-simbol sempit,
lalu mengulik spirit ajaran yang lebih mencerahkan?
    “Gue banget. Tidak handmade, uang kembali”. Kata-kata itu ditulis
dengan kaligrafi Arab bergaya naskhi. Di bawahnya, terpampang lukisan
potret diri Asmudjo Jono Irianto dengan topi dan kaca mata bulat. Ada
lagi tulisan, juga pakai aksara Arab, berbunyi “Gue banget”.
    Lukisan Asmudjo itu adalah salah satu karya yang cukup mengusik
pada pameran seksi “Islamic Art” dalam rangkaian “Bazaar Art Jakarta
2009-Indonesian Art Festival” di Ballroom I Ritz-Carlton Pacific
Place, Jakarta, 28-30 Agustus. Pameran hasil kerja sama Bazaar Jakarta
dan Art Sociates Bandung ini digelar pada awal Ramadhan tahun 2009.
    Mengapa mengusik? Karya itu mengkopi tren lukisan kontemporer yang
gemar menampilkan potret diri dalam citra realisme-fotografis.
Anehnya, potret itu diimbuhi teks kaligrafi Arab yang tidak menukil
ayat Al Quran atau hadis sebagaimana lazimnya lukisan kaligrafi Arab.
Kaligrafi di situ justru berisi kata-kata ledekan tadi.
    Karya ini seperti hendak membebaskan kaligrafi yang dianggap
sakral karena menjadi bagian dari Islam. “Padahal, kaligrafi itu
tulisan yang dapat menuliskan apa saja, termasuk kalimat ‘Tidak
handmade, uang kembali’. Itu kritik saya atas praktik seni rupa
kontemporer yang mengejar citra fotografi, tapi dikerjakan secara
manual,” kata Asmudjo.
    Ada lagi karya Agus Bakul, berjudul “Doa Aman dari Bahaya”. Meski
mengutip petikan doa sakral, kaligrafi Arab di situ ditorehkan secara
bebas, lepas dari kungkungan gaya klasik- katakanlah seperti naskhi,
tsuluts, atau dewani. Seniman ini menuliskan aksara dengan sapuan kuas
ekspresif, warna-warni, dan bertumpuk-tumpuk sehingga memunculkan
citra aksara antara terbaca dan tak terbaca.
    Upaya lain digarap Irman A Rahman dengan melukis kata bahasa Arab
Iqra dengan tulisan Latin. Ada juga karya foto, drawing, dan grafis.
Sejumlah karya sudah dikenal umum, seperti Achmad Sadali, AD Pirous,
Agus Kamal, Sunaryo, Hanafi, atau Tisna Sanjaya.
    Meski berskala terbatas, pameran “Islamic Art” dengan kurator
Zaenudin Ramli ini memperlihatkan geliat segar dalam praktik seni rupa
Islam. Pendekatannya lebih bebas, santai, dan tanpa terbelenggu simbol-
simbol klise.
    Upaya menggamit spirit Islam dalam dunia seni rupa modern menguat
sejak tahun 1970-an. Pada masa awal Orde Baru, masyarakat mulai
mencecap optimisme kehidupan lebih baik setelah didera huru-hara
politik tahun 1965. Tumbuh gairah mengangkat spiritualitas religius
sebagai ekspresi seni rupa modern sekaligus menguatkan identitas
keindonesiaan.
    Achmad Sadali dan AD Pirous, dua dosen seni rupa ITB Bandung,
memelopori gerakan ini. Sadali menyuguhkan lukisan abstrak bernuansa
religius, sedangkan Pirous menekuni lukisan kaligrafi Arab. Terobosan
ini memicu tren lebih luas, seperti lukisan batik berkaligrafi garapan
Amri Yahya di Yogyakarta dan lukisan surealis kaligrafi Arab gaya
Amang Rahman di Surabaya.
    Hingga akhir 1980-an, ekspresi seni rupa Islam lekat dengan
kaligrafi Arab. Citra itu mencair saat Festival Istiqlal (FI) I tahun
1991 dan FI II 1995 menggelar karya seni rupa Islam dalam spektrum
lebih luas. Tak berkutat pada kaligrafi Arab, ratusan seniman
menyuguhkan beragam karya dan tema: dua dimensi (lukis, grafis, foto,
dan drawing), tiga dimensi (patung dan keramik), seni instalasi, serta
seni pertunjukan.
    “Karya seni rupa bisa disebut islami apabila sesuai dengan nilai-
nilai keislaman yang bersumber dari Al Quran dan hadis. Untuk itu,
tersedia begitu banyak tafsir. “Demikian catat tim kurator FI II tahun
1995.
    Sayang, setelah itu, hampir tak ada lagi perhelatan seni rupa
Islam berskala besar dan dengan konsep kuat. Ekspresi seniIslam muncul
sporadis lewat sejumlah pameran setiap Ramadhan. Itu pun didominasi
kaligrafi Arab dengan pendekatan estetik monoton.
    Ekspresi Islam akhirnya berputar pada simbol-simbol yang dangkal
dan sempit. Saat bersamaan, muncul kelompok-kelompok radikal yang
membeberkan wajah Islam yang keras, eksklusif, serta hampir
antiperbedaan dan keberagaman. Belum lagi isu terorisme yang kerap
dikaitkan jihad Islam.

Perluasan
    Pameran “Islamic Art” di Pacific Place menjanjikan harapan baru.
Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, seniman Muslim di sini
ditantang untuk menggali nilai keislaman sebagai ekspresi seni secara
lebih terbuka. Islam tak harus diungkapkan lewat lambang-lambang
ritualistik (ibadat), perjuangan politik (siyasah) garis keras,
dikungkung hukum formal (fiqh) halal-haram, atau sesuatu yang kearab-
araban saja.
    Seniman bisa melampaui semua itu, lantas menyelami spirit agama
yang lebih universal, penuh nilai kemanusiaan, ketuhanan, dan
pembebasan. Di sinilah, wajah agama bisa muncul dengan indah.

KOMPAS – Minggu, 06 Sep 2009