Catatan Pameran Kaligrafi Ramadhan Tahun 2007
                          Oleh Ilham Khoiri

    Setiap Ramadhan, digelar banyak pameran yang berusaha mengangkat
tajuk seni (rupa) Islam. Ajang itu biasanya dipenuhi lukisan
kaligrafi Arab yang mengangkat teks-teks Islam. Kita pun masih bisa
bertanya: bagaimana pencapaian lukisan kaligrafi itu, dan kenapa
penyajian spirit keislaman masih saja terpaku dalam bentuk-bentuk
kaligrafi Arab?
    Gejala itu juga bisa diamati dari beberapa pameran yang
menampilkan lukisan kaligrafi Arab di Jakarta selama Ramadhan 2007
lalu. Di Mal Artha Gading, Jakarta Utara, ada pameran
bertajuk “Indonesia Kaligrafi Expo 2007”, 1-10 Oktober. Di
CrownPlaza Hotel, pameran “Pesona Melonia 45 Ramadhan 2007”, 1-7
Oktober. Sebelumnya, digelar “Pameran Islamic Calligraphy
Exhibition” di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, 28-29
September.
    Sejumlah pelukis yang sudah dikenal ikut serta dalam pameran itu,
seperti Syaiful Adnan, Yetmon Amier, Hendra Buana, Agoes Noegroho,
Badruzzaman, Firdaus Alamhudi, dan Sirojuddin AR. Beberapa karya
Amang Rahman (almarhum), Amri Yahya (almarhum), dan AD Pirous juga
tampak turut dipajang. Ada juga sejumlah pelukis muda.
    Menyimak pameran-pameran itu, kita segera menangkap
kesan, ekspresi seni rupa Islam modern di Indonesia masih didominasi
lukisan kaligrafi Arab, dengan menukil teks Al Quran atau hadis.
Lukisan yang ditampilkan pun belum memperlihatkan eksplorasi yang
mendalam terhadap potensi visual dan anatomi huruf kaligrafi.
Sebagian besar karya malah mengulang “pakem” lama yang sudah dikenal
publik seni rupa Tanah Air.
    Sebagian lukisan kaligrafi yang beredar mengacu pada corak
abstrak model Achmad Sadali, AD Pirous, atau Amri Yahya. Biasanya
kanvas dipenuhi bidang-bidang yang disapu warna atau tekstur,
lantas “diisi” dengan huruf-huruf kaligrafi. Lukisan kaligrafi
bercorak surrealis merujuk pada gaya Amang Rahman, Hatta Hambali,
atau Hendra Buana. Ketiganya senang memasukkan jalinan huruf di
tengah suasana alam semesta.
    Corak dekoratif masih mirip-mirip dengan lukisan Syaiful Adnan,
Yetmon Amier, dan Badruzzaman. Ketiga pelukis itu mengolah huruf
sebagai elemen estetik di tengah latar berupa stilasi bentuk batu tua
yang retak.Di luar soal corak itu, lukisan kaligrafi juga belum
sepenuhnya bebas dari keharusan mengikuti kaidah penulisan yang sudah
baku, seperti gaya Naskhi, Tsuluts, Dewani, atau Farisi.

Mundur
    Kenapa para seniman itu masih mengangkat kaligrafi Arab dalam
corak yang begitu-begitu saja? Menurut pelukis AD Pirous, sebagian
pelukis takut berbuat lain di luar pola estetis yang sudah beredar
dan diterima di pasaran. Akibatnya, lukisan kaligrafi terperangkap
dalam lingkaran estetika yang itu-itu saja. “Kalau tidak jalan di
tempat, perkembangan lukisan kaligrafi sekarang malah bisa dikatakan
mundur,” katanya.
    Hingga kini, Pirous sendiri tetap memperlakukan kaligrafi sebagai
potensi visual yang bisa didekati dengan gagasan dan penggarapan
estetika yang bebas. Selain melukis kaligrafi Arab dengan menukil
teks keislaman, dia juga mengeksplorasi kaligrafi Romawi dan karya
abstrak dengan tema sekuler.
    Sebenarnya pameran post-kaligrafi bertajuk “Kalam dan Peradaban”
di Yogya Gallery, 7 Juli-5 Agustus lalu, cukup menjanjikan. Dengan
banyak peserta dari berbagai latar belakang, pameran itu menyuguhkan
eksplorasi kaligrafi Arab secara lebih bebas dan individual. Tetapi,
karya-karyanya belum sepenuhnya berani meninggalkan lingkungan
kaligrafi Arab, seraya merambah potensi kaligrafi lain, seperti
Romawi atau China.
    Kemunduran itu semakin terasa jika kita melacak proses kemunculan
dan pencapaian seni rupa Islam sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1970-
an, seperti ditunjukkan Achmad Sadali (almarhum), spirit keislaman
bisa ditampilkan dalam spektrum yang luas. “Pameran Lukisan
Sadali ’72” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, misalnya, tidak
jelas-jelas menampilkan kaligrafi, tetapi lukisannya kental dengan
napas keislaman.
    Katalog pameran yang ditulis But Mochtar menyebutkan, “.
betapapun lukisan Sadali itu sarat dengan rasa tasawuf keagamaan.”
Kanvas pelukis dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu diisi bidang-
bidang yang dipenuhi efek estetik dari permainan tekstur yang
dipenuhi retakan, guratan, atau coretan yang dilabur warna pastel
atau emas. Karya-karya itu segera menyedot orang untuk merasai
getaran batiniah yang syahdu.
    Pameran seni rupa Islam modern dan kontemporer pada Festival
Istiqlal (FI) I tahun 1991 dan FI II 1995 jadi tonggak penting
perkembangan seni rupa Islam di Indonesia. Kedua perhelatan itu
menyuguhkan pencapaian ekspresi seni bernapaskan Islam dengan cakupan
tema, teknik, dan pendekatan estetik lebih beragam. Tak hanya
didominasi karya dua dimensi (lukis, grafis, foto, dan drawing),
pameran juga menampilkan karya tiga dimensi (patung dan keramik) dan
seni pertunjukan serta instalasi.

Horizon luas
    Menurut pengamat seni rupa Merwan Yusuf, para seniman sebenarnya
bisa menerabas citra Islam yang mengarah ke Arab-araban dan
memiskinkan kekayaan imajinasi. Mereka bisa bergulat lebih “gila”
lagi demi mengembangkan bahasa seni dan spiritualitas dalam horizon
lebih luas. Di sini, seniman leluasa menggali gagasan, tema, teknik,
dan media secara cair, sesuai dengan universalitas substansi ajaran
agama.
    Sebagai ajaran, Islam punya spirit transendensi (hubungan manusia
dengan Tuhan) dan humanisasi (hubungan antarmanusia). Kedua spirit
itu bisa ditafsirkan lagi secara terbuka dalam kerangka memberikan
manfaat bagi kepentingan umum (rahmatan lil ‘alamin). Dengan begitu,
ekspresi keislaman dalam seni rupa seyogianya tumbuh dalam spektrum
yang lebih terbuka.

KOMPAS – Minggu, 21 Oct 2007