Sosok Ugo Untoro
Oleh Ilham Khoiri

    Berawal dari kesedihan akibat kuda kesayangan mati, Ugo Untoro
(37) melahirkan berbagai karya seni rupa yang menyodorkan tragedi
kuda. Totalitas, kekuatan gagasan, dan daya ungkap dalam karya-karya
itu menempatkannya sebagai salah satu seniman yang menonjol di
Indonesia.   
    Eksplorasi Ugo tentang dunia kuda itu dipamerkan dengan tajuk
Poem of Blood di Galeri Nasional, Jakarta, 11-26 April. Memasuki
ruang pameran, pengunjung disambut berbagai lukisan, instalasi,
video, animasi, fotografi, atau obyek yang mengguncang. Maklum, semua
karya tahun 2006-2007 itu memaparkan semacam biografi visual kuda
yang tragis.
    Karya berjudul The Last Race, misalnya, berupa seekor kuda tanpa
kepala yang tersungkur mengenaskan di tengah landasan pacu. Karya
lain, Trojan, berupa tubuh kuda yang mengisut sehingga tinggal kulit
yang terhampar di lantai. Meski begitu, kaki kuda yang kempes dan
lunglai itu masih terikat erat pada empat roda.
    Pada The End of Badai, Ugo menyajikan kotak besar berisi pasir
dengan beberapa tapal kaki kuda. Salah satu tapal itu terciprati
darah kuda yang tewas. Poem of Blood berwujud 10 kulit kuda tanpa
kepala yang digantung. Bagian punggungkulit kuda itu dicap berbagai
kata, seperti sword (pedang), fire (api), soul (jiwa), atau tears
(air mata).
    Ditampilkan juga video penjagalan kuda, perangkat besi untuk
mencap kulit, potongan kulit, kuda yang diawetkan, dan kerangka
kepala kuda. Ada juga animasi sosok kuda serta rekaman suara derap
dan ringkikan yang bisa didengarkan dalam lorong gelap.
    Obyek-obyek yang tampak horor itu menggumamkan paradoks nasib
kuda. Binatang itu setia melayani, bahkan mengantarkan manusia
membangun peradaban selama berabad-abad. Namun, saat mesin industri
makin canggih, kuda disingkirkan. Kuda yang cacat atau tua dibiarkan
mati, atau berakhir di penjagalan.
    Proyek Poem of Blood merangsang refleksi, betapa manusia yang
terpasung nafsu berkuasa menjadi telengas terhadap makhluk yang setia
melayaninya. Nasib tragis kuda adalah saksi bisu atas pengkhianatan
manusia yang mengklaim diri sebagai modern dan rasional.

Totalitas
    Poem of Blood menunjukkan totalitas berkesenian Ugo. Memelihara
kuda sejak tahun 2003, dia kemudian kehilangan kuda kesayangannya,
Badai Lembut. Saat mencari kuda baru di Pleret, Imogiri, Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta, dia justru menemukan tempat penjagalan
kuda yang tragis.
    Ugo lantas melakukan studi mendalam tentang sejarah kuda. Dia
bermain dengan pernah- pernik kuda, mulai dari kulit, tulang, cap
besi, arena pacuan, jerami, arang, suara ringik kuda, penjagalan,
sampai roda gerobak. Material itu diolah menjadi lukisan, fotografi,
instalasi, video, animasi, atau ditata sebagai obyek yang utuh.
    Tak terjebak dalam kegenitan estetis, semua material yang
berhubungan dengan kuda justru hadir sebagai saksi, mengisahkan
kejujuran yang mengagetkan. Pada titik ini, Ugo piawai meramu bahasa
visual yang cukup segar dan meyakinkan.
    Sebenarnya seniman asal Inggris, Damien Hirts, pernah mengejutkan
dunia seni tahun 1990-an dengan membuat karya potongan tubuh kuda
yang diawetkan dalam kaca. Namun, Ugo-berangkat dari pengalaman
pribadi-tetap memiliki daya ungkap yang unik dan sedikit romantis.

Bergulat
    Ugo terus bergulat mengeksplorasi gagasan dan visual seni rupa
kontemporer. Dia tak larut dalam jebakan berbagai “isme” atau gaya,
apalagi berkutat pada satu pendekatan visual demi mempertahankan cap
identitas pribadi. Bagi dia, kualitas karya seni tak terletak pada
media, teknik, atau bahan, melainkan bertumpu pada kekuatan gagasan.
    “Seni lahir di ruang hampa. Ketika masuk dan berhadapandengan
material dan gagasan, saya seperti kesurupan. Saya bergulat dan
bermain dengan melibatkan pikiran, jiwa, dan badan, tanpa tahu persis
bagaimana hasil akhirnya,” katanya.
    Perjalanan kreatif Ugo tercermin dalam 11 kali pameran tunggal.
Pameran di Bentara Budaya dan Galeri Cemeti, Yogyakarta, tahun 1995
dan 1996, contohnya, mengungkap corat-coret atau grafiti di jalanan
secara unik. Pada pameran di Surabaya tahun 2001, dia membuat boneka
dan catatan harian untuk anaknya yang menderita sindroma down. Dia
melawan dominasi sejarah orang besar dengan merangkai tokoh wayang
rakyat jelata yang tak dikenal dalam pameran di Nadi Gallery, Jakarta
(2002).
    Ugo kerap mengejutkan dengan loncatan eksperimen. Dia menulis
cerpen pendek sekali (cerpenli) yang terdiri atas 3-4 paragraf.
Temanya bermacam- macam, termasuk pengalaman pribadi. Dalam salah
satu cerpenli, dia menulis dengan tengil: “Kukira, dulu, Muhammad
Ali itu orang Indonesia.”
    “Saya suka berbagi cerita, tetapi tidak tahan menulis panjang.
Kenapa tidak membuat cerpen yang pendek sekali?” katanya. Kumpulan
cerpenli semacam itu dipajang Ugo dalam pameran Short-short Stories
di Kuala Lumpur dan Singapura.
    Menurut pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, keberanian Ugo
bereksplorasi sangat berharga di tengah banyaknya seniman yang merasa
aman di comfort zone (zona nyaman) masing-masing sehingga hanya
mengulang penciptaan karya lama.
    Ugo tinggal di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Bantul,
bersama istri, Trisni Rahayu (46), dan anaknya, Tanah Liat (9).
Keluarga itu memelihara beberapa kuda yang jadi inspirasi seni.
Begitu hormatnya pada kuda, bahkan pameran Ugo bertajuk My Lonely
Riot di Bali (2006) dibuka seekor kuda bernama Si Putih.
    “Saya naik Si Putih masuk ke ruang pameran. Kuda itu lalu saya
tuntun untuk mendengarkan penjelasan tentang lukisan-lukisan yang
dipajang,” ujar Ugo.

KOMPAS – Selasa, 17 Apr 2007