Laporan dari “Booming” Seni Tupa Kontemporer China
Oleh Ilham Khoiri

    Seni rupa China tumbuh pesat dengan ditopang infrastruktur yang
kuat. Pergeseran ideologi negara dari komunisme tertutup menjadi
sosialisme yang akrab dengan pasar bebas melahirkan kondisi lebih
terbuka. Seniman pun lebih leluasa berkreasi.
   
    Salah satu penanda kebangkitan seni rupa China adalah 798 Art
District di Ta Sen Tse. Kawasan yang berjarak sekitar 15 kilometer
dari pusat kota Beijing itu sekarang ditempati 120-an galeri. Setiap
galeri memamerkan karya-karya seni rupa kontemporer yang selalu
diganti-ganti secara berkala.
    Kawasan tersebut ramai dikunjungi para seniman, pelaku pasar,
atau pemerhati seni. Gedung yang dijadikan galeri atau studio
mencapai 200 meter persegi hingga 1.000 meter persegi. Karya-karya
berukuran besar di ruang yang luas niscaya merefleksikan kegairahan
kreatif seni rupa China.
    Direktur Eksekutif Dangdai International Art Festival, yang
digelar di 798 Art Distric, Berenice Angremy, mengungkapkan, kawasan
tersebut dulu merupakan pabrik instalasi telekomunikasi militer.
Tahun 1950 hingga 1980-an, tempat itu dijadikan perusahaan elektronik
besar. Setelah lama kosong, gedung-gedung di sana disewa beberapa
seniman untuk berkarya.
    Tahun 2002, ada satu galeri yang dikelola seniman Huang Rui yang
menyewa tempat itu dengan tarif sekitar 60 sen RMB per hari per meter
persegi. Lama-lama, banyak seniman bergabung, dan harga sewa makin
mahal. Gedung yang dibangun zaman perang itu cukup nyaman untuk
dijadikan studio atau galeri. Ruangannya besar, los, dan punya banyak
jendela yang menyerap cahaya.
    “Tempat ini sempat mau dikembalikan lagi jadi pabrik elektronik,
tetapi kami bertahan. Akhirnya pemerintah mendukung seniman,” kata
Berenice, saat ditemui di galerinya, Kamis (3/5).
    Saat ini, para seniman China mengembangkan kawasan lain yang
lebih ke pinggiran, yaitu Song Zhuang. Di situ, berkumpul banyak
seniman dengan studio yang lebih besar-besar lagi. Sebuah gedung
Beijing East Region Art Center yang megah sedang dibangun. Tak jauh
dari situ, berdiri museum seluas sekitar 5.000 meter persegi yang
dikurasi kritikus ternama, Li Xian Ting.
    Belasan kilometer dari situ, ada kampung seni lain bernama Wang
Jing. Puluhan seniman punya studio yang ditata berderet-deret seperti
gudang atau pabrik. Kemakmuran terpampang dari mobil-mobil mewah yang
nongkrong di pinggir jalan.
    “Kami butuh studio besar untuk berkarya dengan ukuran lebih
besar dan lebih banyak lagi,” kata Ma Ke, seniman yang tinggal di
Wang Jing.

Pendidikan
    Hampir semua seniman China berlatar belakang pendidikan akademis
di jurusan seni atau desain, dan jarang sekali yangotodidak. Dengan
begitu, perguruan tinggi berperan penting dalam melahirkan seniman
dan memperkuat jaringan serta wacana seni rupa.
    Menurut kurator National Art Museum of China (NAMOC), Liu Xi Lin,
setidaknya ada 100-an universitas dan akademi yang membuka jurusan
seni dan desain di negeri itu. Jika setiap universitas meluluskan 20-
50 sarjana per tahun, tentu sarjana seni mencapai 2.000-5.000 orang
setiap tahun.
    “Sarjana seni itu bisa jadi macam-macam model seniman. Seniman
yang akhirnya memperoleh pengakuan tentu punya dasar pemahaman dan
keterampilan seni yang kuat karena muncul dari kompetisi yang
ketat,” katanya.
    Pemerintah sendiri cukup bersemangat memfasilitasi pertumbuhan
seni rupa. Ada 33 provinsi dan lima provinsi khusus di negeri itu,
dan setiap wilayah memiliki museum sendiri. Kabar-kabarnya,
pemerintah masihberencana membangun ratusan museum lagi beberapa
tahun mendatang.
    Kalangan perguruan tinggi menyambut niat itu dengan menggenjot
pendidikan. Salah satu programnya, memberikan dasar teori dan teknis
melukis yang kuat bagi setiap mahasiswa. Agar menyelami gaya
realisme, misalnya, setiap mahasiswa harus mendalami pelajaran
melukis anatomi tubuh, termasuk dengan panduan model langsung.
    “Kami memberi dasar kuat teknis melukis. Setelah itu, mereka
bebas mengembangkan diri,” kata Su Xinping, pelukis dan Kepala
Department of Printmaking Central Academy of Fine Art (CAFA) di
Beijing.

Pasar bebas
    Pergeseran ideologi dan kebijakan Pemerintah China juga
memberikan sumbangan besar bagi pertumbuhan seni rupa. Dulu, semasa
kepemimpinan Mao Zedong, Pemerintah China menerapkan ideologi
komunisme tertutup. Revolusi kebudayaan tahun 1966-1976 menjadi
contoh, bagaimana rakyat dimobilisasi untuk kepentingan negara,
sedangkan hak-hak sipilnya dibungkam.
    Saat Deng Xiaoping tampil, China berubah menjadi lebih luwes.
Pemimpin reformis itu lebih condong untuk berpijak pada ideologi
sosialisme yang membuka pintu bagi masuknya pasar bebas dunia. Akhir
tahun 1980-an, dia mereformasi negeri itu dengan menerapkan
kebijakan “open door policy”.
    Keterbukaan sejak akhir tahun1970-an itu membuahkan etos nasional
untuk mengutamakan industri, pertanian, dan manufaktur. Ketika seni
rupa dinilai memberikan keuntungan ekonomi, pemerintah pun mendorong
dengan membangun infrastruktur seni rupa yang memadai. Pertumbuhan
seni berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
    Dalam situasi seperti itu, para seniman merasa lebih bebas
berkarya. Kelompok seniman avant garde yang dulu berhadapan dengan
pemerintah dan harus bergerilya untuk berekspresi seni, sekarang bisa
bebas berkreasi. Mereka yang terpaksa hijrah ke luar negeri, kini
bisa pulang ke kampung halaman.
    Wu Shaoxing, pematung angkatan awal China, mengakui, pada masa
tertutup dulu, seniman susah sekali berkarya secara terbuka, apalagi
mengkritik pemerintah. Dia sendiri bersama istrinya, Jiang Shuo,
memutuskan hengkang ke Austria. Tahun 1980-an, semuanya berangsur
berubah.
    “Sekarang, semuanya sudah terbuka. Banyak patung dan lukisan
yang menggambarkan Mao dalam banyak bentuk atau tema, dan ternyata
tidak dilarang. Seniman menemukan momen berharga untuk melahirkan
karya-karya besar,” katanya.
    Saat ini, seni rupa China berkembang seperti industri raksasa
yang diproduksi massal oleh ribuan seniman, tetapi tetap dengan
kualitas terjaga. Agar seni rupa di sini juga bisa maju, sepatutnya
seniman dan Pemerintah Indonesia tak usah malu-malu untuk belajar ke
negeri China.

Catatan:

Seni dan Kemakmuran

    Su Xin Ping (46) sedang melukis di studionya di kawasan perumahan
taman di Wei Guo, di dekat jalur ke arah bandara Beijing, Kamis (3/5)
sore itu. Dalam ruangan berukuran sekitar 100 meter persegi, dia
membuat lukisan sebesar 5 x 2,5 meter. Di atas kanvas, tergambar
orang-orang yang tengah berpesta dengan membawa minuman.
    Lukisan itu dipenuhi warna coklat kusam, dengan sosok-sosok
berwajah dingin. Karya ini hendak mengkritik orang-orang yang
bergembira di tengah penderitaan orang lain. “Harganya sekitar
200.000 dollar Amerika Serikat (AS),” kata Su Xin Ping, saat diminta
menaksir nilai jual lukisan itu.
    Harga yang setara dengan Rp 1,8 miliar itu, katanya, masih di
bawah harga 300.000 dollar AS, yang dicapainya dalam pelelangan oleh
Balai Lelang Shoteby’s. Pencapaian itu diperoleh dengan cukup cepat.
Tahun 2000-an, dia masih memasang harga sekitar 100.000 dollar AS,
dan tahun 1990-an hanya 30.000 dollar AS.
    Dengan penghasilan dari menjual lukisan, Su Xin Ping hidup
berkecukupan dan punya rumah, mobil, dan dua studio. Selain di Wei
Guo, dia juga punya studio yang lebih besar lagi di Huan Tie.
    Kalangan pelukis yang kelas atas, tentu menikmati kemakmuran
lebih baik. Di China, menjadi kaya tidaklah tabu, malah jadi
orientasi hidup. Tidak heran, jika pelukis-pelukis banyak yang kaya-
raya. Mereka punya mobil, rumah, restoran, atau usaha sampingan yang
menandakan kesejahteraan.
    Kemakmuran itu dicapai dengan kerja serius. Etos menjadi budaya
yang diyakini hampir semua pelukis kontemporer yang terkenal, seperti
Zhang Xiao Gang, Fang Lijun, Yue Minjun, Huang Guang Yi, Gu Weu Da,
Song Yonghong, Shen Xiaotong, dan Zhou Chunya. Ada juga beberapa
seniman mudanya, seperti Yan Pei Ming, Yang Fu Dong, Zen Fan Zhi, dan
Chu Shon Nya.
    Bagi mereka, melukis adalah kerja yang dijalani dengan
tekunsetiap hari. Mereka tidak menyakralkan kerja kesenian, apalagi
menunggu-nunggu datangnya inspirasi. Ketika diajak pameran, mereka
tinggal menyertakan karya. Jika perlu, beberapa karya itu dilepas
untuk menerbitkan katalog yang bagus.
    Meski bergelimang kemakmuran, sejumlah pelukis tetap menjaga
kualitas karya. Fang Lijun, misalnya, memamerkan patung yang menarik
dalam CIGE 2007. Karya itu berupa segerombolan orang telanjang yang
tertawan dalam kerangkeng besi. Beberapa orang berusaha menguak
terali besi, beberapa lagi menodongkan laras panjang. Karya ini
menggambarkan perlawanan manusia terhadap tirani dengan bahasa ungkap
yang menggigit.
    Karya Zhang Xiao Gang, berjudul Little Doctor, cukup menggelitik.
Digambarkan, seorang bocah mengenakan jubah sarjana, lengkap dengan
toga. Karya ini bisa ditafsirkan sebagai sindiran atas impian atau
pemaksaan yang kerap muncul dalam situasi negeri yang otoriter.

(iam)

KOMPAS – Minggu, 20 May 2007