Persona Pelukis Kaligrafi Islam di Indonesia

Oleh Ilham Khoiri

    Lukisan kaligrafi Islam tak bisa dilepaskan dari sosok AD Pirous.
Dialah lokomotif yang menghela gerbong kaligrafi sehingga menjadi
genre tersendiri dalam peta seni rupa di Indonesia. Kini, usianya
menginjak 75 tahun dan 35 tahun sudah dia setia mendorong gerbong itu.
    Untuk mensyukuri proses kreatifnya, Pirous menggelar pameran
tunggal dan diskusi di Galeri Soemardjo, Fakultas Seni Rupa dan
Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (21/3) siang.
Diskusi menampilkan narasumber Pirous sendiri dan penyair Abdul Hadi
WM, dengan dipandu Aminuddin TH Siregar.
    Apresiasi terhadap seniman sepuh itu terlihat dari banyaknya tamu
yang hadir. Ada rombongan pelukis kaligrafi dari Yogyakarta, seperti
Syaiful Adnan, Hendra Buana, dan Yetmon Amier. Kaligrafer D
Sirojuddin AR, pelukis bulu Firdaus Alamhudi, Hatta Hambali, dan
pengamat seni rupa Merwan Yusuf dari Jakarta. Tampak pula Said Akram
yang terbang jauh-jauh dari Aceh.
    Sejumlah sahabat Pirous dari ITB juga muncul, seperti perupa
Soenaryo, pematung Rita Widagdo, pegrafis Priyanto S, dan Sam Bimbo.
Dari kalangan lebih muda, ada Tisna Sanjaya, Asmudjo Jono Irianto,
dan Agung Hujatnika Jenong. Para mahasiswa serta sejumlah pejabat
kampus juga datang.
    Hari itu memang harinya Abdul Djalil Pirous, demikian nama
lengkap seniman ini. Bersama istrinya, Erna Garnasih Pirous (66), dia
menyambut semua tamu dengan wajah sumringah. Tiba giliran diskusi,
dia memaparkan perjalanannya menekuni lukisan kaligrafi sejak tahun
1972-2007. Sekitar 1,5 jam bicara, kakek dua cucu itu memperlihatkan
stamina yang oke, suara lantang, dan tetap energik.
    “Kaligrafi dalam lukisan saya bermula saat belajar desain dan
seni grafis di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika
Serikat, tahun 1969-1970,” ungkapnya mengawali semacam kuliah gratis
siang itu.
    Dia sempat mengunjungi pameran koleksi seni Islam dari Timur
Tengah di New York Metropolitan Museum. Karya kaligrafi Arab (Islam)
yang indah membuatnya terperangah, tercenung, dan teringat pada
artefak kaligrafi Islam yang banyak tersebar di kampung halamannya di
Aceh.
    “Kenapa tidak menggali kekayaan tradisi untuk melahirkan
identitas seni rupa modern Indonesia?” begitu kira-kira gumamnya
saat itu. Dia pun terlecut untuk melahirkan karya seni rupa yang
memadukan keyakinan ideologis (Islam), khazanah lokal di Aceh
(kaligrafi Arab), dan semangat zaman (modern).
    Pulang ke Tanah Air, Pirous membuat grafis dan lukisan dengan
tema utama kaligrafi Islam. Salah satu karya awalnya, berupa etsa
ukuran 40 x 50 cm yang menorehkan Surat Al-Ikhlas dari Al Quran
secara lengkap.
    Karya ini-juga karya grafis selanjutnya-mengandalkan teknik etsa
viscosity, yaitu cetak intaglio yang menghasilkan warna dan tekstur
berlapis-lapis. Adapun lukisan kaligrafi diolah dengan tekstur tebal
dan dibalur warna-warni yang kaya. Karyanya selalu menampilkan
penggarapan bidang, warna, garis, tekstur, dan huruf Arab yang
harmonis.
    Sambil berkarya, Pirous melakukan penelitian lapangan kaligrafi
Islam di situs, makam kuno, masjid, dan rumah tradisional di Banda
Aceh, Aceh Utara, dan Aceh Jaya. Dia makin tersentuh menyaksikan
kaligrafi pada naskah kuno (manuskrip) yang berumur lebih dari 150
tahun di Tanoh Abee.
    Apakah saat itu tidak ada pelukis lain yang menggarap kaligrafi
Islam?
    Akhir 1960-an, Ahmad Sadali dan But Muchtar mencoba memperkaya
lukisannya dengan memasukkan aksara Arab dari ayat suci Al Quran.
Namun, kaligrafi masih jadi semacam catatan dan dikerjakan sebagai
selingan saja.
    Itu berbeda dengan lukisan kaligrafi Anda?
    Saya mengangkat kaligrafi sebagai bagian utama yang konstruktif
dalam lukisan, bukan sekadar catatan. Antara aksara dan latar
belakang lukisan menyatu. Saya berusaha menampilkan karya yang
bertubuhkan huruf Arab dengan menyandang spirit religius Islami.
    Kapan Anda kali pertama menggelar pameran lukisan kaligrafi Islam?
    Pameran tunggal pertama saya di The Chase Manhattan Bank,
Jakarta, tahun 1972. Saya menyajikan 13 lukisan kaligrafi di atas
kanvas. Pameran ini dapat dianggap sebagai pameran tunggal pertama
kaligrafi Islam di Indonesia.
    Tahun 1976, di tempat yang sama, saya kembali berpameran tunggal
dengan menampilkan karya cetak saring (serigraphy), juga dengan tema
kaligrafi. Kedua pameran itu jadi titik mula tumbuhnya seni lukis
kaligrafi di Indonesia.
    Bagaimana munculnya pelukis kaligrafi lain?
    Amang Rahman dari Surabaya pernah bercerita, dia sempat melihat
pameran saya di Jakarta tahun 1972 dan berpikir, kenapa tidak?
Lantas, dia membuat lukisan kaligrafi dengan nuansa sufistis dalam
kanvasnya. Pelukis Amri Yahya di Yogyakarta memasukkan kaligrafi
dalam lukisan dengan pendekatan batik yang ekspresif.
    Kapan gerakan lukisan kaligrafi mencuat lebih lugas?
    Tahun 1979, di MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) ke-11 di Semarang
diselenggarakan Pameran Seni Lukis Kaligrafi Islam Nasional, diikuti
lebih dari 20 orang, dari pelukis yang khusus berkarya kaligrafi Arab
sampai seniman senior yang mencoba memasukkan unsur kaligrafi dalam
karya.
    Batara Lubis membuat lukisan Allahu Akbar, Srihadi Soedarsono
melukis Alif Lam Mim dalam latar belakang horizon, Widayat melukis Al-
Rahman, dan Fajar Sidik memasukkan Allah dalam karyanya. Muncul juga
Syaiful Adnan dengan gaya kaligrafi yang khas.
    Tahun 1981, pada MTQ ke-12 di Banda Aceh, dimulai tradisi baru,
yaitu menyelenggarakan pameran seni rupa kaligrafi Islam sebagai
pendamping MTQ. Tradisi itu diteruskan pada MTQ-MTQ selanjutnya di
Padang, Pontianak, dan kota lain.
    Saat Festival Istiqlal (FI) I tahun 1991 dan FI II tahun 1995
lukisan kaligrafi jadi arah baru?
    Ya, pada FI I, ada sekitar 250 karya lukisan kaligrafi dari 70-an
pelukis yang dipamerkan. Pada FI II lukisan kaligrafi bertambah
banyak, mungkin sekitar 300 karya dari 90-an pelukis. Kaligrafi juga
muncul pada batik dan patung. Pematung Arsono membuat karya Alif Lam
Mim.
    Perlu juga dicatat, pameran bersamaan pembukaan Baitul Quran dan
Museum Istiqlal di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, tahun
1996. Pada awal dan pertengahan tahun 1990-an itu banyak perupa
tertarik untuk membuat karya seni bernapaskan Islam.

Mengeksplorasi kaligrafi
    Pirous menyajikan 22 lukisan kaligrafi pilihan dalam pameran di
Galeri Soemardjo ITB Bandung, 21-23 Maret 2007. Karya-karya itu
dibagi dalam lima kelompok, yaitu lukisan kaligrafi bertema Al Quran,
perang dan politik, sastra, sosial, serta pengolahan huruf.
    Lukisan kaligrafi bertema ayat suci Al Quran, dibuat tahun 1970-
2007, menyuguhkan rangkaian ayat Tuhan dari masa silam yang tertoreh
di antara pecahan batu bernuansa kuno. Kekunoan itu tampil modern
karena ditata dalam komposisi visual dengan takaran estetis. Makna
ayat dan latar belakang visual tampil serasi.
    Tema perang dan politik (1998-2003) menggambarkan kenangan
konflik berdarah di Aceh, rencong, teks Hikayat Perang Sabil, dan
sosok pahlawan Teuku Umar. Dia juga merespons politik nasional dan
perang Amerika-Irak. Karya jenis ini lebih ekspresif, diperkaya
dengan potret atau sosok manusia. Kaligrafinya tak terpaku pada huruf
Arab saja, tetapi merambah aksara Romawi, paku, dan citra huruf lain.
    Kaligrafi sastra (tahun 2000-an) mengangkat teks sastra Aceh,
syair Persia, dan puisi modern. Karya berisi aksara Arab pegon dengan
latar belakang yang teduh. Lukisan bertema sosial (tahun 2005-2006)
banyak mengungkapkan pesan moral secara lugas. Agar lebih terbaca,
digunakan aksara Romawi dalam bahasa Indonesia, Aceh, dan Inggris.
    Karya bertema pengolahan huruf (tahun 1970-2007) memperlihatkan
bagaimana Pirous lihai mengeksplorasi anatomi kaligrafi. Bermula dari
aksara tak terbaca yang mirip huruf paku (hieroglif) Mesir kuno,
menyerupai gaya Andalusi dari abad ke-9 Masehi, sampai akhirnya lepas
dari gaya apa pun. Belakangan, kaligrafinya semakin minimalis,
seperti guratan huruf alif dalam bentuk garis vertikal yang membaur
di tengah bidang kosong.
    Bagaimana Anda memperlakukan kaligrafi?
    Kaligrafi itu mencakup huruf Arab, Roman, atau jenis lain.
Kaligrafi berawal dari garis dan titik yang membentuk huruf,
dirangkai menjadi kata, lalu jadi kalimat yang membunyikan pesan. Tak
hanya ayat Al Quran dan Hadis, kaligrafi juga bisa membicarakan
masalah politik, ekonomi, sosial, sastra, hukum, dan lain-lain.
    Secara visual, anatomi kaligrafi sangat fleksibel sehingga
leluasa diolah seperti apa pun. Saya mempelajari kaligrafi dan
sejarahnya, tetapi tak terpaku dalam pakem penulisan. Saya bergulat
dengan kaligrafi selama 35 tahun dan dengan seni rupa umum selama 45
tahun.
    Bagaimana Anda melihat perkembangan lukisan kaligrafi sekarang?
    Lukisan kaligrafi sekarang ini stagnan, jalan di tempat. Para
pelukis terperangkap dengan memperlakukan kaligrafi hanya sebagai
tulisan Arab atau Pegon yang bersifat sacred-script untuk
menyampaikan pesan Al Quran atau Hadis. Belum terbuka horizon baru
yang menggambarkan dinamika dan inovasi segar.
    Memang seniman yang ikut melukis kaligrafi bertambah banyak,
tetapi karya yang muncul hanya mengulang pendekatan lama. Tak
terlihat perkembangan penting dibandingkan 20 tahun lalu. Itu terjadi
karena para pelukis tidak mengembangkan wawasan dan konsep estetika.
Jika dibiarkan, lukisan kaligrafi makin terpuruk, kekurangan peminat,
dan lama-lama tenggelam.
    Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kelesuan kreativitas ini?
    Para pelukis harus bekerja lebih keras lagi untuk memperluas
wawasan dan mengasah estetika. Bakat hanya berperan sekitar 10 persen
bagi kesuksesan seniman. Sekitar 90 persennya lebih ditentukan kerja
keras dan disiplin berkreasi setiap hari.
    Melukis itu kerja total yang meliputi otak, rasa, dan jiwa.
Kaligrafi bisa dieksplorasi sampai tak terbatas. Jangan lihat huruf
sebatas aksara fisik saja, tetapi sebagai sarana yang leluasa untuk
mengkomunikasikan segala aspek kehidupan ini. Dengan begitu, kenapa
pelukis kaligrafi tak terpanggil untuk mengangkat tema yang lebih
beragam, memanfaatkan berbagai aksara, dan menggali estetika visual
baru?

Energi yang Tak Habis-habis

    Kamis (22/3) pagi yang sejuk. AD Pirous duduk santai di teras
lantai dua rumahnya di Bukit Pakar Timur II, Ciburial, Bandung. Dari
situ terlihat pemandangan Kota Bandung di lembah yang diapit Gunung
Manglayang dan Cikamojang.
    “Fenomena alam yang kaya dan dinamis jadi inspirasi saya untuk
terus berkarya,” kata Pirous dengan wajah segar.
    Rumah yang dibangun tahun 2003 itu bergaya modern dengan warna
dominan abu-abu. Itu merupakan rumah ketiga pasangan AD Pirous (75)
dan Erna Garnasih (66) yang disiapkan untuk menikmati hari tua.
Sebelumnya, mereka tinggal di kompleks perumahan dosen Institut
Teknologi Bandung (ITB) di Sangkuriang, kemudian di Cisitu.
    Biasanya, setelah mencecap keindahan pemandangan alam pagi hari,
Pirous turun ke studio di lantai satu. Di situ semua peralatan
melukis-seperti cat, bubuk marmer, kuas, kertas emas, dan minyak-
tertata apik di atas meja. Puluhan kanvas kosong dan lukisan setengah
jadi tersandar rapi di dinding.
    “Saya mendisiplinkan diri untuk bekerja setiap hari. Saya
melukis satu-dua jam. Setelah itu saya bermain bersama cucu atau
menonton film. Ada ruang khusus audio visual dengan koleksi 3.000-an
judul film,” katanya.
    Pirous termasuk seniman sepuh yang energik dan produktif
berkarya. Sekitar 1.500 karya lukisan dan 50-an grafis sudah dibuat,
puluhan pameran di dalam dan luar negeri pernah dia ikuti. Resmi
pensiun tahun 2003, beberapa tahun kemudian dia diangkat jadi
profesor emeritus (seumur hidup) bidang desain di Fakultas Seni Rupa
dan Desain (FSRD) ITB.
    Bagaimana perasaan Anda setelah menginjak usia 75 tahun?
    Usia dan kesehatan merupakan berkah berlimpah yang saya syukuri.
Saya bahagia karena bisa memanfaatkan itu untuk diri saya dan orang
lain. Kata Nabi Muhammad, khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
    Akan terus berkarya?
    Berkarya itu wujud rasa syukur atas apa yang diberikan Allah
kepada manusia. Tidak ada kata pensiun untuk kerja kesenian. Hanya,
sekarang saya harus mau berdamai dengan kekuatan fisik yang berangsur
berkurang.

(iam)

KOMPAS, Minggu, 01-04-2007