Laporan Seni Rupa Akhir Tahun  2009

Oleh: Ilham Khoiri

    Perjalanan seni rupa kontemporer Indonesia tahun 2009 membeberkan
praktik yang semakin larut dalam perayaan budaya urban. Berbagai
pameran digelar di mal sebagai pusat gaya hidup urban, tema diolah
dari problem perkotaan, dan estetika visualnya pun tak jauh dari
tampilan budaya pop. Apakah efek sampingnya?
   
    Awal tahun 2009 dibuka dengan situasi pasar seni rupa yang lesu.
Ini adalah imbas dari krisis keuangan global yang menerpa dunia sejak
pertengahan tahun 2008. Berbeda dengan  booming pasar selama dua tahun
sebelumnya, berbagai pameran dan kegiatan seni kini berkurang.
Transaksi makin selektif.
    Dalam suasana murung itu, para pemilik galeri mengeluarkan jurus
baru, yaitu menggelar pameran di mal. Pusat perbelanjaan dianggap
strategis sebagai ajang pameran. Alasannya, mal bercokol di pusat
kota, menjadi pusat arus konsumsi masyarakat urban, sekaligus menjadi
ruang publik yang ramai.
    Kita bisa menyebut “Art Show: Exhibitions on Contemporary Art”
yang diikuti sejumlah anggota Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia
(AGSI) di Grand Indonesia, akhir April. Meski punya konteks berbeda,
sebelumnya Jakarta Biennale XIII 2009 juga telah ambil tempat di Grand
Indonesia dan Senayan City. Begitu pula Bazaar Art Jakarta 2009-
Indonesian Art Festival di Ballroom I Ritz-Carlton Pacific Place
Jakarta, Agustus lalu.
    Inisiatif Galeri CG yang mengambil ruang pamer di Plaza Indonesia,
Jakarta Pusat, sejak bertahun-tahun lalu belakangan diikuti Edwin’s
Gallery dan O House Gallery. Hampir bersamaan, Mon Decor Gallery, Pure
Art Space, dan Zola Zolu membuka ruang pamer di City Plaza Wisma
Mulia, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dengan semangat serupa,
pameran IndonesianContemporary Art & Desain “ArTention HOT/el” juga
mengolah Grand Kemang Hotel, Jakarta Selatan.
    Tren ini hanya sebagian dari banyak gejala kian larutnya seni rupa
kontemporer dalam geliat gaya hidup masyarakat urban. Pameran yang
lazimnya berkutat di perguruan tinggi seni, galeri, atau museum, kini
diboyong ke mal. Karya seni rupa-patung, seni instalasi, fotografi,
obyek, atau mural-bergumul dengan barang-barang komoditas di ruang
etalase mentereng.
    Tema karya berangkat dari problematik kota. Para seniman melahap
realitas budaya perkotaan berikut tanda-tanda visualnya: citra iklan,
jalan raya, mobil, gedung-gedung bertingkat, model, fashion, sampai
barang dagangan itu sendiri. Gaya visualnya juga menyerap budaya
populer, katakanlah seperti gaya realisme fotografi, komik, atau
street art alias seni jalanan (terutama grafiti dan mural).

Perluasan
    Tren pameran di mal dengan segala ikutannya tadi menjanjikan
harapan baru. Bagi para pemilik galeri, langkah ini dinilai bisa
menjaga antusisme pasar yang sudah telanjur mekar saat booming tahun
2007 dan 2008. Pertambahan galeri dan kolektor baru beberapa tahun
belakangan perlu dijaga agar tidak runtuh lagi oleh lesunya pasar
dunia.
    “Dengan pameran bersama di mal, kami ingin membuka pangsa pasar
baru yang lebih terbuka,” kata Chris Dermawan, pemilik Galeri Semarang
sekaligus salahsatu ketua AGSI.
    Di luar itu, pameran di pusat perbelanjaan bakal mengantarkan
praktik seni rupa kontemporer merambah ruang publik lebih luas. Karya
seni rupa yang memang semakin bebas batasan dapat hadir nyata di
tengah orang banyak. Interaksi langsung antara karya dan khalayak
semakin mungkin.
    Pengamat seni rupa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,
Suwarno Wisetrotomo, menilai, tren ini turut memperluas medan
apresiasi seni. Relevansi seni di tengah masyarakat pun diuji lagi.
Jika digarap baik, maka perluasan ini dapat menambal kurangnya peran
dan infrastruktur museum dan galeri di Tanah Air.
    Tren ini juga bisa didorong untuk lebih jauh membenamkan seni pada
kehidupan publik kota. Tak hanya di mal, penyajian seni bisa mengolah
ruang publik lain, seperti jalanan, gang, terminal, atau sudut kota
lain. Dari sisi seniman, mereka dapat bermain dengan menjumput apa
saja di sekitarnya, mengolah dengan teknologi terkini (fotografi,
digital, atau komputer), lantas menyajikannya secara cair.
    “Dengan sikap terbuka, bahkan bermain-main, seniman bisa membuka
berbagai kemungkinan baru yang segar,” kata Suwarno.

Paradoks
    Hanya saja, tren ini tak lepas dari persoalan. Dengan mengambil
tempat di mal, praktik seni rupa terancam semakin larut dalam arus
konsumsi. Ketika seni terjebak dalam rutinitas produksi demi memenuhi
pasar, sulit lahir karya-karya yang mendobrak kemapanan dan menawarkan
pencerahan.
    Bagi pengamat seni rupa Enin Supriyanto, pilihan pameran di mal
mengandung paradoks. Pada satu sisi, penyelenggara ingin meningkatkan
apresiasi dan pendidikan seni bagi masyarakat. Namun, di sisi lain,
mal sebagai pilihan tempat pameran itu justru merupakan sarang
konsumsi dan komodifikasi yang jauh dari nilai edukasi.
    “Di mal, semua hal diukur dari uang, harga, dan merek. Alih-alih
dapat menyubversi mal, karya-karya seni malah terserap arus jual-beli.
Parahnya, tampilan dan harga karya tadi memang kadang kalah oleh
barang komoditas bermerek terkenal, katakanlah seperti Louis Vuitton,”
katanya.
    Kekhawatiran ini tak berlebihan. Sebagian karya yang dipamerkan di
mal memang akhirnya juga digarap bagaikan produk mal itu sendiri.
Tampilan akhir karya, misalnya, mengacu pada komoditas di mal yang
bersih, manis, dan selesai. Adopsi budaya pop dilakukan tanpa daya
kritis, melainkan hanya sebagai tren yang laku dijual dan terus
diulang karena permintaan pasar.
    “Banyak karya seni rupa sekarang yang cenderung berorientasi
produk. Bahasa visualnya kompromis, mudah dimengerti, dan cantik-
cantik. Semakin sulit menemukan karya konseptual yang kuat,” kata
kurator asal Bandung, Agung Hujatnikajennong.
    Enin berharap, semua stake holder seni rupa-mencakup seniman,
kolektor, pemilik galeri, lembaga pendidikan, pengamat/kurator, dan
museum-menyadari pilihan dan risiko tren seni rupa yang semakin
berorientasi kota tadi. Jika situasi ini dibiarkan tanpa kritik, pasar
benar-benar akan jadi acuan utama yang menyetir perjalanan seni rupa.
    “Idealnya, kita perlu membangkitkan kritik seni rupa untuk menjaga
seni rupa kontemporer tetap berada di jalurnya,” katanya.

KOMPAS – Minggu, 27 Dec 2009