Laporan Akhir Tahun 2008
Oleh Ilham Khoiri

    Di luar “booming” pasar yang belakangan ini menyurut, perjalanan
seni rupa Indonesia kontemporer tahun 2008 diwarnai dengan menguatnya
fenomena seni rupa indie.
    Gerakan kaum muda perkotaan itu menjanjikan perluasan dan
penyegaran praktik seni rupa, sekaligus mengembalikan seni sebagai
bagian dari geliat kehidupan masyarakat.
    Siapa saja kelompok anak muda itu? Mereka tidak selalu menampakkan
diri secara jelas di ruang-ruang penyajian yang lazim diakses
lingkaran seni rupa mapan. Berangkat dari kesadaran indie alias
independen, sebagian penggiatnya berjuang membangun ruang mediasi
sendiri yang menyempal dari arus utama. Meski begitu, gerakan mereka
juga tak selalu pas disebut sebagai underground karena tak sepenuhnya
bergerilya di bawah tanah.
    Jika dilacak ke belakang, semangat ini tumbuh sejak pertengahan
tahun 1990-an, terutama lewat kelompok Core-Komik, Apotik Komik, dan
Taring Padi di Yogyakarta. Setelah Reformasi 1998 menerabas sekat-
sekat politik, gerakan ini makin berkembang. Ruang Rupa di Jakarta dan
Common Room di Bandung yang muncul tahun 2000-an menjadi ruang
pertemuan utama bagi komunitas ini.
    Komunitas itu sendiri sebenarnya lebih getol berkesenian dalam
kegiatan kelompok kaum muda di kota-kota besar. Di Bandung, misalnya,
ada Button Culture 21, Ujung Berung Rebels, Ultimus, Balkot, PI (Punk
Rock), dan Minor Bacaan Kecil. Di Jakarta, muncul kelompok Marginal,
Stenzila, Propagrafik, Karma, Artcoholic, Tembok Bomber, Maros, Sakit
Kuning Collectivo, dan Serrum. Di Yogyakarta, hadir Ruang Mes 56,
Daging Tumbuh, dan Kampung Halaman.
    Mereka mengusung spirit kebebasan dalam berkesenian. Mereka
membangun konsep seni, problematik, material, cara penyajian, dan
ruang mediasi yang menyempal dari arus utama.
    Mereka bergumul dalam denyut pergerakan kelompok kaum muda,
seperti kelompok musik, film, mode, atau olahraga tertentu. Kesenian
dijadikan sarana berekspresi atau bermain yang relevan dengan
kebutuhan gaya hidup mereka. Dengan santai, mereka mengangkat beragam
narasi kecil yang berserak di sekitar kehidupan mereka.
    Bermacam material dan pendekatan seni dimanfaatkan, tanpa
terkungkung batasan seni tinggi atau rendah. Mereka lebih asyik
menggarap komik, grafiti, mural, drawing, zine, stiker, ilustrasi,
fotografi, desain kaus, dan video ketimbang terpaku pada lukisan atau
patung (yang dinilai gampang diperjualbelikan). Dengan menyerap
karakter seni jalanan (street art), karya disajikan di ruang publik,
dunia maya, atau disebarkan kepada masyarakat lewat teknik reproduksi
massal seperti fotokopi, stensil, cetak, atau sablon.
    “Mereka melibatkan masyarakat dalam berbagai proyek seni sehingga
seni mengalami perluasan dan berinteraksi dengan khalayak. Karya
mereka punya pengaruh besar karena masuk ke pembuluh darah
masyarakat,” kata Direktur Ruang Rupa Ade Darmawan.
    Ambil contoh karya Arian, vokalis Band Seringai di Jakarta, yang
kontroversial. Pemuda yang banyak memproduksi kaus bergambar tengkorak
untuk penggemar bandnya itu pernah mendesain bagian depan kaus dengan
gambar polisi memegang pentungan. Di bagian belakang ditulisi
pertanyaan “Melindungi dan Melayani Siapa?”.
    Gambar dan teks itu provokatif. Sejumlah pemakainya sempat
ditangkap dan diinterogasi polisi di Bandung Tengah akhir Agustus
lalu. “Padahal, itu hanya gambaran dari pertanyaan kritis yang banyak
beredar di tengah masyarakat,” kata Arian beberapa waktu lalu.

Alternatif
    Gerakan seni rupa indie semakin menarik karena dapat meruntuhkan
elitisme seni rupa kontemporer yang makin dimapankan di galeri,
museum, atau balai lelang yang terkooptasi pasar atau wacana dominan.
Kegiatan anak muda itu membuka ruang baru, memperluas, dan memperkaya
praktik seni rupa dengan berbagai disiplin serta serapan budaya
subkultur dan pop.
    “Kreativitas mereka jadi alternatif yang memecah kebuntuan praktik
atau paradigma seni,” kata Agung Hujatnikajennong, kurator yang pernah
mengkurasi pameran kelompok seni rupa indie “Tanpa Judul” di Selasar
Sunaryo Art Space, Bandung, 7-31 November.
    Pengamat seni Wicaksono Adi menilai, proses kreatif kaum muda itu
berangkat dari kebutuhan menciptakan bahasa komunikasi di antara
mereka sendiri yang berlangsung alamiah, tanpa didorong institusi atau
hasrat jadi seniman profesional. Dengan begitu, mereka bebas
mengadopsiapa saja atau langsung mengambil unsur visual dari
masyarakat, tanpa terbelenggu estetika fine art atau seni tinggi.
“Mereka kerap melahirkan bahasa visual yang tak terduga, idiom
otentik, atau eksperimen aneh-aneh,” kata dia.
    Eksplorasi semacam itu penting untuk mengimbangi pengaruh booming
pasar seni rupa kontemporer China yang merambah ke Tanah Air dua tahun
belakangan. Sudah bukan rahasia lagi gempita pasar telah menggoda
sebagian pelukis untuk mereproduksi karakteristik lukisan China yang
bercorak realistik, fotografis, dan bergaya sinis.

Minim apresiasi
    Sebagaimana menggejala di dunia sastra, musik, dan film,
menguatnya semangat indie dalam kancah seni rupa juga mencerminkan
pergeseran medan kreatif. Jika dulu dihegemoni lingkaran seniman
elitis, sekarang praktik seni rupa semakin demokratis bagi semua
kalangan, termasuk kelompok-kelompok anak muda. Di Eropa dan Amerika,
pergeseran semacam itu telah muncul sebagai bagian penting pergulatan
seni sejak tahun 1970-an, seperti diperlihatkan kelompok Situationist
International di Eropa yang berideologi marxisme atau lowbrow di
Amerika yang memunculkan gaya pop-surealisme.
    Hanya saja, di sini, praktik seni rupa indie masih minim
apresiasi. Sebagian besar pengamat, kritikus, atau kurator seni rupa-
yang entah lantaran telanjur nyaman di menara gading, enggan jalan-
jalan, atau terpaku pada paradigma lama-masih belum serius memetakan
fenomena ini sebagai bagian menarik dari pertumbuhan seni rupa
kontemporer kita. “Ini tantangan bagi pengamat untuk belajar lebih
banyak, lebih cepat, dan mau turun ke bawah,” kata Ade Darmawan.

KOMPAS – Minggu, 07 Dec 2008