Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘ARTIKEL seni rupa’ Category

Catatan Seni Rupa Indonesia di AS
                

        Oleh Ilham Khoiri

    Ada 10 seniman berdiri berjajar. Satu orang dari Indonesia dan
sembilan lagi dari St Louis, Missouri, Amerika Serikat. Mereka
menghadapi 10 kanvas kosong yang dipasang pada dinding.
    Dengan satu aba-aba, mereka serentak mulai melukisi kanvas kosong
di depannya. Lima menit, mereka bergeser ke kanvas lain di sebelahnya.
Lima menit kemudian, mereka berpindah lagi ke kanvas lain. Begitu
seterusnya.
    Sekitar setengah jam, kesepuluh kanvas itu sudah penuh dengan
berbagai gambar spontan. Awalnya setiap lukisan tampak aneh, bahkan
acak-acakan, karena dihajar berbagai goresan, warna, atau bentuk
berlainan dari 10 pelukis. Namun, setelah terus dipoles-poles, akhirnya
setiap pelukis berproses menemukan estetikanya sendiri.
    Aksi melukis bersama itu menandai pembukaan pameran “The US and
Indonesian Artist Abroad Exhibition” di Art-Dimensions Gallery di St
Louis, pertengahan Maret lalu. Pelukis dari Indonesia diwakili Cubung
Wasono Putro, salah satu pentolan seniman dari Pasar Seni Ancol yang
kerap memenangi kompetisi seni rupa di Tanah Air. Adapun sembilan
pelukis dari Amerika Serikat (AS) terdiri dari Evelyn Astegno Yocom,
Craig Downs, Angela Ament, Amy van Donsel, Dan Jaboor, Sophia Dalpiaz-
Borwn, Danierl Gaeng, Cindy Royal, dan Jen Hayes.
    Para seniman AS itu adalah anggota kelompok St Louis Guild, semacam
komunitas yang sejak lama menghidupkan kegiatan seni di kota St Louis.
Mereka juga aktif dalam banyak kegiatan di Art-Dimensions Gallery di
Jalan Cherokee itu, seperti musik, seni rupa, kuliner, dan sosial.
    Selain menampilkan Cubung yang datang ke AS pada malam pembukaan
itu, ada juga tiga seniman dari Pasar Seni Ancol yang ikut mengirimkan
karya, yaitu Ampun Sutrisno, Heri Purnomo, dan Surpiadi. Lukisan mereka
dipajang di Art-Dimensions Gallery yang cukup besar.
    Beberapa hari sebelumnya digelar juga pameran seniman Indonesia
bertajuk “Cultural Bridge 2011″ di Wendt Gallery, New York. Puluhan
karya dari 13 perupa pemenang kompetisi “Jakarta Art Award” sejak tahun
2006 sampai 2010 ditampilkan. Cubung juga datang ke New York dan
memasang instalasi semut yang membentuk bendera AS-Indonesia.
    Kedua pameran itu diselenggarakan PT Pembangunan Jaya Ancol,
lembaga yang beberapa tahun belakangan meramaikan seni rupa di Tanah
Air lewat pameran-pameran di North Art Space (NAS). Sejumlah seniman
dari St Louis juga akan dijadwalkan ambil bagian dalam “Jambore Seni
Rupa” di Pasar Seni Ancol, September nanti.

Menyandingkan
    Apa menariknya pameran Indonesia-AS seperti di St Louis dan New
York itu? Tentu saja, dua kegiatan itu menarik karena mempertemukan
perkembangan seni rupa dari dua negara berbeda. Itu berarti
menyandingkan dua budaya berlainan dalam satu ruang bersama.
    Pameran Art-Dimensions Gallery, misalnya, memperlihatkan wajah
budaya Indonesia. Lihat saja lukisan-lukisan Cubung yang banyak
menyodorkan pergumulan manusia urban di Jakarta. Dengan mengukuhi
teknik surealis-figuratif khasnya, dia mengulik dilema manusia yang
lebih suntuk bergulat dengan dirinya sendiri.
    “Ini gambaran orang-orang yang kebingungan,” kata Cubung sambil
menunjuk lukisan orang-orang yang melayang di antara kotak-kotak
virtual bak dunia mimpi. Agaknya gambaran itu lekat dengan kehidupan
manusia urban di negara berkembang yang penuh paradoks seperti Jakarta.
    Adapun sebagian seniman AS lebih fokus bereksperimen dengan
berbagai kemungkinan pengembangan medium. Obyek karyanya mungkin masih
berkelindan dengan hal-hal biasa di sekitarnya, tetapi dikerjakan
dengan pendekatan media tak biasa. Mereka masih terobsesi untuk membuka
jalan baru senirupa.
    Dan Jaboor, contohnya, adalah seniman serbabisa yang bekerja dengan
lukisan, fotografi, benda temuan, patung, atau instalasi. Dia berjibaku
dengan semua itu secara leluasa tanpa dibatasi gaya, teknik,
pendekatan, atau tema. Bagi dia, kesenian adalah percobaan.
    Dia pernah membuat serangkaian foto dari kamera tua yang memang
sudah rusak. Tentu saja hasil jepretannya tak sempurna, gosong-gosong,
atau warnanya kabur. Namun, kekacauan tidak terduga itulah yang hendak
dia kejar.
    “Saya suka mencoba-coba terus,” kata lelaki pendiam itu. Semangat
percobaan tanpa beban itu agaknya juga mencerminkan spirit budaya
masyarakat AS yang suka “menjelajah” dunia.
    Dari persandingan dua budaya semacam itu, setiap seniman bisa
belajar lebih banyak. Proses ini berlangsung lebih cair karena
diungkapkan lewat bahasa seni visual yang lebih universal. Tak terasa
ada beban perbedaan politik, agama, atau latar belakang lain.
    Lebih dari itu, dua pameran seniman Indonesia di AS itu juga
penting karena semakin menguatkan jaringan internasional. Terlebih bagi
seniman Tanah Air, ajang semacam itu bisa memperluas wawasan dan
pergaulan global. Ini bisa memperkuat keberadaan seni rupa kita dalam
percaturan seni rupa dunia.

KOMPAS, Minggu, 03-04-2011

Read Full Post »

Catatan tentang Seni Rupa Publik

Oleh Ilham Khoiri

”Pakai helm bukan karena polisi. Tapi demi keselamatan Anda”. Di bawah kata-kata itu, ada gambar pengendara sepeda motor dengan dandanan necis: kepala ditutup helm, mulut dan hidung dibebat kain ”slayer”, dan badan dibalut jaket tebal. 

Mural—demikian sebutan lukisan di dinding itu—memenuhi salah satu sisi tiang jembatan layang di bawah Stasiun Juanda, Jakarta Pusat. Permainan warna merah, oranye, dan pink pada gambar tersebut mencerahkan beton yang dingin. Lukisan pengendara sepeda motor yang karikatural bagaikan sapaan dari seorang sahabat.

”Dulu, tiang-tiang ini kotor. Sekarang, pemandangannya jadi ceria,” kata Yitno (30), salah satu tukang ojek, sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar menghibur, mural itu menyelipkan pesan yang mengena bagi orang di sekitarnya. Maklum saja, di seberang mural di dekat hentian busway itu terdapat pos polisi. Tak jauh dari situ, ada dua pangkalan ojek. Sementara jalan di situ tak pernah sepi dari lalu lalang sepeda motor.

”Melihat tulisan itu, saya dan penumpang seperti terus diingatkan agar jangan lupa pakai helm,” papar Yitno sambil menunjuk dua helm yang tercantol di sepeda motornya.

Mural itu memang sederhana. Namun, kehadirannya mencairkan kehidupan keras di jalan raya. Karya itu hasil garapan komunitas Serrum, kelompok seni yang dimotori sejumlah alumnus Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), akhir tahun 2010.

Dengan spirit lebih kurang sama, komunitas Ruangrupa Jakarta membuat karya di ruang publik. Lewat proyek ”Jakarta 32 Derajat C”, misalnya, kelompok ini membuat sansak (karung tinju) atau kursi ayunan di dekat halte di jalan raya. Siapa pun bisa mencoba sarana bermain yang mengasyikkan itu.

Di Yogyakarta, kelompok Magersaren Art Project (MAP)— yang antara lain digiatkan seniman Samuel Indratma, Ong Hari Wahyu, dan Butet Kartaredjasa—memajang karya seni terpilih di Nol Kilometer di dekat Jalan Malioboro setiap enam bulan sekali. Awal Januari lalu dipajang patung setinggi sekitar 3 meter karya seniman Budi Ubrux.

Berbahan pelat, patung itu menyerupai bentuk nasi dengan bungkus daun pisang yang dilambari kertas koran. Pada kertas koran itu, ada gambar Sultan Hamengku Buwono X dan cuplikan pernyataannya terhadap tudingan sistem monarki terkait dengan wacana keistimewaan Yogyakarta. Ada juga gambar Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto serta berita erupsi Gunung Merapi.

Inspirasi karya ini lahir dari peristiwa erupsi Merapi, November 2010. Saat itu, lewat pesan pendek (SMS) dadakan, warga serentak menyediakan nasi bungkus bagi pengungsi Merapi. Dalam waktu singkat, ribuan bungkus nasi pun beredar ke barak pengungsian. Patung itu menjadi monumen atas solidaritas warga Yogyakarta di tengah duka karena Merapi dan kerap tidak hadirnya negara saat rakyat membutuhkannya.

Karya seni publik juga mudah dijumpai di Kota Bandung, Jawa Barat. Salah satunya, mural di bawah jembatan layang tol Pasteur-Suropati di kawasan Pasar Balubur. Puluhan tiang beton di situ dihiasi mural karya Irwan Bagja Dermawan (39) alias Iweng. Lukisannya menggambarkan kota impian dengan bentuk gedung yang lucu.

Gambar dekoratif dengan warna-warni muda itu memendarkan keceriaan di tengah kawasan yang sesak itu. ”Segar rasanya melewati mural ini saat berangkat dan pulang sekolah,” kata Fani (14), siswa kelas II SMP 40 Bandung.

Fungsi sosial

Daftar karya seni publik bisa diperpanjang lagi dengan menyebut banyak kelompok seni. Di luar Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, semangat ini juga merambah kota lain di Indonesia. Karyanya beragam, mulai dari mural, grafiti, digital print, stiker, poster, spanduk, fotokopi, komik, stensilan, hingga sablon di atas kaus.

Para seniman menggalang diri dalam komunitas, masuk dalam geliat kehidupan kota, menyerap kegelisahan warga, lantas menyajikannya dalam berbagai karya seni rupa di ruang publik. Pesannya bisa menyangkut berbagai persoalan masyarakat kota, bahkan masalah sosial-politik di negeri ini. Di sini, karya seni menjadi media untuk menghibur sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk hidup lebih baik.

”Seni itu punya fungsi sosial, yaitu mentransfer pengetahuan kepada masyarakat luas,” kata Pringgotono (30), aktivis kelompok Serrum yang bermarkas di Kayu Manis, Jakarta Timur.

Bagi Samuel Indratma, seni publik dapat melestarikan nilai kearifan lokal, katakanlah seperti patung penanda solidaritas warga Yogyakarta saat erupsi Gunung Merapi tadi. Selain itu, seni juga bisa memanusiakan wajah kota yang kian disesaki serbuan iklan dan jargon pemerintah. Dengan seni, ruang-ruang kota bisa menjadi hidup, dinikmati bersama, dan milik semua warga.

Pengamat sosial dan pengajar filsafat STF Driyarkara, F Budi Hardiman, menilai masyarakat di kota besar terus-menerus didera beban pekerjaan dan target. Itu membuat mereka selalu dihitung dari sisi produktivitasnya, sementara personalitasnya sebagai manusia tenggelam. Warga kota larut dalam berbagai hiruk-pikuk setiap hari, tetapi asing satu sama lain, bahkan asing terhadap diri sendiri.

”Karya-karya seni publik itu menyodorkan jeda dari rutinitas kota sekaligus memberikan ruang bagi warga kota untuk berefleksi tentang hidup dan diri sendiri. Seni itu seperti cermin bagi warga untuk menyadari dirinya sebagai manusia yang punya perasaan, cita rasa, mood, sambil merenungkan eksistensinya di kota besar. Ini membuat kita lebih manusiawi, lebih beradab,” katanya.

(Wisnu Nugroho/Idha Saraswati)

Perubahan Sosial
Fun Art, bukan Fine Art

Oleh Ilham Khoiri 

Dulu, para seniman itu bak seorang empu yang gemar menyepi demi mencari inspirasi, kemudian menempa karya di sanggar yang hening. Kini, perupa generasi baru melebur dalam geliat kehidupan kota. Mereka menggiatkan kerja kesenian sebagai praksis sosial.

Halaman samping belakang Galeri Nasional Indonesia di Jakarta cukup riuh suatu sore pertengahan Januari lalu. Puluhan orang berkerumun di bawah tenda sederhana. Sambil membawa kaus putih, mereka antre di salah satu sudut untuk dapat giliran kausnya disablon secara gratis.

Beberapa seniman menyablon kaus itu dengan gambar pilihan pengunjung. Salah satu gambar yang laris adalah karya Popo (28), seniman jalanan dari kelompok Kampung Segart di Lenteng Agung. Gambar itu berupa sosok naif yang menuliskan teks ”Fun Fine Art”. Tetapi, kata ”fine-”nya disilang.

”Semoga seni itu bisa lebih menyenangkan (fun) sehingga semua orang bisa menikmati, bahkan ikut terlibat. Seni bukan untuk dimurnikan (fine art) karena akan menjadi elitis,” kata seniman lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Ada 36 seniman yang terlibat dalam proyek ”Hanya Memberi Tak Harap Kembali” itu. Mereka menawarkan master karya yang bisa direproduksi, seperti dengan sablon, stiker, fotokopi, kartu pos, selebaran, emblem, dan stiker. Pengunjung bisa memperoleh reproduksi karya itu secara gratis dengan membawa kaus, kertas, tas, atau flashdisk.

Lewat cara ini, masyarakat luas mudah menikmati karya-karya seni. Karya seni tak lagi dipingit di studio pribadi atau ruang galeri dan museum, melainkan disebar ke tengah masyarakat, kalau perlu secara gratis. Seni pun bakal dinikmati khalayak luas.

Karya-karya itu pun tak sepenuhnya murni olahan seniman sebagai otoritas tunggal. Sebagian seniman justru mereproduksi seni pop yang beredar di tengah masyarakat. Contohnya, foto-foto penyanyi dangdut di kawasan pantura, gambar-gambar di bak truk, atau stiker yang populer di bus-bus kota.

Kegiatan ini merupakan rangkaian pameran ”Decompression #10: Expanding The Space and Public”, puncak perhelatan ulang tahun ke-10 Ruangrupa. Komunitas di Jakarta ini termasuk salah satu kelompok muda yang mengusung modus baru dalam berkesenian.

Generasi baru

Kenapa disebut mengusung modus baru? Karena mereka tumbuh di habitat kota, menggalang diri dalam komunitas, menggarap karya berbasis urban, dan menyajikannya di ruang publik kota. Cara seperti ini tak dilakukan para seniman zaman dulu yang cenderung berkarya secara individual dan berjarak dari masyarakat.

Komunitas dengan spirit serupa tumbuh di beberapa kota di Indonesia. Sebut saja, antara lain, Serrum, Atap Alis, Kampung Segart, Akademi Samali, Forum Lenteng, dan Tembok Bomber di Jakarta. Di Bandung, ada Common Room dan Asbestos Art Space. Juga Ruang Mess 56 atau House of Natural Fiber (HONF) di Yogyakarta.

Karya mereka tergolong street art lantaran memanfaatkan ruang jalanan, seperti lukisan dinding (mural), corat-coret (grafiti), stensil, striker, poster, komik, bahkan membuat karya seni pada website di internet. Bisa dibilang, mereka mempraktikkan seni sebagai aktivisme sosial karena karya seni tak lagi digumuli sebagai perkara artistik, tetapi menjadi media untuk mendorong perubahan.

Di tangan mereka, seni menjadi media yang luwes untuk memperjuangkan terwujudnya kehidupan kota yang lebih baik. ”Karena kami tinggal di kota, kami ikut berusaha menjadikan kota lebih manusiawi dan demokratis, dengan publik lebih kritis,” kata Ade Darmawan, salah satu pendiri Ruangrupa.

Gustaff H Iskandar, salah satu pendiri dan Direktur Common Room, menyebut generasinya sebagai seniman organik. ”Karena kami hidup di tengah kehidupan kota, menyerap kegelisahan warga, lalu menyajikannya sebagai karya di ruang publik,” katanya.

Pergeseran

Karakteristik generasi baru ini memang berbeda dari apa yang dijalankan para seniman dekade-dekade sebelumnya. Tahun 1930-an hingga 1960-an, misalnya, seni rupa Indonesia banyak didorong sanggar-sanggar, seperti Persagi (Persatuan Ahli Gambar) atau SIM (Seniman Indonesia Muda), atau Sanggar Bambu. Meski berkelompok, para seniman tetap bekerja dengan orientasi memperkuat dirinya sebagai seniman dan karyanya secara individual, seperti pelukis Affandi atau S Sudjojono.

Tahun 1980-an, cara berkesenian bergeser. Lewat perupa asal Tulungagung, Moelyono, kita mengenal apa yang disebut ”seni rupa penyadaran”. Dia bergerilya menggalang aktivitas seni rakyat di desa. Tahun 1990-an, sejumlah seniman berkelompok untuk membumikan seni di tengah publik. Semangat ini antara lain diwakili Apotik Komik dan Taring Padi di Yogyakarta, yang aktif membuat mural, poster, atau grafiti.

Reformasi 1998 mengubah banyak hal. Seiring runtuhnya rezim Orde Baru dan kian terbukanya pintu demokrasi serta didukung teknologi informasi canggih, bermunculan komunitas seni baru yang disebut tadi. Mereka berkesenian secara lebih santai dan terbuka.

Pengamat seni rupa, Hendro Wiyanto, menilai, generasi baru seni rupa itu memang lahir dan tumbuh besar di kehidupan urban. Mereka berinteraksi dengan teman-temannya dan kemudian menemukan keajaiban dan masalah di lingkup urban. Spirit itu pula yang diangkat dan memengaruhi cara kerja keseniannya.

”Mereka adalah produk dari demokratisasi dan ikut menciptakan demokratisasi seni. Dengan metode partisipatif, mereka masuk dalam denyut nadi masyarakat dan mendorong semua orang untuk mengalami seni secara bersama, tanpa hierarki atas-bawah. Yang dipentingkan adalah proses dan pengalaman bersama,” katanya.

Setidaknya generasi baru ini memang berkesenian secara fun alias menyenangkan. Bukan kesenian yang dipandang sebagai ritual yang sakral.

Spirit Baru
Generasi Lintas Batas

Oleh Ilham Khoiri & Mawar Kusuma

Komunitas seni rupa baru bermunculan. Mereka tak mendudukkan perupa sebagai pemegang otoritas tunggal, melainkan membaurkannya dengan berbagai kelompok kreatif lain. Mereka biasa bertemu untuk mencari adonan karya seni rupa baru. Semuanya dikerjakan dengan lintas disiplin.

Seperangkat instalasi di atas meja itu mirip sebuah eksperimen di laboratorium. Bulatan-bulatan kaca berisi adonan aneh ditancapkan pada wadah kotak. Di depannya ada beberapa botol berisi minuman hasil fermentasi. Wadah tadi dihubungkan dengan rangkaian kabel dan kemudian tersambung pada headphone. Dari alat bantu pembesar suara itu, terdengar suara kresek-kresek yang aneh. Agak mirip dengung serangga.

Instalasi yang tampak rumit itu memang sebuah eksperimen ilmiah. Hanya saja, uji coba itu tak digarap di laboratorium tertutup, melainkan diboyong di tengah ruang pamer terbuka di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Uji coba yang diberi judul ”Intelligent Bacteria” ini ditampilkan dalam pameran ”Multimedia Art in Indonesia,” rangkaian peringatan 10 tahun Ruangrupa yang berlangsung 7–27 Januari.

Rangkaian unik ini merupakan perpaduan antara teknologi, seni, dan multimedia yang dipermak menjadi karya seni rupa kontemporer. Ini hasil kerja House of Natural Fiber atau HONF, komunitas interdisipliner di Yogyakarta.

Instalasi ini mengaplikasikan peran bakteri dalam proses pembuatan anggur. Suara ”musik” yang timbul ketika bakteri memproduksi karbondioksida dalam proses fermentasi anggur dapat ditangkap sensor dan melahirkan bunyi yang disebut orkestra bakteri. ”Karya itu akan ditampilkan dalam Festival Transmediale di Jerman, pada 1-6 Februari,” kata penggagas HONF, Vincentius Christiawan, yang akrab dipanggil Venzha (35), Kamis (20/1) lalu.

Menautkan seni dan perkembangan teknologi melalui laboratorium media, komunitas seni ini akhirnya memang tidak melulu beranggotakan seniman. Para akademisi dengan latar belakang beragam, seperti teknik, kedokteran, hukum, hingga arsitektur turut bergabung. Dari garasi rumah yang disulap menjadi laboratorium kerja di Jalan Wora-Wari, Baciro, Yogyakarta, sekitar 40-an anggota komunitas ini menelurkan beragam ide karya seni media baru.

”Seni media baru harus mampu memadukan perkembangan teknologi terkini dengan estetika atau seni itu sendiri. Harus ada inovasi karya,” ujar Venzha.

Kelompok ini juga menggelar beragam workshop mulai dari tema tentang mikrobiologi hingga webcam. Ada juga program festival seni publik bertajuk Yogyakarta Internasional Media Art Festival dan Yogyakarta Internasional Video Work Festival. Tentu saja, sebagian pesertanya juga dari mancanegara.

Masih di Yogyakarta, Komunitas Ruang MES 56 juga memadukan media fotografi, video, dan program komputer. Tak hanya memanfaatkan galeri pamer, karya-karya pun ditampilkan di websites internet dengan menampilkan spirit fotografi kontemporer. Markas Komunitas Ruang MES 56 di Jalan Nagan Lor, Patehan, Yogyakarta, menjadi ruang belajar bagi para seniman muda fotografi.

”Kami berusaha untuk terus bereksperimen dengan berbagai kemungkinan baru,” kata anggota Ruang MES 56, Jim Allen Abel dan Dolly Roseno.

Mak comblang 

HONF dan Ruang MES 56 bisa mewakili karakter seni rupa generasi baru di Indonesia. Mereka meleburkan batas-batas disiplin ilmu dengan membuat karya yang merangkum unsur visual, musik (audio), animasi (video, televisi), pertunjukan (performance), atau grafis. Berbagai kelompok kreatif bersinggungan tanpa sekat.

”Ibaratnya, kami ini seperti mak comblang. Teman-teman datang ke sini, kami menjadi fasilitator yang menghubungkannya dengan kelompok kreatif lain,” kata Gutaff H Iskandar, Direktur Common Room di Bandung.

Di situ, berbagai kelompok seni memang biasa berkumpul, mulai dari pelukis, pematung, pembuat mural, grafiti, grup band, penulis, pengamat budaya, atau desainer. Lewat persentuhan lintas disiplin itu, mereka mendapat akses dan peluang untuk mencoba ekspresi dan media baru dalam kesenian.

Sebagian pegiat komunitas itu bahkan menjalani berbagai aktivitas sekaligus. Contohnya, Addy Gembol (32), vokalis dan pencipta lagu kelompok band Forgotten. Pemuda ini aktif dalam kelompok Solidaritas Independen Bandung dan kelompok indies Ujung Berung Rebels. Kegiatannya pun seabrek: yang aktif berkampanye naik sepeda, reboisasi hutan, dan membuat pentas musik. ”Semua saya jalani dengan gembira,” katanya.

Otonomi

Untuk memperkuat kegiatan, mereka membangun ruang dan jaringan bersama di antara sesama komunitas seni rupa baru. Di Indonesia saat ini, setidaknya ada 25-an komunitas seni rupa baru yang aktif. Meski berbasis di kota masing-masing, hubungan antarkomunitas terjalin kuat.

Itu juga yang memungkinkan mereka saling menyemangati dan membantu, termasuk terhadap komunitas di kota-kota kecil. Sebut saja, di antaranya Jatiwangi Art Factory di Jatiwangi, Gardu Unik di Cirebon, Urban Space di Surabaya, Mamipo (Malang Meeting Point) di Malang, Ruang Akal di Makassar, dan Sarueh di Padang.

Untuk menjalankan kegiatan, mereka juga membangun jaringan ke luar negeri, seperti lembaga donor, institusi seni atau universitas mancanegara, serta saling tukar kunjungan atau residensi seniman di Indonesia dan asing. Dengan begitu, karya-karya mereka berorientasi global.

Semua itu dimungkinkan karena generasi baru ini lahir dalam kemajuan teknologi. Mereka cepat belajar terhadap temuan baru dan menjajal berbagai kemungkinan hubungan yang cepat, seperti lewat facebook, e-mail, websites, blog, atau twitter. Ke mana-mana, mereka membawa laptop yang bisa mengakses internet.

Yudi Andhika (28), seniman jalanan yang aktif dalam kegiatan Common Room, misalnya, memanfaatkan websites pribadi dan kelompok mural untuk menyebarkan mural karyanya. Karya itu berupa mural yang dikerjakan bersama seniman dan warga di Babakan Asih, Kopo, Bandung, tahun 2010 lalu.

”Saya baru saja berkolaborasi dengan seniman Filipina untuk membuat mural lagi di Babakan Asih. Karya saya sekarang sedang dipamerkan di beberapa negara,” katanya.

Kreativitas generasi baru ini patut dihargai. Tanpa banyak berwacana, mereka telah bergerilya memperkuat diri secara mandiri di tengah minimnya infrastruktur seni rupa di Tanah Air. Lebih menarik lagi, mereka bisa bergerak bebas, tanpa bergantung pada pemerintah dan pasar.

Organisasi
Menghindar dari Hegemoni

Perjalanan Ruangrupa, komunitas yang bermarkas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, mungkin bisa jadi contoh, bagaimana kelompok generasi baru membangun diri. Kelompok ini didirikan tahun 2000 oleh enam seniman muda, yaitu Ade Darmawan, Hafiz, Lilia Nursita, Oky Arfie, Rithmi, dan Ronny Agustinus. Ade belajar seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Rijksakademie Van Beeldende Kunsten-Institute Belanda, sementara lima seniman lain lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

”Kami ingin membuat ruang baru bagi seniman-seniman muda yang saat itu sulit menembus kancah seni rupa arus utama,” kenang Hafiz, yang kini menjadi Direktur Artistik Divisi Pengembangan Video Ruangrupa.

Program awalnya, mereka menggelar workshop bersama seniman dari kelompok Apotik Komik dan Taring Padi dari Yogyakarta di studio pelukis Hanafi di Depok, Jawa Barat. Hasil diskusi dituliskan dalam Karbon Journal yang terbit enam edisi dengan tema seni rupa publik.

Lewat jurnal itu, Ruangrupa lantas mendapat dana bantuan dari Rijksakademie Belanda. Itu untuk menyewa rumah di Kalibata, Jakarta Selatan, membeli peralatan kantor, serta membuat program urban printing dan video. Berbagai kegiatan itu mengantarkan mereka memperoleh pendanaan dari lembaga internasional, seperti Hivos dari Belanda, sekaligus mempertautkannya dengan jaringan seni urban internasional.

Ruangrupa lantas menggelar kegiatan rutin dua tahunan, seperti Festival ”Ok.Video” dan pameran ”Jakarta 32 derajat Celcius.” Mereka juga aktif menggarap seni ruang publik di sudut-sudut Kota Jakarta, seperti membuat mural atau grafiti. Pewacanaan diperkuat lewat Karbon Journal (yang kemudian diterbitkan secara digital), penelitian, diskusi, dan workshop penulisan seni.

”Kami tetap berbasis kehidupan masyarakat urban. Seni untuk memediasi beragam masalah kota,” kata Hafiz menambahkan.

Kini, Ruangrupa yang bermarkas di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, ini kian kuat. Ruang yang juga dilengkapi galeri ini menjadi wadah terbuka bagi kreativitas kaum muda Jakarta, serta memberi inspirasi bagi komunitas-komunitas serupa di kota-kota lain. Mereka mendapat apresiasi di panggung internasional dengan diundang dalam Gwangju Biennale di Korea Selatan dan Istambul Biennale di Turki.

Kurator Pameran Ruangrupa ”Decompression #10” di Galeri Nasional Jakarta, Agung Hujatnikajennong, menilai Ruangrupa telah berhasil menciptakan ruang alternatif bagi eksperimentasi di luar museum dan galeri pemerintah serta galeri komersial. Mereka bisa membuat dirinya menjadi independen atau otonom secara sosial dengan melepaskan diri dari hegemoni sistem pasar dan politik negara. (IAM)

Kompas-Minggu, 23 Januari 2011

Read Full Post »

Catatan Tentang Perupa Hardiman Radjab
                        
Oleh Ilham Khoiri

    Rabu (24/3) siang yang panas. Sebuah studio dua lantai di kawasan Bumi Pesanggrahan Mas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, disesaki berbagai barang dan koper. Hardiman Radjab (50), seniman pemilik studio itu, sibuk mengutak-atik sebuah koper.
    Dengan bor elektrik, dia memasang baut untuk menempelkan bagian bawah koper pada tatakan kayu. Sementara bagian atas koper itu
dipasangi besi panjang melengkung ke bawah dengan ujung diberi bandul. Jika bagian atas koper tersentuh, bandul bergerak dan menggoyang
bagian atas koper.
    Goyangan itu membuat koper bisa membuka-menutup sendiri, mirip mulut orang. Nanti, akan dipasang deretan gigi pada pinggiran koper dan semacam lidah pada bagian tengah. Jadi, ketika membuka-menutup,
koper ini benar-benar menyerupai mulut yang sedang berbicara.
    “Saya sudah punya judul untuk karya yang belum jadi ini, yaitu
NATO: no action, talk only,” katanya.
    Lelaki ramah itu bekerja dengan dibantu dua asisten, yaitu Gunawan (35) dan Sumarsono (32). Mereka bekerja dengan memanfaatkan benda-benda bekas atau baru. Di sekitarnya, terserak bermacam alat
pertukangan: obeng, penjepit, bor, gergaji, pahat, serta berbagai
material lain.
    “NATO” hanya salah satu dari puluhan instalasi koper Hardiman.
Sejak tahun 2000, lulusan Seni Kriya Kayu Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1987 ini sudah membuat 60-an instalasi koper. Hasil kerjanya menarik karena mengusung gagasan, pendekatan, material, dan penyajian karya seni yang segar.

Perjalanan
    Karya-karya instalasi koper Hardiman muncul sebagai corak baru dalam kancah seni rupa kontemporer di Indonesia. Dia bisa mengangkat beragam isu dengan cara unik. Karyanya pun mudah mencuri perhatian
dalam pameran karena memang menggunakan bahasa visual yang menggigit.
    Coba kita simak karya-karya lain. Dia pernah memasang dayung-dayung perahu pada pinggiran koper. Ruang dalam koper dipenuhi batangan kayu, mirip kayu tebangan dari hutan. Berjudul “Gone with the
Wind”, karya ini langsung menohokkan kasus pembalakan liar yang memboyong kayu-kayu dari hutan di negeri ini.
    Satu lagi. Dia pernah menyulap koper menjadi alat scanner seperti
di bandara. Pada satu ujung lantai pemindai, ada bayi merah terbungkus kain. Pada ujung lain, tergeletak sebuah peti mati.
    “Itu gambaran, betapa jarak antara lahir dan mati itu sangat
tipis, seperti lorong scan yang hanya satu kali jalan. Tapi, dalam
jarak itu, kita mengalami banyak peristiwa: menjadi belia, dewasa,
berkeluarga, punya anak, punya cucu, sampai tua,” katanya.
    Kenapa tertarik dengan koper? “Koper itu menggambarkan dengan pas situasi kita. Kehidupan ini hanya perjalanan sementara, seperti koper bisa dibawa ke mana-mana. Semakin tua koper itu, semakin terasa jejak-jejak asam-garam perjalanan,” katanya.
    Instalasi koper Hardiman semakin memikat karena dihadirkan dalam setting drama yang kuat. Dia memilih satu peristiwa, kemudian
mengungkapkannya dengan tatanan bahasa visual yang jitu. Di tangannya, koper menjadi seperti panggung teater yang menjanjikan kejutan.
    Pencapaian itu diperoleh Hardiman setelah menata panggung lebih dari 22 tahun. Sejak tahun 1988, dia aktif menjadi penata panggung untuk Teater Tanah Air, Operet Bobo, Teater Legenda, Sanggar Pelakon,
Sena Didi Mime, Satu Merah Panggung, dan pernah membantu Teater Koma.
    “Saya terbiasa memvisualkan naskah berlembar-lembar menjadi satu setting adegan,” katanya. Pengalaman itu diterapkan dalam membuat instalasi koper. Dia banyak menampilkan potongan adegan seperti peristiwa yang di-pause.

Dari Paris
    Dari mana Hardiman memperoleh inspirasi membuat karya seni rupa dari koper? “Dari Paris,” katanya.
    Lelaki itu berkisah, tahun 1996, dia jalan-jalan ke kota seni itu.
Di sebuah stasiun, dia dikejutkan oleh monumen koper yang ditumpuk-tumpuk tinggi. Itu adalah koper-koper yang ketinggalan, kesasar, atau
salah kirim.
    “Saya tertegun dan langsung ‘greng’ rasanya. Kenapa tidak bikin
karya seni dari koper?”
    Dua tahun kemudian, gumaman itu mulai terwujud. Hardiman mengutak-atik koper dan memasang mesin penggerak sederhana sehingga koper itu
bisa membuka-menutup sendiri seperti bernapas. Dalam sebuah pameran tahun 2000, koper itu diletakkan sendirian di sebuah bangku.
    Karya instalasi tadi menarik perhatian. Dengan judul “Long
Journey”, koper yang seperti bernapas tersengal-sengal itu mudah mengingatkan orang akan perjalanan panjang yang tak diketahui kapan berakhir.
    Setelah itu, Hardiman semakin bersemangat berkreasi dengan koper. Dia kumpulkan puluhan koper tua dari teman-temannya. Koper itu kemudian dipermak dan dipadukan dengan berbagai benda lain, termasuk benda antik koleksinya sendiri.
    Hasilnya cukup mengesankan. Koper bisa sangat fleksibel untuk
membicarakan berbagai soal. Dengan karya-karya semacam itu, dia menggelar beberapa pameran tunggal: Serikat Barang di Galeri Cipta II, TIM (2002); Riwayat Koper di Galeri Lontar, Jakarta (2006), dan Berkoper-Koper Cerita di Yogyakarta, Semarang, dan Bandung (2007).
    Saat ini, Hardiman masih menyimpan 40-an koper. Ide-idenya masih berjubel. Koper-koper itu dihamparkan begitu saja di studionya. Dengan sering dilihat dan dilintasi, benda-benda itu biasanya akan memicu gagasan untuk membuat instalasi baru.
    “Saya masih asyik bermain dengan koper. Saya ingin menggarap koper dalam setting yang surealis, seperti bisa terbang atau dengan permainan api yang menyala,” katanya.

KOMPAS – Minggu, 04 Apr 2010

Read Full Post »

Catatan tentang Sosok Kurator Rifky Effendy

    Rifky Effendy (41) termasuk kurator seni rupa yang laris saat
pasar seni rupa kontemporer Indonesia mengalami booming sejak akhir 2006. Di tengah kerumunan pasar, dia mencoba tetap menggarap beberapa
proyek seni idealis. Bagaimana cara dia menjaga keseimbangan?
    Sebagai kurator, Rifky Effendy sangat sibuk. Bayangkan saja. Pada 2007 hingga 2009, dia menggarap kurasi untuk 34 pameran. Hingga pertengahan tahun 2010 ini, dia telah mengerjakan enam kurasi serta
enam lagi yang disiapkan hingga akhir tahun.
    Artinya, hampir setiap bulan dia mengerjakan satu kurasi. Bahkan,
pada puncak booming pasar seni rupa di Tanah Air awal 2008, dia kadang menggarap dua pameran sekaligus dalam satu bulan.
    “Pernah, pembukaan dua pameran yang saya kurasi ternyata bersamaan dalam satu malam,” katanya saat ngobrol di kawasan Jakarta Art Distric
di Pusat Perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta, pekan lalu.
    Dalam kesibukannya itu, tahapan kurasi dijalankan dengan lebih efisien. Proses itu mencakup seluruh persiapan pameran, menggodok konsep, memilih dan menata karya dalam ruang pamer, mediasi kepada publik, serta menulis pengantar dalam katalog.
    “Saya menulis dengan langsung menukik pada masalah dan berusaha jujur dalam melihat karya. Dengan begitu, setiap karya bisa muncul keunikannya,” ujarnya.
    Meski sibuk melayani sejumlah galeri, Rifky juga terlibat dalam
sejumlah proyek idealis yang mendorong praktik seni rupa alternatif. Pada Juni 2010, misalnya, dia bersama Ruangrupa di Jakarta menggelar pameran “Fixer” di North Art Space (NAS) di Ancol, Jakarta Utara. Diikuti 21 komunitas seni alternatif dari berbagai kota di Indonesia,
hajatan ini mengusung komunitas yang berani memperkuat kreasi seni independen.

Tak sengaja
    Rifky seperti tidak sengaja masuk dalam dunia kurator. Saat kuliah di seni keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Bandung (1989-1995), dia lebih banyak berkutat membuat karya di studio. Begitu lulus, dia membuat studio keramik di Bintaro, Tangerang.
    Pengalaman kurasi dimulai saat dia ikut mengelola Galeripadi di
Dago, Bandung. Di situ, dia belajar kurasi dan menulis dari Asmudjo
Jono Irianto, dosennya saat kuliah keramik. Bayaran kurator awalnya
masih minim, hanya Rp 300.000.
    Meski begitu, dia mengaku senang menekuni profesi ini. Salah satu kurasinya, pameran “Wearable” (tahun 1999) dengan seniman dari Indonesia, Thailand, Jepang, Korea, dan Australia, dan digelar berkeliling di Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Ini membuatnya merasa percaya diri.
    Sejak 1999, Rifky akhirnya memutuskan untuk menjadi kurator independen. Ini pilihan tak mudah. Soalnya, pasar masih agak seret dan jumlah galeri masih terbatas pada masa itu. “Dalam satu tahun, saya pernah hanya dapat satu proyek kurasi. Tetapi, dengan begitu, saya menjadi lebih banyak belajar, membaca buku, dan menulis di media massa.”
    Empat tahun lelaki ini bertahan dalam situasi tak menentu. Tahun
2002, dia akhirnya menerima tawaran sebagai kurator tetap di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta. Selama enam tahun, dia berjibaku dengan berbagai program galeri, seperti membuat pameran, diskusi, atau kegiatan seni rupa lain.
    “Saya menikmati kerja kurasi karena bisa membantu mendorong seniman muda kreatif, memperkuat wacana dan apresiasi publik kepada seni, serta membangun jaringan antara seniman, galeri, media, dan
kolektor.”
    Ketika pasar seni rupa kontemporer di Indonesia meledak sejak 2006, Rifky juga kecipratan. Selain tetap mengurus kegiatan di Galeri Cemara, dia juga menerima kerja kurasi di galeri lain. Dua tahun belakangan, dia memilih menjadi kurator independen lagi.
    Meski pasar menyurut akibat krisis finansial global pada akhir
2008, ternyata kegiatannya tetap padat. Posisi kurator semakin
dibutuhkan. Bayarannya pun meningkat menjadi puluhan juta rupiah.
    “Kurator dibutuhkan untuk memunculkan pemikiran dan praktik seni baru, baik di tingkat publik, seniman, galeri, maupun media,” katanya.
    Rifky bersemangat untuk memediasi seni rupa kontemporer Indonesia ke luar negeri. Menurut dia, sebagian seniman kita kreatif dan menjanjikan karena cermat mengolah bahasa ungkap dan medium beragam, memakai pendekatan interdisiplin, mempunyai skill tinggi, dan gagasan menarik. “Dengan konsep, mediasi, dan penyelenggaraan pameran bagus,
seni rupa Indonesia bakal makin diperhitungkan di dunia internasional.”
    (Ilham Khoiri)

KOMPAS – Minggu, 18 Jul 2010  

Read Full Post »

“Wondering Soul III,” foto dokumentasi JAA 2010

Kompetisi Jakarta Art Award (JAA) 2010
Oleh Ilham Khoiri

    Benda-benda mirip peretelan mesin teknologi canggih itu berserakan
begitu saja. Ada beberapa lempengan kotak mirip CPU (“central
processing unit”) komputer, pipa panjang mirip knalpot, juga bundaran
serupa kendang pengeras suara.   
    Anehnya, perabot mekanik kontemporer itu dirayapi semacam
organisme. Bentuknya menyerupai kode-kode mistis tradisional seperti
rajah. Bentuknya seperti gugusan mandala, lingkaran berlapis, bentuk
keong berputar, atau simbol alam khayal purba.
    Gambar-gambar itu saling bertumpuk dan menyisip; menciptakan dunia
sublim yang asing. Berbagai peranti teknologi mengentalkan citra
metropolis. Sementara simbol-simbol mistis-purbawi memendarkan kesan
spiritualis.
    Masa depan dan masa lalu seperti hadir bersama dan saling mengisi.
Gambaran misterius inilah yang membuat lukisan berjudul “Wondering
Soul III” garapan Putu Wirantawan (38) itu tampak menggoda. Karya
seniman Bali lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu
memenangi penghargaan utama Jakarta Art Award (JAA) 2010.
    Penghargaan kedua diberikan pada dua lukisan lain, yaitu “Dimensi
Perburuan” karya Imam Abdillah (34) dan “City of Tomorrow” karya
Agung “Tato” Suryanto. Penghargaan ketiga diberikan pada tiga lukisan,
masing-masing karya Aditya Novali, Angga Sukma Permana, serta Farhan
Siki. Ada juga penghargaan sebagai peserta internasional untuk Halley
Cheng (Hongkong) dan peserta senior bagi Mulyadi W (72).
    Para pemenang memperoleh hadiah dengan nilai total Rp 225 juta.
Mereka terpilih dari 82 nomine, yang juga hasil seleksi dari total
2.400 lukisan. Tak hanya dari Indonesia, pesertanya juga berasal dari
Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Australia, Filipina, dan Amerika
Serikat.
    Ke-82 lukisan dinominasikan, termasuk para pemenang, dipamerkan di
Galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, 30 Juli-29
Agustus. Semua karya itu merespons tema “Aspek-Aspek Kota Besar”.
    JAA, yang digelar PT Pembangunan Jaya Ancol dan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta tahun 2010 ini merupakan kompetisi ketiga setelah
tahun 2006 dan 2008. Tim juri kali ini beranggotakan 10 orang: Srihadi
Soedarsono, M Agus Burhan, Efix Mulyadi, Jean Couteau, Bambang Bujono,
Agus Dermawan T, Rifky Effendy, Fauzi Bowo (Gubernur DKI Jakarta),
Ciputra (pengusaha), dan John Batten (pengamat seni asal Australia).

“Skill”
    Apa yang menarik dari JAA 2010? Sebagaimana dua kompetisi
sebelumnya, ajang ini tetap mensyaratkan lukisan sebagai karya yang
bisa disayembarakan. Ini terasa agak membatasi di tengah kebebasan dan
keragaman medium ekspresi seni rupa kontemporer.
    Namun, sebenarnya pilihan ini juga bisa disikapi sebagai
tantangan. Mampukah para perupa mengolah lukisan sehingga tetap
relevan di tengah kemajuan teknologi media baru? Bisakah lukisan
dieksplorasi sebagai medium yang cair untuk mengolah berbagai soal
konseptual, sejarah, masyarakat, atau mempersoalkan batasan lukisan
itu sendiri?
    Mengamati karya-karya pemenang, agaknya kompetisi ini cukup
mengutamakan keterampilan tinggi ketimbang gagasan baru yang
menggedor. Lukisan yang terpilih sebagai pemenang rata-rata memamerkan
skill atau keahlian dengan memadukan beragam teknik di atas media dua
dimensi.
    Putu Wirantawan, misalnya, tekun memainkan bolpoin dan pensil
untuk membuat garis-garis tipis di atas kertas. Agung “Tato” Suryanto
menggabungkan teknik lukis dan drawing dengan medium akrilik dan
pensil di atas kanvas.
    Aditya Novali membuat lukisan pemandangan kota di atas kanvas yang
dipotong-potong kecil horizontal. Potongan itu lantas dijejerkan
dengan komposisi beragam sehingga membentuk tampilan lukisan yang
berubah-ubah. Farhan Siki mengangkat psikologi liar kerumunan manusia
kota dengan gaya grafiti jalanan.
    Kesegaran narasi mencuat pada lukisan Imam Abdillah, “Dimensi
Perburuan”. Dia melukis ulang sosok-sosok pemburu dalam
lukisan “Perburuan” karya Raden Saleh, tetapi diselipkan di tengah
hiruk-pikuk kota besar. Kehadiran orang-orang kuno berbelangkon dan
bersenjata keris itu menciptakan keganjilan di kerumunan warga dan
suasana metropolitan. Ini menantang tafsir luas.
    Di luar itu, agaknya tak terlihat ada karya dengan konsep yang
benar-benar mengejutkan. Banyak peserta malah terjebak pada tafsir
klise kota metropolitan sebagai pemandangan gedung-gedung tinggi yang
berjejalan. Sebagian lagi masih larut dalam pengulangan tren gaya
lukisan kelompok Jendela atau bercorak realisme fotografis.

KOMPAS – Minggu, 08 Aug 2010  

Read Full Post »

instalasi “feast table,” photo by ilham khoiri

Laporan Pameran Tunggal Entang Wiharso, “Love Me or Die”

Oleh Ilham Khoiri

    Entang Wiharso (43), seniman lulusan ISI Yogyakarta, masih tekun
menggarap citra tubuh manusia yang mengerikan. Karya-karyanya, baik
lukisan, instalasi, atau video, menyodorkan teater kehidupan yang penuh
pergolakan.   
    Coba kita amati salah satu instalasinya berjudul Feast Table. Ada
ikan besar, mirip ikan koi, yang tersaji di atas meja. Di depannya, dua
sosok manusia berdiri berhadapan, seakan sedang berdialog.
    Satu orang melambaikan tangan, seakan bilang, “Sabar dulu, ya.”
Satu orang lagi memandang dengan tenang, tetapi di balik punggungnya
menggenggam pisau. Dia siap bertarung demi memperoleh ikan, kalau perlu
dengan menghujamkan pisau itu ke tubuh lawannya.
    Instalasi dari bahan aluminium ini cukup mengusik. Dua sosok
manusia dan ikan itu berkulit keperakan dengan totol-totol merah. Ini
menyentil drama kehidupan kita.
    Tampilan manusia sering tampak santun. Tapi, di balik itu, manusia
punya naluri keji, bahkan tega membunuh orang lain. Kesopanan hanya
kedok yang menyembunyikan nafsu dan kekerasan.
    Feast Table cukup menonjol dalam pameran tunggal Entang Wiharso
bertajuk “Love Me or Die” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 23-31
Oktober. Dihelat Galeri Canna, Jakarta, pergelaran menampilkan 20-an
karya, beberapa di antaranya berskala besar. Ada lukisan cat minyak,
lukisan cat air, instalasi, dan video.
    Dengan beragam pendekatan dan bentuk, karya-karya lain juga
membeberkan perilaku ganas manusia. Di halaman galeri, misalnya,
terpajang rangkaian wayang aluminium raksasa-setinggi delapan meter-
yang menggambarkan tabiat angkara murka. Ada dua sejoli berdekapan
mesra, tetapi salah satu tangannya menghujamkan belati pada pasangannya.
    Dinding teras galeri digambari kulit manusia yang sudah
bermetamorfosis menjadi totol-totol atau loreng. Serupa benar dengan
kulit harimau, macan tutul, buaya, atau binatang buas lain.
    Masuk dalam ruang pamer, lebih banyak lagi adegan brutal. Ada
patung sepotong kepala besar yang menjulurkan lidah panjang. Perempuan
berdiri anggun di atas lotus, tetapi kondenya ditusuk belati. Orang
siap terjun ke ujung tombak-tombak yang runcing.
    Di bagian belakang, ada instalasi sekelompok orang berpesta makan
bersama. Tapi, semua tubuh mereka loreng. Sebagian jatuh terjerembap.
Kursi berjungkiran. Piring dan makanan terlempar ke lantai.
    Kengerian juga terpampang pada sejumlah lukisan. Tubuh-tubuh ganjil
manusia di atas kanvas itu menebarkan teror. Ada manusia bermata empat,
mulut menganga, lidah menjulur, kuping melebar, kaki putus, atau tubuh
ditusuk-tusuk.

Teater
    Setiap karya terasa menggedor karena menyuguhkan panggung teater
penuh adegan mengerikan. Ketika dihadirkan bersamaan, rangkaian drama
itu segera menyeret kita dalam sisi gelap diri manusia, yaitu
kekerasan. Memang karakter ini sudah menjadi bagian dari sejarah
manusia sebagaimana diceritakan buku-buku, televisi, koran, bahkan kita
alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
    Lebih jauh, visualisasi ini bisa mengulik pandangan filsuf Jerman,
Friedrich Nietzche. Bahwa realitas hidup ini, termasuk sejarah manusia,
bermuara pada kehendak berkuasa belaka. Demi memenuhi hasrat itu,
manusia betah hidup dalam kekacauan dan peperangan.
    Seni sangat cocok untuk menangkap fenomena itu. Soalnya,seperti
dibilang Nietzche, seni tak punya hasrat untuk menyederhanakan
kompleksitas hidup dalam satu kesimpulan final. Dengan bahasa luwes,
seni justru bisa memperlihatkan absurditas, pergolakan, mimpi, dan
kengerian hidup yang terus-menerus berulang itu.
    Apa alasan Entang menyajikan adegan kengerian dalam karyanya? “Saya
berusaha jujur mengungkapkan realitas agresif manusia. Dengan begitu,
siapa tahu kita tersadar akan pentingnya membangun kehidupan lebih
beradab,” katanya di Galeri Nasional, Selasa (26/10).
    Artinya, dengan menyodorkan adegan penuh kekejian, sebenarnya
seniman ini justru merangsang kita untuk memikirkan kemungkinan menata
hidup yang lebih beradab. Penataan itu hanya mungkin dilakukan dengan
mengembangkan nilai-nilai seperti toleransi, kebersamaan, perdamaian,
cinta, dan kasih sayang.
    Karya-karya dalam pameran ini, mungkin dalam pameran lain, bisa
memprovokasi kita karena Entang piawai mengolah bahasa rupa tanpa
batas. Dengan energi besar, dia tak henti mengeksplorasi berbagai media
dan pendekatan seni rupa. Instalasi, lukisan, patung, atau video,
semuanya digarap dengan sangat cair.
    “Saya selalu berangkat dari ide atau gagasan, bukan bentuk. Ide itu
terbuka dan dinamis, sementara bentuk cenderung menjebak kita dalam
rutinitas,” katanya.
    Sikap terbuka ini agaknya tertempa berkat pengalamannya bersentuhan
dengan kehidupan global. Entang, yang beristri seniman Amerika,
Christine Cocca (40), rutin melakukan perjalanan bolak-balik Amerika
dan Yogyakarta. Di sela-sela itu, dia masih mengunjungi kampung
halamannya di Tegal, Jawa Tengah.

 

KOMPAS – Senin, 08 Nov 2010 

Read Full Post »

Laporan Pameran “Ethnicity Now”

Oleh Ilham Khoiri

    Delapan perupa mengangkat budaya etnik dalam kemasan global lewat
pameran “Ethnicity Now” di Galeri Nasional, Jakarta, 2-12 Desember ini.
Ada harapan, karya mereka dapat menampilkan karakter Indonesia di
tengah pentas seni rupa global.
    Para pengunjung mengerubungi mobil Mini Cooper Mark III yang
diparkir di tengah ruang pamer Galeri Nasional pada malam pembukaan,
Kamis (2/12) malam. Mereka mengelilingi sedan buatan Inggris tahun 1974
itu. Tampilan kendaraan, yang kerap dikendarai komedian Mr Bean di
tayangan televisi, itu memang menggoda.
    Mobil ini mewakili produk Eropa yang diserap konsumen di Tanah Air
pada 30-an tahun silam. Ukurannya mungil, desainnya unik. Anehnya,
seluruh permukaan badan mobil itu dipenuhi gambar komik-etnik.
    Unsur komik mengental pada citra sosok-sosok yang dilukis bergaya
naif dan naratif. Unsur etnik terasa pada sosok karakter wayang serta
ornamen dekoratif mirip batik. Dalam mobil mungil ini, budaya Eropa dan
lokal bisa berpadu-padan dengan santai.
    Karya berjudul “Radja Jalanan” itu hasil utak-atik Indieguerillas,
kelompok yang dibidani dua seniman lulusan Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta, Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko “Miko” Bawono. Karya
ini menjadi salah satu dari sejumlah karya yang menggelitik.
    Tak jauh dari mobil itu terdapat tiga bajaj. Masing-masing bagian
atas bajaj ditempeli mahkota. Satu bermahkota Karna, mahkota Baladewa,
dan satu lagi ditutupi simbol sedulur papat lima pancer.
    Bajaj mencerminkan kendaraan rakyat urban di kota metropolitan,
sementara ketiga mahkota itu mewakili bagian ornamen wayang tradisional
Jawa. Dua entitas yang berbeda itu dipertemukan begitu saja.
    “Bajaj itu saksi perjalanan negeri ini. Saya kemudian
menggabungkannya dengan perlambang kemuliaan dari masa lalu,” kata
Nasirun, perupa. Beberapa karya dari enam perupa lain juga menarik.
Mereka adalah I Wayan Bendi, I Made Djirna, Heri Dono, Samuel Indratma,
Angki Purbandono, dan Yudi Sulistya. Dengan perspektif masing-masing,
mereka menafsirkan tema “Etnicity Now”.
    Alih-alih menempatkan tradisi lokal dan budaya global kekinian
dalam posisi berhadapan, para seniman itu malah mempertemukan masa lalu
dan masa kini dalam hubungan yang sangat cair. “Etnicity Now” justru
memperlihatkan bahwa tegangan antara tradisi dan globalitas telah
hilang. Budaya global kian terbuka menerima lokalitas; sementara
khazanah lokal tak segan menyerap globalitas.

“Global art”
    Menurut kurator pameran, Jim Supangkat, karya para seniman itu
sedikit-banyak menampilkan etnisitas. Para seniman tidak bisa
melepaskan diri dari ikatan komunal, spirit kampung, dan tradisi dalam
kehidupan sehari-hari kendati isu yang diangkat adalah persoalan global.
    Jim memetakan karya mereka dalam kancah seni rupa kontemporer yang
disebutnya sebagai global art. Dalam arti, karya mereka cenderung
individual, punya keunikan kultural, dan bersentuhan dengan gejala
global dunia zaman sekarang. Memang, dalam percaturan global, kita
membutuhkan citra yang bisa dengan jelas menghubungkan karya dengan
asal-usul seniman Indonesia. Saat bersamaan, kita juga membutuhkan
kemasan kontemporer yang bisa diterima oleh publik seni dunia. Jadi,
seniman Indonesia tak larut dalam tren visual global, tetapi juga bisa
menunjukkan karakteristik khas Indonesia.
    Dalam konteks ini, mungkin kita bisa menyimak karya Angki
Purbandono yang berjudul “TV Lover”. Seniman ini menampilkan 234 kotak
akrilik yang disorot neon boks dari belakang. Ratusan neon itu ditata
berderetan pada permukaan dinding.
    Masing-masing kotak berisi gambar-gambar tayangan televisi yang
dipotret selama tahun 2004. Menarik mengamati gambar-gambar yang
terekam di kotak-kotak yang dibuat mirip televisi cembung itu. Ada
gambar tayangan sepak bola dunia. Gambar tayangan sinetron, patung
garuda di Lubang Buaya, dan film tinju klasik. Tampak wajah penyanyi,
kartun Tom and Jerry. Juga muncul orang sedang berdakwah, Masjid
Baiturrahim Aceh, dan iklan rokok.
    Berbagai citra visual yang bercampur aduk itu merupakan tayangan
yang dipilih secara acak selama setahun. Jika dicermati, tampak sekali
bahwa dalam kehidupan kita, batas-batas antara masa lalu, sekarang, dan
masa depan itu sudah diterabas habis. Jarak antara ruang bernama
Indonesia dan ruang bernama dunia internasional begitu tipis, bahkan
kerap hilang.
    “Itu arsip sosial perkembangan apa yang kita tonton di televisi.
Semuanya ada di situ. Itu tafsir saya atas budaya etnik zaman sekarang,”
kata Angki.
    Gagasan pameran ini menarik untuk dikembangkan lebih jauh.
Sayangnya, dengan mayoritas peserta pameran berasal dari lingkungan
Jawa, juga dua orang dari Bali, pemaknaan etnisitas jadi lebih lekat
dengan dua budaya itu. Padahal, kita tahu bersama, negeri ini dibangun
oleh berbagai etnik yang plural.
KOMPAS – Kamis, 16 Dec 2010  

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,245 other followers